Tuesday, July 14, 2009


The Beast Within: Susan Bachtiar

Perempuan cantik itu memandang rumah kumuh di hadapannya dengan perasaan haru.... ia tahu kalau di dalamnya terdapat seorang pria yang sangat membencinya, selalu menghinanya secara verbal, dan merendahkannya lebih dari hewan. Namun entah mengapa, rasa iba dan pengabdian pada pria itu membuat perempuan itu rela diperlakukan secara rendah, bahkan kini ia melakukan apa yang diperintahkan 'suaminya', begitu perempuan itu selalu menganggap status pria itu, pada saat kedatangannya yang lalu.

Andai saja komplex itu sedang ramai, maka mereka akan dapat melihat seorang perempuan cantik, membuka pakaiannya tanpa ragu hingga tinggal celana dalam, lalu mengenakan sebuah daster lusuh yang nampak dijadikan keset di depan rumah itu.
'Heh pelacur!' bentakan keras terdengar ketika kaki perempuan itu baru saja melangkah masuk, dan menutup pintu.
'Siapa yang suruh kamu datang, hah? Kamu mau menghina aku lagi?' sembur sang pria tanpa memperhatikan perasaan perempuan yang selama ini tulus merawat dirinya yang cacad tanpa lengan dan sebelah kaki korengan itu.

Perempuan itu hanya diam, wajahnya tertunduk seakan memang dirinya sangat bersalah.
'Eeeeh pake bengong, lagi! sekarang lu bersihin badan gua pelacur, udah tiga hari gua belum mandi!'
Dengan lembut perempuan itu membuka pakaian 'suaminya', lalu memulai prosesi mandi kucing. seluruh bagian tubuh lelaki itu merasakan kelembutan mulut dan lidah sang perempuan yang dengan halus, kini mengoral penis pria itu dan dengan perasan bahagia menelan semua semburan sperma sang 'suami' dan menelannya.

Sebuah tendangan di dada membuat perempuan itu terjengkang. 'Brengsek luh!, sekarang semua badan gua bau ludah lu, perek! emang gua kucing lu jilatin?' bentak pria yang baru saja menyemburkan sperma di tenggorokan sang perempuan, bahkan dengan sengaja buang angin ketika sang perempuan melakukan anal rimming dengan lidah lembutnya.'

Dengan membungkuk hormat dan perkataan maaf yang terlontar dari mulutnya, perempuan itu menuju dapur yang sederhana itu untuk kemudian menyusun kayu bakar, dan mulai menyalakan api. Wajah cantik sang perempuan kini ternoda oleh debu dan jelaga yang bertrebangan mengisi dapur dengan ventilasi seadanya itu, mulutnya tak henti meniupi bara api hingga air yang dimasaknya cukup mendidih.
Lalu dengan pengabdian penuh, perempuan itu membimbing sang pria yang terus menyumpah-nyumpah tanpa rasa terimakasih, walau kini sang perempuan dengan lembut bagai membersihkan poselen yang tak ternilai harganya, membersihkan tubuh sang pria dengan teliti, tanpa melewati satu inci pun juga.

Kemudian keduanya menuju bili yang menjadi peraduan mreke, sunggh kontras nampaknya ketika seorang perempuan cantik harus berada satu bilik dengan pria cacad yang kini terlentang telanjang di atas lantai yang beralaskan tikar lusuh.
'Kenapa kamu bengong? Nyesel udah dateng ke sini? Nyesel lo mau mengabdi sama orang cacad kaya gua?' Sembur laki-laki itu tanpa perasaan.
'Gua tau lo cuma pura-pura sayang gua, lu cuma mau ngehina kondisi gua, kehidupan gua!'
Perempuan itu tertunduk, terisak dan menggeleng lirih.
'Pake nangis lagi... pelacur itu ngga boleh nangis tau!'
'Sekarang lu naik sini, gua mau make lu....!'
Dengan patuh perempuan itu menaiki tubuh suaminya, ia meraih dasternya, namun...
'Lu mau ngapain? telanjang. Najis gua ngeliat body pereklu itu, gua mau ngentot bukan ngeliat body cungkring.'
Kembali isak lirih terdengar, namun perempuan itu patuh, ia menggeser posisi celana dalamnya, namun kembali hinaan keluar dari mulut sang pria.
'memeklu itu kotor lonte, dan memek lu itu ngga pantes ngedapetin kontol gua. Sekarang lu masukin ke bool lu, cepet!'
Mata sang perempuan memandang langitlangit bilik yang belubang karena lapuk dan penuh sarang laba-laba, matanya mengabur karena pelupuk matanya penuh dengan air mata yang coba ditahannya, selain karena hinaan itu, juga karena pedih yang dirasakan anusnya yang kini menelan penis pria itu.

Mulut pria itu sendiri seakan tak pernah berhenti menghina perempuan yang sekarang sedang berusaha memuaskan sang pria dengan adukan pinggulnya hingga penis sang pria merasakan jepitan anusnya secara maximal walau beberapa posisi itu menyakiti sang perempuan dengan sangat.
'Bool lonte, udah dobol... udah berapa sering laki-laki laen make bool lu perek!' caci sang pria, dan airmata sang perempuan berlinang karena hanya dengan 'suaminya' ini ia rela di sodomi, namun tak ada bantahan yang keluar dari mulutnya, hanya gerakan pinggul yang makin menyakiti anusnya yang dilakukan perempuan itu.
'Aaaaah udah udah udah!' sembur laki-laki biadab itu, 'bool lu ngga enak, mending lu pake mulut lo buat ngebersihin kontol gua. Bau tai lu, kampret!' semburnya lagi.

Dengan patuh sang perempuan mengangkat tubuhnya, bersimpuh dihadapan penis yang memang berbercak kuning kecolatan, lalu menjilati penis tu hingga bersih sebelum mendeepthroathnya hingga sang pria kembali berjakulasi dalam tenggorokan sang gadis.
'Mana terimakasih lu, pelacur! Pejuh gua mahal tau!'
'Te.... terimakasih, kang....'

Kemudian sang gadis menatap punggung sang suami, dan mulai memijatnya. Dengkur sang pria membuat sang perempuan begitu bahagia, karena mampu membuat 'suaminya' terlelap. Kemudian perlahan perempuan cantik itu bangkit, kembali kedapur dan mulai memasak alakadarnya ketika suara ribut terdengar dari ruang depan gubug mereka.
Reflex perempuan itu mematikan tungku dan berlari ke ruang dapan dan mendapati 'suaminya' sedang dipukuli oleh dua pria bertubuh besar, sementara sorang pria botak, berperut buncit, memakai kemeja kembang-kembang dengan rantai emas mencolok di dadanya meludahi tubuh pria yang babak belur itu.

Perempuan itu bergerak melindungi tubuh sang suami, membiarkan dirinya sendiri menerima beberapa tinjuan dan tendangan, sampai pria buncit itu bergerak dan menjambak rambut sang perempuan. Matanya melotot melihat kecantikan perempuan itu walau noda jelaga memenuhi wajahnya.
'Siapa kamu, cantik? Kenapa kamu ngelindungin bajingan ini?'
'Sa... saya istrinya.. pak....'
'Istri?' seru pria buncit tadi tak percaya, dan segera pria tak tau terimakasih itu berseru
'Dia bukan istri saya, najis saya punya istri dia... dia lonte...dia...'
Sebuah tendangan keras ke rusuk pria itu membungkam mulutnya.
'Bajingan tengik, ngga tau diuntung!' sembur pria buncit itu., 'Lu harusnya bersukur ada yang masih mau ngebela, monyet!'
'Ampun pak...' hiba sang perempuan, 'jangan siksa suami saya lagi.....'
'Ya ampun, kenapa sih kamu ngebela bajingan ini terus? Eh neng, mendingan lu jadi gundik gua. Pasti lu bahagia....'
'Saya.... saya tidak bisa pak.... saya sayang suami sa....'
'Anjrit luh lonte...!' sembur pria cacad itu tanpa rasa terima kasih, 'Ngga sudi gua lu panggil laki... naj...' kembali sebuah tinju di mulutnya membungkam pria tak tahu diri itu.
'Lu denger, kan? Laki lu aja kaga ngakuin elu, kenapa lu terus bela dia?' kata pria buncit itu dengan gusar.
'Dia sedang kalut, tuan...' perempuan itu malah erendahkan diri dengan memanggil pria buncit itu tuan.
'Eh denger ya, neng. Laki lu itu punya utang satu juta sama gua dan dia kaga pernah bisa bayar. Nah gua rugi dong, jadi ya gua hajar ajah laki lu' kata si buncit dengan santai
Perempuan itu bersimpuh di kaki pria buncit dan berkata, 'Tuan... tolong kami tuan... kami orang susah... '
'Semua orang juga susah neng,' sergah si buncit, 'Gua juga bakal susah kalo semua orang model suami lu ini.'
'Kasih saya kesempatan untuk bayar tuan....'
'Emang lu bayar pake apa neng? gubug ini aja harganya kurang dari sejuta.'
Perempuan itu nampak kalut, ia tak tega melihat suaminya dihajar begitu rupa... hingga ia nekad mengambil keputusan... ia hanya berharap suaminya akan memaafkan dirinya...
'Tuan.... sudikah tuan menerima tubuh saya sebagai pembayaran?'
Sejenak hening....
'Tuuuuhhhh kaaaaan, memang lonteeee!'sembur pria cacad itu
'Pelacur, lonte, pecun! Sekarang lu ngehina gua dengan ngejual memek lo. Dasar Lon....', tendangan di perut pria itu membuat nafasnya megap-megap.
Pria buncit itu tersenyum,
'Wah neng... abang sih seneng aja ngentot cewe cakep model neng... tapi satu juta? dengan duit kurang dari itu saya bisa puas ngentot cewe cakep, bukan bini orang lagi....'
'Tuan.... tolonglah....' hiba perempuan itu di kaki sang rentenir, hingga...
'Gini ajah, gua masih kasian sama lu yang udah mau berkorban buat kroco ini.... lu layanin gua dan kedua anak buah gua sampe puas, baru gua lunasin hutang lu.'
Permempuan itu tercekat, ia melihat anak buah sang rentenir yang bertubuh besar dan sangar tersenyum liar...
'Gimana?' tanya sang rentenir, 'Lumayan kan, lagian lu hebat bisa dapet kurang lebih tiga ratus ribu perorang. Jarang ada lonte yang dihargain segitu....'
Akhirnya perempuan itu mengangguk...
Ketiga penagih itu tersenyum senang, sementara si pria cacad itu...
'Lonte.... pelacur...'
'Aaaah, brisik, heh iket dia di kursi dan sumpel mulutnya pake ni gombal, kita bikin dia ngeliat kita entot bininya.'
'Nah, sekarang neng, mendingan lu mulai buka tuh daster, ngerusak suasana ajah.' perintah rentenir itu,

Dengan sedikit kikuk karena harus bertelanjang di hadapan 'suaminya' sang perempuan cantik meloloskan daster kumal itu melalui bahunya, dan...
Mata ketiga penagih itu bagai hendak keluar dari rongganya, mereka tak menyangka kalau dibalik daster itu, sebuah tubuh putih mulus, dengan payudara montok mengundang, serta kaki jenjang tersembunyi menunggu untuk dinikmati.
Dan ketika celana dalam itu tercampak, liur ketiganya mengalir deras. Vagina mulus tanpa sehelai rambut dan nampak sangat terawat tersaji dihadapan mata mereka pasrah untuk dinikmati.

'Dasar cacad ngga tau diri!' maki rentenir itu, 'bini cakep gini ngga diaku, sekarang lu liat gimana dia muasin kita-kita!'
Rentenir itu meminta sang perempuan untuk membuka celananya, dan mulai mengoral penisnya. Pria itu nampak menikmati sekali lembutnya bibir sang perempuan yang menggesek lembut penisnya, dan memebri sensasi seru dengan melakukan deepthroath yang jarang dinikmati pria itu. Remasan lembut di zakarnya, jilatan nakal membuat pria itu makin blingsatan.
Karena sudah tak kuat menahan nafsunya, rentenir itu mendorong sang perempuan hingga terlentang di tikar lusuh di ruangan itu , dan langsung menghujamkan penisnya ke vagina perempuan itu yang masih kering.

Ringisan kesakitan sang perempuan tidak dihiraukan sang rentenir yang kini menghentak-hentak pinggulnya dengan kasar, selain itu tangan gempal rentenir itu meremasi payudara dan bokong perempuan itu dengan kasar hingga meninggalkan jejak kemerahan. Perempuan itu sendiri merasa sesak, karena berat tbuh pria itu serta aroma tubuhnya yang asam.
Sekitar tiga puluh menit perempuan itu berjuang menahan gepuran penis sang rentenir sebelum....
Geletar sang rentenir mengiringi semburan sperma yang meluncur masuk tak tertahankan ke dalam rahim sang perempuan yang terisak karena kini tubuhnya sudah 'ternoda'.
Matanya tertumbuk pada sang suami yang memandang jalang dengan gumaman makian yang teredam, maafkan aku kang.... maaf. Desahnya dalam hati...

Kedua anak buah sang rentenir sudah tak tahan lagi. Tubuh besar hitam legam penuh tattoo segera merangsek maju. Seorang dari mereka tidur terlentang dan memaksa sang perempuan melakukan WOT, perempuan itu berjuang mati-matian memasukkan penis sang preman yang memang besar itu hingga sang preman sedikit tak sabar, mencengram pinggul sang perempuan dan menghentak pinggul seksi itu sekuatnya. Jerit tertahan keluar dari mulut sang gadis ketika penis itu tertanam sepenuhnya, bahkan terasa menjebol masuk ke rahimnya.

Belum lagi perempuan itu beradaptasi, tubuhnya ditelungkupkan hingga berhimpit dengan sang preman dan.
'Aduuhhh, aduhhhh, ampuuun, ampuunnn...' perempuan itu menjerit-jerit kesakitan ketika penis yang sama besarnya merangsek masuk ke dalam anusnya, walau belum lama ia melakukan sodomi namun kini situasinya berbeda, tak ada kepasrahan, hingga proses penetrasi itu sangat menyakitkan.
Dan ketika kedua preman itu bergerak, sang perempuan hanya bisa merintih-rintih kesakitan. Sementara bekas gigitan, remasan dan tamparan mulai menghiasi sekujur tubuh sang perempuan.

Perempuan itu benarbenr tersiksa, stamina preman itu benar-benar luar biasa, mereka sudah beberapa kali ganti posisi, dan ketiga lubang ditubuhnya terpakai melayani penis mereka, namun tanda orgasme belum juga nampak. Perempuan itu terus berusaha dan bertahan hingga akhirnya setelah lewat satu jam...
'Addduuuuuuuhhhh, ampuuuuuunn!', bahana jerit kembali keluar dari mulut sang gadis, ketika dengan kejamnya kedua penis itu dihujamkan ke dalam vagina sang perempuan yang kini menggigil menahan sakit. Dan perlu perjuangan sekitar lima belas menit lagi sebelum rahim sang perempuan disiram oleh dua penis secara bersamaan.

Namun mata sayu sang perempuan kembali tertumbuk pada penis sang rentenir yang kembali bangun. Mulut sang gadis kembali mendeepthroath penis yang tak lama bersarang di anusnya. Tubuh gadis itu kembali tersentak-sentak, sementara payudaranya yang menggantung bebas diremas dedengan kasar bahkan ditarik dengan sangat kuat seakan rentenir itu ingin merenggut payudara sekal itu dari tempatnya.
Bahkan kini ide gila muncul diotak sang rentenir yang memberi tanda pada kedua anak buahnya, yang lalu maju merubung sang perempuan.
Tubuh lemah itu diangkat dan kembali tubuh bagian bawah sang gadis mengalami double penetration di vagina serta anus. Dan ketika gadis itu membuka mulutnya hendak berteriak, penis besar yang lain merangsek dan memborbardir tenggorokan sang perempuan yang kini kelabakan karena bulu selangkangan sang preman melekat erat di hidungnya.

Selama satu jam berikutnya kembali gadis itu mengalami siksaan sexual yang sangat menyakitkan, karena ketiganya melakukan rotasi dan ketiganya selalu memposisikan penis-penis mereka hingga sang perempuan menggeletar kesakitan. Dan puncak kegilaan mereka, ketiganya mendesakkan penis mereka dalam vagina sang gadis dan menyemprotkan sperma mereka ke dalam rahim sang perempuan.

Kemudian ketiganya duduk santai sambil merokok, mereka melihat sang wanita yang menggelpar menahan sakit di sekujur tubuhnya, terutama vagina dan anusnya. Rentenir itu kemudian bangkit dan berkata.
'Mendingan lu tinggalin laki lu yang brengsek itu, dia ngga pantes buatlu.' katanya sambil mereka membenahi pakaian, lalu tambahnya.
'Janji gua, gua pegang. Utang bajingan itu lunas, walaupun sebenernya lebih baik kalau dia mampus.'
Dan keheningan hinggap di gubug itu ketika ketiga penagih itu pergi.

Sambil merayap, sang perempuan mendekati 'suaminya' yang nampak seperti didekati penyakit. Bahkan ketika akhirnya ikatan tubuh dan bungkaman mulutnya terlepas.
'Pelacur sundal, lonte, pecun, perek!' hujan cacian ditambah tendangan liar mendera tubuh lemah sang wanita yang hanya bisa meringkuk mempertahankan diri sebisanya.
'Lu bukan gundik gua lagi, ngga sudi gua make pecun bekas orang! Liat tuh memek ama bool,lu. Udah dol, dower!' maki si cacad sambil menghujam vagina si gadis dengan kakinya yang penuh debu dan koreng.
'Lagian memek lu udah diisi pejuh tu orang, gua ngga mau nanggung anak haram yang ada di perut sudel lu itu!'
'Mulai detik ini, gua ngga mau liat muka sundel lu itu di rumah ini lagi. Kalo lu masih nekat dateng, bakal gua jual lu ke temen-temen gelandangan dan pengemis gua!'
'Pergi lu, lonte!' bentak si cacad, sambil menendang wajah sang perempuan, yag akhirnya dengan berat merayap ke luar gubug itu.

Hati sang perempuan sangat terpukul... memang semua kesalahannya, tak seharusnya ia menjual diri demi menutup hutang, 'suaminya' tentu bisa menyelesaikannya. Namun kini nasi sudah jadi bubur, tubuhnya sudah cemar dan rahimnya sudah cemar...'suaminya' pantas membuangnya.
Dengan rasa sesal yang mendalam perempuan itu bersujud di depan gubug itu, sinar temaram bulan menyinari punggung dan pantat sexy sang perempuan yang kini menangis di depan gubug itu.

Lalu dengan gontai ia memakai pakaiannya yang teronggok di depan gubug, dan melangkah lunglai meninggalkan gubug itu.
'Ah setidaknya suamiku bebas dari hutangnya...' keluh gadis itu dalam hatinya, kemudian ia menyetop sebuah taxi dan...

*********
Dua minggu kemudian, Bandara Soekarno Hatta

Seorang pria tampan nampak menjemput sang perempuan yang baru datang dari Singapura...
Sang perempuan nampak hambar dalam menyambut kecupan mesra sang pria, yang lalu mengawalnya ke sedan mewah mereka.
'San... kemana saja kamu selama ini..., ada lebih seminggu kamu menghilang.... Aku rindu kamu... Aku khawatir....Aku....'
Perempuan itu berkata datar dan dingin, 'Ko... ingat sumpah koko...'

Dan hanya alunan musik lembut yang mengisi kesunyian mobil yang terus melaju, sang pria nampak berusaha menelan kegalauannya sendiri... ia teringat sumpahnya yang tak akan mempertanyakan apapun yang diperbuat istrinya yang kini nampak tercenung sedih demi melihat komplex perumahan kumuh di daerah Jakarta Utara yang jelas terlihat dari overpass yang mereka lalui.
'Ah setidaknya, istriku kembali dalam pelukanku...'
Mobilpun terus melaju.

*********
Siang itu di komplek pelacuran murahan di kolong jembatan.....
Pria cacad itu merem melek menerima oral sex dari pelacur murahan yang sudah tua, gemuk dan berdandan sangat menor. Matanya terpaku pada acara Jelang Siang di salah satu TV Swasta, ia melihat pebawa acara wanita yang nampak anggun itu. Seketika wajahnya nampak jijik dan meludah...
'Dasar pelacur!' dan kata-kata itu ternyata membawa bencana, karena pelacur yang merasa terhina itu memanggil preman setempat dan lalu menghjar pria cacad itu habis-habisan

******
Di rumah rentenir...

Mata ketiganya memeblalak tak percaya, ternyata dua minggu yang lalu mereka telah menggumuli salah satu artis papan atas ibu kota dengan sangat brutal dan liar.
Dan ketiganya serempak tertawa...

Mereka mentertawakan keberuntungan mereka yang bisa menikmati tubuh artist itu untuk harga yang kini dirasa sangat murah, terlebih ketika mengingat kekasaran mereka pada perempan itu.

Mereka juga mentertawakan kebodohan mereka yang tidak segera mengenali sang perempuan, hingga mereka sama sekali tidak memiliki bukti persetubuhan itu, hingga kini tak ada satupun cara mereka untuk memeras sang perempuan untuk melayani mereka kembali.

Ketiganya berpandangan dan...

Tawa pecah di rumah itu....

********
'And Cut!' teriak sang suradara sambil mendekati pembawa acaranya.

'nice job as always mBak, anda benar-benar pembawa acara yang hebat!'

Perempuan itu hanya tersenyum lalu melangkah ke dalam ruang ganti privatnya, pintu itu menutup dan sebuah tanda menunjukkan pemilik ruang itu.

Susan Bachtiar.

End

3 comments:

herman said...

kok ngak ada penjelasan, mengapa si susan sebegitu merendahkan diri? btw nice story, alurnya ngak ngebosenin, tapi bingung ajah tiba2 si susan melakukan itu semua.

pimp_lord said...

Thanks atas commentnya, dan thanks karena bisa menikmati cerita ini.

Untuk alasan...
'Ko... ingat sumpah koko...'
hehehe

cheers

Diny said...

Yuuuhu, Bro Pimp..
uda keluar aj niy yg baru, 3 lg hehe.
Numpang koleksi yah hehehe.