Wednesday, July 28, 2010


The secret of Mariana Renata….


'Dingin ' gumam gadis itu sambil mengeratkan pelukan di lututnya.

Di sana mereka berdua, duduk di dinginya pagi, di bale bambu depan gubug sederhana di puncak bukit itu.

Pria di sampingnya melepas mantel tua yang selama ini menemaninya, dan menyampirkannya melingkupi tubuh sang gadis, lalu memeluknya erat.

'Terima kasih kang' kata sang gadis sambil mencengkeram erat lengan sang pria yang merengkuh bahunya, seakan tak ingin melepaskan kehangatan itu bahkan sedetikpun.

kembali keheningan pagi menyelimuti kedua insan itu, menikmati indahnya terbit matahari, meresapi kehangatan yang menyertai sinarnya.

Seulas senyum tergaris di bibir sang gadis ketika memori itu kembali. memori persetubuhan yang mereka lakukan malam sebelumnya.
Ketika gairah yang mereka pendam terlepaskan, ketika segala nafsu terlampiaskan.

Gadis itu bergetar demi mengingat sentuhan sang pria yang kini memeluknya erat, karena menyangka dingin pagi mengusik kekasih hatinya. Sang gadis terkenang ketika malam tadi tangan kasar lelakinya membelai rambutnya, mengelus pipinya, mengusap jejak airmata yang mengalir di pipinya.
Air mata yang mengalir sebelum kemesraan mengambil tempat. Air mata yang turun ketika argument itu terlontar…

‘Kenapa kang? Kenapa aku tak boleh menyatakan kemesraan kita kepada seluruh penghuni jagad ini?’ tinggi suara sang gadis, menumpahkan kesalnya…
‘Jangan sayang…’ kata sang lelaki sambil mengusap lengan sang gadis yang nampak gusar itu…
‘Kenapa kang?’ Tanya gadis itu lagi, ’malu beristrikan aku? Ingat kang… aku menerima akang apa adanya….seperti aku telah serahkan seluruh jiwa dan ragaku hanya untuk akang’

Lelaki itu memeluk sang gadis lebih erat…mencoba menghalau kegundahan sang gadis…
‘Akang tidak mau, kalau apa yang kamu sudah miliki selama ini hilang…ketenaran, harta, kejayaan….’

‘Kang… sekarang pun aku rela hidup bersama akang… kang, harta tidak abadi… hati yang abadi….’
‘Dan akang mu tidak mau melihat kamu di hina, di nista, di lecehkan…’

‘Aku tak perduli…’ sergah sang gadis
‘Akang mu perduli!’, tegas lelaki itu…’Kecuali kamu ingin melihat akangmu di rajam, di masukkan ke penjara…’

Sang gadis tepekur… tak terbayang sebelumnya bila rencananya akan membuat kekasih hatinya mendapatkan kesulitan….

Dan hanya air mata yang dapat meringankan sedikit galau sang gadis…. Air mata yang dihapus oleh telapak tangan sang kekasih… ketika seluruh penghalang jasmani mereka yang dinamai pakaian telah tercampak, meninggalakan kepolosan ragawi yang memberikan kehangatan duniawi di antara mereka.

Gadis itu mengeratkan pelukan pada sang pria ketika kenangannya kembali ke saat sang pria membangkitkan kegairahannya kembali, terkenang bagaimana sang pria menyejukkan hatinya, dan lalu membangkitkan gairahnya dengan merabai punggungnya, bahunya. Dan oh… betapa bergetar tubuh sang gadis ketika sang pria beranjak ke belakang tubuhnya, memeluknya dari belakang.
Lalu perlahan sang pria menciumi tengkuknya, turun ke bahunya, sementara telapak tangan kasar itu kini memijat lembut kedua payudaranya, memilin putingnya yang mengeras seiring gairah yang makin bergolak.

Gadis itu teringat ketika tangannya sendiri mulai begerak. Mencengkeram pinggul sang pria yang kini selangkangannya telah rapat di pinggulnya sendiri. lalu merayapi paha kekar sang pria.

Gadis itu tersenyum, dan mencium lembut pipi lelaki itu, seakan berterima kasih atas kenikmatan yang diberikan laki2 itu beberapa waktu yang lalu, yang begitu terpatri dalam memorinya.

Memori ketika sang lelaki dengan lembut menelungkupkannya di lantai beralaskan tikar di dalam kamar sederhana itu, kemudian sang pria memulas punggungnya, memijat lembut, memberi sensasi yang sangat menggairahkan. Terlebih ketika bibir dan lidah sang lelaki mulai ikut bergerak. Meninggalkan jejak basah dipunggungnya, turun ke buah pinggulnya.

Gadis itu mendesah penuh nafsu ketika sang pria menggigiti lipatan antara pantat dan pahanya. Dan desahan menguat ketika dengan lembut sang lelaki mengangkat pinggul sang gadis dan menjilati vagina serta anus sang gadis, sementara jemarinya bermain ringan merangsang clitoris yang makin menegang itu.

Ledakan orgasme sudah tak terbendung lagi, rangsangan itu begitu kuat...dan kini sang gadis tertelungkup lemah menikmati orgame yang ia tau bukan menjadi yang terakhir. Terlebih ketika kini sang lelaki membalikkan tubuhnya, lalu mendekatkan tubuhnya sendiri pada sang gadis hingga kini nafas mereka saling mengahngatkan wajah yang berpeluh oleh nafsu.

Sang pria lalu mencium lembut pinggir bibir sang gadis, memberikan sensasi geli pada sang gadis yang hanya bisa menikmati cumbuan itu.

Ciuman itu turun ke leher, lalu ke payudara yang bergantian dengan remasan lembut membuat kedua bukit indah dan putingnya itu kembali mengeras, menggoda.
Kedua tangan sang pria tetap bermain lembut di payudara sang gadis, semantara permaian lidahnya berlanjut ke perut datar sang gadis...

Kembali desahan terdengar ketika lidah sang pria melumat vagina sang gadis dengan lembut, vagina yang terawat itu menerima ciuman, jilatan, kuluman bibir tebal dan lidah kasar sang pria, yang mengantar sang gadis ke arah kenikmatan yang tertinggi.

Kini lengan sang pria meremas pinggul dan paha sang gadis yang lengannya bergerak meremasi payudaranya sendiri sambil menikmatu jilatan sang lelaki yang turun ke pahanya, betis, dan tanpa sungkan mengulum ibu jari kakinya.

‘Ah, kang mas ku sungguh mencintai aku' pikir sang gadis yang berharap pengabdiannya sebagai istri sebanding dengan kenikmatan yang dirasakannya...

Lamunan sang gadis sejenak teralih pada bagaimana ia berusaha melayani kekasih hatinya.
Dengan balutan sarung lusuh yang hanya menutupi separuh payudara dan hanya menutup separuh bongkahan pantatnya, sang gadis meniup api di tungku batu itu untuk membuat masakan bagi sang kekasih hati.
Membiarkan jelaga menodai kecantikan wajahnya.

Tengingat ketika dengan hati tulus ia memandikan kekasih hatinya... di pancuran dingin di sungai dekat gubug itu.
Senyum sang gadis mengembang demi mengingat desahan lelakinya ketika tubuh bugil sang gadis melakukan thai massage di sekujur tubuhnya, dan mulut serta kerongkongannya menghangatkan penis sang lelaki dengan lincahnya...

Kenangan sang gadis kembali ke malam tadi ketika kembali wajah mereka hanya berjarak sepencium...
Sang pria menanti...
Sang gadis mengangguk...dan...

Tubuh sang gadis menggeliat dan menahan nafas demi merasakan desakan penis yang menusuk jauh ke dalam vaginanya, terasa kepala penis perkasa lelakinya bahkan menyeruak ke leher rahimnya...

Sang gadis memeluk erat lelakinya, dan melingkarkan kakinya mengait pinggul sang lelaki. Tak ingin melepaskan kenikmatan ragawi yang begitu mengoyak syaraf nikat di sekujur tubuhnya.

Betapa ia menjadi binal karena ledakan nafsu. Tubuh sang gadis meliuk, menekuk, melengkung. melakoni semua kemungkinan demi menikmati persetubuhan ini.

Ia tak perduli betapa menyakitkan posisi yang dijalaninya, terutama ketika lelakinya melipat lututnya ke hingga menempel di telinganya, dan hanya bahu yang menjadi penumpu tubuhnya, dan anusnya menjadi pelabuhan penis sang kekasih. Untuknya semua adalah nikmat. Baginya, tubuhnya adalah milik suaminya...dan biarlah suaminya melakukan apa yang diinginkan terhadap tubuhnya karena sebagai gantinya orgasme demi orgasme tak pernah luput diperolehnya.

Hingga pada satu titik mereka berdua tak lagi mampu bergerak dan mereka jatuh dalam tidur yang sangat nikmat...

Kini, di bale bambu itu. Kembali sang gadis merenungkan memori indah itu... seulas sedih hadir karena mengingat betapa sempitnya waktu mereka untuk bersama.

Betapa air matanya yang semalam diseka berasal dari keputus asaan tentang waktu mereka.

Pelukan erat sang pria membuat sang gadis bergerak...ingin menikmati masa yang singkat ini...

Sang gadis melepaskan mantel membiarkan tubuh telanjangnya dirayapi sinar mentari pagi. Ia memalingkan wajahnya ke arah sang pria dan memagut bibir sang lelaki yang segera membalasnya dan merengkuh tubuh sang gadis...

Dan kini di bale bambu di depan gubug di atas bukit itu. Diiringi sinar mentari yang makin meninggi. Tubuh yang berkilat oleh nafsu dari kedua insan itu melepaskan rasa yang beraduk dalam hati mereka. Dan pelampiasan itu menjadi sensasi persetubuhan liar yang sangat memabukkan...

Keheningan jelas tergambar dalam mobil mewah yang meluncur membelah kepadatan Jakarta , bahkan alunan musik melancoly yang tersaji seakan membisu.

Sang gadis jelas termenung, menerawang sedih.
Sedih karena waktu yang memisahkan dirinya dengan cintanya...
Kenyataan bahwa dirinya dipaksa untuk berpasangan dengan 'yang sepadan' dengan dirinya...
Sedih karena kini kembali ia harus mencari waktu, demi dapat melayani kekasih hatinya.

Kini, di depan pintu rumah mewah itu. Sang gadis melirik ke arah mobil, mematung tanpa expresi walau hati berkecamuk. Memandang wajah sang kekasih yang kini 'dipaksa' menjalani kehidupan sebagai supirnya...

Mobil itu meluncur ke arah garasi, sang supir melirik spionya dan melihat langkah 'majikannya' masuk ke dalam rumah.
Pria itu menghembuskan nafas yang menyesak...lalu keluar dari mobil.

'Waaaah, mang Ujang enak ya, di ajak jalan sama si non Mariana', oceh pembantu genit yang hobi bergosip itu...

'Hati-hati encoknya kumat mang, hihihi... Inget umur... udah 55 lho hihihi' lanjut sang pembantu dengan mengesalkan..
Mang ujang kembali mendesah berat...

Dan kini, kembali kedua insane itu, Mariana dan Ujang, terpisahkan oleh ruang dan waktu... Mereka harus kembali menekan rasa, walau jarak mereka kadang hanya sejangkauan...

Hingga mungkin suatu saat nanti, mereka sejatinya dapat bersatu...menjadi keluaraga seutuhnya...suami istri...

Namun untuk saat ini... di dua kamar terpisah... dua insan... hanya dapat berharap...

One day... Maybe...

3 comments:

Vengxi said...

Hanya satu kata yang bisa dikatakan:

"Bingungggggg"

Hehehehehehehe...
Lanjut deh yang laen...

pimp_lord said...

hehehe sorry bro...

waktu bikin cerita ini lagi sedikit mellow..
;)

story of ghia n gina said...

penyiksaan lg donk