Friday, April 13, 2012


The Challenge!


Surat dengan amplop coklat di meja kerjanya membuat Brigadir Eka Frestya mengerutkan dahinya.
Mungkinkah dari penggemarnya?
Sebagaimana diketahui, kecantikan dirinya telah membuat banyak lelaki tergila-gila kepadanya dan membuat banyak wanita yang iri sekaligus kagum pada dirinya.

Namun ada yang berbeda dengan surat yang kini ada di hadapannya itu. Alamat yang diketik tidak menjadi masalah, namun bila tanpa alamat pengirim? Lagipula amplop coklat di mejanya itu cukup tebal untuk ukuran surat biasa.
Dengan penasaran Eka membuka surat itu.

Gadis itu memandang surat yang luar biasa itu dengan alis yang berkerut. Kertas daur ulang yang dipegangnya tak seberapa membuatnya terkejut di banding pesan yang tertulis di dalamnya.
Pesan yang disusun dari potongan Koran… Klasik sekali.

“AKU MENANTANGMU! MALAM INI DI PELATARAN PARKIR DI BELAKANG KANTORMU! DATANG SENDIRI!”

Naluri polisinya merasakan bahaya, ia tak mau gegabah mendatangi tempat itu begitu saja.
‘Ini jelas jebakan’, kata rekannya Ovvy sambil membaca surat itu, ‘Kita lapor komandan, kita sergap bajingan itu.’
‘Jangan.’ Sergah Eka.
‘Kenapa? Kamu tau kan ini bukan ancaman biasa?’
‘Aku tau, tapi coba bayangkan… kalau kita berdua yang menangkap penjahat ini… ‘
‘Jangan ngaco… ini bahaya…’
‘Iya, tapi kalau terlalu banyak orang, ia pasti akan curiga… sementara kalau kita berdua…. Setidaknya kita punya kesempatan lebih besar.’ Bisik Eka

Eka membujuk Ovvy hingga rekannya itu luluh…
‘Oke… tapi begitu ada gelagat buruk, aku panggil bantuan.’
****
Eka berdiri menantang dingin malam… dirinya berbalut jeans hitam, sweater jacket dan commando cap, membuatnya makin nampak anggun.
Sahabatnya Ovvy menghampirinya…’Ini cuma lelucon… ayolah… sudah hampir jam sebelas malam.’
Gadis itu sebenarnya masih ingin menunggu sang penantang… namun tak bisa dipungkiri dinginnya malam dan rasa kantuk membuatnya menyerah lalu mengikuti ajakan rekannya, pergi meninggalkan tempat itu.
+++

Satu minggu berlalu tanpa ada tragedy apa-apa…. Eka telah melupakan surat itu, dan menganggapnya cuma surat iseng, seperti yang dikatakan rekannya hingga pada suatu hari setelah ia selesai bertugas dan kembali ke rumahnya.
Amplop coklat itu muncul kembali….

‘TERNYATA DUGAANKU TEPAT! KAMU CUMA JUAL TAMPANG! KEBERANIANMU NOL! PENGECUT!’

Dengan geram Eka menghancurkan surat itu lalu berkendara kembali ke lokasi tantangan itu masih menggunakan seragam polisinya yang berlengan dan celana panjang…
Malam makin gelap…. Dan kembali dingin malam mulai menyelimuti tempat yang sangat sepi itu.
Suara gemerisik daun dan gemeretak dahan menjadi temannya…

‘Kamu sudah kalah…’
Eka terkejut dan berbalik, tak ada siapa-saiapa di sana….
Tunggu…. Matanya membiasakan diri akan kegelapan sebelum ia melihat seorang lelaki, dengan kaus lengan panjang, celana army dan army boots warna hitam keluar dari balik bayangan dan menghampirinya, wajahnya ditutupi topeng yang menutupi mata dan hidungnya.

‘Aku pengecut?’ sergah Eka, sambil memasang kuda-kuda, ‘Lalu kamu sendiri? Datang dengan mengenakan topeng seperti itu?’
‘Ah… ini’ kata pria berambut cepak itu sambil mengelus topeng di wajahnya… ‘Aku ini penjahat… dan tugasmu untuk menangkapku, menginterogasiku, dan memasukkanku ke dalam penjara. Itu kalau kamu mampu, tentu saja.’ Ejek lelaki itu.

Eka langsung mengeluarkan senjatanya, mengarahkannya dengan tegas ke arah lelaki itu.
‘Berbaring di tanah, rentangkan kaki dan tanganmu!’

Lelaki itu tersenyum sinis, ‘Pengecut…’ desisnya sambil merebahkan dirinya di tanah.
‘Setidaknya aku menangkapmu.’ Kata Eka penuh kemenangan. Lalu menekan lututnya ke punggung sang lelaki.
Namun begitu lengannya hendak meraih borgol di pinggangnya, lelaki itu meronta keras, membuat Eka terheyak ke belakang.
Gadis itu segera berdiri, namun…

Todongan senjata di dahinya sedikit banyak membuat gadis itu bergetar, ia tak menyangka kalau lelaki dihadapannya bisa melumpuhkannya semudah itu. Dan tubuhnya makin bergetar ketika dinginnya moncong senjata yang ditekan di dahinya diturunkan ke hidungnya yang bangir, dipulaskan ke bibir sexynya, lalu ke lehernya….
Eka sedikit tersedak karena pistol itu ditekankan ke pita udaranya. Namun pria itu masih melanjutkan terornya ketika kemudian pistol itu diturunkan hingga tepat di tengah kedua bukit payudaranya yang terbungkus seragam, yang kini bernafas berat, ke perutnya, lalu ke selangkangannya.

Eka memejamkan mata, tak mau melihat pelecehan ini lebih lanjut.
Gadis itu menunggu dan menunggu….
Eka membuka matanya dan melihat lelaki itu mengulurkan tangannya menyerahkan senjatanya kembali.
Tangan gadis itu bergetar mengambil senjatanya kembali
‘Aku ingin pertarungan… bukan cara cepat seperti ini… not fun…’ kata lelaki itu
‘Aku mengajukan penawaran kepadamu. Kalau aku kalah, kamu boleh menembakku, membunuhku… Cuma beri aku satu pertarungan yang terbaik yang bisa kamu berikan. Aku melihat kamu memperagakan cara menggunakan baton dengan baik… aku menantangmu.’
Eka masih menggenggam pistol itu… terarah lurus ke dahi penantangnya yang justru maju dan menempelkan dahinya sendiri ke mulut pistol itu.
Lelaki itu meneruskan perkataannya, ‘ Namun nampaknya itu cuma impian… kamu tak bisa bertarung… it's just a show off….’ Katanya pasrah

Darah Eka mulai menggelegak… pelatihannya bukan hal yang ringan…. Ia berjuang keras hingga ia dapat posisinya sekarang ini.
Ia bisa bertarung…. Ia bisa mengalahkan bajingan ini…. Namun kepalanya harus tetap dingin…
‘Apa untungnya buatku…’
‘Tidak ada’, kata lelaki itu… ‘ini cuma kepuasan bagi aku bisa membuktikan kalau pelatihanmu itu cuma sekedar permainan anak-anak.’
Kini darah Eka benar-benar menggelegak
‘Aku akan mengalahkanmu bajingan… jangan harap kamu bisa menipuku lagi dengan gerakan dadakanmu…’ katanya sambil menyarungkan pistolnya, membuka sabuk hostler nya dalu membuangnya ke tanah.
Lelaki itu tersenyum riang bagai anak mendapat permen.
‘Aku tak akan kalah!’ tegas Eka…
‘Kamu tidak akan mau kalah…’ kata lelaki itu sambil keduanya membuat gerakan memutar berkeliling, saling berhadapan dan membuat kuda-kuda.
Eka membuka serangan pertama. Serangan bertubi-tubi dilakukan gadis itu, menekan lelaki yang nampak tak bisa melakukan serangan balasan dan hanya bisa menghindar dan menghindar.
Sejenak Eka merasa kalau dirinya di atas angin… lelaki ini hanya menggertaknya… ia sama sekali tak bisa melawan.
Dan serangannya makin bertubi, tendangan, pukulan, semuanya mengurung ruang gerak sang lelaki yang terus menghindar atau menangkis sesekali.
Hingga akhirnya gadis itu merasakan ada yang salah dalam pertarungan ini… ia melihat senyuman kemenangan tersungging di bibir lelaki itu.
Kesadarannya dating terlambat… ia terlalu asyik menyerang lelaki itu hingga tak sadar bila secara perlahan kini justru dirinya yang terdesak…. Ia merasakan kelelahan…. Tenaganya terbuang dalam serangan-serangannya tadi.

Sebuah tendangan kearah kepala masih dapat ditangkis oleh Eka, namun kekuatan tendangan itu membuat gadis itu terhuyung.
Dan ketika dirinya limbung sebuah pukulan keras, telak menghujam uluhatinya, hingga sang gadis terjengkang ke arah kap mobilnya.
Eka megap-megap kesakitan… Tangannya membekap perutnya yang serasa menerima hantaman palu godam pukulan itu benar-benar menyakitinya…..
Lelaki itu mendekatinya, lalu berbicara lirih di telinga polwan cantik yang meringkuk kesakitan dan berpeluh deras itu.
‘Kamu kalah…. kini aku akan mengambil hadiah kemenanganku…’

Eka ingin sekali meronta, namun kesakitan di ulu hatinya tak bisa di hilangkannya, hingga ia hanya bisa menggeliat lemah ketika lelaki itu membuka gespernya. Tangan gadis itu menggapai mencoba menghalau tangan yang mulai membuka kancing celananya. Namun lelaki itu menepis lengan sang polwan, lalu memberi hantaman kedua di uluhati sang polwan, membuat gadis itu membeliakkan matanya dan megap-megap mencari udara.
Tak ada yang bisa dilakukan Eka ketika celananya kini terenggut dan dicampakkan ke tanah… juga hanya perlawanan lemah yang dilakukannya ketika akhirnya celana dalam berwarna krem di loloskan secara perlahan menuruni pinggulnya, ke pahanya, lutut, betis. lalu menjadi ternoda oleh tanah seiring tercampaknya penutup terakhir pelindung kehormatannya ke tanah.

Eka ingin sekali berteriak, namun tekanan ringan namun mematikan sang lelaki di lehernya membuat suara gadis itu bagaikan suara kumur… lalu megap untuk melancarkan nafas…
Matanya menatap antara takut, benci dan kekalahan ketika melihat lelaki itu menurunkan celananya, mengeluarkan penisnya, lalu….
Brigadir Eka mengerang ketika penis lelaki itu menyeruak ke dalam vaginanya… lelaki itu bahkan tak melakukan foreplay pada dirinya. Pedih dan rasa sakit, rasa benci dan rasa malu berbaur dalam batin Brigadir Eka yang kini terguncang-guncang di kap mobil… Airmata mengalir menodai wajah cantiknya…
Ia mengalihkan pandangannya, tak ingin melihat wajah pria yang kini menggerakkan pinggulnya secara teratur di selangkangannya… menumbuk-numbuk vaginanya…
Eka memejamkan matanya…. Tak ingin melihat wajah lelaki yang kini berada dekat dengan pipinya… memberikan hembusan nafas penuh nafsu di wajahnya, mendengarkan dengusan nafasnya …
Dan memberikan sedikit gelitik dalam dirinya…
Gelitik yang membuatnya makin frustasi karena tak mampu dilawannya….
Mendadak Eka merasaka bila lelaki yang memperkosanya ini bergerak makin kuat menumbuk vaginanya, bergerak liar….

Brigadir Eka memandang ke arah lelaki yang menikmati vaginanya itu… menggelengkan kepalanya dengan panik.
‘Jangan… tolong… jangan di dalamku…’ desahnya dengan suara serak.

Lelaki itu memandang sang polwan dengan tajam… ia memandang mata wanita yang sudah kalah itu. Lalu memagut bibir sang polwan dengan kecupan dalam sebelum menarik penisnya, membiarkan tubuh sang polwan meluncur lemah ke depan bemper mobil untuk kemudian….

Brigadir Eka menarik kedua kaki telanjangnya, menekap dadanya… isak tangisnya begitu nyata… ia membenamkan wajah cantiknya yang berlumuran sperma itu ke kedua lututnya dan terisak melepaskan sesak di dadanya.

Lelaki itu memandang sang polwan di hadapannya, lalu dengan suara bagai desah angin, ia melangkah, undur ke dalam bayang gelap malam.
‘Kamu harus bisa mengalahkan aku untuk membalas sakit hatimmu…’ desah suaranya makin halus
‘Jadilah kuat…. Dan bunuh aku…. Atau aku akan menghantuimu untuk selamanya….’
++++

‘Kamu ikut kelas Muay Thai?’ Tanya Ovvy demi melihat tas olahraga yang dibawa Eka ketika mereka selesai bertugas.
Ovvy merasa ada perubahan pada diri rekanya Eka, ia jadi lebih pendiam, lebih buas… lebih ganas… bahkan kini Eka memohon untuk terjun ke lapangan, dimana ia ikut langsung menyerbu para penjahat, dan menghajar mereka….

‘Apa yang terjadi Eka? Sepertinya kamu berubah sekali’ Tanya rekannya lagi. Eka hanya diam, ia tak mau mengingat malam dimana ia dikalahkan, kini ia berlatih keras demi satu tujuan, bila ia sampai bertemu lelaki itu lagi, ia akan membuatnya membayar perbuatannya.

Dan kekesalannya itu makin bertambah ketika dalam beberapa penyerbuanya lelaki itu ada di sana, walau tak dipungkiri dalam kesempatan itu lelaki itu ‘membantunya’ menghabisi gerombolan penjahat.
Beberapa kali nyawanya tertolong oleh sang lelaki.
Namun disetiap akhir pertemuannya, seiring undurnya sang pria ke balik kegelapan, kaliamat tantangan itu selalu ada…
‘Kamu harus lebih kuat…’
‘Hanya aku yang boleh mengalahkanmu…’
‘Kamu milikku…’
Dan ketika lelaki itu telah menghilang, Eka melampiaskan kekesalannya dengan menghajar penjahat yang sudah tak berdaya, hingga beberapa kali ia harus menerima skorsing...
+++

‘Aku mau berlatih lebih lama master…’

Sang master memandang gadis di depannya… gadis yang delapan bulan yang lalu memulai pelatihannya, gadis yang kini karena pelatihan extreme yang dilaluinya menjadi salah satu petarung terbaik yang dimilikinya, ia memandang tubuh yang terbalut sports bra dan Muay Thay boxer pants. Meperlihatkan tubuh sexy dengan definisi otot yang tegas namun tidak mengurangi keanggunanya.
Sang master sadar, tak mungkin menolak keinginan Eka yang keras itu, ia lalu berjalan ke arah pintu keluar,
‘jangan siksa dirimu sendiri…’
Eka membungkuk memberi hormat pada sang master, lalu memulai program pelatihan exteremnya.

‘Sansak itu tak akan bisa melawanmu, Eka…’

Eka terkejut dan mencari arah suara… Lelaki bertopeng itu melangkah perlahan dari locker room.
Untuk pertama kalinya Eka bisa melihat tubuh lelaki itu yang mengenakan seragam petarung Muay Thai tradisional. Dan kini ia berdiri di tengah ring di dalam sasana itu
Tubuh lelaki itu tegap berotot namun tidak berlebihan, dan sebuah luka besar melintang dari bahu kiri, turun ke dada melintang hingga ke perut sebelah kiri.
Lelaki itu berujar, ‘Ya… aku bisa dilukai… aku bisa kalah…. namun kamu harus berusaha lebih keras agar kamu bisa mengalahkan aku.’
Eka kini berada di hadapan lelaki itu… ia tak lagi banyak bicara… ia langsung memasang kuda-kuda…

‘Good’ kata lelaki itu…’Kita lihat kemajuanmu’
Lelaki itu menyerang terlebih dahulu, Eka kini yang telah lebih siap, menangkis dan memberikan perlawanan yang sama ganas dan brutalnya.
Sebuah jab dari Eka masuk dan membuat sang lelaki terdorong ke belakang..... Namun Eka tak melanjutkan serangannya, ia sudah dapat pelajarannya, lelaki itu belum lagi kalah.
Lelaki itu tersenyum liar sambil menyeka darah dari sudut bibirnya.
‘Bagus… cukup pemanasannya… let’s fight!’
Sebuah teriakan membahana mengawali serangan dahsayat sang lelaki yang membuat Eka terdesak.
Lelaki itu seperti ingin menghukum Eka yang berhasil melukai bibirnya.

Ternyata pelatihan extreme selama delapan bulan yang dijalaninya belum lagi mampu menandingi kekuatan, kecepatan dan keganasan lelaki itu, pukulan demi pukulan mulai telak mendarat ditubuh polwan cantik itu tanpa bisa ditangkis lagi.
Pukulan ke rusuk, tendangan ke perut, tendangan ke arah paha luar, dan terakhir tendangan lutut yang telak mengenai dagu sang polwan mengakhiri pertarungan itu.

Eka jatuh berdebum tertelungkup di matras, dan baru saja ia berusaha merangkak bangkit, sebuah tendangan keras ke arah perut membuat sang gadis terlempar berguling. Kembali Eka dipaksa meringkuk menahan sakit di tubuhnya.
Lelaki itu kemudian keluar arena, lalu kembali menghampiri Eka yang tergeletak lemah sambil membawa tambang rami, serta sebuah toya yang di pukulkan ke perut sang polwan… menambahkan rasa sakit yang sudah menderanya.
Ia lalu menjambak rambut polwan itu dan menyeretnya ke sudut ring, ia lalu mengikat kedua lengan polwan itu menjadi satu dan mengeratkannya ke ring, lalu dengan kasar ia merenggut celana boxer sang gadis, juga celana dalamnya.

Untuk kedua kalinya bagian bawah tubuhnya terekspose bebas untuk dinikmati lelaki itu. Bila pada saat pertama bagian bawah tubuhnya berbalut sepatu hitam, kini kakinya hanya berbalut decker.
Lelaki itu kemudian menyelipkan toya di balik lutut sang polwan dan mengikatnya erat hingga kaki sang gadis mengangkang lebar.
Lalu dengan hentakan keras lelaki itu membalik tubuh sang polwan hingga bokong indahnya menjulang ke atas.

Lelaki itu memeluk Eka dari belakang, lengannya menelusup ke balik sports bra sang gadis dan meremasi payudara sekal itu dengan lembut, dan memilin-milin putingnya.

Eka meronta keras… ia tak ingin dilecehkan lagi seperti ini… harga dirinya sudah jatuh ketika vagina dan anusnya terekspose bebas seperti ini. Ia kesal akan kekalahannya ini.
Namun ikatan erat dilengannya, dan belenggu di kakinya membuatnya tak bisa merapatkan pahanya, untuk sekedar memberikan perlawanan.
Eka menangis… sedu sedannya terdengar nyata kekalahannya terasa lebih menyakitkan… Ia bahkan pasrah ketika merasakan lelaki itu membimbing penisnya bersentuhan dengan bibir vaginanya, lalu mendorong penisnya dengan bertenaga, membelah labianya dan bersarang dalam kehangatan saluran vaginanya.

Tangannya terkepal erat demi merasakan pinggulnya terhentak tumbukan selangkangan sang penakluk dalam irama ritmis. Sementara tangan sang penakluk berubah dari meremas menjadi memeluk dadanya…
Desakan-demi desakan, entakan demi entakan….
Eka makin kesal dengan dirinya… kenapa vaginanya menjadi basah… kenapa vaginanya membiarkan penis itu makin lancar menjelajahi lorong kenikmatan itu?
Eka memukul-mukulkan lengannya sebisanya ke matras untuk meghilangkan rasa itu ia tak terima kalau pelecehan ini mempengaruhi tubuhnya.

Namun bisikan dari penakluknya mampu menghilangkan gairahnya lebih baik dari usahanya sendiri.
‘Aku akan menyakitimu lagi… supaya kau mau berusaha lebih keras untuk mengalahkanku….’

Eka merasakan penis sang penakluk ditarik keluar dari vaginanya, lalu lelaki itu menjejalkan gum shield ke dalam mulut Eka. Lalu membungkam mulutnya dengan handuk kecil.

Eka meronta kuat sejadinya… bajingan itu menjilati anusnya…. Menusuk lubang pembuangannya dengan jari… mencoba melebarkannya….
Lalu gadis itu merasakan ada gel dingin yang dimasukkan ke dalam anusnya…
Tidak…. Tidaaaaaak!!!!
Raungan keras teredam oleh handuk…. Dalam bungkamannya Eka menggigit keras gum shield di mulutnya…
Anusnya terasa sangat panas dan sakit…. Lelaki itu menyodominya….
Seberapa pelanpun lelaki itu menyodomi anusnya, Eka sangat kesakitan… terlebih itu rasa malu, marah, benci bergumul jadi satu…
Lelaki itu mulai menyentak, dan tiap hentakannya merupakan penghinaan bagi Eka….
Setiap penis itu di cabut dari anusnya yang terluka, Eka berharap mimpi buruk itu berakhir, namun salah… gel dingin kembali mengisi saluran pembuangannya, menebar rasa perih…. Lalu kembali penis itu bermain di sana, lagi, lagi, dan lagi.

Ketika akhirnya lelaki itu selesai medonorkan benihnya ke dalam anus sang polwan, Eka merasa sangat kotor.
Ketika lelaki itu membebaskan belenggunya, lalu mencoba memeluknya, Eka meronta. Ia menampar, mencakar, menendang, lalu menangis tersedu-sedu sambil meringkuk menahan sakit dan amarah di dadanya.
Namun pada akhirnya dalam kekalutannya, Eka masih mau menerima rengkuhan sang penakluk yang kemudian membimbingnya ke ruang shower, menyalakan air hangat, lalu membimbing Eka ke dalamnya.

Eka lalu menepis rengkuhan lanjut sang lelaki, membelakangi tubuh sang penakluk, menekapkan tangannya ke bahu, lalu berdiri sambil tersedu di bawah siraman shower.
Lelaki itu mahfum… lalu mengundurkan diri diiringi isak tangis Eka yang kini bersandar di dinding dan menggelosor terduduk di lantai bilik shower itu sambil menangis karena frustasi.
++++

Hampir satu tahun berlalu setelah kejadian di gym itu, Eka kini menjadi jauh lebih kuat dan brutal. Kini ia hampir tak lagi memerlukan bantuan sang lelaki misterius untuk meringkus kawanan penjahat…. Brigadir Eka Frestya menjadi sosok yang ditakuti dikalangan kejahatan di ibukota.


Dan malam itu…
Lengan Eka terhenti pada handle pintu mobilnya....
Ia berbalik…
Lelaki itu sudah berdiri di sana, sama seperti awal pertarungan mereka….
Eka tersenyum sinis…. Ia sudah siap, sangat-sangat sudah siap.

Gadis itu langsung menerjang.
Lelaki itu tersenyum senang… akhirnya, lawan yang sepadan.
Pertarungan itu benar-benar dahsyat, serangan mengalir silih berganti dari keduanya. Tak ada yang ditahan, semuanya dilepaskan dalam pertarungan itu.
Darah yang mengalir dari bibir keduanya, memar-memar yang baru akan terasa jauh setelahnya…
Namun kelegaan pertarungan meliputi kedua manusia itu.

Hanya kematangan dan pengalaman yang jadi penentu, dan kecerdikan…
Eka tau kalau tenaganya masih kalah dibandingkan lelaki yang juga makin kuat itu, kini hanya ada satu hal yang bisa dilakukannya… menggunakan kecerdikannya…

Maka ketika mereka saling merengkuh kepala, Eka membuat gerakan tak terduga dengan memberi sang lelaki sebuah ciuman buas.
Lelaki itu tertegun… dan…

Tendangan lutut Eka membuat sang lelaki jatuh nyaris terjerembab. Tangannya mendekap uluhatinya yang sakit… kini dirinyalah yang megap-megap mencari udara….

Click….

Sang lelaki menegadahkan kepalanya, dan tersenym bahagia karena akhirnya setelah sekian lama ada yang bisa mengalahkannya…
Ia tertawa saat Eka menekankan mulut pistol itu dikeningnya dan menatap tajam ke mata sang brigadir.
Ia menantikan saat ini…

Brigadir Eka tersenyum, ia sudah menang…. Kini saatnya ia mendapatkan hadiah perjuangannya selama ini.
Ia menyarungkan senjatanya, berjalan ke arah kap mobilnya lalu meloloskan celananya. Telunjuknya memanggil sang lelaki yang tersenyum sambil meringis menahan sakit untuk mendekatinya.
Ia merengkuh kepala sang lelaki dan membimbingnya untuk memuaskan vaginanya.

Dan ketika desakan itu makin tak terbendung, Eka menarik kepala sang lelaki ke arah wajahnya, berpagutan liar, lalu melingkarkan kaki jenjangnya ke pinggul sang lelaki menekannya agan penis tegang sang lelaki bisa mengisi relung vaginanya yang menginginkan pemuasan.
Mobil Brigadir Eka kembali berguncang oleh persetubuhan liar keduanya, Eka mendesah, mengerang, menikmati hujaman penis yang mengaduk vaginanya, remasan tangan di payudaranya yang terbungkus seragam polisinya. Benar-benar menikmatinya…
Dan ketika derit mobil itu makin kuat seiring desakan pinggul sang lelaki di selangkangan Eka, menuntut pelepasan, kaki sang gadis semakin menjepit pinggul sang lelaki.

Desah kepuasan terdengar dari mulut keduanya seiring orgasme hebat yang dirasakan keduanya dan bercampurnya cairan cinta sang polwan dan sperma sang lelaki yang kini berenang ria dalam rahim sang brigadir.
++++

Kini penjahat di ibukota menjadi dua kali lebih khawatir oleh Brigadir Eka dan seorang vigilante yang nampaknya saling bahu-membahu memerangi mereka….
Dan bagi Eka, adanya lelaki itu membuat hidupnya kini makin bergairah, dimana ditiap akhir tugas mereka, keduanya akan mencari tempat tersembunyi lalu bertarung hingga salah seorang dari mereka menyerah, lalu bersetubuh dengan liar….
Dan ibukota nampaknya akan jadi tempat yang lebih aman, untuk sementara ini… well, untuk waktu yang relative agak lama setidaknya….

The end

Wednesday, January 11, 2012

United by faith....




Mobil sedan itu berhenti di depan gerbang villa, tak lama seorang gadis manis keluar dari pintu belakang, hanya berbalut sports bra dan hotpans sexy berwarna biru, yang kontras dengan kulitnya yang eksotis itu.
Wajah sang gadis bersemu merah karena harus keluar dalam kondisi setengah telanjang seperti itu, walau daerah villa itu cukup sepi, namun tetap beberapa tukang ojek dan penjaga villa bisa menikmati lekuk tubuhnya yang sensual itu yang berjuang membuka gerbang villa yang berat itu.

Olivia berlari kecil menghampiri mobil yang berhenti di depan pintu villa itu, dengan membungkuk tanda hormat ia membuka pintu pengemudi, memberi jalan untuk tuan besarnya, tuan yang sebelumnya hanya merupakan seorang supir.
Lalu gadis itu membuka pintu belakang, memberi jalan untuk tuannya yang lain yang sebelumnya hanya merupakan tukang kebun dan seorang pemulung yang mendapat rejeki untuk menikmati tubuhnya.

Bungkukan tanda penghormatan makin dalam ketika Olivia membuka pintu penumpang di depan.
Nyonya yang sangat dikasihinya melangkahkan kakinya ke luar mobil. A-dress merah yang dikenakannya membuat orang tak akan menyangka bila sesungguhnya ia hanya seorang pembantu.

Tangan sang nyonya lembut mengangkat dagu Olivia lalu menciumnya tanpa malu, "Terima kasih sayang." kalimat yang membuat gadis itu berbunga.

Pintu villa terbuka, seorang perempuan berkulit gelap dan berwajah seadanya menyambut mereka. Pakaiannya dan dandanannya yang menor makin memperparah penampilannya.
Namun nyonya penguasa Olivia seakan bertemu sahabat karib.
"Wah, kamu bisa datang juga, ya..." kata pembuka pintu sambil bercium pipi kiri dan kanan
"Ayo, sahabat kita yang lain sudah ada di dalam, budaknya sudah mulai pemanasan", katanya lagi sambil mengamit tangan sang nyonya. Olivia dengan tertunduk mengikuti mereka ke dalam villa.
Nyonya menor tadi melanjutkan ucapannya. "Akhirnya kita bisa bikin pesta budak seperti ini" sambil matanya melihat Olivia...
"Nanti kalau agak memar sedikit ngga apa toch?"
Olivia bergidig, namun tetap menunduk.
Sementara sang nyonya tersenyum dan terus mengikuti nyonya rumah ke arah dapur.

Di dapur, Olivia melihat ada seorang gadis hanya menggunakan korset putih tanpa bra dan celana dalam, vagina mulus dan payudara yang sekal milik sang gadis terekspose bebas, hanya stripper heels yang menjadi aksesoris tambahan di tubuhnya.

Olivia mengenal gadis itu, dia Nabila.

Sang nyonya memagut kembali bibir ranum Olivia lalu berkata,"Kamu bantu dia, ya sayang? Jangan kecewakan aku."
Olivia langsung bersimpuh, menunduk di hadapan sang nyonya, tak terbersit dalam benaknya untuk mengecewakan nyonya yang sangat baik pada dirinya
"Baik nyonya, saya tidak akan mengecewakan nyonya..."

Kemudian kedua nyonya melangkah menuju rekan mereka yang sedang menikmati tubuh budak baru... Sekilas Olivia mendengar nyonya menor itu bertanya penasaran tentang cara membuat dirinya patuh seutuhnya, dan kembali senyuman sang nyonya menjadi jawaban.

Kini kedua gadis sependeritaan itu berada di dapur, ada seekor kalkun besar yang harus mereka olah.
Cukup lama keduanya terdiam, lalu Nabila memulai percakapan.
"Bagaimana kamu bisa masuk dalam perbudakan ini?"
Pertanyaan itu menyentak Olivia, pertanyaan yang kembali membuka memory lama yang seakan tak akan terhapuskan dari ingatannya.
"Maaf..." kata Nabila,"Aku tak bermaksud membuka luka lama itu"

Namun Olivia menggelengkan kepalanya, ia tak ingin menutupi kenyataan, tidak di depan gadis yang bernasib sama dengan dirinya.
"Waktu itu aku sedang birahi... Dan dalam kamar mandi aku sedang menikmati jemariku menstimulus clitoris dan payudaraku.
Aku tak menyadari kalau pintu kamarku tak terkunci, dan nyonyaku masuk.
Aku terkejut waktu ia masuk ke kamar mandi. Entah kenapa aku bagai terhipnotis oleh dirinya, aura sexy terpancar dari tubuhnya yang terbalut you can see dan celana tiga perempat."
"Aku takjub waktu tanpa sungkan ia membuka pakaiannya. Kami berdua bugil. Dan aku sama sekali tak punya niat untuk mengusirnya.
Aku terhanyut. Aku menikmati tangannya yang menyabuniku, tubuhnya yang melekat di tubuhku.
Dan ketika bibirnya begitu dekat dengan bibirku, aku seakan terbang. Kami berpagutan liar, tangan kami saling menjamah, meremas, merangsang.
Aku tak ingat bagaimana kami akhirnya berada di kamar tidur, kami tak peduli tubuh basah kami meninggalkan jejak di kasur.
Aku merasakan nafsuku menggelegak, nyonyaku benar-benar menaklukannku... Kami menikmati orgasme kami yang panjang, meresapi tiap detik kenikmatan ragawi yang kami lalui.
Ketika aku tersadar, kedua tuanku sudah ada di dalam kamar dan ada beberapa kamera yang merekam persetubuhanku. Klasik sekali jebakan itu. Namun... Aku tau aku tak bisa berbuat apa-apa selain memasrahkan diriku untuk mereka nikmati."
Olivia terkenang bagaimana kedua penis itu berlomba merasakan nikmat mulut dan tenggorokan sang gadis, ia teringat hidungnya yang tertanam di bulu kemaluan tuannya, serta buah zakar yang menghantam dagunya.
Olivia ingat bagaimana penis keduanya berlomba menghancurkan vaginanya, mambombardir rahimnya.

Olivia berpaling ke arah temannya itu, "Kakak sendiri?"
Nabila menghela nafas,"Aku kalah taruhan." katanya singkat
Olivia mengernyit tak mengerti
"Aku bertaruh dengan kacungku, aku kalah, dan beginilah aku sekarang"

Olivia terdiam memandang Nabila yang nampak masih belum bisa melupakan tragedi itu.
Nabila teringat waktu dengan yakinnya ia menandatangangi perjanjian di atas materai yang mengatakan pihak yang kalah bersedia melakukan apapun permintaan pihak yang menang. Ia dan supirnya, serta pembantu yang berlagak nyonya sebagai saksi.
Nabila teringat bagaimana mereka mampu membuatnya merasa bersalah waktu ia mencoba sedikit bernegosiasi. Bagaimana sang supir bersedih karena merasa ternyata janji untuk seorang entertainer tak berlaku untuk dirinya, serta bagaimana sang pembantu berkata sedihnya menjadi orang kecil karena bisa diperlakukan seenaknya.

Nabila tak bisa menahan beban moral itu lalu dengan lantang berkata di hadapan keduanya kalau mereka berdua boleh memperlakukan dirinya apapun yang mereka mau.
Gadis itu menerawang mengingat ketika supirnya menyuruhnya untuk bertelanjang bulat dihadapannya, lalu memaksanya berlutut di hadapan sang supir yang dengan nyaman duduk di sofa, Memerintahkan sang gadis untuk membuka celana lusuhnya lalu memberi oral sex terbaik yang bisa diberikan kepada dirinya.

Nabila mengamini kisah Olivia sambil mengingat ketika rambutnya di jambak membentuk ekor kuda lalu kepalanya ditekan dalam-dalam hingga penis itu masuk jauh ke kerongkongannya, membuatnya tersedak.
Nabila masih bisa mengingat expresi kenikmatan sang supir ketika penisnya dimanjakan oleh mulut indahnya, lidahnya, tenggorokannya.

Kemudian Nabila menyadari kalau pembantunya juga ingin mendegragasi dirinya.
Permpuan itu ganti duduk di sofa mengangkang di hadapan Nabila, lalu memerintahkan sang gadis untuk melayani selangkangannya yang basah, dari vagina hingga ke anus.

Jeritan Nabila teredam di lubang pantat sang pembantu ketika supirnya dengan kasar menghujamkan penisnya ke vagina sang gadis yang masih kering.

Nabila memandang Olivia yang memasukkan kalkun ke dalam panggangan. "Vaginamu pasti sakit sekali saat mereka mulai menjahanamimu..."

"Bukan cuma vagina, kak. Anusku... Anusku juga mereka gunakan sebagai alternative vagina dan mulut. Sakit sekali ketika benda keras itu merejok ke dalam pantatku... Bergantian ke dua tuanku melebarkan saluran pembuanganku dengan penis mereka... Di saat aku mulai bisa menahan sakit...
Mereka menghujamkan penis mereka bersamaan ke dalam pantatku...."
"Hanya sentuhan lembut nyonyaku, membuat aku menahan jeritanku dan hanya bisa menggeliat menggeletar menahan sakit. Dan akhirnya aku harus membersihkan penis yang berlumuran kotoranku. Dan aku lakukan."

Nabila mengenang dirinya yang saat itu juga disodomi dengan brutal, ia bisa merasakan jika pantatnya sedikit mengalami pendarahan. Juga ketika pembantunya yang baru saja menyiram wajahnya dengan cairan orgasme menepuk-nepuk perutnya hingga anusnya kontraksi, meremas penis sang supir dan melumurinya dengan hasil sekresi dari lambungnya.

Nabila terpekur mengingat dirinya mengernyit menahan jijik dan mual ketika penis yang berlumuran darah dan kotoran itu dicuci dalam mulutnya.

Keduanya terdiam, mengenang awal tragedi hingga mereka tak mendengar langkah kaki nyonya penguasa Olivia.
Tersadar, Olivia segera menjatuhkan dirinya bersujud di kaki sang nyonya.
"Ampun nyonya, maafkan keteledoran hambamu hingga tidak mendengar nyonya datang."

Sang nyonya mengangat tangan Olivia, lalu merangkul pinggulnya dengan erat. Bibir mereka dekat, nafas keduanya saling menghangatkan wajah.
Dan seakan manusia yang dahaga, keduanya berpagutan buas, liar, seakan kekasih yang lama tak bersua.

Nabila tertegun melihat adegan birahi di hadapannya, melihat bagaimana sang nyonya menarik sports bra Olivia hingga sebatas hidung, lalu menciumi bibir sang gadis dengan bernafsu sebelum mencampakkan sports bra itu sembarangan.
Nabila melihat bagaimana geliat Olivia ketika gadis itu meloloskan hotpantsnya.

Tangan Nabila mulai merabai payudaranya sendiri, meremas kedua bukit kenikmatan itu hingga putingnya mengeras, lalu satu tangan melalui korset menuju vaginanya lalu bermasturbasi.

Nabila melihat bagaimana sang nyonya melumuri Olivia dengan madu lalu menjilatinya dengan rakus.
gadis itu iri, pembantunyalah yang selalu ingin dipuaskan, dan penyiksaan sexual yang mampu mengantar pembantu sialan itu orgasme. Ia iri.
Nyonya sahabatnya pandai membangkitkan birahi, lalu meminta pelayanan seperti sekarang seperti yang dialaminya.

Sang nyonya duduk di meja pantry mengexpose paha jenjang yang indah seperti apa yang dikatakan Olivia. Oh betapa ingin Nabila menjilati vagina yang dilabur whipped cream milik sang nyonya yang terawat rapi, tak seperti pembantunya yang tak merawat kewanitaannya.

Nabila terhanyut, ia tak menyadari tatapan penuh kemenangan sang nyonya.
Dengan telunjuknya ia memanggil Nabila yang terhipnotis dan mendekati sang nyonya.
Mereka berciuman ringan, lalu sang nyonya berbisik sensual di telinga Nabila yang dijawab dengan anggukan.

Sejenak Nabila undur diri ke sebuah laci di dapur, ia mengeluarkan double head massive strap dildo yang biasa digunqkan pembantunya untuk menghujam mulut, vagina atau anusnya.

Dengan tatapan mengundang Nabila mengeratkan starp itu di selangkangannya. Oh betapa nikmatnya rasa penis karet yang mengaduk rahimnya.
Lalu dengan sekali hentak, ia memasukkan penis karet itu ke dalam vagina Olivia yang sedang dalam posisi berdiri membungkuk, dan memuaskan sang nyonya.

Jerit Olivia teredam oleh vagina sang nyonya.
Tangannya membelai rambut sang gadis, mengusap kepalanya seakan menenangkan sang gadis yang menggeletar menahan hujaman kasar penis karet di vaginanya.
Lalu sang nyonya beringsut menjauhi kedua budak itu.
Ia berbisik pada Olivia, "Puaskan dia sayang, biarkan ia meraih orgasmenya seperti bagaimana aku menikmatimu. Terima perlakuannya dengan tulus, buat aku bahagia."
Dan Olivia bertahan sekuatnya demi membahagiakan nyonya yang disayanginya. Tak lagi ada keinginannya untuk menjerit kesakitan... yang ada hanya rasa bakti pada sang nyonya yang sekarang menguasai pikirannya.

Kemudian sang nyonya berbisik pada Nabila yang sedang mencengkeram erat pinggil Olive, sambil menumbukkan penis karet jauh ke dalam vagina sang gadis yang berpegangan erat pada pinggir meja pantry.
"Luapkan amarahmu... puaskan dirimu... raih orgasmemu... lampiaskan birahimu..." desahnya sensual sambil lalu undur dari mereka berdua.

Dan Nabila makin bernafsu, hentakan dildo itu makin brutal... ia menjambak rambut Olive, membuat gadis itu memandangnya dengan mulut membuka menahan desis kesakitan, lalu dengan penuh dendam meludahi mulut terbuka itu, lagi dan lagi...
Lalu kedua tangannya menepuki kedua pipi Olive dengan keras hingga pipi gadis itu memerah... namun bukannya menjerit kesakitan... karena rasa ingin berbakti yang begitu besar mulut sang gadis malah membulat dan mengeluarkan suara penuh nafsu... ia menerima siksaan ini demi sang nyonya....

Namibla meremas kedua payudara Olive dengan keras hingga payudara gadis itu memerah lau menepuki punggung sang gadis.... meremas keras pinggul.... menampari pantat dan paha sang gadis sambil pinggulnya menghentak dan menghentak dan menghentak, vagina ke anus, anus ke vagina.

Nabila benar-benar melepaskan emosi, amarah, rasa dendam yang tertahan dalam dirinya selama ini. Sekali saja ia ingin merasakan menjadi nyoya... menyiksa seorang budak... meraih orgasme melalui penderitaan orang.... karea sampai sekarang, dirinyalah yang selalu menjadi pelampiasan, menerima siksaan, menjadi pecundang....

Dan gadis itu menghentak dan terus menghentak hingga akhirnya....

Erangan orgasmis terlepas dari mulut Nabila, serta desah kepuasan meluncur dari bibir Olive... keduanya terdiam sejenak sebelum bagai jelly melorot dan tergeletak di lantai dapur...

Nyonya penguasa Olive tersenyum simpul sambil bersender di pintu dapur, ia puas dengan apa yang ia lihat, lalu dengan tenang ia mematikan cam coder yang ia pasang di saat ia masuk ke dapur lalu masuk ke dalam villa, menemui teman-temannya yang sedang mengganyang budak yang memohon-mohon minta belas kasihan ketika pantatnya sedang disodomi untuk yang kesekian kalinya.

Nafas kedua gadis yang kini tergeletak di lantai dapur berangsur normal...
"Maafkan aku, liv... aku tak bisa menahan diriku..." ia menangis karena malu, mengingat betapa kasarnya ia kepada teman senasibnya itu...
Olive hanya menggeleng dan berkata,"Nggak apa-apa... asal kakak bahagia akupun rela..."

Keduanya lalu beringsut bangkit, dan Nabila melepaskan strap dildo itu sambil mendesah merasakan gesekan penis karet itu keluar dari vaginanya.
Mereka memandang oven, masih ada waktu sebelum kalkun itu matang. Mereka lalu mempersiapkan hidangan lain dalam diam, mencoba melupakan apa yang barusaja mereka perbuat.

"Kamu pernah coba untuk berontak? untuk kabur, liv?" tanya Nabila
Gadis itu mengangguk,"Iya, dan ternyata aku tak pernah bisa lepas dari cengkraman mereka...Kamu lihat tuanku yang ketiga? yang berpenampilan paling seadanya itu?"
Nabila menganggk, ia memang penasaran dengan lelaki tua dengan penampilan semrawut yang masih juga dipanggil tuan oleh Olive.
"Satu hari aku berfikir kalau aku bisa melarikan diri dari tuan dan nyonyaku. Maka, walau saat itu aku hanya berbalut lingerie tipis transparant, aku mencoba kabur. Waktu itu jam satu dini hari, dan aku melihat ada pemulung dengan gerobaknya sedang berkeliling mencari sampah..."
Olive menghela nafas...
Nabila seakan paham..."Itu Jebakan ya?'

"Iya, kak..."Keluh Olive,"Ternyata tuan dan nyonyaku sengaja membuat skenario itu. Terlambat menyadarinya, aku tak melihat tatapan liar pemulung itu, dan aku seakan terhipnotis karena begitu aku sampai di hadapannya untuk meminta tolong, tuanku itu langsung merenggut lingerie tipisku... dan aku telanjang bulat, kak...di tengah jalan, malam buta...."
Olive menghela nafas."Tuankku membantingku, dan menikmati tubuhku di situ, ditengah jalan berlubang becek, tak beralas apa-apa.... dan tuanku begitu menikmati tubuhku...ohhh bagaimana ia mendesakkan penisnya dalam vaginaku, menunggingkanku dan menyodomiku... memintaku mengoralnya, dan menyirami rahimku dengan benihnya..."
"dan seharian itu ia membawaku berkeliling, bugil... aku bersyukur ia masih punya belas kasihan dengan menaruhkku di dasar gerobaknya dan menutupi tubuhku dengan barang-barang bekas yang ditemuinya... dan disaat ia menginginkanku, aku tinggal naik ke permukaan dan melayaninya dengan tulus..."

Nabila menggelengkan kepala melihat betapa submisive temannya ini, ternyata sang nyonya benar-benar bisa mengubah pribadi gadis itu menjadi seperti sekarang ini... dan dirinyapun barusan merasakan kemampuan manipulatif nyonya sahabatnya ini....
Nabila pun sudah merasakan akibat percobaan pelarian dirinya yang berakhir dengan tubuhnya yang hancur-hancuran harus melayani pengemis, pemulung gelandangan anak jalanan dan sebut saja jenis yang lainnya di kolong jembatan kotor selama dua hari dua malam nyaris tanpa jeda. Bagaimana penis demi penis mengisi ketiga lubang kenikmatannya bergatian, maupun bersamaan... ia juga merasakan apa yang Olive rasakan ketika dua penis mengisi vaginanya, anusnya, mulutnya... bagaimana lengannya sampai pegal memasturbasikan penis-penis yang seenaknya menyemburkan sperma ke wajahnya, tubuhnya... bagaimana rahim, mulut dan saluran pembuangannya tak lagi mampu menapung sperma hingga meleleh-leleh keluar dari tubuhnya.
Nabila tak akan bisa melupakan tubuh-tubuh penuh daki, kudis, koreng, cacad yang menikmati tubuhnya, bagaimana juga ia di buat mabuk karena dipaksa menghirup lem seperti anak jalanan sementara anak jalanan itu bergantian memasukkan penis kecil mereka dalam tubuhnya... menikmati tubuhnya..

Keheningan kembali mengisi dapur itu, hanya detik jam penunjuk waktu memasak yang terdengar sangat ritmis mengusir keheningan itu...

Nadila memandang perut Olive... terlihat cukup rata dan terawat.... apakah?...
"Pernah hamil, liv?" tanya Nabila tanpa bisa ditahan...
Air mata akhirnya meleleh dipipi Olive, namun tak ada isak keluar dari mulutnya...
Gadis itu mengusap airmata yang tumpah dan berkata, "Aku mengaborsi tujuh janin, kak... dan akhirnya aku mandul... aku tak akan pernah lagi bisa punya keturunan..." katanya sambil mempersiapkan beberapa gelas untuk minuman para tuan dan nyonya yang sedang berpesta budak...
"Namun mungkin lebih baik begitu... supaya tuan dan nyonyaku tak pernah bisa berhenti menikmati tubuhku untuk kepuasan mereka...Kalau kakak sendiri?"

"Aku juga mereka buat mandul... bukan... bukan karena aborsi... pernah satu kali mereka meminjamkan aku ke sekelompok tukan ojeg dan tukang becak serta penjaga-penjaga villa yang sekarang sedang berpesta di dalam sana... mereka memberikku penenang yang biasa dipakai mensterilkan kuda... dan kini... nasib kita sama..."

Kalkun itu sudah matang, mereka berdua memberikan laburan di atas hidangan mewah yang dibeli dari uang mereka sebagai entertainer... lalu mereka menyiapkan makanan kecil dan minuman yang lainnya.

"Pernah mau meracuni mereka?' tanya Nabila tiba-tiba sambil dirinya menuangkan lemon tea dari dalam pitcher ke beberapa gelas.

Olivia bergidig ngeri..."Aku tak mau membunuh kakak..."
Nabile tercengang
"Pertama dan terakhir aku menaruh racun dalam makanan, aku kehilangan Dalmatian kesayanganku yang mereka suruh mencicipi makanan yang aku buat..."
Olivia teringat bagaimana Dalmatian itu meregang nyawa sambil menatapnya iba mohon diselamatkan sementara dirinya meronta tertahan, memohon belas kasihan pengampunan untuk Dalmatian yang beberapa kali juga menikmati pelayanan terbaik dari dirinya....

Olivia memandang Nabila yang tepekur melihat hidangan di hadapannya...
"Aku tak ingin meracuni mereka... karena tubuhku kini sudah sangat rusak dan sex addict.... aku perlu mereka untuk memperbudakku, menyiksaku... aku mau meronta dan berontak terus agar mereka punya alasan untuk memperkosaku lagi dan lagi..."

Mereka berdua tersenyum penuh arti...
Ya... tubuh mereka kini tak bisa dipisahkan dari benda bernama penis dan vagina... tubuh mereka berharap dapat merasakan penis-demi penis menghujam, berharap mulut mereka bisa merasakan vagina demi vagina yang berdenyut minta dipuaskan.. karena seiring orgasme penikmat mereka, keduanyapun bisa merasakan orgasme...

Akhirnya setelah semuanya selesai, mereka berdua mendorong makanan menggunakan trolley ke taman belakang villa...
Mereka dapat melihat sekitar 20 pria dan tiga wanita sedang duduk-duduk santai sementara di hadapan mereka seorang gadis muda lainnya yang tak kalah cantiknya sedang meringkuk kesakitan sambil tersedu sedan.

Olive dan Nabila bisa melihat bagaimana sang gadis yang dikenal sebagai Citra itu meringkuk menggeletar menahan sakit disekujur tubuhnya, yang tertutup sperma kental, yang baru saja dihajar 20 penis secara marathon itu. Mereka tau kalau sekarang giliran mereka yang menggantikan penderitaan sang gadis yang diberi sedikit waktu istirahat...

Mereka pasrah....

Kini di saat sinar menrari mulai beranjak naik, dan suhu mulai memanas nampak pemandangan menggairahkan di taman belakang villa itu.

Tubuh Olive kini berada dalam posisi merangkak, punggungnya menjadi tumpuan kaki, vagina dan anusnya disumpal dildo vibrator berukuran besar, sementara mulutnya di sumpal dildo strap... gadis itu menyadari kalau ini merupakan pemanasan dari apa yang akan ia rasakan sebentar lagi...

Nabila dipaksa menari erotis lalu memasturbasi dirinya dengan paha kalkun besar itu dan dirinya dipaksa berorgasme, berkali-kali hingga kelelahan... namun yang terparah tentunya masih akan datang...

Ketiga gadis itu masih harus bertahan melalui siksaan itu.... selama satu minggu... selama cuti shooting yang terpaksa mereka minta untuk menyerahkan diri mereka menjadi pelampiasan nafsu...

Ini akan menjadi satu minggu yang sangat panjang bagi ketiganya... sangat, sangat panjang....

End

Monday, December 12, 2011


The Horror of Celine Evangelista - 2: The Torture

Angin pantai menerpa tubuh sexy yang berbalut bikini putih itu... Celine begitu menikmati pembuatan film horror yang 'mengharuskan' dirinya bermain diindahnya pantai, gemuruh ombak dan suasana pantai yang indah membuat Celine merasa sangat tentram...

Namun sayang, kini segulung awan hitam berkumpul di kejauhan laut.... angin keras dan kencang menghancurkan kebahagiaan gadis itu... Celine bergerak menjauhi pantai mencoba mencari tempat berlindung. Ia terkejut, pantai itu menjadi tandus... tak ada tempat berlindung, ia seorang diri... tak tampak rombongan crew dan pemain yang lain yang sebelumnya beria-ria dengannya.

Celine panik... dinginya agin yang bertiup sangat kencang menyakiti tubuhnya... gadis itu mengigil, lalu... dengan mata membelalak ngeri, Celine melihat tembok ombak tinggi yang terbentuk di hadapannya...dan dengan buas menerjangnya.

Celine tersentak.... terbangun dari mimpi buruknya.

Tak lama, ketika seluruh sensor tubuhnya sudah sadar, gadis itu mengerang... ia kembali terisak sedih.... tubuh telanjangnya tergeletak tak berdaya di lantai gudang besar yang tak terawat tempat ia disekap oleh psikopatnya.

Denting rantai dan rasa perih di lehernya mengingatkan Celine akan rantai dan kalung besi yang menghiasi lehernya. Celine meringkuk menekuk kakinya ke arah dada... setidaknya cuma itu yang bisa ia lakukan karena tangannya masih terbelenggu di belakang tubuhnya hingga dirinya tak bisa mendekap lututnya untuk mendapatkan sedikit kehangatan melawan dinginya lantai kotor dan kasar gudang itu ,yang telah membuat kulitnya lecet, juga tak bisa melawan perih di maagnya yang sudah tiga hari ini tak diisi oleh makanan... not even a bowl of a dog food.


Bantingan keras di pintu gudang mengejutkan Celine, dengan pandangan berkunang-kunang gadis itu melihat ke arah sosok psikopat yang mendekatinya, nampak lelaki itu membawa sebuah cooler box di tangannya.
Lelaki itu meletakkan cooler tadi lalu dengan tak berperasaan lelaki itu mendorong wajah Celine dengan kakinya, hingga gadis itu terjengkang ke belakang.

Celine hanya menggeliat lemah ketika dengan seenaknya lelaki itu menginjak dan menggesekkan sepatunya larsnya ke bukit payudaranya bergantian kiri dan kanan.

'Sekitar satu jam lagi kamu akan menjalani banyak siksaan...' ujar lelaki itu dengan santai, sambil kini kakinya menekan dan membuat vagina Celine bagai keset.
Celine hanya mengerah lirih, tenaganya sudah habis untuk melawan maupun meronta.
'Ada kemungkinan besar kalau kamu akan mati' sambung lelaki itu tanpa menghiraukan perasaan gadis yang terbujur lemah di bawahnya
'Namun bila kamu sampai dapat bertahan... well, setidaknya hari-hari penyiksaanmu akan berlanjut.'

'Mengapa?' suara parau Celine keluar dari tenggorokan yang kering karena tak terkena cairan pelepas dahaga...
'Apa salahku?... kamu sudah siksa aku... perkosa aku...hina aku...' tanya celine dengan tebata-bata... tiap frase dari mulutnya menambah kesakitan di tubuhnya.

'Salahmu tidak ada... aku cuma ingin kamu menderita' pungkas lelaki itu, sambil berjalan ke salah satu bagian gudang, 'ah, ini dia...'
Celine melihat lelaki itu mendekatinya dengan membawa sebuah corong besar dengan selang sepanjang 20cm di bawahnya.
'Aku akan memberimu makanan...bila sampai kamu mati anggap ini makanan terakhirmu'.

Celine meronta-ronta, dengan tak berperasaan lelaki itu menghujamkan selang kotor dan dekil itu ke dalam tenggorokannya hingga kini dasar corong itu menempel langsung ke mulut sensualnya.
Celine tersedak namun tertahan oleh selang besar yang kini mengisi tenggorkannya.

Lelaki itu mengambil sebuah wadah kopi insat besar yang berbahan kaca dari dalam cooler, Celine dalam posisi yang sangat tak nyaman itu melirik ngeri melihat cairan kental berwarna coklat kekuningan dalam wadah itu.Dan ketika tutup wadah itu dibuka, aroma busuk segera merebak.

Celina meronta-ronta panik, lelaki itu terkekeh geli sambil menahan kepala sang gadis hingga tak bisa bergerak banyak.
'Harum kan?' ejek lelaki itu, 'bubur ini berisi dog food kesenanganmu di tambah ikan busuk, daging mentah berbelatung, beberapa gumpal cacing, air comberan dari kali ciliwung, kecoak dan my own personal shit.'

Tubuh Celine mengejang, meronta... gumpalan busuk itu menerjang masuk langsung ke lambungnya tanpa perlawanan. tubuhnya mual, namun posisi kepalanya yang terdongak tertahan membuatnya tak mampu memuntahkan setetespun cairan jahanam itu dari perutnya.

Setelah yakin tak ada cairan yang tersisa, dengan kasar lelaki itu mencabut selang dan corong itu, lalu merekatkan duct tape di mulut celine, memastikan setiap muntahan yang dikeluarkan sang gadis, akan masuk kembali ke perutnya. dan tawa sadis sang lelaki muncul ketika sebagian cairan busuk itu keluar dari hidung celine ketika sang gadis tersedak untuk kesekian kalinya, serta tawanya makin terbahak demi melihat tetesan kencing mengalir dari vaginanya tanpa bisa ditahan.

Penghinaan yang sangat dahsyat ini membuat Celine kembali meronta liar walau dalam kondisi lemah, matanya kembali memancarkan kebencian tinggi, kakinya yang lemah berusaha menendang psikopatnya.

'Hahahahaha, that's the spirit... oh how i wan't to see you broken, and make your mind gone blank' tawa lelaki itu sambil memandang usaha Celine yang sia-sia itu.
'Satu jam lagi, akan kita mulai...' kata lelaki itu meninggalkan sang gadis yang menggeliat menahan mual dan terpaksa menelan muntahan dami mutahan yang dikeluarkan perutnya yang menolak 'makanan' itu. Hingga akhirnya Celine tersungkur lemah, dan merasakan rontaan hebat di perutnya, walau akhirnya ia mampu menahan untuk tidak muntah lagi.

*****

Teror akibat penantian membuat Celine makin frustasi... entah apa lagi yang akan diperbuat sang psikopat pada dirinya....
Dan kini lelaki itu sudah ada di hadapannya, ia memasang sebuah rantai lain di ring gag strap yang menghiasi leher Celine, lalu melepaskan rantai yang selama ini menahannya di lantai gudang itu.
Dengan kasar lelaki itu menyeret tubuh Celine yang lemah ke salah satu pojok gudang, ia tak meperdulikan mata sang gadis yang mebeliak, dan tubuhnya yang meronta karena tercekik rantai, Celine berusaha mati-matian menggerakkan tubuhnya agar setidaknya ia bisa bernafas.

Di pojok gudang itu, Celine melihat sang psikopat, membuka sebuah pintu di lantai. Pintu menuju ruang bawah tanah.
Lelaki itu mencengkeram rantai di leher Celine, membuat gadis itu berdiri di atas kaki yang goyah, lalu membawanya menuruni tangga.


Celine membelalak ngeri... Ruangan bawah tanah itu merupakan ruang penyiksaan... gadis itu coba meronta, namun kekuatan sang psikopat jelas tak sebanding dengan kondisi tubuhnya saat ini.

Sang psikopat membawa Celine ke sebuah tiang ganda, lalu membuka ikatan di lengan Celine. Gadis itu merasakan aliran darah mengaliri nadi di lengan yang mati rasa itu. Namun rasa lega itu terlalu cepat menghilang, ketika kembali psikopat itu mengikat lengan Celine menjadi satu dengan gelang besi yang ke belakang tubuhnya, lalu menggunci gelang itu dengan rantai.
Sang psikopat lalu melepaskan strap di leher Celine dan menyentak duct tape yang menyumpalnya, gadis itu menghirup- dalam-dalam udara ke dalam paru-parunya.

'You know...' kata psikopatnya santai, seakan gadis di hadapanya itu dalam kondisi baik-baik saja,'In medieval time, pelacur dan penyihir seperti kamu boleh diinterogasi dalam bentuk apa saja... Tujuannya agar terhulum mengakui perbuatannya yaitu menyihir atau melacur...' katanya lagi sambil memandang gadis yang berdiri limbung di hadapannya.

'I'm no witch... and I'm noth a whore...' desis Celine geram... perlawanan gadis itu benar-benar patut diacungi jempol

'Semua pelacur dan penyihir yang ada di sini juga berata begitu...' jawab psikopat dengan santai.

Celine tertegun... semua? my god... berapa banyak korban psikopat ini? di mana mereka semua?
Celine membayangkan berita di koran tentang gadis-gadis yang menghilang yang tak ditemukan hingga saat ini...

'Yes bitch... kamu pikir kamu yang pertama? perhatikan ruangan ini dengan baik sayang...'

Mata Celine meyisir ruang penyiksaan itu...dan membelalak ngeri... di sebuah pojok terjauh dari ruang itu, samar sang gadis bisa melihat jasad wanita yang membusuk bahkan sudah menjadi tulang belulang...

Celine meronta ngeri...

'Mereka tidak mengakui perbuatannya hingga akhir... well... mungkin mereka bukan penyihir atau pelacur... but who cares? i love torturing you gals... and by the time i finish... whether you'll join them or live for another debasement for the rest of your live'

Celine bergidig ngeri... tak ada pilihan yang bisa diperbuatnya...

'Oh by the way.... daging yang aku campurkan tadi aku ambil dari bangkai mereka...'

Celine jatuh bersimpuh dan serta merta memuntahkan semua isi perutnya seiring derai tawa sadis sang psikopat...

Nafas sang gadis tersengal... dan psikopatnya merasa saatnya sudah tiba.

'Now... mengaku kalau kau pelacur dan penyihir, sundal!' makinya sambil menampar Celine hingga terduduk di atas muntahannya sendiri

'I am not!' geram Celine... sambil meludah ke arah psikopatnya

'Hahaha... good girl... makes me more happy to beat the shit out of you...'

psikopat itu berjalan ke arah tiang lalu mengambil remote yang tergantung dan menekan sebuah tombol

Celine menjerit kesakitan, lengannya yang terbelenggu ke belakang tubuhnya terangkat paksa oleh tarikan rantai, kini ia merasakan posisi strapado... bahunya seakan mau lepas dari tempatnya oleh tarikan itu, kakinya kini melayang sejengkalan dari tanah.
psikopatnya lalu mengangkat sebuah leg spreader dari bawah tiang, mengikat tiap pergelangan kaki Celine ke spreader itu hingga kini kaki sang gadis membuka mengangkang lebar.


Kemudian sang psikopat beranjak ke belakang Celine, gadis itu mendengar sang psikopat mengambil sesuatu...

'Confess...' kata psikopat itu...
'NO!' lengking Celine sambil menahan sakit di bahunya.

swooshh... desir angin terdengar dan..
CTAAAAAR!

'yeeeaaaaarrrrggghhh!' jerit parau celine membawana demi merasakan sabetan di punggungngnya.

CTAAAAR! CTAAAAAR!!

Tubuh Celine menggeletar kesakitan... jeritan parau makin melemah, berganti ringisan pedih...
Gadis itu bisa merasakan darah mengalir dari punggung, bahu, maupun buah pantatnya yang terluka... Kepalanya terkulai lemah.

Pandangan mata Celine tertumbuk pada sepatu sang psikopat... gagang bull-whip itu digunakan untuk mengangkat dagu Celine, tatapan keduanya bertemu... tatapan mata liar dan sadis milik sang psikopat, dan tatapan sayu Celine yang bercampur dengan tatapan iba...

psikopatnya tersenyum, lalu mundur hingga pada jarak yang tepat dan...

CTAAAARRRR!

Celine kembali meronta liar... pecutan itu mengenai puting payudaranya... lalu menghajar habis buah dadanya...

CTAAAAAARRRR!

kini perut dan rusuknya....

CTAAAARRR!!!!

Paha dan betisnya....

CTAAAAAARRRR!!!!
Raungan yang seakan dari alam lain terdengar keras ketika pecutan itu menghujam vagina Celine yang terexpose bebas....


Lagi dan lagi... hingga kini vagina itu membengkak, merah keunguan...


psikopatnya tertawa geli melihat Celine yang terkencing-kencing menahan sakit di vaginanya yang terluka itu...
'Well... mengaku atau kita teruskan permainan ini?' tanya sang psikopat dengan santainya, sambil menggulung cambuknya, meletakkannya di sebuah meja dan mengambul sebuah bokor dari meja itu...

'a...aku...aku bukan pe.. penyihir...' desis Celine dalam sakitnya...

'Oh baiklah...' kata psikopat itu...

'Aaaaaaaaarrrrrgggghhhhhh!' Celine berteriak perih, pemuda itu menaburkan bubuk dari dalam bokor yang ternyata berisi garam...

Tubuh sang gadis menggeliat liar, bagai cacing... tak perduli sakit di bahu yang sedikit lagi akan dislokasi....

Psikopat itu menekan tombol yang mengendurkan rantai dan membuat gadis itu terbanting di lantai ruang bawah tanah itu sambil tetap menggeliat-geliat menahan perih di sekujur tubuhnya, dirinya tak perduli pada sang psikopat yang kini memasangkan rantai lain pada pertengahan leg spreader, lalu melepas rantai di tangannya hanya untuk kembali membelenggunya menjadi satu di depan tubuhnya.

Kembali gadis itu melayang di udara ketika sang psikopat menekan tombol pengatur palang itu. Kemudian ia menekan tombol kedua, yang membuat rantai di leg spreader itu meregang, dan membuat tubuh sang gadis terangkat membentuk sembilan puluh derajat.

'Confess you liitle whore....' geram sang psikopat sambil mengaduk tiga jarinya dalam anus Celine yang berteriak kesakitan sambil tetap bertahan...
'Aku bukan pelacur!' lolongnya sambil menahan sakit

'Fine...' dengus sang psikopat sambil membawa sebuah bangku kayu bundar mirip bar stool chair.
'enjoy your answer in this judas chair'

Celine ketakutan setengah mati, ia melihat bangku itu... ditengahnya terdapat piramida mini seperti monumen nasional washington setinggi kurang tigapuluh cm dan diameter lima cm. Dan kini bangku itu diletakkan tepat di bawah tubuhnya.
Gadis itu meliukkan pinggulnya dengan percuma ketika pemuda itu menekan tombol yang membuat tubuhnya turun perlahan, hingga ujung runcing piramid itu menusuk lubang anusnya.

'Aaaaaaaaahhhhhhh!!!!! Sakiiiiiiiiittttttt!!!!!!'

Raungan membahana terdengar di ruang penyiksaan itu. Psikopat itu menekan tobol yang membuat tubuh Celine terjatuh dengan cepat dan piramida itu menghujam anusnya dengan kasar.....

Kepala gadis itu langsung lunglai... namun siraman air di wajahnya membuyarkan pingsanya.
Kesakitan di tubuh gadis itu makin berlipat, terutama dalam saluran pencernaan dan lubang anusnya yang terluka, gadis itu bisa merasakan aliran darah membasahi bangku yang menahan piramida itu menusuk lebih dalam dan membuatnya mati...
Psikopat itu benar-benar ingin menyiksanya perlahan....

Lelaki itu mengambil bangku lain lalu mengambil bangku lain lalu duduk di hadapan Celine yang tubunya gemetaran menahan sakit, perih dan dingin...
Ia menghembuskan asap cerutu ke wajah Celine, lalu menjambak rambut sang gadis dan mendongakkan kepalanya.

'Lanjut?... atau mengaku?'

'Aku... aku... bu... bu...aaaahhhh!!!!' kalimat Celine belum selesai ketika ujung menyala cerutu itu menjamah payudara kananya yang montok...

'Mengaku...'

Gadis itu menggeleng sambil menahan perih

'Aduuuuuhhhh!!!!' jerit dan ringisan perih kembali terdengar seiring desis daging payudara kiri sang gadis yang terbakar cerutu.

Jerit, gelinjang rintihan silih berganti mengisi udara dalam ruang penyiksaan itu. sundutan demi sundutan menghiasi sekujur tubuh Celine... dan ketika psikopat itu selesai, nampak puntung lima batang cerutu ukuran besar berserakan di bawah bangku Celine, yang kini terisak karena penyiksaan di tubuhnya, dan tubuhnya beringsut ketika dengan santai lelaki itu meremas payudaranya yang terluka bakar itu...

'Oke..' kata psikopat itu, 'cukup istirahatnya... kita mulai lagi interogasimu, sayang...'

Tubuh Celine menggeletar, tubuhnya kembali terangkat dan 'plop'... piramid itu tercabut dari anusnya yang terluka parah itu...
Celine bisa melihat, piramid yang tadinya berwarna putih itu berubah berwaran merah kehitaman dengan noda coklat kekuningan mengiasinya.

Kini tubuh telanjang Celine yang tergantung itu sangat layu.... tubuh itu sudah babak belur berhiaskan jalur-jalur cambukan, luka bakar akibat cerutu... dan lubang anus yang terluka akibat judas chair itu rambutnya kusut masai, kepalanya terkulai lemah...

Psikopat itu berjalan ke meja dan mengambil sebuah benda....

'They called this pear... barang ini digunakan untuk menghukum pelacur dan penzinah seperti kamu'

'a...ku bu...kan pelacur.' kata Celine terbata-bata...

'Hah' psikopat itu mendengus mengejek, 'kamu pakai kutang dan bh selama pembuatan film... dilihat banyak orang, kamu melakukan pemotretan dengan backless wardrobe, yang cuma mirip selendang, tanpa pakai kutang, cuma hotpants putih yang menutupi vagina kamu...kamu berpose sensual untuk majalah dewasa... what did you call that? saint? no bitch... it called whore!'

'aaaarggghhhh!!!!' Celine kembali mengaduh, ketika pear itu dihujamkan ke dalam vaginanya yang memar akibat cambukan sebelumnya....
'Now... confess!'

Celine menggeleng menahan sakit di tubuhnya....

'Fine...' psikopat itu lalu memutar handle di bawah pear itu...
Celine merasakan kalau alat itu membuka melebar dalam vaginanya....

'Aduuhhh... ampun.... ampun.... cabut.... cabut.... memekku sobek... memekku sobeeeeekkk!' raung Celine ketika merasakan pear itu melebar hingga vaginanya membuka sangat lebar dan sangat-sangat menyakitkan.

Psikopat itu hanya tertawa lalu meninggalkan gadis yang menggeliat kesakitan tergantung di tiang itu dan berjalan ke pojok lain ruangan penyiksaan itu mempersiapkan alat lain untuk menyiksa Celine...

Setelah itu sang psikopat sadis, menghampiri Celine yang menggeliat kesakitan, tergantung di tiang itu, lalu dengan kasar menyentak pear of anguish dari dalam vagina sang gadis yang kembali menjerit perih demi merasakan vaginanya di aniaya begitu rupa.

Psikopat itu lalu menekan tombol hingga Celine kembali jatuh berdebam di lantai, lalu meringkuk lemah membentuk bola menahan sakit di sekujur tubuhnya. Lalu tanpa rasa belas kasihan, psikopat itu mnejambak rambut ikal Celine yang kini kusut masai itu lalu menyeret gadis yang tak berdaya itu ke sebuah frame berbentuk kursi

Psikopat itu mendudukkan tubuh celine yang lunglai itu pada frame tersebut, lelaki kemudian menarik pinggul celine ke arah ujung dudukan frame lalu itu mengatur kaki Celine melewati frame hingga mengangkang lebar, lalu mengeratkan strap yang ada pada frame tersebut di paha, dan pergelangan kaki celine dengan ketatnya hingga memotong sirkulasi darah gadis itu, kemudian ia mengeratkan strap di siku dan pergelangan lengan Celine hingga terikat erat di masing-masing lengan frame itu, kemudian dengan santainya psikopat itu mengeratkan jemari Celine ke dudukan yang dibuat mengikuti bentuk telapak tangan pada masing-masing ujung sandaran lengan di frame itu.
Terakhir, psikopat itu mengeratkan strap di leher Celine ke sandaran kepala, membuat sang gadis sedikit kesulitan untuk bernafas

Kembali sang psikopat menarik kursi ke hadapan Celine, lalu dengan berbisik di telinga Celine ia berkata...
'confess... and i'll end your suffering'
Celine terisak.... bagaimana ia bisa mengakui yang tidak dilakukannya?'
'Oh well...' desah sang psikopat kecewa... ia mengambil sebuah kotak dan..

Celine kembali menjerit-jerit kesakitan... makin melukai tenggorokannya yang memar akibat jeritan dan teriakan konstan yang dilakukannya.
Psikopat itu menusukkan sebuah jarum pentul ke bawah kuku kelingking jari kiri sang gadis... jauh ke dalam...

Nafas Celine tersendat-sendat... matanya memancarkan ketakutan ketika psikopat itu mengambil jarum ke dua...

Jeritan... erangan... rintihan silih berganti mengisi kengerian di ruang penyiksaan itu seiring jarum demi jarum menhujam sela antara kuku dan daging jari sang gadis yang tak bisa meronta karena eratnya kuncian di sendi tubuhnya.

Psikopat itu menatap kagum pada payudara sekal Celine yang maju mundur karena helaan nafas berat oleh siksaan yang dilakukannya pada tubuh sang gadis.
Dan pandangannya makin berbinar demi melihat dada sang gadis makin maju mundur, seiring tarikan nafas yang menunjukkan rasa ketakutan dan kengerian...

Lengkingan dan rontaan liar terdengar lagi... psikopat itu memeras jeruk limau besar di atas jari-jari terluka Celine...
Tubuh gadis itu bergetar hebat menahan perih dan sakit di jemarinya, hingga ia tak lagi konsentrasi ketika sang psikopat menarik alas duduknya hingga kini bokongnya tergantung bebas pada frame itu, hanya pahanya yang menyangga tubuh letih Celine yang terus menggeliat menahan perih dan sakit itu.

Kemudian sang psikopat menginjak sebuah pedal, dan sebuah trap kecil tepat di bawah frame di lantai itu membuka.

Celine merasa adanya rasa panas yang menyentuh bokongnya, namun ia tak bisa melihat karena lehernya yang terbelenggu ke sandaran kursi di frame itu.Celine tak bisa melihat bara api yang menyala bagaikan api dari neraka di balik trap itu... dan bara panas itu mulai memanasi sekujur tubuhnya.

Celine pun menggeliat-geliat tak berdaya, hingga makin menyakiti lengan dan lehernya, gadis itu menggelait percuma demi menghindari panas bara yang menyengat anus dan vaginanya yang terluka, serta uap bara yang memanaskan sekujur tubuhnya hingga berkeringat hebat dan membuat tubuhnya berkilat sexy.

Psikopat itu tersenyum liar demi melihat pinggul Celine yang menggeliat-geliat diiringi desis dan rintihan dari bibi gadis yang kepanasan hebat itu, tetesan keringat yang beradu bara memberi sensasi suara yang sensual di telinga sang psikopat. Dengan santai pria itu melihat bagaimana bagian bawah tubuh Celine memerah terpapar panas dari bara di bawahnya.... lalu beranjak ke sudut lain di ruangan itu mempersiapkan penyiksaan lainnya untuk Celine yang kini menghentak-hentak pinggulnya dengan liar karena panas yang makin menyengat bokongnya.

Ketika trap itu menutup, Celine bernafas sangat berat, keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya, yang walau penuh bilur-bilur penyiksaan, tetap memancarkan aura sexy dan sensual yang sangat kental.

Kembali tubuh lemah Celine di seret ke sarana penyiksaan yang telah disiapkan sebelumnya. Kini gadis itu terikat pada sebuah roda kayu, yang bagian bawahnya masuk ke lantai, dengan pandangan yang berkunang-kunang, Celine bisa melihat adanya trap lain di lantai itu.

Psikopat itu menengadahkan dagu Celine, ia memandang wajah kuyu dan kusut masai korbannya, ia melihat bibir sang gadis yang kering akibat teriakan konstan dan tak adanya cairan yang masuk untuk membasahi dahaga sang gadis, juga jejak darah di tepi bibir sexy sang gadis akibat kerasnya teriakan yang keluar dari bibir yang secara berkesinambungan mengisi ruang penyiksaan itu menyebabkan tepi Celine terluka.

'Thirsty bitch?', tanya sang psikopat berbasa-basi, 'don't worry bitch... you'll have plenty to drink'.

Psikopat itu kemudian memegang sebuah handle di samping roda kayu itu lalu memutarnya hingga tubuh Celine terangkat melengkung teregang mengikuti putaran roda hingga pada posisi di puncak putaran. Celine mendengar suara derak di bawah roda itu, ia menyadari kalau trap sudah dibuka.
Aroma busuk menyeruak mengisi paru-paru sang gadis... lalu derakan roda terdengar.

Aroma itu makin menusuk seiring mendekatnya kepala sang gadis ke arah cairan yang menantinya di bawah sana... rambut panjangnya sudah terlebih dahulu menikmati kebusukan cairan itu. Cairan hitam pekat yang nampaknya campuran air sungai kotor, saluran pembuangan, septic tank dan entah apa lagi.

kulit kepalanya sudah terbenam, kini menyentuh alisnya...

'Confess, Bitch?'

Celine menggeleng panik...

'Well enjoy your swim, love, hehehe...' perlahan sekali psikopat itu memutar handle, membiarkan mata indah Celine terbenam, perlahan memutar kembali handle itu hingga hidung sang gadis terbenam, menyaksikan dengan girang ketika Celine megap-megap berusaha bernafas dari mulutnya, hingga pada saat yang tepat, psikopat itu memutar handle dan mendengar tegukan air kotor yang masuk dalam paru-paru dan lambung Celine.
Lalu dengan perlahan pria itu memutar handle, dan melihat kaki Celine yang melejang-lejang sebelum menghilang ke dalam cairan busuk itu.

Celine megap-megap mencari udara untuk mengisi paru-parunya yang terkontaminasi cairan busuk itu. Tubuh indahnya kini kotor dan dipenuhi gumpalan menjijikkan mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya.

'How's your bath, bitch?' tanya sang psikopat sambil menjambak rambut Celine... ia bisa melihat jelas lelehan air mata tak henti mengalir dari wata ternoda sang gadis... ia hampir menyerah....
Psikopat itu tersenyum sinis, lalu kembali memutar handle, lagi... dan lagi... hingga tubuh Celine berulang kali keluar-masuk kolam nista itu, dan terakhir sang psikopat membiarkan Celine terbenam dalam cairan itu pada posisi terbawah dari putaran roda untuk beberapa saat...

Celine sudah lunglai ketika siksaan itu berakhir... dirinya di lempar ke lantai dingin ruang penyiksaan itu untuk kemudian merasakan semprotan air bertekanan tinggi yang dilakukan sang psikopat untuk membersihkan semua kotoran yang melekat di tubuh babak belur gadis yang tak berdaya sama sekali menahan semburan itu.

Celine bahkan tak menggeliat ketika psikopat itu mencengkerem sebelah lengannya yang tak berdaya dan menyeretnya melewati lantai berbatu ruang penyiksaan itu.
Celine sama sekali tak melawan ketika tubuh rusaknya di letakkan di atas sebuah frame lain, punggunnya tertahan roda kayu yang memoliki banyak tonjolan lancip berbentuk piramid kecil, pergelangan lengan dan kakinya diikat erat ke ujung- ujung frame hingga tubuh gadis itu membentuk huruf x yang menggiurkan, walau tubuhnya dipenuhi bekas penyiksaan.

'Aaaaaarrrrggghhhh!'

Raungan parau, lemah, berisi sisa kekuatan yang ada di paru-paru Celine keluar ketika sang psikopat memutar roda kemudi di kepala frame itu, dan rantai pengikat tubuh lunglai sang gadis menegang, dan menggulung.

Celine merasakan seluruh sendi tubuhnya seakan mau lepas, ia merasakan luka di tubuhnya melebar seiring regangan yang dirasakan dari alat penyiksa yang dikenal sebagai the rack itu...
Gadis itu menyerah... kesakitan mengalahkan segalanya... ia masih ingin hidup....
diperbudak, direndahkan, dihina, dilacurkan... apapun itu...

'Ampuuuuuunnnn!!!!' raung Celine
'Aku mengaku...Aku mengaku....'
'Aku penyihir... Aku pelacur....Ampuni aku.... Aku ingin hiduuuuup!' Jerit Celine ketika merasa kulit tubuhnya makin meregang dan membuat luka yang terbuka makin melebar.

****
Bunyi derak rantai terhenti....
Psikopat itu memandang Celine yang memandang pada dirinya dengan tatapan mohon belas kasihan dan tatapan kekalahan....
Gadis itu kini dalam genggamannya....

Pria itu menyentuh tubuh Celine... membuat sang gadis berjengit sakit....
Pria itu mendekatkan telinganya ke mulut Celine...
Sang gadis berkata lirih...'Ampuuun tuan... aku mau hidup... aku rela kau jadikan budakmu seumur hidupku... biarkan aku hidup tuan... ampuni aku...'

Pria itu lalu bangkit dari atas Celine dan melangkah ke sebuah perapian, lalu mengambil sebuah besi panas dengan symbol di ujungnya.

Celine memandang besi logo itu dengan pandangan ngeri... ia tau kalau ia akan di cap bagai ternak... dan dengan demikian ia resmi menjadi budak sang psikopat.
Mata Celine membelalak ketika psikopat itu mendkatkan besi membara itu ke wajahnya...
Apakah wajah cantiknya akan dibuat cacad dengan tanda itu?
Apakah payudaranya?

Jerit kesakitan, gemeretak gigi terdengar ketika pada akhirnya tanda perbudakan itu beristirahat dengan tenang di pingul sang gadis, tepat di lipatan antara pinggul dan paha. Peletakan yang membuat tanda perbudakan itu memberi efek sexy pada tubuh Celine yang kini pingsan itu.

****

Celine terbangun dan merasakan bila tubuhnya tertutup cairan, di sebuah bathtub... hanya bagian wajah dan tangannya yang menonjol ke luar...dan lapisan atas cairan itu mengeras bagai lilin yang membeku.

Celine panik lalu meronta berusaha membebaskan dirinya dari lapisan itu...
Ketika akhirnya ia berhasil membebaskan dirinya dan terduduk lemah di bathtub itu ia memcoba mencerna apa yang terjadi pada dirinya.

Ia berharap semua hanya mimpi buruk, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya mengingatkan dirinya kalau penyiksaan itu nyata.

Perlahan gadis itu melangkah ke luar bathtub itu, telanjang bulat karena tak ada sehelai kain yang terdapat di ruangan itu.
Ia melangkah ke arah kaca besar dan takjub melihat seluruh luka di tubuhnya telah sembuh, hanya menyisakan gurat-gurat yang hampir sepenuhnya sembuh, bahkan vagina dan anusnya sudah normal kembali.
Hanya symbol yang terdapat dipinggulnya yang tak akan pernah sembuh lagi... selamanya membuat kulitnya cacad permanen.
Tanda Perbudakannya.

Celine melangkah keluar ruangan itu, dan mendapati sebuah kamar indah menantinya.
Ia merasakan angin menerpa kulit telanjangnnya dan ia melihat ada pintu yang membuka ke arah balkon. Gadis itu melangkah dan mendapati sang psikopat berdiri memunggunginya dengan tangan bertaut di belakang tubuhnya, sedang memandang jauh ke arah horison.

Gadis itu punya kesempatan... ia mendekati sang psikopat...lalu...

Celine menjatuhkan lututnya dan bersimpuh di belakang sang psikopat... lalu meraih buah pantat di depannya, menguakkannya sedikit dan mulai menjilati anus sang pria yang tanpa expresi tetap memandang ke arah horizon....

****

Psikopat itu bangun dari tempat tidur mewahnya, lalu meletakkan kakinya di atas keset yang berupa tubuh Celine yang tidur dengan nyenaknya di lantai... tertidur setelah tuannya menyetubuhinya dengan liar dan brutal hingga dirinya sendiri mengalami multiple orgasme.

Celine hanya beringsut pelan menerima pijakan di vagina dan payudaranya... membiarkan kaki sang tuan menikmati kekenyalan tubuhnya sebelum sang tuan menapakkan kaki ke lantai dingin, beranjak ke meja komputer dan melihat pundi-pundi uang di bank di kepulauan cayman bertambah seiring suksenya online hardcore torture session yang digelarnya.

Dan kini club bestality sudah membuat request...
Psikopat itu memutar kursinya, memnadang ke arah Celine yang masih tertidur pulas setelah pergumulan hebat semalam... bagaimana dada indahnya naik-turun seiring nafasnya yang terbuai kepuasan.

Pria itu kembali ke hadapan monitor, lalu memesan beberapa jenis hewan untuk memenuhi hasrat clientnya...

Debasement of Celine will not over yet... not in a long... long time....

end

Wednesday, June 29, 2011


The Horror of Celine Evangelista: Begin

Celine mengerang, kepalanya serasa pecah, sekujur tubuhnya terasa sakit.
'Di mana aku?' gumam gadis itu sambil mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
Terakhir yang ia ingat, ia baru saja hendak meninggalkan shopping mall, dan sengatan listrik menyerang tengkuknya ketika lengannya baru saja akan membuka pintu mobilnya, dan setelah itu.... gelap.

Celine memandang sekelilingnya dengan pandangan nanar. Ia mendapati dirinya berada dalam sebuah gudang tua, kosong, dan bau. Beceknya lantai yang beraroma pesing itu terasa dingin menyentuh kulitnya. Kulit?
Celine segera membangunkan tubuhnya dengan susah payah. Gadis itu syok demi mendapati tak ada selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya.

Ketika sensor perasanya mulai berfungsi, celine merasakan sakit di bahunya dan ia mendapati kedua lengannya di telikung ke belakang punggungnya, sebuah palang besi diselipkan sejajar antara lengan dan punggungnya, sementara kedua lengannya sendiri diikat dengan kuat bertumpukan dengan rantai ke palang itu.

Celine mencoba berdiri, namun gemerincing rantai yang lain membuat gadis itu reflex melihat ke arah kakinya dan mendapati kedua pergelangan kakinya terikat menyatu dengan ujung rantai lainnya terpatri di lantai gudang.

'Ah.... my bitch finally awaken'
Celine memandang ke arah suara langkah kaki yang menghampirinya sambil menarik sebuah kursi lipat.

'Siapa kamu!' jerit Celine, 'Apa maumu?!'
Lelaki itu mengatur kursinya di hadapan Celine begitu rupa hingga ketika ia duduk, wajahnya tersamarkan.
'Mauku?' tanta lelaki itu dengan nada santai yang melecehkan.
'Well, sebagai permulaan kamu boleh memanggil aku tuan.'
'Fuck you!' sembur Celine, 'Lepaskan aku bajingan!' raungnya lagi.
Penculiknya diam, tampak berfikir...
'Mmmm...No!' ejek penculiknya.

'Bajingan! Pengecut!'
Celine sangat geram, ia meronta sekuatnya sambil mulutnya tetap menyemburkan sumpah serapah.

Penculiknya duduk dengan tenang, pria itu bersiul kecil sambil melihat pemberontakan sia-sia sang gadis yang kini sekujur tubuhnya bersentuhan dengan beceknya lantai gudang.
Pria itu bersenandung kecil, membiarkan Celine menghabiskan tenaga dan suaranya dengan meronta percuma, hingga akhirnya rontaan gadis itu melemah, dan suaranya menjadi parau.

Pria itu memandang Celine yang meringkuk dan bernafas berat.
'Sudah marahnya?' ejek lelaki itu yang membuat Ceine frustasi dan mulai terisak.
'Tolong, lepaskan aku...' hiba celine pada penculiknya, gadis itu beringsut mendekati sang lelaki hingga batas regangan rantai, sejangkauan ke kaki sang penawan.
'Bebaskan aku, aku mohon...' iba gadis itu,'Aku akan membayarmu... dan... dan aku bersumpah tak akan menuntutmu atau melaporkanmu pada pihak berwajib.'.
Lelaki itu tak bergeming.
'lepaskan aku. Aku mohon... berapapun kau minta akan aku usahakan...' isak celine sambil berlutut, memohon di hadapan penculiknya.

Tawa sinis terdengar dari keremangan wajah penculik.
'No! absolutely not. Hehehe...'

Celine meraung, merasa dipermainkan. Gadis itu kembali meronta-ronta dengan liar, sementara mulutnya kembali memperdengarkan sumpah serapah.

Ketika akhirnya gadis itu tersungkur kelelahan, pria itu bergerak menghampirinya, berjongkok di hadapan Celine yang bernafas berat lalu berkata,'Aku akan menghancurkanmu... menjadikanmu mainanku... Dan merusakmu'

Celine menggeliat ngeri dan beringsut menjauh. Lelaki di hadapannya ternyata seorang psikopat.
lelaki itu tertawa geli melihat upaya Celine menjauh dari dirinya. Dengan santai pria itu membuka cowboy boots nya dan melepas kedua kaus kakinya.

Celine meronta. Pria itu menjepit hidungnya sambil menekan kepalanya dengan keras.
Gadis itu berusaha bertahan sekuatnya, namun akhirnya ia menyerah. Paru-parunya serasa terbakar mencari oksigen, dan akhirnya mulut sexy celine membuka.

'Mmmmmpppphhh!' seru Celine tertahan, karena kini mulutnya tersumpal sepasang kaus kaki yang aromanya sangat memuakkan dan rasanya sangat menjijikkan, membuat perutnya memberontak mual.

'Enak kan?' leceh pria itu sambil mengambil duct tape dari balik jaket kulitnya dan melakban mulut Celine yang kini menitikkan air mata, lalu mengelilingi kepalanya.
Lelaki itu melihat hasil karyanya dengan puas. Ia terkekeh melihat Celine menahan mual,
'Kaus kaki itu sudah satu minggu belum aku cuci... Cocok untuk menyumpal mulutmu yang seperti keranjang sampah itu.'

Pria itu lalu beranjak, sambil berlalu ia berseru,
'Nikmati malammu, bitch! See you tomorrow'

Celine meronta, berontak di balik sumpalan kaus kaki busuk yang kini mengisi rongga mulutnya. Gadis itu meronta dan meronta hingga akhirnya ia letih dan jatuh pingsan.
*****

Celine mengerang, tubuh kakunya meronta kesakitan dalam posisi tertelungkup. Di tambah dengan dinginnya lantai, aroma masam dan terutama rasa tak karuan di dalam mulutnya yang berasal dari kaus kaki kotor yang merasakan kehangatan mulut dan pijatan lidah sang gadis membuat malamnya lebih menyerupai siksa neraka. Bahkan hanya karena pingsan keletihan,dirinya bisa melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya walau hanya sekejap.

'Sudah bangun, bitch?'
Suara itu mengejutkan Celine, ia teringat penculiknya. Pria itu sudah duduk di tempatnya kemarin.
'Mmmmmppphhh....mmmmppphhhh!' seru celine, memohon lemah, memohon dari balik sumbat mulutnya.
'Ah, ya...' kata lelaki itu menepuk keningnya, 'Cucianku...'

Dengan kasar lelaki itu membuka duct tape di kepala Celine, membawa helaian rambut kepalanya yang tertarik paksa.
Celine bernafas lega, memenuhi paru-parunya dengan aroma pesing ruangan yang setidaknya lebih baik dibanding rasa menjijikkan yang menghuni mulutnya.

Lelaki di hadapannya tersenyum sinis melihat liur yang membetuk sulur memanjang ketika dengan sangat perlahan ia menarik kaus kaki busuk itu dari mulut Celine yang sesual itu.

'Please....'desah Celine dalam kesakitannya,'Lepaskan aku.... jangan sakiti aku lagi....'
'Tapi itu tujuannya sayang...' kata sang lelaki sambil mengangkat dagu Celine, menikmati lelehan air mata sang gadis yang kini terisak di hadapannya.

'Kenapa aku?' tanya Celine,'Apa salahku padamu?'
'Salahmu? Kamu cuma seorang korban yang tepat, di waktu dan tempat yang tepat.'

Celine bergidig, ternyata dirinya memang sudah diincar oleh psikopat ini.

'Aku perhatikan sepertinya kamu tak percaya kalau orang sepertiku bisa melakukan ini semua.' kata lelaki itu sambil bangkit dan mengeliling Celine dengan perlahan.
'Kamu nampaknya terlalu banyak baca cerita fiksi tentang perkosaan dari internet.' kata lelaki itu sambil menyebut nama-nama situs dan group yang dikenal sebagai sarana penyalur fantasy penikmatnya.


'Gadis cantik diperkosa supirnya, gadis keturunan diperkosa tukang kebunnya. Artis muda belia dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk dientot orang yang kelasnya lebih rendah!'
Pria itu memandang Celine yang berusaha beringsut menjauhi dirinya, lalu melanjutkan monolognya.
'Kamu artis? check. Kamu akan merasakan perkosaan? pasti. Degradasi? Yup. Pelecehan? Tentunya.'
'Tapi kenapa? Kenapa pemerkosanya selalu golongan rendah?' Suara lelaki itu seperti berbicara pada dirinya sendiri, 'Kenapa harus selalu supir, preman, kuli, dan lain sebagainya?

Celine meronta menggerakan pahanya dengan liar ketika pria itu berjongkok, melekatkan telapak tangannya ke lantai becek dan bau itu, lalu dengan santai mengelusi pahanya.
'Kenapa sosok pemerkosa itu tidak bisa seperti aku? Orang kamu lirik dengan penuh minat di mall kemarin? Orang yang punya banyak dana untuk menyembunyikan tempat seperti ini?' Lengan sang pria yang berulangkali dibasahi air kotor dari lantai itu merayap makin ke arah pangkal paha Celine yang makin meronta.
'Orang yang punya rencana matang untuk membuat fantasy menjadi nyata?!'
Celine menjerit ketika dengan kasar lelaki itu mengaduk vaginyanya dengan tangan yang kotor itu.

Lelaki itu kemudian berdiri, memandang Celine yang meringkuk merintih.
'Apa beast itu berarti berwajah buruk? Berkulit hitam? Giginya tonggos?

Lalu dengan gerakan tiba-tiba lelaki itu menjambak rambut Celine dan menekan wajah cantik sang gadis ke lantai yang kotor, dan membuatnya seperti lap kumal, sambil berteriak , 'Why can't I be the Beast!!!'

Celine menangis karena takut dan ngeri, psikopat ini benar-benar ingin menyakitinya.
Lelaki itu bangkit sambil terengah, memandangi gadis yang terisak di kakinya, merintih....

'Why...?' isak Celine
'Karena aku bisa.' kata lelaki itu datar.

Dering telepon menggema dalam ruangan, Sang lelaki menjawab panggilan kemudian setelah mematikan teleponnya, sang lelaki memandang ke arah Celine.
'I'll see you soon, bitch. ada bisnis yang harus aku bereskan.'
Lelaki itu mengambil mangkuk anjing, melemparkannya sembarangan di hadapan Celine lalu mengambil sekaleng dog food dan menuangkannya ke dalam mangkuk.
'Enjoy your meal.' katanya sambil mendorong mangkuk menggunakan kakinya ke arah celine yang memandang dengan perasaan mual dan jijik.

Wrong move.

Psikopat itu meradang, 'Anjing! Sudah bagus aku sudi memberimu makan! Kamu pikir kamu masih berhak makan enak, hah?!' maki sang lelaki sambil menjambak rambut celine dan mengguncang kepala gadis itu dengan kasar.
'Ampun...Ampun...' hiba Celine, ' Aku makan...Aku makan...'
'To fuckin late, bitch!' maki lelaki itu sambil membuka celana, meloloskan celana dalamnya, mengusap celana itu ke lantai kotor lalu dengan brutal menghujamkannya ke mulut Celine.

Gadis itu kembali tersedak, meronta. Aroma pesing dan busuk kembali mengisi rongga mulutnya, serta duct tape kembali mengelilingi kepalanya, demi memastikan mulutnya tertutup rapat, tak membiarkannya memuntahkan celana busuk itu.
Celine hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang sudah kehilangan harga diri.
Dan kini hanya isakannya yang terdengan menggema di dalam gudang setelah penculiknya membanting pintu, meninggalkan Celine dalam keremangan gudang, kedinginan, dan rasa lapar yang merayapi maagnya, hingga untuk terlelappun sudah sangat sulit, selain karena tangannya yang terbelenggu di belakang punggungnya, perut yang lapar dan dingin sangat menyiksa gadis itu.
*****

Entah sudah berapa lama, celine tak tau lagi. Yang kini menyentaknya dari hayalan ialah suara sepatu boot yang mendekatinya. Terror akan kembali di mulai.

Lelaki itu menjambak rambut Celine. Ia nampak sangat senang melihat wajah pucat, kusam dan lusuh masai sang gadis yang nampak makin kehilangan semangat hidup.
dengan santai ia mengeluarkan celana dalam yang menyumpal mulut sang gadis.

Dengan suara parau Celine bertanya,'Apalagi yang akan kamu perbuat pada diriku?'
Dengan santai lelaki itu menjawab,'Well, I want to shove my dick to your throath, abuse your ass, and things that so called pussy,okay?'

Celine tersedak ketika lelaki itu mengeratkan ring gag ke mulutnya hingga membuka lebar.
'Aku ngga mau kamu gigit kontolku, sayang, hehehe'

Tubuh Celine kembali meronta, lelaki itu mulai memperkosa mulutnya dengan brutal. Dan yang membuat rontaannya makin menjadi adalah hentakan keras penis sang pria di tenggorokannya, serta tertutupnya hidung sexynya oleh perut bawah sang pemerkosa yang memiliki gurat six-pack yang nyata.

Suara kocokan penis, berbaur suara tersedak sang gadis yang dalam posisi berlulut berusaha menerima hentakan demi hentakan pinggul sang pemerkosa yang membuat hidungnya terluka dan meneteskan darah.
lelaki itu kemudian mendorong tubuh Celine hingga tersungkur tertelungkup, lalu dengan kasar lelaki itu menuggingkan sang gadis yang dengan tangan terikat seperti itu tak dapat menyangga tubuhnya hingga payudara montoknya langsung tertekan di lantai kotor itu, begitu pula dengan wajahnya, bahkan percikan air kotor sesekali masuk dalam mulut celine yang terbuka oleh ring gag itu.

Celine bergidig ngeri, lelaki itu mengorek lubang anusnya dengan kasar. Gadis itu menjerit-jerit kesakitan, namun pemerkosanya tak perduli.
Dengan kasar ia meregangkan lubang anus Celine yang menggigil menahan sakit, lalu...

Jeritan tertahan membahana dalam ruangan itu. Penis sang pria bergerak liar, menghancurkan anus Celine dengan gerakan kasar dan brutal. Mata Celine mendelik kesakitan, liur bertebaran dari mulutnya.

Selang beberapa lama, pria itu mencabut penisnya dari anus sang gadis yang bersyukur terror di pantatnya berakhir.

Namun horror baru saja dimulai.

'Kontolku banyak kotorannya' kata sang pria sambil menegadahkan wajah Celine, 'Ayo cebokin...'leceh sang pria sambil menghujam penisnya yang berlumuran darah dan kotoran dari pantat Celine, ke dalam mulut sang gadis yang tak dapat melawan karena tertahan ring gag. Mulut yang megap-megap berusaha menolak, mulut yang dipaksa merasakan darah dan hasil pembuangan dari pantatnya sendiri.

'Nah, sudah bersih' kata sang pria sambil melihat penisnya yang bersih berkilat oleh liur Celine yang menahan mual diperutnya.

Jemari lengan Celine yang terbelenggu kembali mengepal erat demi merasakan penis sang pemerkosa yang kembali membombardir anusnya yang terluka.

Celine menggelengkan kepalanya dengan lemah, ketakutan karena penis yang kotor kembali dipertontonkan di depan wajahnya.
'Relax, bitch' kata sang pria sambil menjatuhkan kembali kepala Celine ke lantai dan memposisikan dirinya kembali di belakang bongkahan pantat sang gadis yang menjulang tinggi,'Ini untuk memekmu'


Celine kembali menangis karena pelecehan ini. Vaginanya disumbat penis kotor, yang memungkinkan vagina dan rahimnya terkena penyakit. Namun gerakan brutal penis di vaginanya menunjukkan kalau sang pemerkosa sama sekali tidak perduli.

Dan ketika semburan sperma memenuhi relung rahimnya, Celine hanya bisa menjerit pilu, melepaskan rasa frustasinya karena sang pemerkosa sama sekali tak perduli kalau dirinya bisa hamil karena perbuatannya.

Pria itu berdiri mengangkangi tubuh Celine yang meliuk lemah terlentang di bawah kedua kakinya. Seringai puas terpancar dari wajah iblisnya, dan seringainya bertambah lebar karena desakan bawah tubuhnya mulai terasa.

'Drink this bitch... I'm gonna pee in your face.... arrrrgghhhh!' desah lelaki itu sambil penisnya menyemburkan air seni yang membasahi wajah terhina Celine, dan masuk ke dalam mulut dan tenggorokan sang gadis yang terbuka lebar oleh ring gag.

Lelaki itu duduk terengah di kursinya. Memandang gadis yang menderita itu.
Permainannya masih jauh dari usai.Bahkan apa yang sudah terjadi dianggapnya baru ujung dari permulaan...
Namun untuk sementara semua rencananya harus ditunda, karena topeng sosialnya memerlukan kehadirannya.

Pria itu merah sebuah suntikan lalu menginjeksi pantat Celine,'Belum waktunya kamu bunting...Belum saatnya.'
kemudian lelaki itu melepaskan ring gag sang gadis, memindahkan dan mengeratkan ring gag itu ke leher celine, dan mengeratkannya menjadi strap, lalu melepas rantai yang membelenggu pergelangan kaki Celine yang membengkak berwarna keunguan dan lecet akibat rontaannya, lalu memasangnya pada starp di leher Celine.
Kemudian lelaki itu menyodorkan mangkuk dog food yang kini mulai menebarkan aroma asam karena semalaman terexpose udara.

'The choice is yours' kata lelaki itu sambil melangkah ringan meninggalkan celine. dan ketika pria itu hendak meutup pintu gudang, seringai iblisnya kembali berkembang demi melihat celine merangkak dengan lututnya yang limbung, mendekatkan wajahnya ke mangkuk itu dan mulai mengisi maagnya yang kosong.

hanya ada satu kesamaan antara Celine dan pemerkosanya.
Kesamaan yang sangat bertolak belakang.

Pikiran di kepala mereka yang bertanya

-Apa lagi yang akan terjadi selanjutnya?-


Cheers

Monday, March 28, 2011


Behind the Scene

Tantri sedang memainkan BBnya dengan santai di backstage room konser music yang dilakoninya.
Keringat masih membasahi kulit eksotisnya, yang terbalut kemben hitam dan maiden skirt renda dengan warna senada. Nampak raut kelelahan bercampur kelegaan tergurat dari wajah gadis itu.

Kini konser usai, dan sambil memulihkan tenaganya, Tantri Nampak asik berkomunikasi melaui gadgetnya itu.

‘Selamat ya teh, konsernya sukses…’
Tantri mengangkat tatapannya dari gadgetnya, melihat seorang crew membawa gulungan kabel masuk ke dalam ruangan itu, Tantri tersenyum simpul, merasa dihargai atas jerih payahnya menghibur penonton..

‘Thanks….’ Ujar Tantri, sambil mengambil sebatang rokok yang diangsurkan crew yang melihat Tantri melirik ke arah meja di mana rokok Malboronya tergeletak.
‘Pasti cape ya teh’, kata crew itu lagi, sambil menyalakan lighter dan menyaksikan Tantri menghisap dalam lalu menghembuskan asap ke luar mulutnya dengan sesualnya.

Tantri memandang crew yang sedang merapihkan gulungan kabel di pojok ruangan dengan rasa tertarik.
‘Nama elo siapa?’ Tanya Tantri sambil menarik sebuah kursi lainnya, lalu dengan santai mengangkat sebelah kakinya yang dibalut gothic boots dan meletakkannya dengan santainya di kursi itu.
‘Anto’ jawab crew yang kini mulai salah tingkah demi melihat paha montok Tantri yang tersingkap, apalagi kini gadis itu duduk bersandar agak rendah hingga maiden skirtnya makin melorot ke arah pangkal pahanya.

'Nto..., gue mau tanya, elo jawab jujur ya...' tanya gadis itu sambil mengepulkan asap rokoknya yang kedua...
'Apaan teh?'
'Konser tadi menurut lo gimana?'
'Bagus teh...'
'Bener? bukan cuma buat nyenengin gua aja kan?' tanya Tantri sambil kemudian bangkit dari kursi, lalu berdiri menghadap kaca rias...
'Teh... sorakan penonton tadi kayanya jadi bukti deh, kalau konser tadi memang sukses.'

'Kalau gua sendiri... menurut lo gimana?' kata Tantri sambil lengannya ke belakang meraih zipper maiden skirtnya.

Anto tertegun melihat Tantri dengan santainya meloloskan skirt itu dan membiarkan bagian bawah tubuhnya hanya berbalut thong sexy berenda berwarna hitam, yang menambah sensualitas kulit Tantri yang eksotis itu.

'Loh, kenapa diam?' tanya gadis itu lagi sambil berbalik memandang Anto...
'Teteh hebat, suara teteh bagus...' kata Anto parau
Tantri tergelak kecil...'Nto, gua bukan nanya masalah suara gua...' Tantri kembali membalikkan tubuhnya ke arah cermin,
'Gua nyanya, menurut elo body gua gimana?' lanjut gadis itu lagi sambil menurunkan zipper kembennya dan mencampakkan pembungkus tubuh bagian atasnya begitu saja.

Anto makin terhipnotis melihat punggung Tantri yang mulus, dan... tanpa bra...
Anto berharap lehernya bisa memanjang hingga bisa melihat refleksi depan sang gadis yang kini meregangkan lengannya ke atas hingga berjinjit di atas bootnya.

Lalu dengan santainya seakan tak ada seorangpun selain dirinya dalam ruangan itu, Tantri bebalik dan menepuk-nepuk lembut perutnya sendiri...
'Nto... perut gua buncit ngga?' tanyanya santai
Mata Anto tak lepas dari payudara montok Tantri yang kini terpampang bebas untuk dinikmati oleh matanya...

'Nto!' kata Tantri, menyadarkan Anto... 'perut gua.... bukan toket.'
'Eh maaf teh... jujur ya.. teteh montok... tapi justru body model teteh yang saya suka...'

'Ah... gombal lo...' kata Tantri sambil meremas-remas perutnya
'Teteh nanya saya kan... ya saya jawab, lagian emang saya lebih seneng badan teteh yang montok ini daripada artis lain yang berlomba-lomba ngurusin badan sampe kaya sapu lidi....'

Tantri menyeringai, 'Berarti lo sering coli dong sambil ngebayangin gua....'
'E....ehmmm...' Anto mendadak gugup dan tergagap menerima pertanyaan jujur itu
'Gimana?..' senyum jahil menggurat dari bibir Tantri sambil berjalan mendekati anto yang mendadak terpaku di tengah ruangan yang rasanya

makin panas itu...
'Kalo elo suka body gua, pasti lu sering jadiin gua bacol... ya ngga?' tanya gadis itu lagi dengan suara mendesah ketika ia berdiri tepat di hadapan Anto, dan kedua lengannya melingkari leher Anto yang mendadak kaku itu.

'I... iya teh... teteh bahan coli saya...' jawab anto dengan parau sambil merasakan bagaimana keringatnya mulai mengalir dengan deras...

'Kalu gitu berhenti ngehayal' kata Tantri sambil kemudian berjinjit dan memagut bibir Anto dengan liar...
Tantri berbisik di telinga Anto di sela french kiss mereka yang liar hingga liur berleleran di dagu hingga ke leher keduanya..
'Entot gua... nikmatin bahan coli lo ini...'

Anto kini mulai membalas dengan ganas, tangannya meramasi rambut Tantri, mejambaknya pelan, hingga gadis itu mendesis, campuran antara perih dan terangsang.

Dengan tergesa Anton dibantu Tantri, membuka celana jeans lusuh yang dikenakannya, lalu dengan tak sabar, Anto merobek kausnya hingga badan kurusnya terpampang jelas.
Anto mendesak Tantri hingga ke meja rias, sambil meremasi payudara gadis itu dengan kasar... perlakuan yang membuat Tantri makin terangsang.

Tantri duduk di tepi meja rias itu, mulut keduanya masih berpagutan liar, lengan Anto merenggut thong Tantri
'Anjing...!' maki Tantri sambil menampar Anto, 'memek gua perih tau!'
'Teteh yang minta' maki Anto, lalu dengan liar memagut bibir Tantri yang dibalas oleh gadis itu dengan liarnya, bahkan pinggulnya bergerak liar mengimbangi kocokan tiga jari kanan Anto yang menghujam vaginanya dengan liar...

Anto kemudian menarik Tantri ke arah lantai. Dengan patuh gadis itu berjongkok mengangkang dan bisa ditebak... dengan kasar Anto menjambak rambut gadis itu.
Dan dengan erangan penuh kenikmatan Anto memaju mundurkan kepala gadis itu yang kini mulut dan tenggorokannya menjadi pelabuhan penis keras sang pemuda yang menganggap mulut yang telah menghibur ribuan penonton itu tak lebih sebagai lubang penyalur kenikmatan...

Tantri sendiri tak menolak perlakuan kasar itu, malah tangannya meremasi payudara dan mengocoki vaginanya sendiri... Alangkah liarnya permainan keduanya, liur berceceran dan mengalir dari mulut Tantri, berleleran dan menggelantung di dagunya, seiring kocokan kasar penis di tenggorokannya....

Anto ingin lebih... ia ingin lebih dari deepthroat Tantri di penisnya...pemuda beruntung itu menjambak Tantri hingga berdiri... menciuminya dengan liar, lalu medorong gadis itu hingga terjengkang ke lantai... membuat sebuah kursi lipat terpelaning menimbulkan suara berderang.
Anto menyampirkan ke dua kaki Tantri di bahunya, dan tanpa merasa perlu memberikan foreplay pada sang vokalis, Anto menghujamkan penis kerasnya ke vagina Tantri yang sedikit lecet akibat perbuatannya sebelumnya..

Tantri mengerang liar, tubuh gadis itu melonjak-lonjak mengimbangi keliaran Anto, yang kini kedua tangannya bertumpu dan mencengkram erat payudara Tantri yang montok seakan ingin meletuskan kedua gunung kenikmatan itu...

Liar, brutal...persetubuhan keduanya meggambarkan keliaran nafsu primitif yang berdiam dalam jiwa setiap manusia... nafsu yang selalu coba di belenggu dalam batasan norma dan kesusilaan... namun kini dalam persetubuhan liar Tantri dan Anto... nafsu primitif itu dilepaskan...

Anto tidak puas... jepitan vagina Tantri yang begitu ketat tak membuatnya puas....Bahkan ketika ia mencekik leher Tantri hingga gadis itu tersedak mencari udara, dan seluruh tubuhnya teruatama otot vaginanya berkontraksi meremas penisnya, Anto tetap tidak puas

Anto membangunkan Tantri, melemparkannya hingga tertelungkup di meja rias, membuyarkan semua peralatan kosmetik yang ada di meja itu...

Anto mengangkat sebelah kaki tantri ke atas kursi yang terpaku di dekat meja rias tersebut.

Tantri kembali terlonjak-lonjak ketika Anto membenamkan penisnya ke vaginanya yang makin menerima pergesekan brutal ini...
Namun hanya sementara..

Tantri memutar bahunya, lengan kirinya membantu Anto meregangkan buah pantatnya, dan ringisan serta desahan mengiringi penetrasi penis sang crew ke dalam liang anus sang vokalis, yang kini mendesis-desis menikmati anal sex liar ini..
Anto meremas rambut Tantri, dan megarahkan wajah sang gadis hingga ia bisa menikmati expresi sensual gadis itu, yang mulutnya mendesis kenikmatan, dan bahkan ketika dengan sengaja anto meludah ke wajah sang gadis yang malah mengelap ludahan di wajahnya dengan jemari dandengan sensual menghisapnya bagai menghisap penis sambil mata terpejam meresapi persetubuhan ini...

Hingga ketika Anto tak bisa bertahan lagi, ia mencabut penis yang kini berlumuran kotoran dari pantat sang gadis, memaksa sang gadis bersimpuh, menahan mulutnya membuka dan...

Tantri malah menekan pantat Anto hingga kini hidung imut sang gadis tertanam di lebat rimbunya bulu kemaluan sang pemuda....
Anto menikmati mulut sang gadis yang bagai vakum membersihkan penisnya, yang makin tak bisa bertahan... menarik kasar penisnya, mengocoknya cepat dan....

Semburan demi semburan sperma yang bagai air bah itu, membasahi wajah Tantri hingga lengket...
Keduanya terkapar, desah nafas berat silih berganti bersahutan dalam ruangan yang kini makin pengap itu...

Tantri meresapi persetubuhan itu dengan tubuh terlentang, telanjang hanya gothic boots yang menghiasi tubuh yang mengkilat oleh keringat...
Senyum kepuasan terpancar di wajahnya.
Ia menyadari masih ada satu hal lagi yang bisa membuat dirinya memperoleh akhir dari rentetan orgasme yang didapatnya... tubuhnya menggeliat erotis di lantai, lengannya meremasi payudaranya, sementara pinggul dan kakinya meliuk erotis...
Tantri menantikan kedatangan momment itu dengan mata terpejam, bibir mengeluarkan desahan lirih... Tantri menanti...

Dan akhirnya....

Desahan orgasme Tantri kembali keluar ketika merasakan cairan hangat yang keluar dari penis Anto, cairan berwarna kekuningan dan beraroma khas itu menerpa wajahnya, membasuh sperma yang menghiasi wajahnya, masuk ke dalam mulutnya... turun ke payudaranya, perutnya, pahanya... membasahi vaginanya...

Tantri menggeletar, punggungnya melengkung menandakan orgasme yang sangat dinantikan.....

Dan kini dalam ruangan itu hanya ada desah nafas memburu yang berangsur tenang... dan hening...

Tantri beringsut bangun, dan tersenyum binal demi melihat Anto terduduk lemas di pojok ruangan, masih mengatur nafasnya....
Gadis itu mengambil kain kumal yang teronggok dekat meja rias, dan menyeka hasil pergumulan yang ada...dengan sensual, dan membuat nafas Anto kembali memburu ingin kembali menyetubuhi sang idola, namun lututnya begitu lemas, berdiri saja pun ia tidak mampu....

Dengan santai Tantri mengenakan tank top hitam dan mini skirt... mengerling ke arah Anto...
'Bye Anto... keep on coli babe...' kata Tantri sambil tersenyum binal dan ke luar dari kamar itu...

Di luar ia mendapati Chua yang baru keluar dari ruangan sound system...
Keduanya saling bertatapan... tersenyum... lalu tertawa...
Tertawa karena keduanya mengeluarkan aroma persetubuhan yang kental, yang tercium dari tubuh keduanya...

Tawa renyah mengiringi langkah kedua sahabat itu diselingi canda tawa ketika menceritakan kegilaan persetubuhan masing-masing.

And the show... still goes on...

cheers