Wednesday, June 24, 2009


Celebrity Nightmare – Acha : Potret Artis Masa Kini

Sebuah Karya Bersama Pimp Lord & Diny Yusvita.
Original Idea by Diny Y.
Storyline & Opening by Pimp Lord.
Additional Hardcore Scene by Pimp Lord.
Editing & Finishing by Diny Y.


Dentuman musik menghentak jantung setiap pengunjung cafe itu. Beat kencang sang DJ terlebih dengan beragam campuran alkohol ataupun psikotropika membuat pengunjung Trance atau Nighters semakin fly high. Kebanyakan pengunjung adalah kumpulan gadis-gadis belia yang masih berusia belasan tahun, mereka dan beberapa temannya tampak menikmati betul suasana itu, dan seperti pada umumnya pengunjung Nightclub, pakaian yang dikenakan benar-benar mengundang birahi, rok yang sangat mini dan sebatang ‘menthol’ pada bibir sensual yang membuat diri semakin merasa seksi dan gaul.

Beberapa pengunjung Café tersebut adalah para artis, baik itu yang sudah terkenal maupun yang baru naik daun, bahkan beberapa hanya seorang foto model yang berniat mencari om-om produser maupun seorang sutradara, agar bisa menaikkan karir hingga melambung tinggi. Tentu dengan semakin naik dan terkenal namanya, bayaran atas profesionalismenya pun akan semakin berlipat ganda.

Adapun pengunjung lainnya berprofesi sebagai Paparazi, yang kerap kali mencari berita untuk di dramatisir dalam sebuah tabloid atau harian, dengan foto sebagai objeknya. Seperti halnya pria yang bernama Paimin ini, dia berasal dari kampung. Pekerjaan Paimin sebelumnya adalah fotographer kampung, jadi dengan modal itulah dia nekat untuk mengadu nasib di Jakarta kota Metropolitan ini. Dia punya kenalan di Jakarta ini, teman sekampungnya bekerja di salah satu tabloid yang sudah terkenal, lebih bonafit dibanding perusahaan yang mengolah tabloid tempatnya bekerja.

Pada temannya itu sementara dia menebeng untuk Kost dan belajar mendalami keahlian pekerjaan yang diburunya dan juga disenangi olehnya. Pendalaman keahlian itu tidaklah memakan waktu lama dikarenakan Paimin bisa dikatakan ‘otak encer’, walaupun dari kampung. Oleh temannya ini pula Paimin dimodalkan Kamera mini digital, pemilik tabloid hanya cukup membayar Paimin dari hasil jepretan, memberikan uang saku untuk keperluan di luar serba-serbi, uang transport juga uang makan, tetapi tidak gaji tetap.

Teman Paimin ini bernama Asep, orangnya kurus tinggi jangkung. Dia lebih dahulu melancong ke Jakarta dari Cirebon, mencoba mencari-cari pekerjaan, menetap dan mapan lebih dahulu dari Paimin. Di kampungnya dulu, Asep seringkali mendapat hinaan dengan dilempari batu karena tubuhnya yang kurus seperti lidi itu dan dilengkapi dengan wajah buruk rupa, tak jauh dari Paimin sebenarnya, sehingga sering diledeki dengan julukan ‘tengkorak hidup’. Paimin sering kali membelanya, maka dari itu Asep merasa berhutang budi pada Paimin.

Walaupun Asep kurus dan wajahnya kampung, tetapi dia berbakat dalam hal fotographi. Semua hal yang difotonya menjadi bagus, karena bakat dalam cara pengambilan foto. Seperti foto-foto contoh makanan yang terdapat dijalan, seringkali terlihat enak, besar juga banyak. Padahal sewaktu kita cicipi tidaklah demikian. Jadi Asep juga dulu mantan Fotographer kampung, ketika dia lebih dulu pergi ke Jakarta, dia mewariskan pekerjaan itu pada Paimin, itupun Paimin tak puas. Menurutnya jika ingin kaya memang harus merantau dan mencari pekerjaan di Jakarta seperti Asep.

Paimin masih teringat ketika redakturnya mulai berteriak dan marah-marah seperti orang kebakaran jenggot, memberikan komando kilat ketika deadline sudah mendekat. Paimin sedikit shock, karena dia baru saja bekerja untuk tabloid gosip itu, untung saja Paimin orang yang cepat beradaptasi, karyawan sebelumnya mengundurkan diri tanpa mau mengajarkan sedikit-sedikit karena mendapat tawaran yang lebih baik lagi, dan resign dalam waktu yang sangat singkat. Sedangkan Asep temannya tak bisa selalu mengajarkan dirinya, karena berada dalam wadah atau tempat kerja yang berbeda. Paimin memang beruntung ketika itu, karena Asep teman sekampungnya itu kenal dengan salah satu orang dalam, sehingga dia bisa mendapatkan posisi tersebut, walaupun bayaran yang didapatnya kurang sepadan.

Setelah mendapat pekerjaan ini barulah Paimin mandiri, dia sewa Kost dekat kantornya itu, agar tidak ada biaya ongkos yang dewasa ini melonjak tinggi. Sekarang, di Café inilah Paimin sedang mencari-cari sasaran. Sambil menggaruk-garuk kepala karena uang sakunya habis dipakai menyogok security di pintu masuk tadi, itupun dia sebisa mungkin berdandan tidak seperti reporter pencari gossip. Mata Paimin liar mencari-cari sasaran, mengabadikan beberapa tubuh sexy dengan kamera digitalnya yang mini, dan pada akhirnya pandangan Paimin tertumbuk pada seorang gadis.

Sang gadis jelas berusaha mengeluarkan sex appeal terbaiknya, mencoba menarik banyak perhatian pria untuk memandangnya, namun sungguh sangat disayang, dengan pengaruh alkohol yang terkandung di dalam tubuhnya, gadis itu jelas-jelas kurang memperhatikan ‘letak’ pakaiannya yang terlalu berlebihan, segelas vodka on rock yang membasahi tenggorokannya itu juga membuatnya serasa bagai artis terkenal seperti yang berada di sekitarnya.

Sang gadis malah melempar senyum pada seseorang dengan slim digicamnya, sang gadis berwajah imut itu malah bangga dan bergaya pada orang yang mengabadikannya, padahal sang gadis kini sedang dalam posisi sedikit mengangkang, sebatang menthol terlepit di jari lentiknya dan underwear hitam ter-expose jelas karena roknya terlalu mini. Tiba-tiba seorang gadis cantik berumur belasan seperti dirinya berdandan menor menghampirinya dengan tergesa-gesa, wajahnya sudah sering terlihat di beberapa sinetron.

“Cha..cha…tuh Om Sutanto..!!”kata temannya yang sedang naik daun, ketika itu tingkat ketenaran sang gadis masih berada di bawah temannya itu.

Mata sang gadis langsung saja mengarah pada sosok seorang pria dewasa berperut buncit layaknya om-om. Dia mengacuhkan pria yang baru saja mengabadikan pose nakalnya, si gadis benar-benar lugu, kenakalan disebabkan karena pergaulan dan ingin tenar saja. Dia tidak memikirkan efek dari dandanan nakalnya, dimana sang gadis sebenarnya dikenal sebagai gadis alim dan baik-baik oleh keluarga dan juga teman-temannya di sekolah.

Om-om yang dimaksud dua gadis itu tampak banyak disapa semua pengunjung disitu, baik itu pria maupun wanita, semua berusaha ‘menjilatnya’, agar bisa main sinetron ataupun layar lebar Indonesia yang dipertanyakan mutunya itu. Karena takut didahului yang lain, maka teman sang gadis itu menarik tangannya agar dekat dengan si Om.

“Om Sutanto…”sapa teman sang gadis pada si Om.

“Eeehh…Cacha…wah…lagi disini juga toh..?!”tanya si Om sok ramah.

“Iyaa…sama temen-temen sih“jawab gadis yang bernama Cacha itu.

“Eh…film yang kamu bintangin kemaren, ratingnya bagus loh…selamat yah !”

“Iya Om…makasih juga, kan berkat Om Sutanto hihihi”tawa teman si gadis tersenyum manis. Sang gadis yang berada di sebelahnya masih kikuk namun ikut tersenyum juga.

“Ha ha ha…bisaaa aja kamu !”balas si Om sambil mencubit pipi Cacha yang mulus menggemaskan itu.

“He he he…o iya Om..inii..Cacha mau kenalin temen…dia foto model majalah G****, tapi karirnya mentok gitu deh…kasian padahal cantik kan ?!”kata teman sang gadis yang seperti germo saja, mempromosikan barang baru. Si Om langsung melempar pandangan ke arah si gadis, walaupun dari tadi dia sudah tahu ada gadis cantik disebelahnya, hanya saja si Om tentunya ‘Jaim’. Sang gadis memberanikan diri menegarkan hati, karena si Om menatap tajam ke arahnya dari ujung kaki sampai ujung rambut hitam panjangnya.

“Wah wah…punya bakat nih…”kata si Om, otaknya yang ngeres itu langsung mode on. Padahal belum jelas bakat apa yang dimaksud, bakat enak digarap di ranjang iya betul, tetapi bakat acting di perfilm-an belum tentu. Sang gadis jelas belum memperlihatkan kemampuan acting padanya.

“Iya kan…”kata teman si gadis yang bangga, karena tidak salah membawa barang baru ‘selera’ si Om.

“Siapa namanya…??”tanya si Om mengajaknya berjabat tangan berkenalan mendahului si gadis.

“Mm…Je..Jelita…Jelita Septriasa !!”sang gadis pun menyambut perkenalan begitu senangnya. Yaph, itulah namanya, Jelita Septriasa atau kerap di panggil Acha saat ini. Acha pun langsung membayangkan dirinya akan bermain Film dan banyak uang.

Mereka pun larut dalam perbincangan yang semakin akrab, mencari lokasi tempat duduk yang lebih privacy, tertawa-tawa dan minum bersama, tak sadar ada dua buah mata terus mengintai dengan slim digicamnya. Paimin terus mengabadikan kegiatan mereka, entah kenapa ia merasa kalau suatu saat gadis ini akan menjadi besar nantinya. Tentu dengan dekatnya seseorang dengan si Om produser tersebut, sebuah ketenaran sudah di tangan. Paimin mencoba mendekat dengan gerakan yang sebisa mungkin tidak mencurigakan, dia mencuri-curi dengar pembicaraan.

Tak lama si Om dan Acha pun tampak bangkit seperti hendak pamit pada Cacha yang mempertemukan mereka, Cacha dan Acha bertemu pipi serta melambaikan tangan. Si Om produser pun juga tampak berpamitan dengan beberapa relasinya di Café tersebut dengan Acha di sampingnya. Banyak yang terlihat iri terhadap Acha saat itu. Paimin mengabadikan kejadian itu sebisanya, dan meneruskan perburuan photonya terhadap model dan artis lainnya yang ada disitu. Setelah itu pulang ke kostnya setelah merasa cukup mendapatkan bahan pekerjaannya.


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Kost-kostan #

Paimin beristirahat menghela nafas sejenak, dia baru saja sampai disitu sekitar jam 3 pagi, memindahkan foto-foto hasil surfingnya di café ke computer. Agar file aman, Paimin membuat Back Up di CD atas file-file tersebut. Setelah itu baru dia melihat semua hasilnya, redaktur tabloid memintanya untuk mendapatkan foto Cacha teman Acha, karena sedang hot-hotnya dan pasti laris jika dijadikan bahan gosip. Tetapi diantara semua foto, Paimin malah terpaut pada sebuah foto Acha yang menantang dan mengundang gairahnya. Ya, foto itu adalah fotonya yang sedang duduk tanpa mengindahkan roknya yang terlalu pendek, ditambah sebatang menthol ciri khas ‘gadis extravaganza’.

Paimin terlihat lebih antusias dan lebih bernafsu pada foto Acha itu, menurutnya gadis cantik seperti Cacha dengan dandanan seronok itu lusinan, tetapi yang seperti Acha ini masih bisa dibilang langka, saat itu memang Acha masih terlihat seperti gadis yang baru terpengaruh pergaulan, namun belum masuk ke dunia artis sesungguhnya yang hancur itu. Wajah Acha masih lugu sekali, sampai-sampai Paimin sayang jika foto itu juga jatuh ke tangan redaksi walaupun ditukar dengan uang. Paimin terobsesi pada Acha !! Paimin memutuskan untuk menyimpan beberapa foto yang terdapat Acha berposisi mengundang gosip, dia menggunakan foto Acha yang seperti itu hanya untuk bahan Onani saja, tidak lebih.


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Di sebuah Apartemen mewah di selatan Jakarta #

Om Sutanto sedang meresapi nikmatnya mulut dan tenggorokan Acha, yang dengan ahli mendeepthroath penis si Om, lidahnya lembut menggelitik serta meremas pelan buah zakar itu. Kemudian Om Sutanto menjambak Acha dan melemparkannya ke lantai kamar itu, rupanya produser itu sudah bosan dengan seks konvensional, seks sang produser itu cenderung kasar.

Dia mengangkangkan kaki Acha yang mulus itu lebar-lebar dan, “Hiiiihh !!”geramnya. Zreeekh !! penis Om Sutanto langsung mendobrak paksa masuk ke vagina Acha tanpa merangsang Acha terlebih dahulu. Sehingga penis itu meluncur di vagina Acha tanpa lendir pelumas. Acha berteriak, persetubuhan ini sebenarnya lebih menjurus ke perkosaan dan sadisme.

Remasan di payudara, jambakan di rambut, gigitan di leher dan tamparan di pipi, semua silih berganti diterima tubuh Acha. Namun Acha yang ingin sekali ketenaran dan banyak uang mencoba bertahan, sebagaimana artis-artis lainnya yang pernah digarap Om Sutanto, harus menerima derita seperti ini olehnya dan beberapa rekan Pejabat yang juga menaruh ‘minat’ pada artis, baik itu artis lama maupun artis pendatang baru.

# Pada saat yang sama, di lokasi yang berbeda #

“Siaaal…siaall…siaaa…Aaakh…Aakh…Ooohh”desah pria tersebut, dia adalah Paimin yang sedang onani di kamar kost-kostannya sambil memandangi foto Acha yang seronok itu di komputernya. Paimin tak sempat menyelesaikan kalimatnya, sekarang tangannya sudah lengket belepotan sperma yang ditumpahkannya, hal itu bersamaan dengan masuknya sperma Om Sutanto yang ejakulasi dan memuntahkan sperma dalam rahim Acha di apartemennya. Bagi Paimin, malam itu sudah usai, dia melampiaskan nafsu cukup dengan onani dari foto Acha akibat obsesi yang begitu tinggi.

Namun bagi Acha, malam ini hanya sebuah permulaan, Om Sutanto mendekati dengan sebuah strap leher lengkap dengan rantainya. Yaph, Acha akan menjadi budak seks Om Sutanto setiap hari, baik itu hari libur maupun pulang sekolah karena saat itu Acha masih SMU. Acha akan menjadi budak seks sampai Om Sutanto bosan dan menemukan ‘barang baru’ untuk disalurkan menjadi artis.

“Om..jangan Om…Acha mau diapain ?!”

“Lhoo…kan kamu mau jadi artis kan ?”

“I.iya..”

“Yaa kalo kamu mau jadi artis..kamu musti jadi piaraan Om dulu…Cacha sama artis lain dulu juga begini…enak aja mau langsung main film ! engga ada yang gratis Non di dunia ! harus berjuang mati-matian ! penuh pengorbanan !!”doktrin Om Sutanto tegas. Acha diam seribu bahasa, kata-kata Om Sutanto ada benarnya juga, perjalanan hidup tidaklah mudah, apalagi ketenaran dan banyak uang, tentu ada ‘Harganya’ untuk ditukar.

“Naah..jadi Om tanya lagi, terserah…kalo Acha mau pulang Om engga melarang, tetapi selamat tinggal ketenaran dan mandi uang…gimana ?!”kata Om menakut-nakuti Acha.

Dia tahu betul gadis macam Acha ini ingin sekali tenar, kenal banyak artis ganteng, banyak uang dan naik kendaraan roda empat. Acha bimbang, tetapi bayang-bayang ketenaran dan mandi uang lebih menggodanya. Om Sutanto yang melihat Acha tak bereaksi, langsung memasang strap leher berantai yang segera menjadi hiasan leher Acha.

“Jangan kasar-kasar ya Om…pliss ?!”pinta Acha, dia tidak mengatakan jangan, hanya meminta belas kasihan dengan sebuah siksaan yang lebih ringan.

“Lhoo…terserah Om dong ehehehe”
Om Sutanto berlalu sesaat mengambil sesuatu dan mendekatinya lagi dengan cambuk dan penis yang terbungkus kondom bergerigi. Om Sutanto memegang rantai dari strap itu agar Acha tidak bisa lari.

“Jangan Om ampuun…!”

“Lhoo…sinetron itu kan adegannya cuma nangis aja, nah biar engga susah…Om mau bikin kamu terbiasa…kaya artis-artis yang udah ngetop, biar kamu menjiwai aktingnya hihihi !!”terang Om Sutanto sambl menyeringai mesum.

“Anak-anak sekarang…cuma mau ngetop bersedia jadi pelacur hina..Hiiihh !!”geram Om Sutanto melayangkan lecutan cambuknya. Berikutnya terdengarlah lengkingan Acha yang penuh derita, Acha yang tadinya pamit dengan orang tua untuk menginap dan bersenang-senang dengan teman-temannya, pada kenyataannya malah menyiksa diri untuk sebuah ketenaran dan banyak uang.

Om Sutanto lalu memaksa Acha bersila, kemudian menarik rantai strap itu hingga posisi Acha menekuk lalu mengkat erat kedua pergelangan kaki Acha dalam posisi bersila itu dengan rantai itu. Acha menjerit-jerit kesakitan, namun siapa yang akan mendengar? Lalu Om Sutanto mengambil tambang plastik, menekuk tangan gadis itu dan mengikat tangan Acha di belakang punggungnya, lalu menjambak rambut Acha hingga gadis itu meringis, kemudian pria tambun itu mengikat ujung tambang yang lain ke rambut Acha yang dijambak hingga posisi kepala gadis malang itu mendongak dan mulutnya membuka.

Pria tambun itu tertawa puas melihat Acha sekarang bagai hewan buruan yang tertangkap, pasrah untuk dibantai. Lalu dengan kejam pria itu menendang Acha hingga terjengkang, Om Sutanto tertawa terbahak melihat vagina dan anus gadis itu yang mencuat menantang, dan melihat liur yang mengalir dari bibir sang gadis yang tak bisa menutup rahangnya.

Acha meraung sebisanya ketika penis dengan kondom duri itu merangsek vaginanya dengan brutal.
Dengan suara menjijikkan Om Sutato berkata ‘Om Cuma mau basahin kondom ini, saying…. Sekarang partai utamanya.’

Dan Acha sama sekali tak bisa bersuara karena sakit yang dideritanya. Anusnya jelas berdarah, dan gesekan kondom duri itu benar-benar menyakiti seluruh syaraf di tubuh gadis malang itu.

Tawa keji Om Sutanto mengiringi penderitaan Acha… bagi gadis itu, malam masih lagi jauh dari usai…

<><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Nasib baik #

Keesokan hari ketika masuk pagi ke kantor tabloidnya, Paimin menyerahkan foto-foto hasil jepretannya. Redaktur tampak cukup puas dengan pekerjaan Paimin, ada beberapa foto Cacha bersama dengan Acha, tetapi tampaknya tidak menjadi perhatian khusus para redaksi. Mereka malah focus pada foto Cacha yang berduaan dengan artis senior pria, ataupun ketika berbicara dengan Produser-produser atau Sutradara terkenal. Perusahaan tabloid Paimin memberikan bonus lumayan padanya walaupun tidak banyak.

Hari-hari berikutnya dia menerima perintah yang sama dengan artis yang berbeda, Paimin sudah terbiasa dan tahu harus apa yang dilakukan dan harus bagaimana dalam pekerjaannya. Dia berkeliling kota dan ‘nongkrong’ di tempat yang kira-kira banyak artis untuk mengumpulkan bahan, dan bos Paimin pun puas dengan hasil kerja Paimin. Lama kelamaan Paimin semakin besar menerima hasil bonus, dan berhasil menabung hingga bisa membeli sepeda motor, walaupun butut dan tua, setidaknya senada dengan wajahnya yang jauh dari tampan itu.

# Nasib buruk #

Suatu ketika, Paimin sedang senang-senangnya karena mendapat banyak hasil jepretan yang diluar biasanya, membayangkan bonus yang akan di dapatnya. Paimin melaju dari lokasi terakhir perburuan dan hendak kembali ke kantor untuk membuat tagihan jasa atas foto-fotonya, namun dari kejauhan dia melihat api menjulang tinggi, asap mengepul dan suara sirine meramaikan. Bayak orang berkumpul dan berlarian mengambil air tertampung ember untuk mencoba membantu memadamkan, mobil pemadam kebakaran sedang sibuk bekerja keras agar kebakaran tidak merembet, Paimin terkejut !! Ia menyaksikan kantor tabloidnya terbakar dilalap si jago merah.

Menurut rumor persaingan bisnis, tetapi entahlah…tidak ada yang tahu menahu penyebabnya. Memang tidak ada korban nyawa pada peristiwa kebakaran itu, semua terselamatkan, tetapi tempat bekerja, piranti computer, data-data maupun alat-alat lain untuk bekerja, semuanya dimakan api. Paimin sempat melihat atasan-atasannya menangis karena kehilangan bisnis untuk mengeruk uang dari hasil gosip, begitu juga teman-temannya, walaupun jabatannya rendah dan bergaji UMR.

(Siaall…!!), keluh Paimin kesal. Apes sekali nasib Paimin ini, baru saja dia mendapatkan pekerjaannya tak lama, dan baru saja bekerja beberapa bulan, tetapi harus menelan kenyataan dengan kembali menjadi seorang pengangguran. Paimin kembali ke kostnya berniat melampiaskan masalah dengan Onani pada foto Acha di komputer.

ZZztt…!! LOG IN…ENTER USER NAME AND PASSWORD !!
SUCCESS, PLEASE WAIT…! Klik…!! Klik..!! Paimin hendak masuk ke foldernya dan,
READING ERROR !! FILE BROKEN…!!

(Bangke…sialan nih Virus…!!),kata Paimin kesal dalam hati.

Braaakk !! Braaakk !! “Komputer sialaan…Virus bangsaat !! Anjing !!”omel Paimin.

Lengkap sudah penderitaan Paimin, baru saja hendak melampiaskan ketidak beruntungan nasibnya dalam pekerjaan pada Onani, tetapi gagal pula. Sudah jatuh tertimpa tangga namanya, Paimin lupa bahwa dia sudah membuat Back Up datanya di CD.


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Ke-esokan hari, di kostan #

Lama Paimin termenung memikirkan nasibnya, dia menjadi pemarah dan seperti orang sinting karena Stress berat. Dia jadi sering mabuk dengan meminum minuman memabukkan yang murahan, tentu dia bingung harus bagaimana. Kemarin saja dia beruntung karena ada kandidat yang mengundurkan diri tiba-tiba. Tentu keberuntungan tidak selalu hadir setiap saat, bisa dikatakan jarang untuk orang sepertinya. Paimin sudah mencoba beberapa kali untuk melamar ke beberapa tempat, tetapi nihil karena memang belum ada lowongan.

Beberapa temannya ada yang sudah mendapat pekerjaan tetapi tetap tidak dapat membantunya, begitu pula teman sekampungnya Asep. Dia mencoba menghubungi nomor HP-nya, tetapi sering tidak aktif, otomatis SMS tidak masuk dan tidak terbalas. Paimin Stress, wajah buruk rupanya yang berkulit hitam itu semakin menyeramkan.

Dia mulai putus asa dengan hidupnya, dia berpikir keras bagaimana dia membayar uang kost ?? haruskah dia menjual sepeda motor bututnya yang harganya tak seberapa itu ?? haruskah dia kembali ke kampungnya ?? bisa-bisa ditertawakan dia. Paimin memang punya sedikit tabungan dari hasil bonusnya, tetapi tidaklah bisa menampung segalanya selamanya, kebutuhan pokok sangatlah mahal dewasa ini. Paimin menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, dia bingung dan pusing.

Paimin menyalakan Tv untuk menghibur diri…, Zzzztt !!

(Pemirsa…per Film-an Indonesia rupanya telah mendapatkan artis pendatang baru yang berbakat…!!), suara Reporter Tv.

(Jelita…atau panggilan akrabnya Acha…bagaimana kesan anda ketika membintangi film pertama anda…??), tanya suara Reporter Tv.

(Waaahh…seru abis !! deg-degan and bangga banget !! seru pokoknya !!), jawab suara gadis ABG itu yang baru saja menjadi artis terkenal bernama Acha.

(Gadis itu...!!), mata Paimin tertuju pada acara Tv itu, dia tak percaya.

(Gilaaa…udah ngetop aja nih cewe…!!), dalam hati Paimin.

Gadis yang menjadi obsesi seksnya itu, sekarang telah menjadi artis. Paimin kemudian teringat dengan hasil jepretan yang selalu digunakan olehnya sebagai bahan onani sudah di Back Up-nya di CD, dia mengobrak-abrik kamar kostnya dengan penuh emosi, dia lupa menaruh dimana, saking kesalnya dia membalikkan meja yang biasa untuk menaruh tabloid tempat kerjanya hingga menimbulkan suara gaduh.

Gubraaaggkk !! Bruggk…!!

“Woi…Oiii !! Apaan tuh !!,omel suara itu sedikit serak.

Tap ! Tap ! Tap !!, orang tadi menaiki tangga. Tok !! tok !! tok !!.

“Miin…suara paan tuh ?? jangan berisik dong !! gua tahu elo Stress !! tapi jangan rusakin barang gue yang ada disitu…kalo barang lo sih terserah !!”, tegas Bapak itu.

(Naaah…ketemu asik !!), Paimin tampak senang karena berhasil menemukannya. Diapun berlalu menuju pintu. Cekleek !! Kreeett...!!, pintu terbuka.

“Maaf Pak Andang berisik…saya lagi nyari barang penting Pak Maaf !!”kata Paimin tak enak hati, melihat wajah pemilik Kost itu marah dan sangar walaupun berumur.

“Ya nyari barang silahkan…tapi jangan berisik ampe kedengeran ke bawah gitu !!”kata Pak Andang yang terganggu tiduran santainya.

“Maaf Pak Andang…saya enggak berisik lagi deh..Maaf ya Pak sekali lagi !!”

“Ya udah…nyari apa sih kamu Min, sampe gaduh gitu ?!”tanyanya iseng.

“Oo…ini Pak, CD Musik…ya udah Maaf ya Pak, permisi !!”kata Paimin menunjukkan CD itu sebentar tak ingin si tua itu tahu terlalu banyak, lalu berniat menutup pintu.

“Oo CD musik doing toh…ampe rebut banget, ya udah jangan berisik lagi ya !!”tegas Pak Andang sekali lagi.

“Iya Pak permisi…”Paimin pun menutup pintu, dan Pak Andang berlalu ke bawah.

(Aaah, rupanya nasib mempertemukan kita kembali sayang hak hak hak) gumam Paimin dalam hatinya dan tertawa cekikikan sendiri seperti orang gila, tanpa terasa penisnya kembali keras mengacung, kini dia sudah mengetahui nama gadis itu. Akhirnya keberuntungan pun berpihak padanya. Paimin mendapatkan sebuah ide dan menyeringai jahat, tahu apa yang harus dikerjakannya.

Paimin kembali mencoba untuk menghubungi Asep melalui telepon di kost-kostannya, tetapi tidak ada yang mengangkat juga. Paimin berpikir untuk langsung mendatangi kostnya saja. Tetapi sebelumnya dia pergi ke toko komputer untuk memperbaiki komputernya yang rusak, setelah mempretelinya dia pun berangkat dengan sepeda motor bututnya.


<><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Rental komputer #

Paimin memijakkan kakinya di sebuah rental ketik computer tak jauh dari tempat kost-annya itu, kebetulan disitu juga melayani perbaikan hardware, bongkar pasang, rakit maupun penginstalan software. Tempat itu tidaklah besar, tetapi juga memiliki usaha sampingan seperti Voucher Pulsa Handphone dan Alat Bantu Sex disampingnya yang tersekat pisah. Penjaga sekaligus pemiliknya yang bermulut tebal dengan bergigi sedikit maju menghampiri Paimin.

“Ehm...Bang permisi, ini rental komputer ya ?!tanya Paimin berbasa-basi.

“Iyalah Mas…masa iya warung remang-remang hehehe “jawab si Abang berkelakar.

“Hehehe…bisa aja si Abang, bisa perbaikin HardDisk saya ga??”tanya Paimin.

“Tergantung kerusakan..perbaikin gimana mas maksudnya ? error gitu gak mau ngeload ya ?”tanya si tukang rental itu balik.

“Oo…begini…file-file saya engga bisa kebuka gitu..tulisannya si broken, kayanya sih kena virus, tolong diback up aja data saya yang masih bisa terselamatkan di Hard Disk ini, terus format aja dan pasangin anti virus !!”terang Paimin.

“Waah…susah juga nih masalah nyelametin data yang kena virus…gak janji yah Mas…saya coba dulu, tinggalin aja gak usah kasih DP, nti aja kalo emang saya nyerah paling cuma ongkos periksa aja ceban !”kata si tukang rental.

Paimin sebenarnya sedikit keberatan, dia ingin melihatnya langsung proses itu, jadi waktu bisa terbuka bisa langsung di-Cut ke Flash Disk tanpa diketahui olehnya File apa itu.

“Engg…ga bisa saya liat ya Mas prosesnya…soalnya data perusahaan…emm rahasia gitu deh !”kata Paimin sedikit tak enak.

“Wah…saya engga bisa Mas kalo kerja diliatin gitu, lagi juga ini udah malem saya mau tutup..kalo Mas mau buru-buru cari rental lain aja deh !!”kata si bibir maju sewot karena dicurigai. (File apaan sih…paling-paling gambar porno !!”, keluh tukang rental dalam hati.

“Bukan gitu Mas aduh…ya udah saya tinggal deh kalo gitu, kapan rampung ?!”tanya Paimin karena ingin melanjutkan perjalanan ke kost Asep.

“Tinggalin aja alamat sama no. telp rumah, atau HP kalo ada malah lebih bagus !”.
Paimin yang tak mau ribut-ribut lagi tak enak langsung menulis Alamat dan No. HP, lalu kembali mengendarai motor bututnya dan pergi ke Kost.


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Kost-an Asep #

“Woi…Sep…apa kabar fren ?!tanya Paimin lantang sok akrab.

“Woy…elu Min hehehe kemana aja lu gak pernah maen lagi ??”sahut Asep.

“Yaah…lu tau pan tempat kerja gue kebakaran dan gue jadi pengangguran gitu!”katanya dengan nada sedih.

“Iya gue tahu..gue liat beritanya…cuma gue kan tau elu…pasti ngamuk-ngamuk gitu deh kaya orang gila ehehe makanya gue sengaja jaga jarak dulu…takut hihihi !!”ledek Asep. Paimin memang terkenal galak, nekat dan pemberani di kampung mereka.

“Hehehe sialan lu…pantes aja gue telp ke HP ga diangkat-angkat”sahut Paimin tertawa ringan disambut tawa Asep.

“Eh, omong-omong gak ada lowongan di tempat lo…ato dimana gitu ??”sambung Paimin lagi.

“Wah..belum ada tuh Min…ntar deh ya kalo ada…!!”jawab Asep sekenanya.

“Pssstt…Sep !! gini…gw sebenernya ada perlu nih sama lo…rahasia banget !!”tolong gw ya !!”bisik Paimin.

“Boleh bantu apaan…jangan yang illegal aja”jawab Asep.

“Yah elo…ya udah..gini, lo tolong print-in gambar ini deh buat gw !!”kata Paimin seraya mengeluarkan sesuatu berbentuk CD dan memberikannya ke Asep.

“Apaan nih…lo mao ngeprint gambar bokep di CD ini buat dijualin..??”tanya Asep menerima CD itu.

“Bukan…udah Load aja dulu ke DVD ROM lo !!”suruh Paimin. Asep pun memasukkan CD itu dan, “Anjriiiiitt…!!”gelo lu Min !! ini kan si Acha artis ABG fav gue..!! dapet dari mana lu ?!”tanya Asep antusias.

“Hihihi…gue...siapa dulu..!”bangga Paimin.

“Gilaa…walah, ada yang pake rok mini gini lagi !! di Tv Innocent banget nih cewe !”kata Asep antusias.

“Itu dia maksud gua…ini foto mau gua minta tolong lu print-in buat gua !”terang Paimin.

“Wah..jangan-jangan lo buat meres lagi yak ?!”tanya Asep.

“Ya gitu deh hehehe gimana lo mau ikutan gak ?!”ajak Paimin.

“Waduh, gak ngikut deh Min, gue gak mao urusan polisi…udah punya kerjaan tetep !!” tegas Asep.

“Alaah..banci lu !! ya udah deh gue aja sini, tolong print-in beberapa lembar ya !!”sahut Paimin tak keberatan teman sekampungnya itu tidak ikutan acaranya. Asep pun melakukan apa yang disuruh Paimin karena tak enak juga.

“Nih…lu kalo ada apa-apa jangan bawa-bawa nama gua lu yak !!”kata Asep sedikit takut, sambil mengeluarkan CD dan mengembalikannya ke Paimin.

“Iya bawel…takut amat lu jadi orang ! btw thanks ya print-an gratisnya hehehe yo gua cabut dulu fren !!”kata Paimin.

“Walah sialan lu..kesini perlu itu doang hehehe, Ok deh…Min, c u ya !”sahut Asep, setelahnya dia hanya menggelengkan kepala atas apa yang akan dilakukan teman sekampungnya pada artis pendatang baru itu nanti.

Paimin keluar dari kostan Asep dengan rasa senang, dia kembali mengemudikan sepeda motor bututnya ke kost-kostannya untuk istirahat sebentar dan makan malam, setelahnya dia keluar menuju suatu tempat yang dirasanya akan ada Acha disana. Tetapi na’as, dia lupa mengunci pintu kamarnya karena terlalu bernafsu ingin bertemu Acha dan memerasnya habis-habisan.

Ada seseorang bertubuh gempal memasuki kamarnya, dia adalah Pak Andang Bapak pemilik kost Paimin. Tadinya dia hanya ingin meminjam CD lagu Paimin, karena di kost itu Paimin yang paling ramai kamarnya dengan musik atau full music. Bapak itu mencari-cari dan, dia melihat bungkus CD yang pernah ditunjukkan Paimin sekilas waktu itu. Dia meraihnya karena dia pikir isinya toh sama lagu. Pak Andang pun memasukkannya ke DVD Player dan ternyata malah file extension JPG atau gambar yang terbaca.

(Waah…i.ini kan artis ngetop…kok bisa ?), tanya Pak Andang dalam hati. Dia buru-buru mematikannya, mengganti isinya dengan CD lain dan kembali menaruh barang itu ke tempat semula, si Bapak senang karena bisa melihat pemandangan. Sementara di tempat lain, ada pria bermulut maju sedang mengotak-atik isi Hard Disk Paimin. Dia sudah curiga bahwa isinya berbau hal mesum, diapun sama senangnya dengan Bapak pemilik kostan. Mereka berdua mengembangkan senyuman jahat.


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Café tempat Paimin melihat Acha pertama kali #

“Siaall…sial banget gue !!”, gerutu Paimin.
Sudah beberapa kali dia datang ke Café itu, dengan harapan bisa menemui gadis itu dan memerasnya, namun percuma. Bartender di sana bilang kalau gadis itu sudah tak pernah lagi main ke cafe itu, mungkin sudah dapat tempat hang out yang baru. Persediaan uang di kantongnya menipis dan kritis.

(Benarkah dia tidak pernah ke Club malam ini lagi ?), tanya Paimin dalam hati. Paimin berpikir, tampaknya dia harus mencari alamatnya dan menyaru sebagai reporter untuk mewawancarainya, mencari alamat Acha tentunya masih bisa dibilang mudah, karena koneksi Paimin yang masih terjalin hangat dengan beberapa temannya, mempunyai jaringan yang cukup luas, untuk sekedar mencari info alamat seorang artis itu mudah saja. Akhirnya Paimin pun mendapatkan alamat rumah Acha dengan usaha menghubungi teman-temannya.


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
# Kediaman Acha di Jakarta #

Berrrmm…!!

“Ya..ya..kiri dikit..bales kanan…cukup !!”suruh suara itu yang tak lain Ibunda Acha.
Acha keluar dari mobil yang dikendarainya, ketika itu saudaranya Juwita Septriasa tidak ada di tempat, pembantunya juga sedang ke pasar, hanya ada Acha dan Sang Ibunda.

“Cha..Acha…Mamah duluan yah ngantuk nih…!”kata Sang Bunda.

“Ok Mah…aku juga kedalem nih abis nutup garasi !!”katanya sambil mengetik SMS. Ibu Acha pun langsung berlalu ke kamarnya meninggalkan Acha di garasi.

“Non Acha…maaf Non..boleh saya ganggu sebentar..!!”kata seorang Pria berperawakan bengis, berkulit hitam dan bertubuh kurus itu. Acha tertegun, entah kapan Pria ini sudah ada di dekatnya. Kalau boleh jujur Acha sebenarnya sedikit takut dengan sosok pria misterius yang muncul tiba-tiba itu. Mata Acha pun merujuk ke arah Name Tag yang menggantung di leher hitamnya, dimana Acha berpikir pria ini salah satu Wartawan. Hati Acha pun senang bukan main, hal yang lumrah dirasakan oleh artis baru bangga karena terkenal. Padahal pria ini adalah Paimin yang bermaksud buruk dan mesum terhadapnya.

“Mmm..siapa yah ??”tanya Acha sambil tersenyum semanis mungkin ke arahnya.

“Perkenalkan…nama saya Paimin…dari tabloid P******!! bermaksud mewawancarai Non Acha sebentar jika tidak mengganggu..”kata Paimin sok ramah. Acha sempat berpikir bahwa dia tidak pernah dengar nama tabloid ini, Acha tidak mengikuti berita bahwa perusahaan yang memproduksi tabloid itu sudah terbakar habis, karena saat itu Acha dalam tahap ‘penggojlogan’ Om Sutanto untuk menjadi artis. Tapi satu hal yang pasti, pada saat ini perasaan Acha sedang melambung tinggi, senang dan tak peduli siapa..maupun tabloid mana yang akan mewawancarainya. Asalkan wajahnya bisa terpampang di tabloid dan membuat namanya semakin tenar dan berkibar.

“Ooh..tidak tidak…silahkan duduk...maaf kalau berantakan !!”sambut Acha ramah.

(Rumah lo rapih kok…paling Memek lo ntar yang gue bikin acak-acakan hihihi !),tawa Paimin mesum dalam hati.

“Waah…ini sih rapih Non…bagus rumahnya !!”pujinya, lain dengan kata hatinya.

“Ahahaha..bisa aja Mas Paimin ini !”sahut Acha seraya tertawa renyah.

“Jadi…ada hal apa yang mau ditanyakan mengenai saya ?”kata Acha serasa artis besar.

Paimin langsung menyeringai mesum ke arahnya, Acha sempat merasakan perasaan tidak enak melihat ekspresi wajah Paimin yang tiba-tiba berubah 180 derajat itu. Paimin mengeluarkan sesuatu dari tas buluknya, yang rupanya beberapa foto dirinya. Acha langsung terkejut, mimik wajahnya yang tadi tenang dan manis berubah juga 180 derajat, gadis itu serasa tersambar petir di siang bolong saja, yang jelas-jelas saat itu tidak hujan.

“Pak…apa-apaan ini…Bapak dapat ini dari mana…Haah ?!”tanya Acha panik dan kalut.
Jantungnya langsung berdegup kencang, mata jelitanya serasa ingin meneteskan air mata. Baru saja namanya naik daun, masa harus jatuh dan hancur gara-gara sebuah foto berpose nakal di sebuah Café, mana ada fotonya juga bersama Om Sutanto.

"Ooh..begini Non, waktu itu saya kebetulan lagi nyari-nyari bahan buat tabloid, lagi nyari artis buat di foto, pas kebetulan ada Non Acha saya lihat lagi ngerokok di pojokkan pake rok mini lagi ehehe iseng aja sih waktu itu, ‘gak nyangka foto ini bakalan berguna suatu hari gitu hihihi"jawab Paimin sambil tertawa.

(Bodoh…bodoh sekali aku ! kenapa, kenapa aku begitu ceroboh membiarkan orang asing mengabadikan aku sembarangan, dengan dandanan seperti ini…aku kira orang ini hanya iseng saja waktu itu !!), pikir Acha dalam hati. Pikirannya kalut sekali, dia bingung.

"Baik, kalau begitu…Mas Paimin mau berapa Juta !! aku kasih, tapi kasih aku Master foto ini lalu cepet pergi dari sini !!"Acha menegarkan hatinya, mengeluarkan ultimatum yang ketus.

"Wah wah…galak tenan hehehe…yo wis, saya minta 5 Juta..plus…pelayanan Non Acha seperti yang dirasakan Om Produser"sindir Paimin sambil menyeringai mesum.

"Apa…gak! nggak mau ! aku tambah 5 Juta lagi tapi aku gak mau digituin !!"jawab Acha menolak permintaan disetubuhi Paimin.

"Wah…saya sebetulnya memang suka uang, tapi..saya lebih penasaran dengan nikmatnya rasa tubuh Non Acha hak hak hak"sahut Paimin tertawa sinting.

Acha ingin rasanya berlari meninggalkan pemerasnya itu, tetapi dia semakin lemas ketika tangan pria itu melambaikan fotonya yang memakai rok mini dan sedang merokok, yang bisa-bisa merusak image yang sudah dibangunnya susah payah melalui pelayanan tubuh hancur-hancuran ke Om Susanto serta beberapa relasinya yang beberapa adalah pejabat penting negara.

Acha langsung merebut foto itu dan mengoyaknya menjadi serpihan dan melemparkan ke wajah Paimin, artis ABG berwajah manis itu menangis. Namun dengan santai Paimin berkata, “Robek aja Non sesukanya…nanti saya robek juga Memek Non kaya gitu hak hak hak !!”ancam Paimin sambil tertawa menang.

Acha pucat pasi, sosok pria di hadapannya sungguh membuatnya ketakutan, wajah buruk rupa ditambah stress keuangan. Tak terasa Acha yang tadinya duduk, dia bangkit dan mundur ketakutan. Acha terbayang karirnya, karir yang akan ditukar dengan siksaan birahi yang diterimanya. Karir yang memberikan kemewahan baginya, yang mempertemukannya dengan Irwansyah kekasihnya, yang juga belum tahu tentang keadaan dirinya.

”Ja..jangan Mas…ada..ada Ibu saya di dalam !!” kata Acha ketakutan, dia mundur masuk ke ruangan depan. Pagar rumahnya juga belum sempat ditutup olehnya, karena tidak menyangka kejadiannya menjadi seperti ini.

”Ya…itu sih pinter-pinternya Non Acha aja gimana nahan teriakan hihihi”kata Paimin.
Acha terus mundur, tak terasa dia terpojok ke kamarnya sendiri. Pintu itu masih terkunci, Paimin melihat di atas pintu itu ada tulisan “ACHA”, yang berarti kamarnya. Paimin lantas menyeringai, Acha yang sedang panik ketakutan itu tak sadar bahwa di belakangnya kamar dia sendiri.

“Non, pas bener…ya udah ayo masuk ke kamer Non aja !! kalo di ruang tamu nanti Ibu Non tahu kan ?? ayo..!!”suruhnya.

Acha yang dari tadi menutupi kedua payudara yang masih berpakaian lengkap itu, gara-gara pandangan ‘lapar’ Paimin, membalik tubuh indahnya. Dia membuka kunci, dan memutar handel pintu perlahan, karena tak rela akan disenggamai makhluk sejelek Paimin. Semesum-mesum wajah Pejabat atau Produser yang memakai tubuhnya, tidak separah wajah Paimin. Saat masih memutar handel pintu itu, Acha risih merasa pantatnya diremasi tangan kurus Paimin.

“Non..montok banget !! artis sering fitness sih ya !!”leceh Paimin. Akhirnya pintu pun terbuka, dan ruangan mewah, kasur springbed dan boneka-boneka terjejer. Acha segera menutup pintu agar Ibunya tidak tahu kejadian ini. Paimin dengan menyebalkan duduk di kasur Acha. Acha benci sekali dengan orang yang memerasnya ini, dia berpikir kalau terlihat takut dan tunduk di depan orang seperti ini, hanya membuatnya senang. Acha membusungkan dada, dia masih tak berdaya namun mencoba tegar.

“Ok, Non Acha pasti tau apa yang saya mau...pertama, panggil saya Tuan !!”perintah Paimin.

”Baik..Tuan ! tapi sebelum kita mulai, gw cuma mao bilang, ini semua cukup hari ini! lo musti janji ngembaliin barang itu, gue pasti hari ini nurutin semua yang elo mao plus gw kasih 5 Juta, kalo lo nekat maksa besok gw masih harus layanin lo dan seterusnya lagi, gw juga nekat lapor polisi, gak peduli sama karir artis gw, jadi cukup sekali ini aja OK !!”tegas Acha.

“Hmmm…OK !!”jawab Paimin singkat. Tak masalah baginya asal bisa mencicipi Acha seharian penuh ini.

“OK kita lanjut, berikutnya...hmm, buka semua pakaian Non sampe bugil gil gil hak hak hak”perintahnya seraya tertawa sinting.

“Baik Tuan…!!”jawab Acha singkat dan ketus.

Acha yang tak punya pilihan langsung menuruti perintah Paimin, si cantik itu melepas satu persatu pakaiannya, Paimin meminta Acha melempar Bra dan Celana dalamnya ke arahnya, Paimin menikmati pemandangan itu sambil menghirup harum pakaian dalam Acha, penisnya semakin mengacung saja, wajah Paimin langsung Mupetot (Muka pengen ngentot) melihat Acha telanjang. Beruntung Paimin, Acha suka sekali menjaga kemaluannya bersih, dia mencukur bulu kemaluannya.

Paimin menarik tubuh Acha agar mendekat dan, Hap…!! Paimin langsung menjilat dan melahap vagina Acha sambil duduk di pinggiran ranjang. Acha merem melek keenakan juga sambil meremas rambut keriting pemerkosa yang dibencinya itu. Mulut hitam Paimin sangat rakus menyedot vagina Acha, seperti orang kelaparan, sampai-sampai Acha juga tak tahan untuk menolak orgasme pertama bersama pemerkosanya. Tubuh Acha bergetar hebat sambil menutup mulutnya, dia mencoba sebisa mungkin meredam suara karena takut terdengar Ibunya. Tersiksa sekali Acha orgasme yang seharusnya dilepas dengan erangan nikmat keras dan panjang terpaksa diredam dengan tangannya.

“Sluurrpphh…Shrepph cep cep Aah…enyaaak…gurih Memeknya artis hihihi !!”ejek Paimin sambil tertawa menyebalkan. Acha kelelahan dan duduk di lantai sesaat, Paimin membiarkan pelacur artisnya itu istirahat sebentar sambil memandanginya dengan pandangan melecehkan, sementara Acha menatap balik dengan pandangan marah penuh kebencian, walaupun tidak menampik bahwa Paimin memberikannya kepuasan yang tidak pernah diberikan Irwansyah. Menurut Irwansyah, Oral sex itu kotor. Baik itu dari Acha ke dia, atau dia ke Acha

“Naah sekarang…saya yakin Non pasti punya stocking bokep yang biasa dipake Striper iya kan ?! nah pake itu sekarang, yang warna hitam !!”suruh Paimin.

Acha mengerti, yang dimaksud Paimin adalah Fishnet (jaring ikan), memang Acha dan artis harus punya ketika dia disuruh striptis Bos-bos jadi lebih hot dan seksi. Dia bangkit dan membuka lemari pakaiannya yang tersembunyi, untuk pakaian-pakaian yang seperti ini Ibunya memang tidak tahu menahu. Acha selalu seperti malaikat di matanya dan di mata pemirsa. Selagi mencari dia merasakan tangan Paimin meremas pantatnya dari belakang dengan gemasnya.

“Hhmmm..gimana Non…ketemu ?!”katanya sambil menggerayangi tubuh Acha.

Deg…!! Acha kaget, ketika Paimin memeluknya, dia merasakan penis Paimin yang panjang itu di pantatnya. Acha sebenarnya kaget akan dua hal, yang pertama dia kaget Paimin telah bugil, yang kedua batang penis Paimin yang panjang. (Mustahil !!), dalam hati Acha. Setelah berusaha terus mencari, perjuangan keras mengacuhkan kehadiran Paimin yang menempel ketat di belakang tubuhnya, akhirnya ketemu juga.

“Nih..ya udah, Tuan tunggu dikasur dulu dong ! mau liat gw striptis kan pake ini ?!”kata Acha sebal seraya menunjukkan jaring ikan hitam itu. Paimin tersenyum mesum, pria berkulit hitam itu mencium pipi Acha yang mulus lalu kembali ke kasur.

“Kayanya Non Acha udah biasa yah…Ok lah sok !!”kata Paimin.

Acha mengenakan stocking hitam seksi bak pemain blue film itu, lalu menyetel musik untuk meredam suara permainan seks mereka. Lagu ‘Maps of the Problematique’ dari Muse pun mengalun, lagu yang berirama beat itu menambah goyangan Acha yang memang sudah Hot menjadi tambah Hot saja. Acha terpaksa harus merasa seksi di depan pemerkosanya itu, agar dia cepat menyetubuhinya, habis spermanya dan melepaskan dirinya secepatnya. Acha meliuk-liukkan pinggul padatnya, tangannya satu menekuk ke atas dengan seksi, bahkan menyentak kakinya ke arah Paimin lalu berbalik dan menghadapkan pantat sekal putihnya persis di depan wajahnya.

Paimin onani karena tak tahan dengan gadis obsesinya itu striptis di depan matanya, dengan dandanan Hot pula, mulut orang kampung itu langsung bergerak melahap, tetapi Acha sengaja nakal dengan mengelak, seperti kebiasaannya di depan Bos-bos. Paimin yang sudah tak tahan merasa dipermainkan langsung mendekatkan penisnya ke pantat Acha yang sedang bergoyang nakal itu, mengocoknya sebentar dengan cepat dan menekan kepala penis hitamnya, “Oookh…!!”kejan Paimin.

CROOOTTT !! BLAARR !! JROOTT !! CROTT !!

“Aaaanghh…Aaaaaaanngghh…”desah Acha seksi, dia tidak menyangka Paimin akan menyiram body seksinya yang sedang berputar itu. Kontan saja pantat Acha mandi sperma Paimin, Acha sudah terbiasa walau tak suka. Paimin puas dengan ejakulasi pertamanya. Nafsunya kembali naik cepat melihat pantat Acha yang belepotan sperma dia sendiri. Paimin melempar tubuh Acha ke ranjang hingga menungging di pinggir ranjang, dia menarik kakinya agar berpijak di lantai tetapi setengah badannya tetap di ranjang, Acha hanya menjerit pasrah menungging. Paimin menampari pantatnya hingga terceplak merah bergambar telapak tangan karena pantat Acha berkulit putih. Sambil menampar dia juga getol meremasnya, bahkan menelusuri halusnya paha Acha yang sering mandi susu itu centi demi centi.

“Tuan…pelan-pelan Tuan…nanti kedengar.Aaaaakkh !!”

Belum sempat Acha menyelesaikan kalimatnya sudah mendarat tamparan keras di pantat berkulit putihnya. Acha mulai resah gelisah, selain karena takut ketahuan, tubuhnya juga mulai terangsang oleh jari Paimin yang kini bermain dibelahan vaginanya. Sekarang Acha harus bekerja extra keras menahan lenguhan, desahan dan erangan. Acha menggigit sprei ketika jemari Paimin mengocok vaginanya dengan brutal diselingi tamparan di pantat sekalnya. Tangan gadis itu mencengkeram pinggiran ranjang dengan kuat, matanya mendelik dan tubuhnya menegang. “Aaaangghh…!!”

Crrrtt…!! Creett !! Serrr…!! Acha orgasme.
Dia mendapatkan orgasmenya dari orang kampung yang memerasnya dan sangat dibencinya itu, sungguh kontra sekali. Acha hanya bisa menurut ketika Paimin menyuruhnya untuk menjilat jemarinya yang berlumuran cairan orgasmenya sendiri.

“si Non, Artis juga Perek juga…!!”. Plaaakk…!!, sebuah tamparan telak mendarat di pipi mulusnya. Paimin menjambak dan meludahi wajah Acha. “Cuiiihh…!!”.

Acha menangis karena tamparan itu bukan saja menyakiti pipinya, namun juga ‘menyakiti’ harga dirinya. Terlebih lagi liur Paimin yang bau itu, yang kini bersarang antara hidung dan bibirnya membuatnya sangat terhina, karena pria bajingan itu dengan santainya memerintahkan Acha untuk menjilati liur itu dengan expresi yang menikmati aromanya.

Tubuh gadis itu lemah akibat orgasme yang dialaminya, dan kini ia tak bisa menolak ketika Paimin menyepak kedua kaki Acha agar meregang lebar, penisnya yang sudah bangun dan menuntut persenggamaan melalui vagina Acha sudah mengancam di depannya. Paimin nampak ingin mendoggy Acha, Zreeekk !! penis Paimin mendobrak paksa vagina Acha untuk menerima dan menjepitnya. Mulut Acha terbuka dan menjerit kecil lalu buru-buru menggigit sprei kencang, untung saja musik yang keras membantu meredam jeritan singkatnya tadi.

“Oookhh…enaknya Memek artis…emang laen rasanya..Eeenggh !!”celoteh Paimin.

Paimin tampak menikmati jepitan dinding vagina Acha, tapi dia tak berlama-lama dan langsung bergerak brutal menyetubuhi Acha, sodokannya semakin lama semakin cepat dan kasar, tubuh Acha terpental-pental. Kaki jenjangnya yang berdiri tegak sudah mentok ke pinggir ranjang, karena terus menerus tersentak-sentak. Paimin menjambak rambut Acha dan menggenjotnya dengan lebih bertenaga, diselingi tamparan-tamparan di pantat Acha hingga menimbulkan bilur-bilur kemerahan. Tubuh Paimin serasa lebih hangat mengeras dan bergetar nikmat, dia mendekati ejakulasi dan menyodok Acha lebih sinting.

Paimin mengangkat kedua kakinya dan naik ke ranjang Acha, dan menumbuk-numbuk artis ABG cantik itu hingga menungging tengkurap. Spring bed empuk dengan Per kualitas tinggi itu memudahkan penetrasi Paimin, sehingga waktu Paimin menekan penisnya dalam-dalam, tubuh Acha tertekan ke bawah lalu membal kembali ke atas. Sprei putih tempat tidur masih diremas dan digigitnya menahan birahi serta erangan nikmat dirinya. Tangan kanan Paimin mencengkram pundak Acha sekaligus menekan tubuh Acha agar tidak bisa bergerak dan bangun, tangan kirinya lanjut menjambak rambut kemerahan boundingannya, sehingga wajah cantiknya sedikit mendongak kebelakang menyamping, bertatap-tatapan dengan pemerkosanya. Acha sebenarnya ingin muntah melihat wajah Paimin. Buruk rupa, berkulit hitam, tubuhnya sedikit kurus, rambut kumal cocok dengan keadaan stressnya, liur dari bibir hitamnya yang bau menyengat hidung, hembusan nafas yang tak sedap menerpa wajah, melengkapi penderitaan yang menyelimuti Acha.

Sedang asyik-asyiknya Paimin mendoggy Acha, tiba-tiba handphone Acha berbunyi.

Deg…!!, jantung Acha berdegup. Disaat tersiksa birahi seperti ini, ada siksaan tambahan.

“Aduh !! siapa sih…?! ganggu orang ngentot aja ! inget Non jangan coba omong macem-macem awas yah, kalo mau Master foto Non kembali, paham ?!”ancam si Paimin sambil menjambak rambut Acha, wajahnya kembali mendekat dipaksa menatap wajah jeleknya yang menyeramkan.

Acha hanya mengangguk ketakutan, masih dengan penis melekat ketat di vagina, mereka bangkit perlahan untuk mengambil HP yang berbunyi di meja rias kamar itu. Acha sungguh bersusah payah berjalan dari tempat tidurnya ke meja rias itu, padahal jaraknya tidaklah jauh. Tentu saja dengan penis Paimin yang panjang dan sedang meraja di liang senggama miliknya, membuat Acha kesulitan menahan kenikmatan dikerjai Paimin. Paimin sendiri sedang merasakan nikmat di penisnya yang terjepit vagina Acha, sambil berjalan.

Bahkan karena Paimin sedikit lebih tinggi dari Acha, ditambah panjang penisnya itu, memaksa Acha untuk berjalan sedikit menjinjit. Jarak yang dekat terasa jauh, waktu yang sebentar serasa panjang. Tak terasa pelecehan itu membuat vagina Acha kian banjir oleh lendirnya. Akhirnya, dengan perjuangan penuh..Acha berhasil sampai di dekat HPnya. Artis cantik itu menundukkan badan untuk mengambil HPnya, kontan posisinya menungging seksi. Jari lentik yang kukunya sering dihias kutek itu meraih HPnya, Acha melihat siapa yang menelpon, disitu tertera ‘Irwansyah My Love !!’. Acha bingung harus bagaimana. Ketika sedang bingung-bingungnya, Acha merasa tubuhnya yang sedang berposisi menungging itu tertarik kebelakang sedikit, dengan gerakan cepat dan tiba-tiba Paimin menyentak dan melesakkan penisnya dalam-dalam.

“Huuungghh…!!”geram Paimin.

Zreeeekk !! “Aaaaaakkh…!!”erang Acha refleks.

Artis cantik itu tidak bisa meredam suaranya, karena dia takut terjeduk cermin rias di di depannya dan refleks memegang pinggiran meja rias, sebelahnya masih memegang HP. Acha merasa sodokan penis Paimin itu serasa menjebol vaginanya di kedalaman yang belum pernah terjangkau oleh penis-penis sebelumnya, karena begitu panjang penis orang kampung tersebut. Setelah tertancap sempurna, mereka kembali melenguh nikmat.

“Heh…ayo jawab Perek !! Eeeenggh !”suruh Paimin dengan nada galak sambil melenguh nikmat karena penisnya menancap mantap di vagina Acha.

(Sialan lo…gw juga dari tadi pengen jawab kalo elo ga nyentak gw kaya tadi !!), omel Acha dalam hati.

“Ha..halo..Sayang..AMmppphh !! Acha langsung menutup mulut dengan tangannya dan menutup lubang bicara HP, karena Paimin mendudukkan diri tiba-tiba di meja rias itu. Paimin menjulurkan lidah karena merasakan betapa nikmat penisnya terjepit dan tertumbuk vagina Acha yang sangat legit itu.

(Acha Sayang…mau aku jemput ato gimana ??), suara Irwansyah keluar dari HP.

“E.eng..engga..usah.Aaaaaakkhh !”erang Acha yang kali ini tidak menutup lubang bicara HP, sulit karena Paimin dengan sengaja menyentaknya ke atas sambil memegangi tangan kiri Acha, sementara tangan kanan Acha memegang HP di telinganya.

“Cha…Acha…kenapa kamu ?!”tiba-tiba Ibunya bertanya di depan pintu. Acha panik, dia pikir Ibunya masih tidur. Paimin sendiri juga kaget, dia tidak ingin sampai Ibunya Acha tahu. Ibunya pasti lebih memilih lebih baik foto itu tersebar, Paimin tertangkap dan Acha gagal diperkosa. “Jangan omong sembarangan Non..!!”ancam Paimin dengan wajah yang menakutkan. Acha yang masih haus ketenaran dan berpikir betapa memalukannya foto tersebut, terpaksa berbohong.

“Eng..gapapa Mah…cuma kecoa…udah pergi !”dusta Acha.

“Ooh, kirain kamu kenapa-napa…udah dua kali Mamah denger kamu teriak…bikin Mamah jantungan aja kamu, ya udah..“sahut Mamahnya.

Geraman Paimin tidaklah sekeras erangan Acha, karena Paimin cenderung mendehem dan memfokuskan pada sodokan penis. Berbeda pada Acha yang posisinya sebagai receiver atau penerima sodokan, tentu kadar kerasnya erangan dari kasar atau dalamnya sodokan penis di vaginanya.

(Halo..halo Sayang !! kenapa kamu teriak..??), tanya Irwansyah di Handphone.

“E.engga apa-apa kok Yang…makasih ya !! oya aku berangkat sendiri aja, Dadah !”kata Acha buru-buru menutup pembicaraan untuk lepas dari derita birahi.

(Oh ya udah, kirain kamu kenapa-napa..Ok..dadah…Muach !!”), ucap sayang Irwansyah.

“Muach juga dadah…!!”balas Acha menutup pembicaraan di HP.

“Acha Sayang, Mamah mau arisan dulu ya di sebelah..kamu jangan lupa nanti sore ada syuting…Mamah engga bisa nganter, Bi Ijah masih Mamah suruh belanja bentar lagi pulang…kalo Bi Ijah belum pulang kamu mau jalan, ya kamu gembok aja, Mamah, Bi Ijah sama Juwita ada kunci serep kok Ok !! istirahat yang cukup ya Dadah…!”kata sang Ibu.

(Damn…gue lupa !! masa gw harus bawa orang aneh ini ke tempat syuting ?), pikir Acha dalam hati. “Daaah…!!”sahut Acha lantang, sementara pikirannya masih kalut.

“Chaa…kok kamu belum nutup pintu garasi sih ?? untung aja engga kemalingan mobilnya !!”marah sang Ibunda Acha.

“Iya Mah maaf…Acha ngantuk ! tolong ya !”dusta Acha lagi.

“Ya udah, ngantuk sih ngantuk !”gerutu sang Ibu, sambil menutup pintu garasi.

Setelah yakin Ibunya sudah keluar, Paimin menyeringai.

“Non…ternyata acting Non bagus yah…saking bagusnya bisa dipake bohongin orang tua sendiri hak hak hak hak”.

(Gw bohong terpaksa, karena lo maksa gituin gw sialan !!), maki Acha dalam hati.

“Nah Non, bisa lanjut nih entotan kita”kata Paimin seraya menyeringai.

Acha memandangi Paimin di kaca rias itu dengan penuh kebencian dan jijik, Acha tidak pernah membayangkan dapat disetubuhi oleh orang macam Paimin. Paimin menangkup kedua payudara Acha, meremasnya kencang dan menaik turunkan tubuh Acha dengan gencar. Vagina Acha dipaksanya menumbuk-numbuk penisnya yang mengacung. Paimin mencengkram kedua lengan Acha agar lebih mudah membetotnya menumbuk ke bawah, dimana tangan Acha masih menggenggam HP-nya.

Paimin yang menyenggamai Acha sambil menikmati wajah cantiknya di kaca rias, tidak bisa bertahan lama karena terlalu legit vagina Acha. Paimin mencengkram pundak Acha, menaik turunkan tubuhnya, Paimin menceracau jorok dan menggeram tak karuan menuju ejakulasinya.

“Gila Memek lo…gila Memek loo…Gilaaaaaaaaaaakkkhhh !!”geram Paimin.
Sambil menekan pundak Acha sehingga menumbuk penisnya yang terjepit dalam-dalam.

Jleeeebbh !! “Iyyaaaaaaaahh…!!”erang Acha.

CROOOOOOOTTTTSS !! CROOOTTT !! JRUOOOTTTT !! CROTT !!

Tubuh hitam Paimin memeluk tubuh molek Acha yang berkulit putih sambil menembaki spermanya, Acha pun menyambut dengan sebuah lengkingan panjang, Paimin mengejat-ngejat berdehem nikmat di punggung mulus Acha, dia pasrah vaginanya dipenuhi sperma Paimin. Cairan putih pekat dan kental itu terasa hangat sekali dirasakan vaginanya.

Acha masih bersender di tubuh hitam Paimin yang masih meresapi kenikmatan ejakulasi dari tubuh artis obsesinya. Ketika nafas Acha masih senin kamis, handphonenya kembali berbunyi walaupun kali ini hanya bunyi SMS.

Tinutt !! Tinutt !!. Artis ABG Favorit pemirsa yang cantik jelita itu membaca isi SMS.

Deg…!!, jantung Acha serasa terhenti, tangannya yang memegang HP gemetar, matanya yang jelita terbelalak. SMS itu dari Irwansyah.

(Acha Sayang, sorry aku ada yang lupa ngingetin kamu ! nanti malam kamu abis syuting ditunggu makan malam sama keluarga aku, kamu engga lupa kan nyokap aku Ultah ? dan juga jangan lupa…ade sepupu aku sukanya sama boneka babi, dia seneng juga sih waktu kamu beliin boneka beruang…ya itu kalo kamu mau beliin hadiah, engga beli juga engga apa apa…aku sengaja SMS takut kamu lagi nyetir di jalan Ok ?! ya udah dadah Muah !), isi SMS tersebut.

Beberapa hal yang ditakuti Acha Pertama, dia syuting terpaksa membawa Paimin. Kedua, merayakan Ultah Ibu Irwansyah ikut membawa Paimin. Ketiga, dia membeli boneka di Mall juga terpaksa membawa Paimin ikut serta. Tentu hari ini dia berjanji penuh untuk melayani Paimin, tentu Paimin tidak perduli apapun kepentingan Acha hari ini. Acha bertambah kalut pikirannya, dia semakin ketakutan mendengar suara serak dari belakangnya.

“Waah…asik nih gw bisa jalan-jalan ke Mall, ikut ke tempat syuting dan ngerayain Ultah bareng Artis sambil ngentot !!”kata Paimin menyeringai mesum ke arah Acha melalui media cermin, Acha menatap Paimin balik dengan wajah memelas di kaca rias itu. Siksaan Acha semakin bertambah saja mendengar Paimin berkata.

“Naah…sebelum berangkat pergi, tentu tubuh kita musti bersih kan Non…kalo begitu, yuk kita mandi dulu berdua ehehehe mumpung rumah Non sepi …!!”saran mesum Paimin dengan wajah menyeringai cabul.

Acha menggeleng-gelengkan kepala, (Tidak…Tidak..Tidaaaaaakk !!), dalam hati Acha. Kemudian terdengarlah suara “Hak hak hak hak...!!” yang merupakan tawa menyebalkan Paimin.




End for now....

Sunday, June 21, 2009


Sophie and Eva: Lucky Afgan...

Kisah ini terjadi ketika Eva sedang dekat-dekatnya dengan salah satu vokalis menjanjikan negeri ini, Afgan.

Pagi yang cerah...
Afgan memasuki rumah mewah itu karena Eva, 'teman dekatnya', mengatakan kalau gadis itu punya kejutan untuk dirinya.
'Hai, Gan', rangkul Eva manja sambi mencium bibir pemuda itu dengan mesra. Afgan sendiri menikmati ciuman mesra sang gadis yang eksotis itu.
Eva tersenyum nakal ketika merasakan tonjolan keras di balik celana Afgan, lalu berkata ,'calm down big boy...., kita ke dalam dulu ya? I've make you some breakfast.'

Bagai seorang istri yang baik, Eva menyiapkan kursi untuk Afgan, menuangkan juice dan menyajikan club sandwich yang disenangi pemuda itu.
Kemudian Eva mengambil tempat di samping pemuda itu, menautkan jemarinya dan menopang dagunya. Wajah penuh rindu itu terlihat oleh Afgan yang makin berbunga-bunga.

'Eeeh, ada Afgan... Eva, kenapa kamu tidak bilang mama...'
Reflex Afgan bangkit, memutar dan ingin memberi salam pada...
Afgan tersedak, matanya melotot, dan gadis di sampingnya hanya tertawa melihat expresi wajah pemuda yang melihat Sophie berjalan menuruni tangga dengan night robe yang tidak diikat hingga tampaklah keindahan tubuh wanita dewasa yang hanya menggunakan black sexy underwear, yang mengingatkan Afgan pada salah satu produk underwear yang menggunakan Sophia sebagai iconnya.

Dan sekarang keindahan wanita yang bagai dewi venus itu melangkah menghampirinya, lalu mencium kedua pipi pemuda iu yang seakan mati kehabisan nafas. Aroma parfum yang lembut dan feminin memenuhi rongga paru-paru Afgan, dan kesegaran tubuh yang ampak baru saja berbilas kelembutan air membuat pemuda itu bagai terkena sihir dan menjadi patung.

Kemudian dengan santai Sophie menuju kursi meja makan di hadapan Afgan lalu berkata, 'Lho, sayang... kenapa sarapannya berhenti? terusin dong. Apa sandwichnya ngga enak?'
'Eeenak... enak ko tante..' gagap Afgan yang kini jelas tak akan bisa konsentrasi makan, karena melalui meja transparan itu, keindahan tubuh sang pemilik rumah terexpose dengan bebas.
Dan sebagai high class woman, Sophie benar-benar tahu cara untuk 'bertingkah laku', dengan satu kaki yang menopang di atas kaki yang lain, dan table manner yang baik, wanita itu mulai memakan sandwichnya sendiri dengan sensualnya.

Eva tersenyum geli sambil berkali-kali mengelap remah makanan di mulut Afgan atau mengahpus liur sang pemuda yang melotot menikmati pemandangan mahal di hadapannya, yang bagi kebanyakan pria hanya bisa di dapat hanya dalam impian dan imajinasi terliar.
Lalu Sophe melihat ke arah Eva dan berkata dengan suara sensual, 'Va... katanya kamu mau ajak Afgan berenang? Ko kamu belum siap-siap?'
Gadis itu tersenyum dan berjalan ke arah sang mama, lalu dengan nakal ia berkata, 'iya ma... kan Afgn baru makan, nah sekarang kayanya dia udah siap buat berenang deh...'

Mata Afgan seakan meloncat dari rongganya, dengan santai Eva meloloskan daster sutranya dan membiarkan kain itu menggelosor ke lantai dan membiarkan tubuh indahnya tertampang di hadapan Afgan.
Afgan merasa celananya begitu sempit. Tubuh ibu dan anak itu sangat sempurna, mambuat kelelakiannya menggelegak. Sophie dan Eva tertawa renyah melihat pemuda dihadapan mereka belingsatan memperbaiki celananya...
Lalu Eva menghampiri Afgan yang langsung loncat berdiri, kaku untuk kedua kalinya. Kemudian sambil memandang binal dan mempermainkan expresi bibirnya, Eva menurunkan retsluiting celana jeans Afgan, dan meloloskannya denga di bantu Afgan yang bagai cacing berusaha membuka celananya.

Ketika Eva memegang pinggang Afgan di perbatasan celana dalamnya, pemuda itu sudah sangat terangsang, namun kejutan buat dirinya belum lagi selesai. Matanya yang terpaku pada Eva tak menyadari kalau Sophie sudah berdiri di belakangnya dan perlahan melepas jumper jacket yang dikenakan pemuda itu, dan dengan terburu-buru Afgan membantu Sophie melepas kausnya, hingga ia tak sadar kalau celana dalamnya sudah tercampak entah di mana.
Pemuda itu serasa berada di surga ketika Sophie meangkulnya dari belakan, dan Eva memeluknya mesra dari depan. Kehangatan tubuh keduanya, kelembutan kulit mereka, kekenyalan dan kepadatan payudara dan tubuh mereka membuat nafas sang pemuda bagaikan kuda pacu yang siap berlomba.

Sophie berbisik lembut di telinga Afgan,'Sebelum renang... kita pemanasan dulu, ya, sayang.... biar kamu tidak kram.', sambil kemudian mejilat lembut leher sang pemuda yang belingsatan merengkuh kepala Sophie, sementara dadanya dicupangi lembut oleh Eva, yang tangan mungilnya meremasi pantat Afgan, dan menekan penis Afgan ke pinggul belianya serta menggeseknya dengan lembut, hingga pinggul itu basah oleh pre-cum yang meleleh dari penis sang pemuda.
Tangan Afgan sibuk merengkuh kenikmatan tubuh kedua wanita yang menggodanya ini, pinggul keduanya kenyal, payudaranya montok dan sekal. Bahkan Sophie, dengan dua anak yang dimilikinya, tubuhnya tak kalah padat dengan sang putri yang sekarang sedang berfrenchkiss ria dengan dirinya.

Kini kedua wanita itu mengarahkan ciuman dan jilatan lidah mereka ke tubuh bagian bawah Afgan, mulai dari punngung, dada, perut, pinggang, pinggu, dan....
Afgan sampai melenguh hebat, penisnya kini mentok sampai ke tenggorokan Eva yang mepraktekkan deepthroath, sementara Sophie melakukan anal rimming yang membuat pemuda itu mengejan menahan kenikmatan, tangannya meremas kepala kedua wanita yang memberikan kemikmatan ganda kepadanya, terlebih karena suguhan yang dilihatnya ketika kedua penikmatnya sedang merangsang diri mereka masing-masing dengan meremasi payudara dan mengaduk vegina mereka dengan bernafsu. Hingga.....

Afgan terduduk berselonjor kelelahan dan tak percaya ketika spermanya menyembur dalam mulut Eva, dan ia makin tak percaya ketika kemudan Eva melakukan snowball dengan ibunya dalam posisis berdiri berpelulkan, berpagutan, dan tubuh yang saling menyatu, keduanya tampak rakus untuk merasakan nikmatnya sperma Afgan yang kemudian berjongkok di antara keduanya dan bergantian menjilati vagina Sophie dan Eva.
Kedua wanita itu menjerit kecil, menerima serangan dari Afgan yang nampak ingin berterimakasih pada mereka atas foreplay yang mereka berikan.
Terlebih ketika kedua jari tengah Afgan dengan leluasanya menyeruak ke dalam anus mereka yang menyebabkan kedua wanita itu menggelinjang menahan kenikmatan, dan akhirnya....

Kedua wanita itu menggelosor memeluk Afgan yang wajahnya basah oleh cairan orgasme keduanya. Mereka berciuman kecil, yang tak lama berlanjut dengan ciuman erotis dan ganas, dengan permainan lidah yang mengasyikkan.
Kedua wanita itu mengeluarkan tawa yang tertahan desah ketika Afgan dengan wajah memelasnya menyusu di payudara kedua wanita itu bagaikan bayi besar yang kehausan.

Lalu Sophie dengan lembut menelentangkan tubuh Afgan di lantai marmer yang kini menghangat oleh birahi, kemudian dengan lembut Sophie mengoral penis Afgan yang membelalak tak percaya melihat mulut sexy wanita yang menjadi objek masturbasi banyak lelaki sekarang melekat erat mengelilingi penisnya yang seakan makin membesar itu. Eva kemudian mengambil posisi, tubuhnya mengangkang di atas wajah Afgan yang lalu dengan rakus menjilati vagina gurih sang gadis, sementara Sophie kemudian menmasukkan penis sang pemuda dalam posisi woman on top.
Ketiganya berpacu dalam gairah, dan Eva, seakan ingin juga memuaskan sang mama dan Afgan, kemudian mengambil posisi 69 dan dengan rakus menjilat vagina sang mama serta penis sang pemuda yang sedang asyik beradu dalam irama nafsu.
Hingga ketiganya mencapai orgasme bersamaan, dan Eva dengan lembutnya menghisapi lelehan sperma dan cairn cinta sang mama yang mengalir dalam kepuasan....

Ketiganya tergeletak, namun dalam keletihan mereka nampak sangat puas. Afgan merasa dunianya sudah penuh. Ia bisa menikmati dua bidadari cantik yang ternyata sangat binal. Namun....

Dengan lebut Sophie dan Eva membimbing Afgan ke whirpool yang terletak di halaman belakang rumah megah itu. Lalu mengajak sang pemuda untuk berendam dan kemudian memperlakukan Afgan bagai raja. Sophie dan Eva dengan lembutnya memberikan thai massage pada sang pemuda yang merasa bagai raja minyak itu, terlebih ketika jemari Eva mempermainkan kelelakiannya, membuatnya tak kuasa menahan lalu dengan sedikit kasar, mengangkangkan paha Eva dan menghujam vagina sang gadis yang melenguh hebat. Sementara tangan Afgan yang bebeas merangsek vagina Sophie dan mengaduknya hingga wanita dewasa itu menggelinjang meresapi birahi yang mengalir...

Ketiganya liar, melepaskan nafsu dalam tubuh di bawah atap langit, dengan gemericik whirlpool dan kesejukan rumah mewah itu.
Eva menggeletar ketika orgasmenya menyebabkan vagina sang gadis bagai mencengkeram erat penis Afgan yang bertahan mati-matian untuk tidak ejakulasi, namun gagal, Sementara jemarinya serasa dijepit oleh vagina Sophie yang juga mengalami orgasmenya....
Samar dapat terlihat cairan kental melayang dalam whirlpool, cairan cinta mereka bertiga, yang kini bersandar kelelahan, membiarkan cahaya mentari menyinari mereka yang sedang menikmati indahnya persetubuhan.

Hari sudah jauh senja ketika Eva dan Sophie yang hanya berbalut baby doll transparan melambaikan tangan kepada Afgan yang pulang dalam keadaan sempoyongan setelah bertarung habis-habisan.
Hari itu adalah benar-benar hari keberutungan buat Afgan, yang walau dengan wajah pucat namun menyunggingkan kebahagiaan karena telah mereguk nikmat bercinta dengan dua wanita tercantik yang pernah ada dalam hidupnya...

Sementara itu Sophie dan Eva masuk ke dalam rumah, melihat Michael yang sudah menanti... Eva langsung membuka pakaiannya diikuti Sophie dan....

End

Tuesday, June 16, 2009


Nasib Tragis Andrea Lee VIII: Let The Race Begin

'Sembilan puluh satu... sembilan puluh dua...'
Andrea benar-benar kepayahan dipaksa push up seperti itu, dirinya bertumpu pada empat bangku di kedua tangan dan kakinya. Hanya saja nyala puluhan lilin besar di bawah tubuhnya membuatnya menderita, terlebh ketika panasnya itu menyengat vagina dan payudaarnya.
Dan nyona Susi benar-benar membantunya 'berolah raga', sesekali ia mengambil secanting lilin panas dan meneteskannya di punggung mulus Andrea, dan belahan pantatnya.

Tepat pada hitungan keseratus tubuh sexy Andrea bergetar dan terjatuh menimpa lilin-lilin itu. Gadis itu meringkuk menggeliat menahan sakit dan panas disekujur tubuhnya. Namun dengan santainya Susi menjambak rambut Andrea yang mengeluarkan bau hangus terbakar dan menyeretnya ke sebuah ruangan di mana ke tiga tuannya sudah menunggu.

'Gimana latihannya sayang?' kata Arman sambil mencium Susi denga bernafsu
'Dia siap untuk peregangannya....' desah Susi menikmati jemari Arman yang mengaduki vaginanya.
Lalu satpam dan tukang kebun merenggut Andrea dengan kasar dan membantingnya di meja bundar yang berada di tengah ruangan itu.
Kedua tangannya di belenggu di samping tubuhnya, kemudian mereka menelikung tubuh Andrea hingga kini lututnya mengapin kepalanya, lalu mereka mengunci pergelangan kaki gadis itu dengan pasung.

Arman kemudian mendekati Andrea yang sama sekali tidak nyaman dengan posisinya, dan kemudian keempat penjajahnya duduk dengan santai mereka tertawa dan bercanda. Kemudian Susi membawa dua buah lilin merah besar, dan mengedip kepada Arman, yang tersenyum dan mengangguk kepada dua rekannya.
Keduanya bersiul girang, dan terdengar lenguhan Andrea.

Gadis itu kembali merasakan kesakitan yang sama, yang walau sudah sering dterimanya ak pernah membuatnya kebal. Vagina 'perawannya kembali di perkosa tukang kebun dengan brutal, bahu dan pundaknya sakit dengan posisi tubuhnya sekarang, terlebih ketika satpamnya mulai mengambil posisi dan mulai menyodominya dengan liar.
Gadis itu terbanting-banting dengan menyakitkan, tiap jeritan gadis itu disambut high five kedua pemerkosanya. dan seakan mau menambah penghinaan itu, Susi melepas celana dalamnya, dan menyumpalkannya ke mulut Andrea, kemudian menambahnya dengan celana dalam Arman, membuat mulut gadis itu menggembung hingga mengkilat.

Kedua pemerkosanya menggeletar puas membasahi rahim mandul, vagina yang terluka dan anus yang berdarah milik Andrea dengan sperma mereka. Kemudian dengan santai Susi membenamkan lilin besar itu ke vagina dan anus Andrea, lalu menyalakannya.
'Wah..' kata satpam itu sambil tersenyum mengejek, 'kontol kamu sekarang lebih besar dari punyaku...'
Dan para penjajahnya riuh tertawa membiarkan kata-kata hinaan itu menyerap dalam pikiran Andrea.

Andrea makin putus asa karea dengan santainya para penjajahnya makan dan minum di sekeliling tubuhnya yang kini menjadi pegangan lilin, terlebih ketika lelehan lilin panas kembali mengalir di tubuhnya yang mulai kram dalam posisi itu.
Dan perbincangan seru diiringi gelak tawa mengiringi penderitaan Andrea.
'Well bitch...' seru Arman dalam mabuknya , 'Besok kamu bertanding... kamu... dan pelacur lainnya'
'Kamu menang... kamu bisa terus hidup jadi budak kami.... kamu kalah..... bahkan ramuan profesor tidak akan mengembalikan vagina dan anusmu menjadi normal lagi...'

'Yaaaaaaa,' desah Susi, 'dan aku mau kamu kalah...., aku mau kang Arman hanya untukku....'
Dan kembali rokok menthol yang dihisap Susi menyentuh tubuh Andrea yang hanya bisa berjengit kecil.
Malam makin larut ketika akhirnya para penjajah Andrea undur diri meninggalkan gadis itu menderita oleh lelehan lilin dan dinginnya AC yag sengaja dinyalakan dengan kekuatan penuh.
Andrea antara sadar dan tidak ketika pada dini hari ada suara lelaki yang berkata kepadanya,
'Kalau kamu bisa sampai final, aku akan memberimu kesempatan untuk membalas dendam pada nyonyamu, dan bila kamu menang, kamu akan jadi nyonya baru....'

Keesokannya Andrea mendapati kalau profesor maniak yang telah membuatnya jai menderita dengan ramuannya berdiri di dekatnya, terkekeh melihat luberan lilin disekujur tubuh gadis itu, lalu dengan kasar menyentak lilin di vagina dan anusnya hingga bulu kemaluannya tercabut bersih dan meninggalkan bekas kemerahan.
Kemudian tanpa belas kasihan kembali vagina sang gadis dihujam suntikan kuda, kemudian di anusnya, profesor itu hanya tertawa dan berkata.
'Kamu akan berterimakasih padaku dan Arman nantinya...'
Dan kembali Andrea pingsan.....

Ketika terbangun ia mendapati kalau dirinya berada di sebuah ruangan dalam keadaan telanjang, hanya gelang besi, strap leher, dan boot bulu rubah yang menjadi aksesorisnya. Namun samar ia bisa melihat ada tanda memar hitam di sendi-sendi siku dan lututnya.
Kemudian Arman masuk ke ruangan itu, mambawa dua buah remote. Andrea mengenali salah satunya, dan reflex gadis itu menyentuh strap di lehernya.
Arman tersenyum sinis, lalu berkata, 'Ah, bagus kalau kamu masih ingat, nah yang satu lagi gunanya untuk...'
Andrea merasa seperti seluruh tubuhnya terbuat dari agar-agar dan jatuh menggelosor tanpa daya.
'Di semua sendimu terpasang chip yang mengontrol sensor motorikmu, hingga denga sekali tekan, kamu akan kehilangan tenaga. Nah, mau aku gabungkan dengan yang satu lagi?' kata Arman sambil menggoyang remote itu.

Andrea hanya bisa membelalak ngeri bersuarapun ia tak bisa, ia hanya bisa merasakan angin dingin masuk ke mulutnya yang sudah pasti menganga, dan merasakan lelehan liur turun ke pipinya.
Ia benar-benar tak bisa mengontrol tubuhnya.

Arman lalu menekan tombol itu ke posisi off, dan Andrea bisa merasakan kekuatannya kembali. Denagn limbung ia bersujud di kaki Arman dan menciumi kaki sang tuan.
'Hamba akan patuh, tuan... hamba ini milikmu....'
Arman tersenyum penuh kemenangan, lalu berkata, 'Sekarang bersiaplah, pertandinganmu sebentar lagi.' Lalu arman mengikatkan rantai di strap leher Andrea dan menariknya seperti menarik sapi.

Andrea terkejut megetahui kalau cukup banyak penonton yang hadir di perlombaan itu, gadis itu memandang sekeliling, takjub banyaknya slave owner yang berkumpul selain para BDSM mania.
Arman membawanya ke sebuah lapangan, Andrea membeliak melihat ada lima baris kuda di sana, masing-masing baris terdiri dari lima ekor kuda.
Kemudian matanya melihat ada empat orang budak sama seperti dirinya, dua orang ampak pasrah sementara yang dua lagi, tampak menyunggingkan senyum binal seakan menanti hari ini tiba.

Sekarang kelimanya berada di depan barisan masing-masing, segera Andrea mengerti pertandingan pertama yang akan mereka lalui.
Seorang wasit memawa pistol, mengarahkannya ke udara dan...
Kelima kontestan segera menghampiri kuda pertama, Andrea melihat peserta yang binal segera merangsang kuda mereka, sementara yang lainnya merasa jengah, risih, dan takut. Pikiran Andrea sendiri berkecamuk, ia ingin gagal sehingga ia bisa mati, namun bunuh diri bukan kematian yang baik, lagipua ia teringat tentang prosesi penyiksaan yang akan diterimanya sebelum ia mati.

Dan kuda pertama menerima kehormatan itu, Andrea menjilati lipatan paha sang kuda, menyentil lembut zakar besar itu sambil mengelusi penis yang kini mulai menegang, lalu mulut gadis itu berusaha sebisaya mengulum kepala penis kuda yang mulai menyentak tak karuan, membuat gadis itu kewalahan dan tersedak. Kini kuda ke dua... astaga satu orang gadis sudah pindah ke kuda ketiga. Andrea makin liar dan binal, dan...
Kuda keriga merasakan tit fuck, kuda keempat merasakan sempitnya vagina Andrea yang menjerit kesakitan, dan kuda ke lima menyodomi Andrea hingga muntah karena merasa perutnya sangat penuh.

Ia berada di tempat ke tiga, hanya selisih beberapa detik dengan posisi kedua. Badanya letih, tubuhnya terlentang mengambil nafas, namun tak lama karena mereka segera digiring ke arah kuda-kuda itu kembali. Andrea merasa semangatnya terbang kerena membayangkan harus memuaskan hewan-hewan itu lagi.
Namun dugaannya salah, perasaan sedih, miris, lega, takut jadi satu. Ternyata mereka dikumpulkan untuk memberi hukuman pada peserta yang selesai paling akhir pada perlombaan itu.
Peserta malang itu terkunci dalam posisi berdiri membungkuk, dengan pantat terangkat menungging. Andrea bisa melihat vagina terlka gadis itu akibat gempuran kuda.

Kemudian seorang pria kecil berjubah membawa kotak dan meminta mereka mengambil nomor undi.
Dan Andrea menjadi yang pertama memberikan hukuman. Dengan bergetar Andrea menuntun kuda dibarisannya, dan memang dirinya terpaksa kembali merngsang kuda itu, sebelum mengarahkan penis kuda itu ke vagina yang bengak, memerah dan membuka lebar itu.
Andrea memalingkan wajah dan berusaha menulikan telinganya ketika mendengar jeritan pili sang gadis, namun cengraman tangan seorang penjaga yang selama pertandingan mengawasi mereka membuatnya terpaksa menatap vagina sang gadis yang dibombardir kuda.
Andre tak berhenti meneteskan air mata ketika ia menuntun kuda ke dua, dan ketika ia tampak ragu melakukan hukuman, sabetan rotan bertubi-tubi bersarang ditubuhnya, hingga diiring permintaan maaf yang berulang, Andrea mengarahkan penis kuda itu dan...

Andrea bergidig ketika melihat peserta yang sepertinya menikmati pertandingan ini maju, tanpa belas kasihan ia menuntun kudanya dan menyodomi gadis itu, dan lagi, dan lagi...
Bahkan satu peserta dengan gilanya memaksa gadis itu mengoral kuda-kudanya. Andrea bisa melihat darah mengalir deras dari tubuh wanita yang entah masih hidup atau sudah mati itu.
Kemudian keempat peserta yang tersisa digiring ke tempat pertandingan berikutnya, meninggalkan gadis itu dengan kumpulan kuda yang kembali bergairah dan.....

Dingin ruang bawah tanah yang lembab dan dingin menemani istirahat mereka yang jauh dari menyenangkan, dengan tikus yang berkeliaran dan ransum berupa makanan anjing.

Keempat peserta tersisa berhadapan dengan batang pinus besar yang sudah rebah untuk masing-masing mereka. Andrea melihat kampak besar dan keranjang di sana. Dan ketika suara letusan terdengar, para peserta langsung berhamburan ke arah kampak masing-masing dan mulai menghajar batang pinus itu menjadi potongan kecil dan menyusunnya ke dalam keranjang, lalu mereka berlari ke arah penyimpanan kayu, dan kembali ke pinus mereka.
Sedikit banyak Andrea bersyukur karena siksaan yang selama ini dialaminya membuatnya terbiasa dengan pekerjaan berat seperti ini.
Tiba-tiba...
Derak pohon diiringi jeritan mengagetkan mereka. Salah seorang peserta binal yang ada ternaya salah memotong sisi pinus hingga pohon itu berguling dan menimpanya. Namun lecutan cambuk menyadarkan mereka, hingga tanpa banyak bicara mereka kembali berhadapan denganpinus mereka.
Andrea lega, ia selesai diurutan pertama. Cuma kini ia harus bersiap mengetahui hukuan yang harus ia terapkan pada pihak yang kalah.

Ternyata gadis lembut yang tersisa tak mampu melakuan tugasnya. Para pengawal menyeret tubuh mungil yang meronta lemah itu, dan mengikatnya di sebuah pasak.
Lalu para pengawal memaksa Andrea dan seorang kontestan yang tersisa untuk menyusun potongan pinus yang telah mereka potong sebelumnya mengelilingi gadis malang yang memohon belas kasihan pada kedua kompetitornya, bahkan kontestan binal yang tersisa meneteskan air matanya, namun cambukan, deraan serta sengatan cattle prod membuat keduanya tak mampu berbuat banyak, kecuali tanpa berani melakukan kontak mata menyusun potongan pinus itu di sekeliling sang gadis yang kini hanya tertunduk lesu.

Seorang pengawal menyiram bensin ke sekujur tubuh sang gadis, serta ke tumpukan pinus itu. Lalu seorang pria berjubah datang membawa dua obor. Tangan kedua gadis itu bergetar hebat....
Jeritan kesakitan gadis itu menyelingi derak api unggun raksasa itu. Obor terjatuh, tubuh Andrea dan gadis yang lain bergetar hebat melihat jasad terbakar di hadapan mereka. Terror yang sangat mengguncang...

Bayang gadis itu menghantui Andrea, hingga ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Keesokannya Andrea dan kontestan terakhir sama-sama dalam kondisi lemah, semangat yang tinggal separuh.
Mereka berniat menyerah, namun bayangan siksaan yang telah tersaji di hadapan mereka membuat mereka harus bertahan. Setidaknya walau mereka hidup dalam perbudakan, mereka berjuang demi kehidupan mereka.

Sepasang pedati besar menanti mereka berdua. para pengawal, memasang kekang di mulut mereka, memasang sepatu yang dirancang khusus hingga mereka terpaksa berjinjit., tangan mereka diikat dengan tali rami ke belakang punggung mereka dengan posisi telapak tangan mengarah ke kepala. Tali rami linnya diikan di sekeliling payudara mereka hingga menghambat aliran darah dan menyebabkan payudara keduanya menjadi keunguan, tali yang lain dilit melalui vagina dan anus, dan ditarik dengan sangat ketat hingga melukai vagina keduanya

Kemudian pedati itu dimuati beberapa ekor sapi besar. Dan ketika letusan terdengar, mereka mulai bergerak dengan menyakitkan, tertatih, perlahan.
Namun keinginan hdup Andrea nampak lebih besar, karena ia punya satu janji yang harus ia yagih, maka walaupun vaginanya makin teriris dengan hebat, ia mulai menarik dengan lebih kuat, lebih kuat lebih kuat.....
Tanjakan terjal di hadapannya membuat betisnya kram, ia melihat kompetitornya mulai menyusul, namun ia tak mau menyerah. Andrea memaksakan dirinya hingga dipuncak tanjakan, dan.. ia sengaja membiarkan tubuhnya terdorong pedati ketika berada di daerah turunan. hanya sesekali ia menahan agar pedatinya tak terguling.
Andrea hampir pingsan ketika akhirnya ia mencapai garis finish, tubuhnya babak belur.

Ia berhasil.

Samar ia melihat kompetitornya meronta hebat ketika para penjaga membawanya ke sebuah lapangan, melepaskannya di sana, dan melemparkan sebuah selendang.
Tu buh lemahnya diseret ke tepi arena itu, dan melihat semua sapi yang mereka bawa tadi dilepaskan dalam arena. Andrea bisa melihat bokong sapi-sapi itu berdarah...

Astaga....

Sapi-sapi itu mengamuk karena luka, dan terganggu oleh kibasan selendang, Kompetitornya berusha bertahan mati-matian, mengelak ke sana ke mari, namun akhirnya, tubuh gadis itu tercabik dan tertusuk tanduk-tanduk runcing itu, terseret-seret, terlempar bagai onggokan kain rombeng....
Andrea pingsan.

Wajah Arman begitu dekat dengan wajahnya, dan rasa di vaginanya...
Ia tahu Aman sedang menikmati tubuhnya, ada rasa bahagia melihat tuannya datang dan menyetubuhinya, rasa diperlukan, diinginkan, dirindukan.
Maka tanpa sungkan ia membalas tuannya, Ia memberikan sex terhebat yang pernah dilakuan Andrea pada Arman, sebagaimana seorang budak yang patuh menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi kemuliaan sang tuan.

Dan Andrea tertidur dengan nyaman....

Sorak sorai penonton di arena gladiator begitu gegap gempita. Andrea berada di tengah arena, dikedua lengannya terdapat pedang dan kampak. Pertarungan terakhir. Namun Namun Andrea bingung. Melawan siapa? Seluruh lawannya sudah mati....

Raung singa memenuhi gelanggang. Pertarngan di mulai.
Kedua senjata Andrea terlempar oleh terjangan singa. Cakar besarnya menghujam bahu sang gadis, yang berusaha bertahan sambil menahan rahang sang singa untuk tidak mengoyak tubuhnya.
Kaki sang gadis mengincar dan. Singa itu melompat merasakan sengatan di buah zakarnya. Andrea berlari berguling memungut senjata, sambil menghindari terjangan singa itu.

Ketika singa itu kembali menerjang, Andrea sudah siap. Ia membungkuk dan...
Auman kekalahan menandai tusukan pedang yang menghujam jantung sang singa...

Andrea mengangkat pedangnya, namun tak ada sorak gemuruh...

Reflex, Andrea mengelak dan sabetan kampak itu lewat tipis di samping tubuhnya, rambutnya sedikit terpotong.
Andrea berusaha menghindar sebisanya hingga ia terdesak di dinding arena, hantaman kampak lawannya, membuat tangannya sedikit pegal menahan gempuran itu.

'Pelacur..., kamu harus mati... mati.... mati....!'
Suara itu....,
Goresan di pipi menyadarkan Andrea
'Aku tak rela kalau dia kau rebut... kau harus mati....!'
Serangan itu membabi buta, hajaran, tinjuan, tendangan silih berganti menghampiri tubuh Andrea yang sudah begitu lemah dan banyak kehilangan darah akibat cakaran singa.

Namun ia terus bertahan, terlebih kini ia memiliki kesempatan untuk membalas sakit yang diberikan penyerangnya...
Maka Andrea berusaha sekuatnya untuk menghindar dan berusaha bangkit, hingga ketika Andre melihat kesempatan itu datang....

Pedang Andrea terpental oleh terjangan kampak itu...
Ia kini tanpa perlindungan....
Penyerangnya mengeluarkan pekik kemenangan dan menyerbu Andrea dengan deras...

Penyerangnya terkejut ketika ternyata Andrea memang sengaja melepaskan pedangnya...
Ia terkejut ketika Andrea bergerak memutar menghindar kampaknya, ia tak percaya ketika tangannya terkunci hingga Andrea bisa melolosi kampaknya, lalu ....

Gemuruh kemenangan akhirnya pecah ketika Andrea mengangkat tinggi kepala Susi yang terpisah dari badannya yang menggelepar seperti ayam baru disembelih...

Ia sudah menang.....
**********

Arman sedang duduk menontong ulang pertarungan itu melalui home theatre di villa megahnya, bunyi hisapan rakus dan gumaman di selangkangannya membuatnya bahagia.
Gadis itu sendiri merasa bahagia.

Andrea merasa bahagia, bisa kembali melayani tuan-tuannya yang kini nampak makin bernafsu padanya. Terlebih ketika kulit mulus tanpa cacadnya sudah kembali dengan bantuan profesor maniak, juga kemontokan tubuh jessica biel nya, yang makin terjaga. Bahkan di buat permanen oleh professor itu.

Dan kebahagiaan gadis tu bertambah ketika Arman berkata padanya....
'Mereka adalah calon budak kita yang baru... sudah saatnya kamu jadi nyonya....'
Mata Andrea berbinar antara gembira dan sadis... Pandangan yang membuat Arman bernafsu dan langsung meneytubuhi Andrea dengan brutal.

Andrea mengikuti hentakan Arman dengan birahi tinggi sambil membayangkan hukuan bagi budaknya...
'Hmmm... siapakah yang cocok jadi budakku?' gumam Andrea dalam hati sambil menikmati entakan penis Arman di vaginanya yang kemudian diikuti satpam di anusnya dan tukang kebun di tenggorokannya..
'Luna Maya? Aura Kasih? Kinaryosih? atau.......'

Raungan orgasme keempatnya membuat persoalan itu terlupakan.... setidaknya untuk sesaat.

End

Thursday, April 02, 2009


Nadine's Survival Pt 2- Military Camp Hell

Nadine terus berjalan menjauhi daerah suku primitif itu, sambil berusaha mencari jalan lain untuk medapat pertolongan. Hutan yang sejuk dan dingin tak membuat dirinya senang malah sebaliknya merinding membayangkan jauhnya pertolongan.

Namun setidaknya, sekarang ia tak lagi takut akan rimbunnya rimba. Pengalaman bersama suku primitif itu cukup membuatnya jadi kuat dalam menghadapi hutan di depannya. Nadine jadi tahu dimana ia harus tidur untuk menghindari binatang buas, dimana ia berteduh dari hujan. Bahkan berburu untuk mendapatkan makanapun bisa dilakukannya. hanya sayang, karena lama terpengaruh gaya makan ala suku primitif itu, dan sulitnya mendapatkan kayu kering dan batu api, Nadine mulai terbiasa memakan daging mentah.

Gerakannya sendiri bagai kucing liar, yang lincah meloncat kesana-kemari dan tanpa kesulitan bergerak direrimbunan hutan.

Maka tibalah Nadine di tepi sebuah tebing, ia terkejut melihat ada sebuah camp militer di hutan itu. Namun ia tak mau gegabah langsung meminta pertolongan, ia trauma dengan kesialannya dulu di perkampungan suku primitif itu, maka dengan sensitivitasnya yang makin terbentuk, ia mengitari camp dari kejauhan, sambil meninjau suasana.

Namun sepandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

Todongan senjata di kepala Nadine membuatnya terkejut, ia terlalu asyik memperhatikan camp hingga ia tidak menyadari kalau ada pasukan patroli yang melihatnya.
reflex nadine menangkis pistol itu dan menghajar pemilik senjata, namun lima pucuk pistol yang segera terarah ke wajahnya, membuatnya tak berkutik.

Komandan pasukan itu melihat anakbuahnya yang meringkuk di tanah memegang hidungnya yang patah di hajar Nadine. 'You shit' gumamnya dingin dan... blam... Percikan darah dan otak segar memercik ke wajah Nadine, yang sekarang sudah kebal dengan darah dan kanibalisme.
Sebuah pukulan di uluhati Nadine membuatnya sesak nafas hingga dengan mudah dirinya diringkus dan giring ke arah camp.

Komandan camp seorang negro bertubuh tinggi besar sedang melihat kondisi tempat berlindungnya ketika ia melihat lima anak buahnya menyeret seorang gadis cantik berpakaian two piece kulit macan tutul dan sepatu boot bulu beruang.
'Who 'da hell waz that' soldier!' gelegarnya dengan nada khas afrikan american rapper.
'whe found the bitch snooping on our camp commander!' seru pemimpin regu, 'she might be spy'

Nadine tertegun, ini camp tentara Amerika. Sekarang ia benar-benar bisa selamat.
'I'm Nadine commander' seru gadis itu terburu-buru, 'I'm casted from some chopper months ago. Gladly i found you'

Para tentara tertegun.

Tamparan keras mendarat di wajah Nadine, 'Shut up! Bitch!' gerung sang komandan, 'now i'm preety sure, you're spy from that canibalistic tribe.'
'No...'jerit Nadine mencoba membela dirinya, 'I'm a victim, I'm Indonesian, Im...'
Komandan camp menyelanya dengan garang, 'So you're Indonesian, heh!' sambil menampar Nadine dengan lebih keras, hingga bibir gadis itu pecah dan menyebabkan kepalanya pusing.
'Now tie that bitch down spread eagled on that sand bunker, let her feel how we hate Indonesian Terroist!'
'No' jerit Nadine 'I'm not terorist...'

Hibaannya tak berpengaruh, prajurit yang menangkapnya segera menelanjangi Nadine, membawanya ke bunker pasir, dan mengikatnya membentuk huruf x. 'Enjoy bitch!' desis satu prajurit sambil menendang rusuk Nadine dengan army bootsnya.

Terik mentari segera saja membuat tubuh Nadine terpanggang, matanya silau, mulutnya kering, bakhan punggungnya serasa matang oleh panasnya pasir.
Sebuah bayang melindunginya dari silau mentari, sang komandang mengangkangi tubuhnya sambil bertanya menghina, 'Thristy, bitch?'
Mulut Nadine yang kering cukup menjadi jawaban, Nadine mendengar suara reslating yang diturunkan. Dan kemudian mulut keringnya dipenuhi cairan kuning, gadis itu megap-megap berusaha meludahkan cairan itu, dan hentakan army boots di perutnya membuatnya sesak nafas. 'Damn you, whore!' maki komandan sadis itu, 'I giving you a relieve and you drop it!'
Lalu Komandan itu meraup pasir basah dekat kepala Nadine dan menjejalkan ke dalam mulut sang gadis yang meronta-ronta, 'You will drink my piss and my men, because that is the only water you'll ever drink, and our sperm too bitch!' Katanya sambil menurunkan celananya dan mulai memperkosa Nadine yang kesakitan dengan brutal.
Gadis itu tak meyangka kalau dirinya akan kembali mengalami penyiksaan dan pelecehan, juga pemerkosaan beramai-ramai, karena sekarang antrian tentara yang ingin menikmati tubuhnya sudah terbentuk dengan rapi.

Gadis itu menggigil kedinginan, udara dingin malam menusuk tulangnya, tubuhnya lengket oleh sperma kering yang sudah tersebar merata disekujur tubuhnya, mulut, vagina dan anusnya memar menerima sodokan banyak penis, belum lagi air seni yang mengisi kerongkongan dan membasahi sekujur tubuhnya.
Kemudian dua tentara melepaskan Nadine dari bunker pasir itu, dan menyeret tubuh lemahnya ke dalam markas.

Nadine nyalang melihat dirinya diseter ke ruangan penyiksaan, sang komandan sudah menanti.
'You'll gonna sing bitch! you're gonna tell me whre's your fucking terrorist friends hide'
'I'm not a terrorrist, sir' hiba nadine, 'I'beg you to believe me...'
'I believe that you deserve punishment, bitch. To see how the world suffer for the terror you inflicted'
Sang komandan memerintahkan agar Nadine diikat di sebuah tiang, lalu kedua kakinya diangkat ke arah kepala hingga tubuhnya terlipat.

Lalu sang komandan mengambil jepit buaya, Nadine mencoba menggeliat sebisanya menghindari jepit buaya yang akan menyakiti payudaranya yang sudah tersiksa sebelumnya. Jemari sang komandan menjepit keras puting gadis itu yang menjadi sangat sensitif. Perlahan memilinnya, dan....

Lengking kesakitan Nadine menggema ketika jepit buaya itu tertanam di putingnya hingga tetesan darah dapat terlihat keluar. Kembali jeritan terdengar ketika sebelah putingnya kembali dihujam jepit buaya.
Keringat dingin mengaliri tubuh gadis itu, matanya berkunang-kunang, namun rabaan di vaginanya kembali menyadarkannya dan membuat gadis itu kembali panik, 'No... not there... nyyyyeeeeeaaaaarrrrrggghh' jerit kesakitan yang lebih keras terdengar, ketika jepit terakhir menghujam klitorisnya yang perih.

Nadine bagai kehabisan nafas hingga tak memperhatikan kawat tembaga yang terulur mengait jepit itu.
Komandan itu berkata, 'Now let hear you sing'
Sengatan listrik itu membuat Nadine terlonjak-lonjak bagai kuda, arus listriknya sangat kuat
'Where is your comrade!' bentak komandan itu, Nadine bahkan tak bisa mengangkat wajahnya

Sengatan berikutnya kembali menyerang, tubuh Nadine kembali terlojak keras, kerongkongannya mengeluarkan suara kumur-kumur tak jelas, mulutnya mengeluarkan ludah dengan tak terkendali.
Sengatan berikutnya menyebabkan Nadine terkencing-kencing, dan ketika sengatan itu makin tak tertahankan, Nadine mengejan hingga mengeluarkan kotoran dari anusnya.

'What the hell y'er thinking y'er doin', bitch!' bentak Komandan itu lalu memotong tali pengikat Nadine, membiarkan gadis itu jatuh berdebam lalu dengan sekali sentak mencabut jepit buaya di puting payudara dan klitorisnya. Nadine langsung menggelepar menahan sakit.
'You shit in my place bitch, now you'll clean it' bentak sang komandan sambil menjambak rambut Nadine, menghujamkan wajah gadis itu ke kotorannya sendiri dan menjadikan wajahnya bagai kain pel.
Komandan itu puas melihat Nadine yang tergeletak tak berdaya, lalu ia memerintahkan anak buanya memasukkan Nadine dalam sel isolasi.

Nadine gelagapan ketika air menyumbat jalan nafasnya, namun refleksnya membuat gadis itu bisa mengangkat kepalanya dipermukaan air. Sel isolasi itu ternyata berbentuk sumur, dengan ketinggian air setinggi hidung Nadine, hingga gadis itu terpaksa berjinjit agar bisa bernafas, tangan gadis itu diborgol, dan kakinya diberi bola besi.

Dinginnya air membuat tubuhnya menggigil, terlebih dengan posisi jinjitnya yang menyebabkan, betis, paha dan perutnya kram.
Namun penderitaannya belum lagi berakhir, gadis itu merasakan adanya mahluk berlendir yang mulai merayapi dan menempel di tubuhnya. Tangisan frustasi gadis itu mengiringi lintah-lintah kerbau yag berbondong merubungnya. Sakit, perih letih dan lelah menyerang Nadine, terlebih karena darahnya disedot banyak lintah termasuk yang menghisap darah di payudara, vagina dan buah pantatnya, bahkan wajah cantiknya kini dihuni lima lintah yang menjadi sangat besar setelah menyedot darah gadis itu.

Sebuah tongkat pengait mengangkat tubuh Nadine yang dipenuhi bercak-bercak bekas gigitan lintah. Tentara yang mengangkatnya tertawa melihat seekor lintah yang masih bergayut di klitoris Nadine, dan ia berkata, 'heheh, you have a dick too, you bitch!' katanya sambil menyentak lintah itu, dan meninggalkan clitoris Nadine berdarah.

Tangan gadis itu diikat ke atap barak penyiksaan itu, Sang komandan mamasang sarung tinju dan melihat tubuh lemah gadis itu. 'Okay men, let me do my exercise' katanya dan...
gadis itu menggeliat-geliat lemah, tubuhnya dijadikan sansak hidup oleh sang komandan, jab, hook, staright, payudaranya dijadikan speed ball practise.
Tubuh Nadine babak belur, pelipisnya sobek, hidungnya patah, tubuhnya memar-memar. Namun sang komandan masih jauh dari puas.

Ia mengambil cerutu menghisapnya dalam dan berkata, 'you are one good punching bag, asshole.'
'lemme ask you again, where is your terrorist friend, bitch!'
Suara Nadine bergetar lirih, nyaris tak terdengar 'I'm innocent, sir... even i'm not pure Indonesian, I'm half german', Nadine berharap kalau darah Jermannya akan menghentikan penyiksaan ini, namun.
'Even better bitch, I hate Nazi!' geram sang komandan, dan ledakan jerit Nadine kembali terdengar ketika api cerutu itu membakar clitorisnya yang masih berdarah akibat gigi lintah.
dengan santai sang komandan menghisap cerutunya memperbaiki nyala api dan....

Tubuh Nadine meringkuk menggigil menahan sakit dalam selnya yang berukuran sempit hingga ia harus tidur dengan menekuk kaki, seluruh tubuhnya terbakar, tak ada satu bagianpun yang lolos dari sundutan cerutu, dan beberapa bungkus marlboro.

Entah siksaan apa saja yang sudah ia terima, Nadine sudah berhenti menghitung, namun siksaan dan pelecehan mental, fisik dan sexual terus menderanya, dan teknik interogasi yang sama sekali tidak manusiawi dialaminya.
Nadine pernah didudukkan di kursi kayu dengan starp agar ia tak bisa lari, lalu wajahnya diberi wadah hingga ke lehernya, lalu mereka menuangkan cairan campuran air seni, dan kotoran hingga penuh dan membuat Nadine kehabisan nafas dan menelan 'bubur' itu.
Atau Nadine pernah dipaksa berlari mengelilingi camp sepanjang hari, atau menari bugil untuk hiburan prajurit yang kemudian bergiliran memperkosanya, bahkan pernah dirinya diikat dalam piosisi menungging, dan tubuh tak berdayanya dijadikan pemuas nafsu anjing-anjing penjaga yang jumlahnya banyak.
Ketika giliran herder yang maju, sang komandan bberkata mengejek, 'your country fella want to fuck you! enjoy some german dick!'

Dan bentuk pelecehan juga bervariasi seperti ketika tubuhnya diikat di atas meja, dan mereka menetesi tubuhnya dengan lilin, hingga tubuhnya menggeliat-geliat. Mereka sengaja memberi tetesan lebih banyak di vagina nadine yang kini bulunya melebat karena tak tersentuh pisau cukur, dan ketika lilinnya mengering mereka menyentak lilin itu hingga seluruh bulu vagina Nadine tercabut, lalu lilin yang masih menyala itu disumbat ke dalam vagina dan anus Nadine.

Horor kembali menghantui Nadine, ia mendengar kalau ia akan segera dieksekusi, karena jawaban yang tak pernah terucap dari dirinya. Sementara mulutnya bekerja keras mengoral penis kuda seorang prajurit, otaknya berpikir keras untuk mencari cara melarian diri.

Ledakan keras di gudang senjata cukup membuat semua prajurit kalang kabut, bahkan Komandan yang tertidur pulas dengan penis yang masih menancap di mulut Nadine, segera bangun, menendang wajah gadis itu dan segera melihat keadaan.
Dengan perlahan, Nadine menyelinap, gadis itu mengambil singlet prajurit yang lebih kecil dari dirinya hingga ukurannya jadi pas, mengambil celana yang pas ditungkai indahnya, dan menonjolkan bokong indahnya,tak ketinggalan army boots.

Nadine juga mengambil dua pucuk pistol FN, sebuah senapan serbu, pisau komando dan beberapa granat.
Ia mulai bergerak, ia menyelinap bagai pasukan siluman, membunuh beberapa prajurit, dan... dendamnya terbalas, ketika ia berhasil memenggal kepala sang komandan yang lengah.

Tembakan silih berganti mengiringi menghilangnya Nadine, yang kini bagaikan rambo ke tengah hutan, rimba. Namun Nadine menyempatkan diri melihat kekacauan yang disebabkannya, ia kaget karena ada seorang gadis di bawa ke dalam camp

Seorang komandan baru mengisi posisi yang kosong, dan dengan garang menghajar seorang wanita cantik bugil, yang baru saja tertangkap oleh pasukannya, dan tuduhan padanya adalah penyebab ledakan gudang senjata, dan membantu pelarian Nadine.

Gadis itu meronta, mengiba, mengatakan buka dia pelakunya. Namun komandan baru tak peduli, ia menarik tali yang mengikat kedua kaki gadis itu, mengaitkannya pada bagian belakang mobil jeep, membalikkan tubuh gadis itu dan mulai menyeretnya dengan mobil.
Gadis itu berteriak kesakitan. 'I'm not criminal... I'm Leah Di.......' suara gadis itu teredam ketika mobil jeep melaju melalui tumpukan kayu yang terbakar.

Nadine meringis pedih... namun sekarang ia harus terus bergerak. Pelariannnya dimulai lagi, gadis itu masih berharap untuk bisa kembali ke tengah peradaban, namun petualangannya belum lagi berakhir.


End for now

Tuesday, March 17, 2009


Nasib Tragis Andrea Lee VII-The Trainging

Pagi itu dimulai dengan posisi Andrea yang berlutut di atas ranjangnya, tubuhnya berhimpit dengan tubuh satpam dan tukang kebunnya. Mulutnya sibuk ber frenchkiss ria dengan satpam yang melumat bibir sensual Andrea dengan rakus, sampai-sampai liur mereka berlelehan. Sementara tukang kebun, asyik mencupangi leher Andrea sampai merah-merah dan meremasi payudaranya dengan kasar.
Andrea sendiri tak bisa berbuat banyak, kecuali pasrah dengan perlakuan kasar keduanya, vagina dan anusnya mengeluarkan bunyi berdecak kecipak seiring expansi penis keduanya yang bergerak seirama, terkadang lembut namun lebih sering kasar dan brutal.
Andrea merasakan selangkangannya penuh, ia bisa merasakan penis keduanya yang hanya terhalang dinding antara vagina dan anusnnya hingga menimbulkan sensasi yang sebenarnya tak diinginkan Andrea.

Disela pergumulan liar itu Andrea dapat melihat Arman dan Susi asyik bersetubuh dengan tak kalah ganasnya. Dan nampak sekali Susi menikmati sodomi yang dilakukan Arman, serta tanpa ragu menikmati ass to mouth. Disaat yang sama Andrea merasakan genjotan kedua tuannya yang makin liar menandakan ejakulasi yang mendekat.Dan lenguhan berkepanjangan terdengar silih berganti di dalam kamar itu, ketika Arman dan Susi juga mengalami orgasme.

Kemudian dengan nafas yang masih berat Susi segera menghampiri Andrea yang tergolek lemas setelah dihajar penis satpam dan tukang kebun dengan brutal, nampak lelehan sperma mengalir dari vagina dan anus Andrea, bahkan tampak noda kekuningan dari cairan sperma yang meleleh dari anus Andrea.
Susi meminta kedua penikmat Andrea untuk menelentangkan budak mereka dan kemudian mengunci rahangnya hingga membuka. Dengan santai Susi mengangkangi mulut Andrea dan mengejan.

Andrea gelagapan menerima lelehan sperma yang bercampur cairan kekuningan dari anus sang nyonya. Namun dengan rahang yang dikunci tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menelan semua cairan busuk itu. Keempat penjajahnya tertawa melihat expresi Andrea yang kembali harus merasakan kotoran masuk ke dalam mulutnya.

Kemudian Arman merapihkan kamera video yang menyimpan rekaman mereka untuk kemudian di upload ke hardcore site, dan kemudian sebuah surat masuk ke alamat Arman. Arman menyeringai melihat isi surat itu.
'Heh pelacur.' cetus Arman santai, 'akan ada pertandingan antar budak, dan kamu akan mengikutinya'katanya ringan seakan Andrea sudah pasti setuju.
Lalu lanjutnya lagi dengan santai, 'Pemenangnya tidak akan dapat apa-apa kecuali kesempatan hidup untuk jadi budak lebih lama lagi...'
Arman sengaja berhenti sejenak agar Andrea meresapi perkataanya, Arman dapat melihat Andrea lemas, mendengar bahawa sebenarnya tak ada untungnya kalau dia memenangi 'pertandingan ajaib'itu. Namun kelanjutan kalimat Arman membuatnya ngeri.
'Untuk yang kalah, hanya ada kematian setelah mengalami perkosaan dan siksaan yang sangat lama dan menyakitkan.'

Tawa iblis keempat penjajahnya membuat Andrea sangat pucat, ternyata pilihan untuk dirinya hanya menang untuk bertahan hidup.
Arman kembali berujar,'sebaiknya kamu bersiap, karena mulai besok kamu akan menjalani pelatihan yang sangat berat sampai tiba waktu pertandingan.'

Andrea berharap keempatnya akan memberi sedikit waktu untuk beristirahat bagi tubuhnya yang letih, namun sayang sekali karena yang dikasud dengan istirahat adalah sepasang dilo super dengan vibrasi super yang dipasang sepanjang malam.

Keesokan harinya dengan tubuh yang sangat lemas karena orgasme berulang yang dirasakan Andrea juga dengan kondisi vagina dan anus yang memar memerah akibat gesekan konstan dildo itu. Dengan sedikit mengangkang menahan perih, Andrea dipaksa makuk dalam bagasi mobil, Arman kemudian menyentak lepas dua dildo tersebut, membiarkan vagina dan anus Andrea kembali normal, lalu membanting tutup bagasi dengan keras. Andrea kini berdesakan dengan banyak barang dan perkakas mobil dalam bagasi itu, ia merasakan kalau mobil mulai melaju.

Mata Andrea berkejap menahan silau ketika Arman membuka tutup bagasi itu. Arman menyuruh Andrea memakai sports bra dan hotpants sexy, serta sepasang sepatu olahraga, lalu menyeret Andrea ke balik dinding seng.

Andrea tercengang, ternyata Arman membawanya ke sebuah lokasi pembangunan gedung. Namun keterkejutannya segera berganti kengerian ketika melihat ada sekitar enam puluh kuli bergerombol ke arah mereka. Mador para tukang itu menghampiri Arman dan berkata, 'Jadi ini kuli barunya? Boleh juga.'
Arman berkata 'Kalian harus buat dia bekerja sangat keras, jangan beri ampun.'
'Tenang aja mas Arman, kebetulan kami perlu sedikit istirahat, jadi dia yang akan melakukan semua pekerjaan kasar, belum lagi kami perlu pembantu untuk ngurusin kami semua, baik di dapur dan di kasur, hahaha'
Andrea menggigil demi menyadari dirinya dikuasai enam puluh kuli yang akan memakainya dengan semena-mena.

Percuma ia menyembah Arman minta dilepaskan. Arman malah menendang wajahnya dan membiarkannya terisak di tengah kerumunan para kuli yang langsung beringas dan meneteskan liur demi melihat tubuh sexy Andrea yang hanya berbalut sports bra dan hotpants.
Mandor itu menghampiri Andrea dan berkata, 'Sekarang kamu milik kami, dan hidup kamu ada di tangan kami. kalau kamu nurut mungkin kamu akan keluar hidup-hidup, namun kalau tidak... kamu akan kami benamkan di salah satu tiang pondasi dan menguburmu dalam semen.'

Andrea terisak pasrah, ia sadar tak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri atau melawan, akhirnya Andrea hanya dapat memasrahkan dirinya. Mandor itu kemudian berkata,' sebagai perkenalan, mendingan kamu buka bh sama kolor kamu, kita-kita mau ngeliat kamu telanjang.'
Andrea menggigil, dengan perlahan ia membuka sports bra dan merasakan dengus nafas liar para kuli melihat payudaranya yang menggantung bebas, dan ketika hotpantsnya tercampak, para kuli itu tak tahan lagi untuk menyerbu, namun mandor membentak mereka, 'Gua dulu setan!'

Lalu Andrea dipaksa menungging, wajah gadis itu memerah karena malu vagina dan anusnya terekpos bebas ke arah para kuli. Andrea meringis ketika tiga jari mandor yang kotor penuh debu, semen serta cat mengaduk vaginanya, dan kemudian Andrea menjerit tertahan ketika penis sang mandor menggedor vaginanya yang kering.
Payudaranya yang bergayut dijadikan permainan tangan sang mandor, Andrea merintih dan meringis karena perlakuan kasar pada tubuhnya.
Dan ketika akhirnya sang mandor orgasme, Andrea sadar perkosaan itu baru dimulai.

Gerombolan kuli itu segera bergerak brutal, menjamah, menjarah dan menyakiti Andrea. Hidung gadis itu berulang kali tertanam di bulu kemaluan pemerkosanya, tangannya pegal mengocok banyak penis, payudaranya memerah keunguan diremas dengan kasar, dan bulatan pantatnya meninggalkan jejak remasan.
Vagina, mulut dan anusnya bekerja sangat keras menampung penis demi penis, dengan berbagai gaya barbar dipraktekkan pada Andrea.

Hari telah larut malam ketika perkosaan pertama itu selesai, tubuh Andrea bagai diselimuti sperma, tak ada satu bagian tubuhnya yang terlewatkan. Para kuli tertawa melihat Andrea yang terlentang pasrah kelelahan di atas tanah, lalu seseorang memberi ide gila yang segera disambut riang yang lainnya.
Andrea gelagapan ketika secara bergantian atau bersamaan para kuli mengencingi sekujur tubuhnya, mulutnya berkali-kali terpaksa menelan air seni para kuli bejad itu yang seakan puas telah merendahkan gadis itu hingga ke titik terendah.

Andrea terisak sedih, namun para kuli itu sama sekali tak memiliki rasa iba.Penghinaan mereka belum lagi usai, mandor itu memberikan 'pakaian' untuk Andrea berupa kaus singlet yang sangat dekil dan celana dalam merk hings yang longgar dan nampak belum dicuci untuk waktu yang sangat lama.
Dengan pakaian itu, Andrea dipaksa memasak untuk seluruh kuli. Bahkan di saat memasakpun Andrea kembali mengalami pelecehan, celana dalam yang sama sekali tak ada gunanya itu membuat bagian bawah tubuh Andrea terekspose bebas, dan memudahkan para kuli untuk memperkosa Andrea dan menyebabkan proses memasak menjadi lebih lama. Dan alasan itu membuat para kuli mempunyai kesempatan untuk menyiksa Andrea.

Setelah prosesi memasak, Andrea dipaksa menghibur mereka dengan menari erotis lalu memaksa Andrea untuk onani dengan bantuan sebuah terong besar. Andrea hampir pingsan kelelahan karena dipaksa onani selama dua jam tanpa henti, para kuli tertawa senang melihat Andrea bekubang di carian orgasmenya sendiri.

Hari belum lagi terang ketika mandor itu menjambak rambut Andrea. Ia memaksa gadis yang kelelahan itu untuk memasak sarapan para kuli, sementara dirinya sendiri hanya sarapan sperma dalam porsi besar.
Lalu Andrea diperintahkan memakai sports bra dan hotpantsnya kembali, dan sang mandor membawa Andrea ke area proyek.

Mandor itu memberi sebuah palu godam pada Andrea dan menunjuk pada sebuah bangunan dengan beberapa dinding yang telah berlubang.
'Aku mau bangunan itu roboh.'
Andrea terpana, namun sabetan cemeti di punggungnya menyentak Andrea, dengan tertatih Andrea menyeret godam yang berat itu dan mulai menggedor dinding beton bangunan itu.

Lima belas menit kemudian, tangan Andrea bergetar hebat, tapak tangannya melepuh. Namun mandor itu malah menghajarnya.
'Enak aja, kamu berhenti pelacur! bangunan ini belum roboh, kamu harus terus merubuhkannya.!'bentak mandor itu, 'Kamu terlalu manja, hanya merasakan kenikmatan dunia. Sekarang rasakan beratnya kerja para kuli.'

Andrea berguling-guling menghindari sabetan cemeti, lalu dengan lunglai kembali bangkit dan mulai menggempur dinding kokoh bangunan itu.
Keringat mengalir deras dari seluruh pori-pori tubuh Andrea, telapak tangannya terluka dan terasa sangat perih karena terkena peluh.

Tengah hari mereka beristirahat, namun buat Andrea istirahat hanya sebuah angan-angan. Sang mandor memaksanya melayani para kuli, menjamu mereka semua, menyuapi dan memijat para kuli, dan mengoral para kuli.
Kemudian pekerjaan dimulai lagi dan kembali Andrea dihadapkan gedung kokoh dihadapannya yang menanti dirobohkan.

Ketika hari mulai senja, kembali Andrea menjalani perannya sebagai 'istri' bagi para kuli. Ia diharuskan mencuci pakaian seluruh kuli, maka tampaklah pemandangan sensual, Andrea duduk di atas bangku kayu, mengangkang dengan vagina disumpal terong, mengucek baju, sementara kepalanya menoleh ke samping dan melakukan deepthroath untuk barisan para kuli. Andrea sendiri melakukannya dengan menahan perih dikedua telapak tangannya yang terkena detergen.
Setelah mencuci, Andrea harus memandikan para kuli. Mejilati anus mereka setelah buang air besar dan menjadikan mulutnya sebagai penampungan kencing.

Dan hari-hari berlalu dengan beragam jenis kerja rodi yang dialamatkan pada Andrea, Selain menggempur bangunan, Andrea dipaksa mengerek tumpukan bata untuk menyuplai kuli di lantai tiga. Atau dirinya dipaksa memanggul tiga sampai empat tumpuk sak semen, dan memanggulnya naik tangga sampai ke lantai lima bangunan itu.
Andrea juga dijadikan penarik beban ketika mereka memindahkan gerobak demi gerobak pasir untuk suplai adukan semen.

Sementara kerja kerasnya sendiri tak membuat siksaan berlalu. Pernah Andrea diikat pada sebuah tonggak, dan mereka bergiliran memecutnya hanya karena Andrea terlambat mengantarkan semen.
Atau pernah Andrea diikat pada katrol batubata dan dibiarkan tergantung semalaman, hanya karena Andrea berteduh menghindari panas.
Dan ketika pemilik bangunan melakukan inspeksi, Andrea disembunyikan dalam septictank.

Tuan dan nyonyanya, terkadang datang mengunjungi Andrea untuk melihat perkembangan kondisi fisik sang budak, Arman tersenyum melihat kondisi budaknya, dan Susi nampak semakin sinis.
Terkadang mereka memberi Andrea 'cuti', mereka membawa Andrea ke villa mereka untuk dipergunakan sendiri, dan kembali Susi 'menghadiahi' stalion untuk Andrea.

Setelah enam bulan menjalani 'kontrak kerja', Arman datang untuk mengambil pelacurnya.
Mata Arman nyaris meloncat keluar rongganya melihat transformasi tubuh Andrea.
Otot bertonjolan dari tubuh Andrea, sixpacknya makin terdefinisi jelas, betisnya indah.
Kulitnya sendiri menjadi sedikit gelap karena terbakar mentari, namun justru makin menjadikan Andrea exsotis.

'Pelacurku akan menang,' gumam Arman, 'Dia akan menang.'
Andrea pasrah ketika tubuhnya kembali dilingkupi kegelapan bagasi, dan kekalutannya bertambah ketika sebelum menutup bagasi Arman mengatakan kalau dirinya akan menjalani serangkaian 'latihan' lagi selama enam bulan kedepan sebelum pertarungan hidup dan matinya di mulai.

Andrea menggigil....
Perjalannannya masih sangat panjang

End

Saturday, February 14, 2009


Nasib Tragis Andrea Lee VI: Nasib Tragis Andrea Lee: Fatal Attempt 2 - The Trap

Andrea betul-betul menderita, hari-harinya penuh dengan penghinaan dan pelecehan secara sexual. Tubuhnya dijadikan pemuasan birahi tiga tuan dan seorang nyonya nya, yang tidak segan-segan memperlakukannya lebih rendah dari hewan.
Walau tubuhnya sekarang sangat sexy akibat 'olah raga' rutin yang dijalaninya, tapi jiwanya kosong, bahkan kemolekan tubuhnya menjadi kutukan buat Andrea karena makin mengobarkan nafsu tuan dan nyonya nya, atau orang-orang lain yang mendapat rejeki mencicipi tubuhnya. terlebih berkat ramuan profesor maniak yang membuat tubuh, payudara dan pantanya montok dan sekal permanen, serta ramuan yang membuat vagina dan anusnya kembali perawan bila satu jam tidak dimasuki penis.
Namun yang paling membuatnya hancur ialah, tak adanya lagi harapannya untuk menjadi wanita normal, karena salah satu ramuan profesor itu mematikan produksi indung telurnya, dan mematikan rahimnya hingga Andrea tak akan pernah lagi bisa memiliki anak.

Siksaan, hinaan dan pelecehan dijalani Andrea dengan tertekan, dan terkadang menimbulkan lagi keinginannya untuk mencoba kabur.
Andrea mencoba menyusun strategi hingga bisa menemukan kelengahan penjajahnya, dan pada suatu hari Andrea merasa kalau saatnya sudah tiba.
Andrea memasukkan bubuk obat tidur yang ia curi dari lemari Arman, supirnya, mencampurkannya dalam pitcher orange syrup dan menyajikannya pada mereka yang sedang asyik berjemur di pinggir kolam renang, di sebuah villa besar yang disewa penjajah-penjajah itu.

Andrea bersorak kegirangan ketika melihat penjajahnya tertidur, lalu dengan hati-hati ia menggunting strap di lehernya yang berisikan empat jarum dengan tiga jarum sisa berisi racun yang membuatnya gatal kecuali ia menerima semburan sperma manusia dalam rahimnya.
Andrea menyambar kemeja Arman dan segera berlari ke luar villa itu.

Andrea gembira melihat gerbang besi vila megah itu, larinya makin kuat, tangannya meraih, dan...

Sengatan listrik menghempaskan tubuh Andrea. Tubuhnya terbanting. Badannya menggigil menahan kejutan listrik yang menyengatnya.
Dan empat bayangan yang menaungi tubuhnya membuat Andrea makin menggigil.
Para penjajahnya menyungginkan senyuman iblis, dan tawa horor membumbung tinggi seiring Andrea yang hilang kesadaran.

Ketika gadis itu siuman, ia melihat kalau ia berada di sebuah ruang bawah tanah. Matanya membelalak melihat banyaknya alat-alat penyiksaan di sana. Ia mencoba berontak namun ia terkejut karena tubuhnya terikat kuat di ranjang besi membentuk huruf x. Dan ketika ia coba berteriak, ia menyadari mulutnya ditutup silver duct tape.

Andrea melihat Arman datang menghampirinya dengan raut bagai serigala yang mendapatkan mangsa. Andra mencoba menghiba, namun mulutnya tak bisa mengeluarkan satu patah katapun.
'Kami tahu kalau kamu mencoba melarikan diri' desis Arman, sambil menuju deretan alat penyiksaan
Mata Andrea membelalak ngeri, kepalanya menggeleng kuat.
'Kami sengaja meletakkan bungkusan obat tidur itu untuk menjebakmu' kekeh Arman yang membuat Andrea makin ketakutan.
'Dan untuk itu, kau harus dihukum...'

Andrea terbelalak, mulutnya mengeluarkan jeritan teredam.
Cambukan itu datang tiba-tiba, dan ketika Andrea sedang mengatur nafas, nampak Arman menggengam cambuk dengan banyak ujung.
Arman takjub melihat payudara Andrea yang naik turun seiring nafasnya yang berat, lalu...

ctar, ctar, ctar, ctar.
Tanpa belas kasihan Arman mencambuk sekujur tubuh Andrea. Gadis itu hanya bisa menggeliat-geliat kesakitan. sekujur tubuhnya dipenuhi jalur-jalur ungu hasil cambukan.
Cambukan Arman kini lebih spesifik, puting susu Andrea dan vaginanya menerima porsi yang lebih. Andrea melonjak-lonjak sejadinya merasakan sengatan cambuk pada daerah sensitifnya, hingga...
Arman tertawa terbahak-bahak melihat Andrea terkencing-kencing menahan dera cambukannya. Ia tampak puas melihat bilur-bilur yang menghiasi tubuh Andrea,. Arman duduk mememulihkan tenaganya sambil melihat tubuh Andrea yang menggeliat-geliat kesakitan.

Andrea benar-benar kesakitan, pikirannya berisi penyesalan karena berusaha melarikan diri dari para penjajahnya yang kini memiliki alasan untuk lebih menyiksanya.
Dan kini ia hanya pasrah menanti penyiksaan berikutnya.
Arman mendekati Andrea dengan membawa jumper mobil, ia mengeratkan jepit jumper itu di puting susu Andrea yang mengernyit kesakitan, kemudian Arman menghujamkan sebuah silinder logam dengan kawat tembaga di anus Andrea.
Andrea mengerti apa yang akan terjadi pada dirinya, kembali gelengan lemah dan tatapan penuh iba ditunjukkan Andrea, mohon pengampunan.

Arman menyeringan sadis, tangannya memegang handle dinamo dan memutarnya.
Andrea merasakan aliran listrik menyengatnya, tubuhnya kembali menggeliat, Arman memutar handle itu lebih cepat dan geliat tubuh Andrea makin liar.
Lalu Arman memutar handle itu lebih cepat dan kuat membuat tubuh Andrea melenting-lenting kesakitan.
'Well well... Staminamu boleh juga' ejek Arman, ' kamu belum capek, kan?'

Andrea tak konsentrasi mendengan hinaan Arman, kepalany seakan dihantam godam, dadanya seakan mau meledak. Arman meneteskan liur melihat dada Andrea yang naik turun dengan cepat, belum lagi peluh di tubuh Andrea yang membuat tubuhnya makin sensual. Namun ia masih ingin bermain sedikit lebih lama lagi.
Arman mengambil seember air, dan menyiramkannya ke tubuh Andrea. lalu kembali memutar handle...

Tubuh Andrea terbanting-banting menahan sakit. Air menjadi pengantar listik yang sangat baik, sekujur tubuhnya seakan terbakar, otaknya serasa gosong. Matanya mendelik hingga tinggal yang putihnya sebelum Arman akhirnya menyudahi permainannya.
Arman membiarkan Andrea memperoleh lagi kesadarannya sebelum ia memulai lagi aksinya. Dengan kasar ia menyentak jumper mobil dan batang besi itu dari tubuh Andrea.
Ia lalu membuka ikat kaki gadis itu, untuk kemudian mengikat betis Andrea ke arah pahanya. Kemudan Arman membuka pakaiaanya sendiri hingga telanjang dan tanpa banyak bicara langsung menghujamkan penisnya ke vagina Andrea yang kembali perawan.
Andrea hanya bisa meronta kecil, karena vaginanya kembali di aduk paksa, terlebih pelumas yang ada di vaginanya cuma berasal dari kencingnya sendiri.

Arman menyentak Andrea dengan keras, seakan ingin menghukum gadis itu karena berusaha lari dari mereka, walau sebenarnya itu merupakan jebakan mereka sendiri. Dan andrea hanya melenguh kecil ketika merasakan semburan sperma Arman membasahi rahim mandulnya...
Arman memandang tubuh Andrea dengan perasaan puas,
'Sekarang giliran tukang kebun kita yang akan menghukummu', kata Arman sambil jari-jarinya di masukkan dalam vagina Andrea dan mulai mengaduknya dengan liar.
'Dan ini hukuman terakhirku untukmu saat ini' geram Arman sambil mengubah tangannya jadi kepalan dan menghujamkannya dengan keras ke dalam vagina Andrea. Andrea tersentak lalu pingsan....

Andrea terbangun karena mencium aroma busuk dekat dengan hidungnya, kepalanya terasa pusing. Ketika ia sadar penuh ia terkejut, karena tergantung terbalik di atas sebuah lubang yang penuh dengan....
Andrea menjerit kepalanya hanya berada sekitar setengah meter dari lubang penampungan tinja. Tubuhnya terikat rantai tergantung terbalik, dan kedua tangannya terikat membentuk siku di punggungnya.

'Menjerit terus pelacur' ejek tukang kebunnya, 'aku yang akan menghukummu sekarang'
'Ampun, tuan..., ampun... saya salah... budakmu salah... ampun' Andrea menghiba sejadi-jadinya, bahkan ia rela menyebut dirinya sendiri seabagai budak demi kehidupannya
Tukang kebun menekan tombol remote di tangannya, derak rantai terdengar. Andrea histeris karena tubuhnya menurun, aroma tinja mulai menyengat, tukang kebun itu tertawa melihat usaha Andrea menghindari tinja itu, geliat tubuhnya menjadi atraksi tersendiri bagi dirinya, namun tetap hal itu percuma.
Andrea meraskan kulit kepalanya menyetuh tinja itu, ia memejamkan matanya menahan nafas dan menutup mulutnya.

Tukang kebun itu membiarkan kepala Andrea terbenam dalam tinja sampai sebatas tenggorokannya, menunggu beberapa saat, lalu menaikkan rantai itu.
Andrea terbatuk batuk mencari udara, hidungnya tertutup tinja.
'Ampun...' jeritnya, 'ampun...' dan karena frustasinya, Andrea menjerit 'lepaskan aku bajingan!'
'Aku bajingan?' jawab tukang kebun itu santai
'Bu.... bukan tuan....' gagap Andrea menyadari ia baru saja memberi kalasan buat tukang kebun itu untuk menyiksanya lagi, dan benar saja
'Ampun tuan!' seru gadis itu panik, rantainya berderak lagi, ' hamba yang bajinga, hamba yang baj...mmmhffgghhh'
Kalimat Andrea terputus karena kepalanya lagi-lagi tertbenam dalam tinja, bahkan kini tukang kebun itu membenamkan Andrea sampai batas ulu hatinya, membiarkan payudara indah gadis itu terbenam juga dalam tinja.
Si tukang kebun membiarkan Andrea lebih lama dalam kubangan tinja itu, memastikan gadis itu sesak nafas dan...
glup...glup...glup.

Tawa tukang kebun tadi membahana seiring naiknya tubuh Andrea, yang kini megap-megap dan meludahkan kotoran yang tertelan tadi sebisanya.
'Nah pelacur' kikik tukang kebun riang, 'apa kamu mau aku benamkan sampai vaginamu?'
'Ja...jangan tuan... ampun... hamba lakukan apapun tuan' hiba Andrea yang menggigil ketakutan mendengan ancaman tukang kebun.
'Kamu mau kasih aku apa, biar vaginamu aman?'
Andrea diam, dan itu langkah yang salah....
Derak rantai terdengar lagi, dan Andrea menyerah
'Entot aku tuan... entot aku... entoooot' teriak gadis itu, ketika cairan tinja itu sudah sampai di batas hidungnya.

Andrea bernafas lega ketika akhirnya ia diangkat lagi, namun ia terlalu cepat senang, karena kemudian tukang kebun mengambil selang pemadam dan dengan kekuatan penuh menyemprot Andrea yang langsung gelagapan menahan dingin dan nyeri yang disebabkan semprotan air bertekanan tinggi itu.
Lalu tanpa belas kasihan, tukang kebun itu langsung memperkosa mulut Andrea, memaksanya mendeepthroath penisnya, sambil vagina dan anusnya dihujam pentung polisi.
Andrea kesulitan bernafas karena perlakukan brutal itu, namun tukang kebun tak perduli. Dengan santai ia memperkosa mulut Andrea sampai akhirnya Andrea harus menerima semburan sperma di mulutnya dan langsung masuk ke perutnya, dan kembali gadis itu pingsan....

Andrea terbangun karena merasakan sentakan penis di anusnya. Ternyata satpam sedang menyodominya dengan brutal, di atas seekor kuda yang diarahkan ke sebuah gua di dekat villa itu. Sentakan demi sentakan mengiringi sodomi yang menyakitkan yang dialami Andrea karena selain karena gearakan kuda itu, si satpam menambahkan aksesoris kondom duri, yang menyelubungi batang penisnya.
Dan ketika merka tiba di mulut gua si satpam memuntahkan spermanya dalam anus Andrea.
Andrea bersukur karena tentunya kini satpam itu sudah puas dan mereka akan kembali ke villa. Namun salah, Satpam itu menyeret Andrea ke dalam gua dan Andrea terkejut ketika melihat ada sebuah penjara, dan Andrea lebih terkejut melihat ada banyak tahanan dalam kondisi lusuh dalam penjara itu.
'Mereka sudah lima bulan belum menjamah tubuh perempuan' bisik Satpam itu dengan santai, 'dan kamu akan melayani mereka semua'
Andrea coba memohon sambil menghiba, 'jangan tuan... jangan...entot saya sampai puas tuan, sodomi saya... asal jangan masukkan saya ke sel itu....'
Namun Satpam itu tak mendengarkan permohonan Andrea, tubuh lemah gadis itu diseret dengan mudah, dan dilemparkan mauk ke dalam sel.

Segera saja tubuh telanjang Andrea menjadi sasaran tangan kasar para tahanan yang kasar dan dengan aroma tubuh yang membuat Andrea mual. Jelas kalau para tahanan itu belum mandi bahkan sampai berminggu-minggu. Jilatan, remasan, ciuman, gigitan, tamparan dan jambakan bertubi-tubi menyerbu tubuh Andrea, sehingga bekas cupangan tapak tangan dan liur benghiasi sekujur tubuhnya.
Mulutnya segera bekerja keras mendeepthroath penis-penis bau itu, betapa mualnya Andrea karena hidungnya tertanam di bulu selangkangan yang apek dan banyak daki, dan mual itu ditambah karena perutnya sekarang terisi sperma demi sperma yang disemburkan penis-penis itu. Lalu perkosaan itu di mulai. tanpa banyak bicara ketiga lubang di tubuh Andrea selalu terisi penis secara silih berganti, mulut, vagina, anus. Beragam cara dan gaya barbar dialami Andrea yang telah lunglai bagai kain usang yang dilempar kesan-kemari dengan liar dan brutal. Bahkan vagina dan anusnya menerima fisting secara brutal berulang-ulang dan mulut serta lidahnya harus bekerja keras menjilati anus para tahanan itu. Perkosaan itu berkelanjutan, terus dan terus, dan Andrea di keluarkan dari sel itu hanya karena para tahanan sudah tak mampu lagi berejakulasi, Andrea sendiri sudah pingsan entah sejak kapan...

Andrea tersadar ketika tubuhnya serasa terdesak dan terdorong-dorong, dan ia menjerit ngei ketika mendengar suara lenguhan babi, ternyata tubuhnya berada dalam kandang babi yang bau, kotor dan berlumpur.
'Sudah bangun, lonte?'
Suara nyonya Susi mengagetkannya, Andrea beringsut menjauh menghindari gerombolan babi, namun cambukan Susi membuatnya beringsut ke arah yang salah, bahkan makin mebuatnya terhimpit gerombolan babi.

Susi kemudian memaksa Andrea bekerja keras dalam peternakan itu, ia harus memindahkan tumpukan besar jerami, membersihkan kotoran di kandang sapi, memberi makan babi dan pekerjaan berat lainnya.
Andrea hampir pingsan kelelahan, ketika Susi berkata, 'lapar pelacur?'. Andrea mengangguk lemah.
Lalu Susi mengikat Andrea dengan dengan kuat di salah satu tiang di kandang itu dalam posisi berjongkok, dan mengikat rambut panjang Andrea ke arah tiang hingga mendongak, lalu susi memasukkan selang kotor ke dalam mulut Andrea sampai jauh masuk ke kerongkongannya, dan meletakkan corong besar di ujungnya.
Kemudian Susi membawa sebuah ember besar, dan berkata, ' ini makannanmu, campuran sperma da sisa makanan seluruh hewan di kandang ini'. Dan dengan santai mulai menuangkan isi ember itu sedikit demi sedikit dengan perlahan.

Perut Andrea sedikit membuncit menerima cairan 'bubur' itu, bahkan akhrirnya karena sudah tak sanggup menampung dan menahan mualnya, Andrea tersedak dan memuntahkan cairan tersebut hingga menutupi wajah, dan tubuhnya, belum lagi anusnya yang mengeluarkan kotoran tak tertahan karena dirinya mengejan menahan mual.
Susi tertawa terbahak-bahak melihat kodisi Andrea yang hancur-hancuran itu, lalu Sausi menyeretnya ke luar kandang, mengikat lehernya dengan tambang rami dan menahannya di sebuah pasak, kemudian susi mengambl selang dan menyemprot sekujur tubuh Andrea, Andrea dimandikan seperti seekor anjing, disabuni dengan sabun colek dan dikeramas dengan deterjen.

Namun semuanya belum berakhir, Susi mengikat tubuh lunglai Andrea di sebuah palang alat yang telah diposisikan sedemikian hingga tubuh Andrea seperti membungkuk dengan posisi berdiri agak menungging dan kaki menjinjit.
Andrea pasrah dengan apa yang akan terjadi, namun ketika mendengar suara ringkik kuda di belakang tubuhnya, Andrea berteriak histeris,
'Ampun nyonya, jangan kuda, jangan kuda! Anjing saja nyonya, anjing saja...' Racau Andrea menghiba,
Susi tertawa seram sambil berkata, 'Semua binatang di peternakan ini akan merasakan tubuhmu lonte, nah sekarang mereka dulu'
dan Jerit Andrea membahana ketika penis besar kuda stalion itu merobek vaginanya dengan kasar bahkan sampai memborbardir rahimnya yang mandul itu.
Andrea dapat melihat darah mengalir dari vaginanya yang terluka parah, namun ikatan tubuhnya membuat dirinya tak bisa berbuat banyak kecuali terhentak-hentak mengikuti hujaman penis stalion itu.

Susi berbisik di telinga Andrea yang pucat pasi menahan siksaan itu, 'Sesudah ini masih ada lima kuda stalion lagi sayang... enjoy', Andrea yang sudah lelah akhirnya pingsan terutama ketika ia merasakan penis stalion kedua mulai memperkosanya dengan brutal.

Ketika terbangun ternyata dirinya berada dalam ruang home theatre villa itu yang sangat nyaman, reflex tangan dan kepalanya menoleh dan meraba vaginanya. Andrea mendesah lega, vaginanya kembali utuh, walau iapun tahu kalau itu artinya ia akan selalu kesakitan ketika merasakan penetrasi karena akan seperti kehilangan keperawanan pertama kali, bahkan lebih sakit.
Tawa para penjajahnya menyadarkan nasibnya yang berakhir sebagai budak sex...
'Memek lo, utuh lagi, kan? hahaha' ejek Arman,
'Huh, kamu untung karena kang Arman seneng memek peret sehingga kami minta dosis yang paling maksimal dari profesor', omel Susi yang nampaknya ingin sekali vagina, dan anus Andrea tak bisa normal kembali.
Dan Arman melanjutkan kejutan demi kejutan buat Andrea, ia berkata
'Kamu tentu bingung darimana kami punya uang untuk semua kemewahan ini, ini jawabannya.' katanya sambil menekan sebuah tombol

Andrea melihat layar besar home theater itu menampilkan situs hardcore online dengan system pay per view dan ia terkejut karena ternyata semua rekaman pelecehannya dari saat pertama ia menjadi budak mereka di upload ke situs itu. Andrea benar-benar hancur, ia tak menyangka kalau pelecehannya dijadikan pemasukan utama penjajahnya bahkan kenyataan kalau dirinya masuk dalam top five download tidak membuatnya bangga, malah makin terpuruk, karena makin bayak orang yang telah menyaksikan penghinaan pada dirinya. Terlebih ketika ia melihat bayak orderan mengenai cara penyiksaan dan pelecehan sexual yang disarankan para netter.

Andrea makin tak bisa berkutik, ia tak berani lagi untuk merencanakan melarikan diri atau minta tolong, karena ia tak tahu siapa saja yang mendownloadnya, bahkan bisa-bisa ia dinikmati lebih banyak orang lagi yang menganggapnya sebagai onggokan daging dengan tiga lubang, yang hidup sebagai penampungan sperma bagi siapa saja yang menginginkannya. Belum lagi ancaman Arman dan teman-temannya yang akan membunuh semua keluarganya dan mengganti Andrea dengan saudara perempuannya sebagai budak mereka.

Andrea benar-benar pasrah, ia terduduk bersimpuh meratapi nasibnya. Kini yang diharapkannya para penjajahnya bosan dengan dirinya dan meninggalkannya.
Namun untuk sekarang tak ada yang bisa dilakukannya, selain dengan patuh mulai mendeepthroath penis tuan Arman, tukang kebu dan satpam, serta jilat vagina nyonya Susi, dengan aksesoris strap baru dilehernya, dan melayani mereka sebaik-baiknya sementara para penjajahnya asyik menonton rekaman pelecehannya.
Kisah perbudakannya masih akan berlangsung sangat lama...
Lama sekali...

End