Thursday, January 15, 2009


Me VS Sandra Dewi
Sandra Dewi tertunduk lesu di hadapan ku, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca, namun ia harus menahan tangisnya atau kesedihanya akan terlihat oleh pengujung cafe tempat rendezvous kami berdua.
Selembar foto copy kertas bermaterai dan selembar kertas berisi neraca di hadapan gadis manis itu yang menyebabkan matanya basah. Perjanjian hutang piutang ayahnya denganku serta perhitungan hutang dan bunga yang telah disepakati.

Sandra tak menyangka kalau ayahnya bisa berurusan denganku, well, perjanjian itu memang jebakanku. Aku bisa melihat kalau gadis d ihadapanku ini berbakat jadi bintang besar ketika pertama aku melihat penampilan perdananya di layar kaca, dan aku ingin merasakan tubuhnya, bahkan lebih dari itu, aku ingin ia menjadi mesin penghasil uang pribadiku baik melalui 'jalur normal' maupun side job yang aku siapkan untuk gadis ini.

Aku sengaja menjebak sang ayah dalam bentuk investasi berjangka, serta memberikan membership untuk private gambling club yang aku kelola. Dan jebakan paling kuno yang aku terapkan pada ayahnya yaitu dengan membuatnya 'menang' terlebih dahulu sebelum aku melumatnya hidup-hidup, haha.
Dan sekarang, Sandra Dewi tak bisa berbuat banyak, karena tanda tangan sang ayah tertera dikedua lembar surat it, serta satu copy surat lain yang aku gunakan untuk menenggelamkan harapan gadis itu untuk berkelit. Satu lembar surat pernyataan sang ayah yang membuat Sandra harus bersedia melunasi semua hutang sang ayah dengan cara apapun juga di bawah komandoku.

'A...aku tak mau membayar hutang ayahku... perjanjian itu tidak sah karena aku tak ikut menandatanganinya' elak Sandra padaku, well well, boleh juga.
'Oke, kalau kamu tak mau,' jawabku santai, 'aku akan menemui ayahmu, dan meminta adikmu untuk menggantikan kamu membayar hutang, kalau adikmu pasti mau menyelamatkan ayahnya.'

Mata Sandra mebelalak, ancamanku mengena.
'Jangan sekali-kali kaku ganggu adikku, bajingan,' desisnya geram
'Hei hei... it's your choise, you decide!'
Sandra Dewi, memandangku dengan pandangan geram, dan jijik. Namun kartu as ku sudah ku mainkan, dan gadis itu tau, pilihannya ada pada dirinya. Maka dengan suara bergetar menahan geram Sandra berkata
'Baik, akan aku penuhi permintaanmu.'
Gotcha, namun aku tak mau menunjukkan wajah terlalu girang,
'Maaf Sandra, tetapi seperi kamu bilang, kalau kamu tidak tanda tangan semuanya tidak sah' ujarku santai sambil menyerahkan selembar surat bermaterai yang mengunci Sandra dalam cengkramanku sampai seluruh hutang ayahnya lunas - yang dalam jebakanku berarti untuk selamanya - hahaha.

Now, she's completely at my mercy. Tanda tangan di atas materai sudah membuatnya menyerahkan dirinya sepenuhnya dalam genggamanku. Aku memandang ekspersi wajahnya yang berbaur antara benci, takut, sedih dan kecewa. Wajah cantiknya memerah menunjukkan ekpresi yang berkecamuk tadi, dan ketika ia menundukkan wajahnya tanda kekalahan dan penyerahan, aku melihat tetesan air mata membasahi meja.

Aku memberinya tissue dan membiarkannya terdiam sesaat sebelum aku mengajaknya pergi. Sebenarnya aku bisa saja langsung memulai aksi gilaku, namun aku ingin melakukannya perlahan, aku ingin memakan jiwanya sedikit demi sedikit, hingga tak ada lagi kehormatan yang tersisa pada dirinya.
Kemudian kami keluar dari cafe itu seperti tak terjadi apa-apa, aku membiarkan Sandra jalan terlebih dahulu dengan sebelumnya kau berikan sebuah catatan yang harus dia patuhi. Aku tahu dia tak akan macam-macam, karena semua jalan untuknya sudah aku tutup, aku memperhatikan Sandra berjalan lunglai, memaksakan tersenyum dan memberi tandatangan pada para penggemarnya, lalu aku melihat ia masuk ke salah satu gerai underwear yang terkenal, memilih pakaian dalam sexy seperti yang aku tulis padanya dalam daftar itu, well well, seleranya boleh juga, karena aku hanya meminta dia membeli pakaian dalam sexy, namun ia memilih yang super hot.

Kemudian aku juga memintanya membeli beberapa pakaian yang akan aku pergunakan untuk persiapannya, menjadi sesuatu yang sudah aku rancang dengan baik. Hei, aku ngga mau rugi!

Now, pick her up at the lobby, aku membawa kendaraanku ke daerah Ancol, untuk mengambil yacthku, aku bisa melihat wajah Sandra yang terheran-heran melihat semua yang aku miliki, ia berkata,
'Dengan segala yang kamu miliki, tak bisakan kau memutihkan hutang keluargaku? Kami akan sangat berterima kasih padamu, berhutang budi padamu... kami'
'Kalian memang berhutang, dan kamu akan membayar!' kataku ketus, 'Dan bila aku memenuhi permintaanmu, aku tak punya apa-apa sama sekali, now shut up, and board that yatch'
Aku mengemudikan yatch itu dengan mantap, sambil melihat Sandra Dewi termangu mengucurkan air mata di dek kapal itu.

Kami berada di tengah lautan, dan aku mematikan mesin yatch ku, aku ingin memulai menghancurkan haga dirinya hingga pada akhirnya ia akan tuduk padaku seutuhnya. Sanrda Dewi memalingkan wajahnya ketika aku datang menghampirinya, ia seakan sudah tahu kalau kehancuran dirinya sudah dimulai.
'Buka bajumu...' perintahku. Hmmmmm, how sweet to see tears run down from her chick, aku tahu kalau Sandra ingin melompat ke laut, aku hanya berkata ringan,
'Silahkan lompat, kamu liat kalau kita dikelilingi hiu? Lagi pula aku masih bisa menggunakan adikmu untuk pembayar hutang.'

Sandra Dewi limbung, ia tak berdaya, akhirnya ia menurut juga. Perlahan ia membuka bajunya, damn kulitnya benar-benar mulus, lalu celana jeansnya, dam ternyata underwear hitam benar-benar serasi dengan tubuh mulus itu, but not yet....
Dan ketika penutup terakhir itu terbuka, aku hampir tak kuat menahan diri, tubuh yang sangat indah, bungkahan payudara yang montok dan sekal, pinggul yang bulat dan sexy, kaki yang jenjang, perut yang rata, dan wow, vagina terawat tanpa sehelai bulu menutupinya.
Kemudian aku melemparkan sebotol sunblock pada Sandra, dan memintanya mengenakan sunblock itu. Badannya jadi mengkilat menggairahkan, lalu aku dengan santai memintanya untuk masturbasi di hadapanku di atas geladak yatch.

Sandra terlihat sangat terhina, aku tau seumur hidupnya ia belum pernah memamerkan tubuh bugilnya di hadapan lelaki, namun sekarang aku memaksanya untuk bermasturbasi,namun Sandra tahu kalau ia tak punya pilihan, perlahan ia mulai meremas payudaranya, membelai lembut tubuhnya, menelusuri tiap jengkal tubuhnya, dan mengusap vagina serta clitorisnya. Aha, she's a virgin allright, dia tidak memasukkan jarinya ke dalam vagina. Perfect.
And i hope some hidden cam yang aku pasang akan memberikan hasil yang baik untuk perjalanan karir baru gadis ini.

Sandra tergolek lemas setelah orgasme panjang yang tapat ditahannya melanda, lalu aku membiarkan terlentang membentuk posisi x seperti itu, di geladak , lalu mulai menjalankan kembali yatch ku, yang kali ini dengan perlahan, aku ingin membiarkan kulit gadis manis ini sedikit berkenalan dengan terik matahari dan angin laut yang sudah lama ia tinggalan di kampung halamannya belitung, aku biarkan ia kemudian meringkuk membentuk bola dan kembali terisak seperti ingin mengutuki nasib buruknya.

Sesampainya kami di private island milikku, aku membawanya ke villaku. Aku tersenyum penuh kepuasan melihat tubuh Sandra yang menggigil hanyatertutup bikini two piece super hot, super mini yang aku minta ia beli. Memasuki villa, aku meraih tangannya, aku tarik dia dalam pelukanku, aku rasakan tubuhnya bergetar akan penolakan yang harus di tahannya. Aku peluk dia dari belakang dan aku bekata lembut di telinganya.
'Kamu akan membayarku dengan tubuhmu seutuhnya. Bukan saja melalui karirmu sebagai entertainer tetapi juga untuk karirmu yang lain.'

Sandra Dewi menegadah menatap langit-langit villaku, aku bisa merasakan getaran karna isak tangis, namun aku tak perduli, aku mejilat lembut cuping telinganya, mencium lehernya, merangsangnya. Aku memeluknya erat sambil aku jilati leher jenjangnya, membuatnya menggeliat mencoba menghindar. Kemudian aku berbisik lagi.
'Aku akan jadi trainer kamu mengenai cara memuaskan pelangganmu, apa yang mereka ingin, apa yang mereka akan lakukan untuk meraih kepuasan. Aku kan mengajarimu untuk memuaskan semua pelanggan, tanpa penolakan sama sekali.'
Aku membiarkan Sandra menggelosor terduduk di lantai, membiarkan semua kata-kataku terserap, ia milikku, assetku.

Setelah aku lihat Sandra sudah bisa menguasai dir, aku memintanya untuk merapikan dirinya, lalu aku mengajaknya berjalan di pantai berpasir putih di pulauku. Aku membawa kameraku dan mulai mengabadikan tubuh cantik Sandra dalam jepretan kamera.
'Tiap pelacur memiliki portfolio,' ujarku sembarangan, 'dan ini akan jadi portfoliomu.'
Well walau aku tidak menjadkan fotografi sebagai main income ku, sure hell aku punya feel tentang momment yang tepat, sudut yang baik dan good natural lightning. Dan itu semua tanpa meminta gadis itu berpose.
Beragam momment dan pose Sandra telah terkam terutama ketika tubuh nya terekspose sempurna. Looks wonderfull.

Sekembalinya di villa, hari telah jauh senja, aku membiarkan dirinya membilas tubuhnya, lalu hanya berbalut handuk tanggung, aku meyuruhnya mendatangiku di depan perapian. Siluet tubuhnya oleh cahaya api membuatku kembali mengabadikan gadis itu dalam kamera, sebelum aku benar-benar tidak tahan.
'Sandra, sebagai pelacur, kamu harus sepenuhnya pasrah dengan keinginan customermu. Kalu mereka tidak puas, kamu tidak akan bisa bayar hutang, dan semakin lama bunganya akan semakin tinggi, hingga gabungan kamu dan adikmu belum tentu dapat melunasinya dalam waktu dekat.'
Sandra kembali berurai air mata mendengar penjelasanku, biar saja ia menangis. Lebih baik ia menangis sekarang daripada di depan client.

Aku kemudian meminta Sandra untuk membuka celanaku dengan mulutnya, matanya membelalak karena melihat penis pria yang ereksi sempura untuk pertama kali tepat di depan wajahnya yang kini memerah karena jengah.
'Ayo pegang,' perintahku, dan aku menggigil kenikmatan karena merasakan tangan lembut Sandra memegang penisku, damn, dia benar-benar harus dilatih
Aku mengajarinya cara mengocok dengan benar.
Aku bisa melihat ekspresi jijiknya ketika lidahnya menjilati penisku, kantung zakarku, bahkan Sandra sampai muntah kecil ketika aku memintanya menjilati sunholeku.
Aku santi saja, aku memintanya untuk mengepel muntahannya, sebelum kembali memintanya menjilati anusku sambil berkata,
'Beberapa tamu kamu akan berbuat lebih dari ini Sandra, mereka akan menduduki wajamu, memaksa mulutmu membuka lebar di anus mereka, dan well... kamu akan tau sendiri nanti kelanjutannya.'

Entah karena takut akan penjelasanku atau takut aku memberinya pada tamu seperti itu, Sandra makin lancar menjilati sunholeku, selangkanganku, kantung zakarku dan penisku, lalu aku memintanya mengulum penisku dikombinasikan dengan kocokan.
Lalu aku memintanya melepaskan kocokannya dan aku menekan kepala Sandra dalam-dalam hingga dahinya menyentuh abdomen bawahku.
Aku biarkan ia megap-megap kekurangan oksigen, meronta minta dilepaskan. Aku memberinya afas sejenak tanpa melepaskan kepala penisku dari dalam mulutnya.
'Kalu pelayanan ini semua tamu akan memintanya Sandra, mereka ingin penis mereka masuk dalam mulutmu sampai jauh ke tenggorokanmu.' seruku sambil menekan kembali penisku dalam-dalam.
'Mereka ingin mentetubuhi mulutmu dengan liar' ujarku terputus-putus sambil mememompa mulut Sandra dengan kasar
'Mereka ingin kamu....', darn, aku tak tajhan dan argh, aku tak kuat lagi, mulut Sandra sangat sensasional, sungguh nikmat. Aku bisa melihat gadis itu tersedak menahan kemudian terpaksa menelan spermaku, sementara ada sperma yang keluar dari hidungnya seperti ingus ketika ia tersedak tadi, dan sebagian meleleh di dagunya.
'Itu...' jawabku terengah, 'yang mereka mau....' sambil terduduk di bantalan empuk di depan perapian, memadang Sandra yang megap-megap mencari udara, dan ketika ia mau mencari tissue, aku berujar, 'lap dengan tanganmu dan jilati, tamu tidak mau spermanya terbuang percuma.' dan dengan tersedu Sandra mengikuti permintaanku.

Hmm nampaknya ia shock, cukup dulu untuk kali ini....
******

Matahari pagi menghantam wajah kami dengan lembut.
Kami?
Ofcourse dong, aku memeluknya erat di ranjangku tadi malam...
Tenang, aku belum perawani dia, aku cuma mau membiasakan dirinya tidur dalam pelukan laki-laki, karena toh nanti akan banyak laki-laki yang mungkin akan tertidur di atas perut Sandra sambil mendengkur.

Kemudian aku mengajaknya ke kamar madi, di bawah guyuran shower, aku memintanya mengoral diriku, menyabuni aku, kembali menjilati sunholeku, yummi.
Kemudian aku memintanya melakukan thai massage dengan dadanya dalam bathtub.
Sekembalinya di kamar aku memintanya meminum pill anti hamil, dan Sandra bergetar ketika menerima pill dan gelas air itu, bahkan sampai kesulitan untuk menelan pil tersebut.

'Sandra, kalau kamu pernah melihat film biru, atau mendengar cerita teman-teman pelacurmu, tentang bagaimana pria merangsang mereka dengan memberikan ora sex, forget it.'
'Tamu adalah raja, dan mereka ingin dilayani bukan melayani', kataku sambil berbaring di ranjang dan mengajari Sandra untuk menggerayangi, menjilat, mencium, membangkitkan gairah laki-laki.
Lalu aku memintanya terlentang di ranjang, aku menyampiran kakinya di bahuku, dan tanpa basa basi langsung menghujamkan penisku ke dalam vagina Sandra.
Jeritannya panjang, airmata mengalir, tanganya mencengkeram erat sprei yang kini bernoda darah.
'Memang sakit,' ujarku santai, 'get used to it, kamu memang tidak ditakdirkan untuk merasa nikmat, tapi kamu akan berpura-ura menikmatinya' dan aku menggenjot Sandra dengan kasar dan liar.
'Mereka sudah membelimu, mereka akan melakukan apapun yang mereka suka dengan tubuhmu, mereka tidak mau rugi'
Sandra terbanting-banting di bawah himpitanku.
'Mereka tak perduli kalau vaginamu lecet, tulangmu sakit, perutmu kram, payudaramu memar, mereka hanya ingin meniduri kamu, melampiaskan nafsu mereka yang diubun-ubun.'
'Yang meraka ingin hanya.....'
Sandra menjerit histeris dan ngeri ketika merasakan semburan spermaku mengisi rahim belianya, ia lupa kalau dia sudah meminum pil anti hamil

Aku membiarkan Sandra meringkuk di kasurku, aku berbisik di telinganya.
'Kamu pasti ingin bunuh diri, silahkan. Adikmu yang akan menggantikanmu.'
'Kamu ingin membunuhku silahkan, anakbuahku akan menghancurkan keluargamu, dan adikmu akan dijadikan pelacur.'
'Kamu ingin kita berdua mati, silahkan. Keluargamu tetap hancur, now you have the choice.'
Dan aku meninggalkannya di kamar.

Aku sedang makan steak ku ketika Sandra keluar dengan tertatih-tatih berbalut bed cover, aku tersenyum senang, karena aku tahu satu bagian dirinya sudah terpatahkan, atau ia akan mengemukakan opsi ke empat.
Aku memberinya tempat duduk, menghidangkan salmon steak dan kembali menikmati steakku sendiri.
Suaranya bergetar lirih ketika berkata, 'aku akan melunasi hutang ayahku dan kemudan akau aku hancurkan kamu'
As i said, option number four.

Dan setelah itu disetiap kesempatan aku mengajarinya tentang total submissivness, all style, doggy, wot, mot, dolphin dan lain lain.
Aku menyetubuhinya di semua tempat di pulau itu, pantai, hutan, sungai, dan di dalam villa, dapur, halaman, gudang, you name it.

Sampai satu hari Sandra datang bulan. Aku bisa melihat senyum bahagia bercampir sinis diwajahnya.
'Kamu tak bisa menyetubuhiku selama aku haid kan?' ejeknya
'Salah' kataku santai,
'Kamu masih punya mulut, kan? banyak tamu yang cuma ingin kamu oral, lagi pula masih ada satu lubang lagi...'
'Tidak...'jerit Sandra, 'jangan di situ... aku tak mau...tolonglah, carikan aku tamu yang normal, bukankah cukup mulut dan vaginaku untuk memuaskan mereka?'
'Sayangnya, Sandra, dengan banyaknya informasi, film serta pergeseran perliaku sex. Your ass is another vagina.'

Setelah beberapa lama ia nampak tegar dan mulai mengikuti permainanku, kembali aku melihat tubuhnya terduduk dan terisak. Here we go again.
Aku membawanya ke dalam villa, aku biarkan ia menguatkan dirinya. Lalu aku meintanya nungging setinggi ingginya, dan membuka belahan pantatnya sendiri selebar mungkin.
Dapam posisi sulit itu, aku memaksanya mengoral penisku terelebih dahulu, sebelum dengan susah payah aku menembus anusnya.
'Sakit, kan', geramku, 'jadi kamu sadar kalau semua cerita tentang nikmatnya sodomi itu bullshit. Kamu akan kesakitan dan kesakitan. Kalau kamu lihat d film BF mereka menikmatinya, thats acting, mereka menggunakan pelumas yang banyak, dan lagi pula lubang anus pelacur-pelacur tu sudah sangat lebar karena sering di pakai, tetapi tamu kamu hanya akan mengandalkan liur, mereka cuma ingin jepitan anusmu. Mereka ingin....'
Aaah nikmatnya ketika aku menyiram usus besar Sandra yang menggeliat kesakitan dengan spermaku.
Sekarang vagina dan anusnya sama-sama berdarah. Hand she had her lesson, ass fuck 101.

Sekarang seluruh lubangnya sudah tak perawan, namun aku terus mendoktrinnya dengan penyerahan didri total, aku memutar film BF 24 jam sehari sambil aku tetap menyetubuhinya, memasang dildo pada saat aku mengumpulkan kembali tenagaku, membuat tubuhnya menjadi sex addict bahkan bersedia melakukan ass to mouth session. Dan aku juga menambah portfolio dirinya, yang ketika aku tunjukkan padanya membuatnya orgasme, karena nude artnya yang tinggi hingga berkesan sangat sensual dan jauh dari porno, namun dapat membangkitkan gairah.
Dan sekarang tanpa sadar Sandra benar-benar mencintai sex, ini memang rencanaku karena aku ingin ia liar di ranjang agar tamunya sangat banyak.

Setelah satu bulan kami di pulau aku bearanjak kephase kedua, pengenalan akan jenis penis yang lain selain penisku dan dildo.
Aku membawanya ke daerah pelacuran di pinggir kota, Sandra tak banyak lagi berkomentar, ia tau kalau ia akan berhadapan dengan pria-pria hidung belang.
Namun sebelum itu aku mau ia membiasakan diri terlebih dahulu, aku memulai dengan menyuruhnya menjadi penari striptease, hingga rasa malu dilihat banyak orang dalam kondisi bugil bisa diatasinya. Hei, tarian bugil ini dilakukan di panggung lapangan terbuka bukan dalam ruangan, hingga seluruh komplek pelacuran itu menonton dam melihat kemulusan tubuh telanjangnya.
Ia harus membiasakan diri dilecehkan, ditawar bagai ayam, digerayangi, menenggak minuman keras dari pengunjung. Ia harus memutuskan rasa malu yang dimilikinya.

Lalu aku memajangnya di pinggir jalan, dan menyuruhnya untuk melacurkan diri, aku menginginkan ia tau caranya merayu laki-laki, memohon untuk disetubuhi, bahkan mengobral harga tubuhnya utuk medapat setoran, rekor terendahnya adalah lima ribu rupiah untuk short time, Good.
By the way, apa aku sudah bilang kalau aku memilih pria yang lalu lalang di hadapan Sandra tanpa ia sadar? Dan kalau akulah yang menyuruh pria-pria itu untuk tahan harga, and oh iya, komplek ini milikku. Hahaha.

Selama satu bulan berikutnya Sandra menjalani kerja praktek, dan karakter pelacur murahan mulai tertanam di dirinya, ia tak lagi malu memajang diri hanya dengan hotpants dan BH, ia mulai tahu cara merayu dan medapat tip lebih, walau itu semua masuk dalam sakuku, dan upah buatnya hanya sperma.
Sandra juga mulai terbiasa dengan live sex show, gangbang, bdsm, dan berbagai jenis aktifitas sex lainnya, pernah dalam satu malam ia melayani dua puluh grombolan preman, pengemis dan pemulung sekaligus yang menginginkan tubuhnya, dan mereka dapat harga diskon.
Sandra terpaksa istirahat seama tiga hari setelah acara itu, namun kini dia benar-benar menjadi budak sex, ia tak pura-pura, ia memang perlu sex.

Rasanya cukup, aku kemudian membawanya ke Singapura untuk melakukan vaginatoplastis, dan selama sebulan berikutnya berlatih untuk memontokkan tubuhnya.
She's ready.

Sandra kini hidup di dua dunia, terang dan gelap. Karirnya terus meroket karena selain memang bakatnya memang besar, produser dan orang-orang penting lainnya puas atas pelayananya di ranjang.
Dan aku senang karena pundi-pundiku makin penuh, kantongku makin tebal. Selain karena uang hasil Sandra melacur, rekaman video dan foto tersembunyi para penikmat tubuh Sandra membuat upeti itu berjalan lancar.
Sandra sendiri sadar kalau dirinya tak mungkin lepas dari diriku, selain karena perhitungan bunga-berbunga, juga karena hutang baru atas perawatan dan fasilitas yang aku berikan padanya. Namun dalam pikirannya ia hanya berharap aku menjauhi keluarganya, lagi pula, she's now really enjoying sex that much. And i can have her for free.

So I'm happy, Sandra is happy, everyone ins happy. So I gues it's a happy ending isn't it?
Well, sekarang waktunya Sandra melayani lagi tamunya, aku antar dia ke Singapura, untuk menemani seorang penyanyi dangdut legendaris kita, sang moralis yang ingin menyalurkan hasrat biologisnya yang t e r l a l u. hahaha

Di pesawat sekilas aku melihat foto pendatang baru di dunia entertainment di cover tabloid yang dibaca Sandra Dewi, time to get that new target. Otakku mulai merencanakan cara menaklukkan gadis itu, dan senyum iblisku terkembang.
Aku memandang Sandra yang jatuh tertidur pulas, membiarkan kepalanya bersandar di bahuku, dan aku menikmati keindahan wajah cantiknya sambil aku nikmati penerbangan ini.
Oh, by the way apa aku sudah bilang kalau sebenarnya ayah Sandra dewi tak berhutang satu sen pun pada diriku? Kenalpun aku tidak. Hahahaha. Sandra, Sandra. You little poor thing.

Dan senyumku makin lebar.

End

3 comments:

Leonardo said...

whew.. akhirnya terbit juga cerita berikutnya. udah cape nunggu nya neh. but thanks banget ya...

di tunggu lagi cerita-cerita berikutnya. tapi jangan lama-lama dunk...

dari fans berat

Blogger said...

Do you like live sex webcams? Have a peek at BongaCams.

Blogger said...

I have just downloaded iStripper, so I can have the sexiest virtual strippers on my desktop.