Sunday, June 21, 2009


Sophie and Eva: Lucky Afgan...

Kisah ini terjadi ketika Eva sedang dekat-dekatnya dengan salah satu vokalis menjanjikan negeri ini, Afgan.

Pagi yang cerah...
Afgan memasuki rumah mewah itu karena Eva, 'teman dekatnya', mengatakan kalau gadis itu punya kejutan untuk dirinya.
'Hai, Gan', rangkul Eva manja sambi mencium bibir pemuda itu dengan mesra. Afgan sendiri menikmati ciuman mesra sang gadis yang eksotis itu.
Eva tersenyum nakal ketika merasakan tonjolan keras di balik celana Afgan, lalu berkata ,'calm down big boy...., kita ke dalam dulu ya? I've make you some breakfast.'

Bagai seorang istri yang baik, Eva menyiapkan kursi untuk Afgan, menuangkan juice dan menyajikan club sandwich yang disenangi pemuda itu.
Kemudian Eva mengambil tempat di samping pemuda itu, menautkan jemarinya dan menopang dagunya. Wajah penuh rindu itu terlihat oleh Afgan yang makin berbunga-bunga.

'Eeeh, ada Afgan... Eva, kenapa kamu tidak bilang mama...'
Reflex Afgan bangkit, memutar dan ingin memberi salam pada...
Afgan tersedak, matanya melotot, dan gadis di sampingnya hanya tertawa melihat expresi wajah pemuda yang melihat Sophie berjalan menuruni tangga dengan night robe yang tidak diikat hingga tampaklah keindahan tubuh wanita dewasa yang hanya menggunakan black sexy underwear, yang mengingatkan Afgan pada salah satu produk underwear yang menggunakan Sophia sebagai iconnya.

Dan sekarang keindahan wanita yang bagai dewi venus itu melangkah menghampirinya, lalu mencium kedua pipi pemuda iu yang seakan mati kehabisan nafas. Aroma parfum yang lembut dan feminin memenuhi rongga paru-paru Afgan, dan kesegaran tubuh yang ampak baru saja berbilas kelembutan air membuat pemuda itu bagai terkena sihir dan menjadi patung.

Kemudian dengan santai Sophie menuju kursi meja makan di hadapan Afgan lalu berkata, 'Lho, sayang... kenapa sarapannya berhenti? terusin dong. Apa sandwichnya ngga enak?'
'Eeenak... enak ko tante..' gagap Afgan yang kini jelas tak akan bisa konsentrasi makan, karena melalui meja transparan itu, keindahan tubuh sang pemilik rumah terexpose dengan bebas.
Dan sebagai high class woman, Sophie benar-benar tahu cara untuk 'bertingkah laku', dengan satu kaki yang menopang di atas kaki yang lain, dan table manner yang baik, wanita itu mulai memakan sandwichnya sendiri dengan sensualnya.

Eva tersenyum geli sambil berkali-kali mengelap remah makanan di mulut Afgan atau mengahpus liur sang pemuda yang melotot menikmati pemandangan mahal di hadapannya, yang bagi kebanyakan pria hanya bisa di dapat hanya dalam impian dan imajinasi terliar.
Lalu Sophe melihat ke arah Eva dan berkata dengan suara sensual, 'Va... katanya kamu mau ajak Afgan berenang? Ko kamu belum siap-siap?'
Gadis itu tersenyum dan berjalan ke arah sang mama, lalu dengan nakal ia berkata, 'iya ma... kan Afgn baru makan, nah sekarang kayanya dia udah siap buat berenang deh...'

Mata Afgan seakan meloncat dari rongganya, dengan santai Eva meloloskan daster sutranya dan membiarkan kain itu menggelosor ke lantai dan membiarkan tubuh indahnya tertampang di hadapan Afgan.
Afgan merasa celananya begitu sempit. Tubuh ibu dan anak itu sangat sempurna, mambuat kelelakiannya menggelegak. Sophie dan Eva tertawa renyah melihat pemuda dihadapan mereka belingsatan memperbaiki celananya...
Lalu Eva menghampiri Afgan yang langsung loncat berdiri, kaku untuk kedua kalinya. Kemudian sambil memandang binal dan mempermainkan expresi bibirnya, Eva menurunkan retsluiting celana jeans Afgan, dan meloloskannya denga di bantu Afgan yang bagai cacing berusaha membuka celananya.

Ketika Eva memegang pinggang Afgan di perbatasan celana dalamnya, pemuda itu sudah sangat terangsang, namun kejutan buat dirinya belum lagi selesai. Matanya yang terpaku pada Eva tak menyadari kalau Sophie sudah berdiri di belakangnya dan perlahan melepas jumper jacket yang dikenakan pemuda itu, dan dengan terburu-buru Afgan membantu Sophie melepas kausnya, hingga ia tak sadar kalau celana dalamnya sudah tercampak entah di mana.
Pemuda itu serasa berada di surga ketika Sophie meangkulnya dari belakan, dan Eva memeluknya mesra dari depan. Kehangatan tubuh keduanya, kelembutan kulit mereka, kekenyalan dan kepadatan payudara dan tubuh mereka membuat nafas sang pemuda bagaikan kuda pacu yang siap berlomba.

Sophie berbisik lembut di telinga Afgan,'Sebelum renang... kita pemanasan dulu, ya, sayang.... biar kamu tidak kram.', sambil kemudian mejilat lembut leher sang pemuda yang belingsatan merengkuh kepala Sophie, sementara dadanya dicupangi lembut oleh Eva, yang tangan mungilnya meremasi pantat Afgan, dan menekan penis Afgan ke pinggul belianya serta menggeseknya dengan lembut, hingga pinggul itu basah oleh pre-cum yang meleleh dari penis sang pemuda.
Tangan Afgan sibuk merengkuh kenikmatan tubuh kedua wanita yang menggodanya ini, pinggul keduanya kenyal, payudaranya montok dan sekal. Bahkan Sophie, dengan dua anak yang dimilikinya, tubuhnya tak kalah padat dengan sang putri yang sekarang sedang berfrenchkiss ria dengan dirinya.

Kini kedua wanita itu mengarahkan ciuman dan jilatan lidah mereka ke tubuh bagian bawah Afgan, mulai dari punngung, dada, perut, pinggang, pinggu, dan....
Afgan sampai melenguh hebat, penisnya kini mentok sampai ke tenggorokan Eva yang mepraktekkan deepthroath, sementara Sophie melakukan anal rimming yang membuat pemuda itu mengejan menahan kenikmatan, tangannya meremas kepala kedua wanita yang memberikan kemikmatan ganda kepadanya, terlebih karena suguhan yang dilihatnya ketika kedua penikmatnya sedang merangsang diri mereka masing-masing dengan meremasi payudara dan mengaduk vegina mereka dengan bernafsu. Hingga.....

Afgan terduduk berselonjor kelelahan dan tak percaya ketika spermanya menyembur dalam mulut Eva, dan ia makin tak percaya ketika kemudan Eva melakukan snowball dengan ibunya dalam posisis berdiri berpelulkan, berpagutan, dan tubuh yang saling menyatu, keduanya tampak rakus untuk merasakan nikmatnya sperma Afgan yang kemudian berjongkok di antara keduanya dan bergantian menjilati vagina Sophie dan Eva.
Kedua wanita itu menjerit kecil, menerima serangan dari Afgan yang nampak ingin berterimakasih pada mereka atas foreplay yang mereka berikan.
Terlebih ketika kedua jari tengah Afgan dengan leluasanya menyeruak ke dalam anus mereka yang menyebabkan kedua wanita itu menggelinjang menahan kenikmatan, dan akhirnya....

Kedua wanita itu menggelosor memeluk Afgan yang wajahnya basah oleh cairan orgasme keduanya. Mereka berciuman kecil, yang tak lama berlanjut dengan ciuman erotis dan ganas, dengan permainan lidah yang mengasyikkan.
Kedua wanita itu mengeluarkan tawa yang tertahan desah ketika Afgan dengan wajah memelasnya menyusu di payudara kedua wanita itu bagaikan bayi besar yang kehausan.

Lalu Sophie dengan lembut menelentangkan tubuh Afgan di lantai marmer yang kini menghangat oleh birahi, kemudian dengan lembut Sophie mengoral penis Afgan yang membelalak tak percaya melihat mulut sexy wanita yang menjadi objek masturbasi banyak lelaki sekarang melekat erat mengelilingi penisnya yang seakan makin membesar itu. Eva kemudian mengambil posisi, tubuhnya mengangkang di atas wajah Afgan yang lalu dengan rakus menjilati vagina gurih sang gadis, sementara Sophie kemudian menmasukkan penis sang pemuda dalam posisi woman on top.
Ketiganya berpacu dalam gairah, dan Eva, seakan ingin juga memuaskan sang mama dan Afgan, kemudian mengambil posisi 69 dan dengan rakus menjilat vagina sang mama serta penis sang pemuda yang sedang asyik beradu dalam irama nafsu.
Hingga ketiganya mencapai orgasme bersamaan, dan Eva dengan lembutnya menghisapi lelehan sperma dan cairn cinta sang mama yang mengalir dalam kepuasan....

Ketiganya tergeletak, namun dalam keletihan mereka nampak sangat puas. Afgan merasa dunianya sudah penuh. Ia bisa menikmati dua bidadari cantik yang ternyata sangat binal. Namun....

Dengan lebut Sophie dan Eva membimbing Afgan ke whirpool yang terletak di halaman belakang rumah megah itu. Lalu mengajak sang pemuda untuk berendam dan kemudian memperlakukan Afgan bagai raja. Sophie dan Eva dengan lembutnya memberikan thai massage pada sang pemuda yang merasa bagai raja minyak itu, terlebih ketika jemari Eva mempermainkan kelelakiannya, membuatnya tak kuasa menahan lalu dengan sedikit kasar, mengangkangkan paha Eva dan menghujam vagina sang gadis yang melenguh hebat. Sementara tangan Afgan yang bebeas merangsek vagina Sophie dan mengaduknya hingga wanita dewasa itu menggelinjang meresapi birahi yang mengalir...

Ketiganya liar, melepaskan nafsu dalam tubuh di bawah atap langit, dengan gemericik whirlpool dan kesejukan rumah mewah itu.
Eva menggeletar ketika orgasmenya menyebabkan vagina sang gadis bagai mencengkeram erat penis Afgan yang bertahan mati-matian untuk tidak ejakulasi, namun gagal, Sementara jemarinya serasa dijepit oleh vagina Sophie yang juga mengalami orgasmenya....
Samar dapat terlihat cairan kental melayang dalam whirlpool, cairan cinta mereka bertiga, yang kini bersandar kelelahan, membiarkan cahaya mentari menyinari mereka yang sedang menikmati indahnya persetubuhan.

Hari sudah jauh senja ketika Eva dan Sophie yang hanya berbalut baby doll transparan melambaikan tangan kepada Afgan yang pulang dalam keadaan sempoyongan setelah bertarung habis-habisan.
Hari itu adalah benar-benar hari keberutungan buat Afgan, yang walau dengan wajah pucat namun menyunggingkan kebahagiaan karena telah mereguk nikmat bercinta dengan dua wanita tercantik yang pernah ada dalam hidupnya...

Sementara itu Sophie dan Eva masuk ke dalam rumah, melihat Michael yang sudah menanti... Eva langsung membuka pakaiannya diikuti Sophie dan....

End

Tuesday, June 16, 2009


Nasib Tragis Andrea Lee VIII: Let The Race Begin

'Sembilan puluh satu... sembilan puluh dua...'
Andrea benar-benar kepayahan dipaksa push up seperti itu, dirinya bertumpu pada empat bangku di kedua tangan dan kakinya. Hanya saja nyala puluhan lilin besar di bawah tubuhnya membuatnya menderita, terlebh ketika panasnya itu menyengat vagina dan payudaarnya.
Dan nyona Susi benar-benar membantunya 'berolah raga', sesekali ia mengambil secanting lilin panas dan meneteskannya di punggung mulus Andrea, dan belahan pantatnya.

Tepat pada hitungan keseratus tubuh sexy Andrea bergetar dan terjatuh menimpa lilin-lilin itu. Gadis itu meringkuk menggeliat menahan sakit dan panas disekujur tubuhnya. Namun dengan santainya Susi menjambak rambut Andrea yang mengeluarkan bau hangus terbakar dan menyeretnya ke sebuah ruangan di mana ke tiga tuannya sudah menunggu.

'Gimana latihannya sayang?' kata Arman sambil mencium Susi denga bernafsu
'Dia siap untuk peregangannya....' desah Susi menikmati jemari Arman yang mengaduki vaginanya.
Lalu satpam dan tukang kebun merenggut Andrea dengan kasar dan membantingnya di meja bundar yang berada di tengah ruangan itu.
Kedua tangannya di belenggu di samping tubuhnya, kemudian mereka menelikung tubuh Andrea hingga kini lututnya mengapin kepalanya, lalu mereka mengunci pergelangan kaki gadis itu dengan pasung.

Arman kemudian mendekati Andrea yang sama sekali tidak nyaman dengan posisinya, dan kemudian keempat penjajahnya duduk dengan santai mereka tertawa dan bercanda. Kemudian Susi membawa dua buah lilin merah besar, dan mengedip kepada Arman, yang tersenyum dan mengangguk kepada dua rekannya.
Keduanya bersiul girang, dan terdengar lenguhan Andrea.

Gadis itu kembali merasakan kesakitan yang sama, yang walau sudah sering dterimanya ak pernah membuatnya kebal. Vagina 'perawannya kembali di perkosa tukang kebun dengan brutal, bahu dan pundaknya sakit dengan posisi tubuhnya sekarang, terlebih ketika satpamnya mulai mengambil posisi dan mulai menyodominya dengan liar.
Gadis itu terbanting-banting dengan menyakitkan, tiap jeritan gadis itu disambut high five kedua pemerkosanya. dan seakan mau menambah penghinaan itu, Susi melepas celana dalamnya, dan menyumpalkannya ke mulut Andrea, kemudian menambahnya dengan celana dalam Arman, membuat mulut gadis itu menggembung hingga mengkilat.

Kedua pemerkosanya menggeletar puas membasahi rahim mandul, vagina yang terluka dan anus yang berdarah milik Andrea dengan sperma mereka. Kemudian dengan santai Susi membenamkan lilin besar itu ke vagina dan anus Andrea, lalu menyalakannya.
'Wah..' kata satpam itu sambil tersenyum mengejek, 'kontol kamu sekarang lebih besar dari punyaku...'
Dan para penjajahnya riuh tertawa membiarkan kata-kata hinaan itu menyerap dalam pikiran Andrea.

Andrea makin putus asa karea dengan santainya para penjajahnya makan dan minum di sekeliling tubuhnya yang kini menjadi pegangan lilin, terlebih ketika lelehan lilin panas kembali mengalir di tubuhnya yang mulai kram dalam posisi itu.
Dan perbincangan seru diiringi gelak tawa mengiringi penderitaan Andrea.
'Well bitch...' seru Arman dalam mabuknya , 'Besok kamu bertanding... kamu... dan pelacur lainnya'
'Kamu menang... kamu bisa terus hidup jadi budak kami.... kamu kalah..... bahkan ramuan profesor tidak akan mengembalikan vagina dan anusmu menjadi normal lagi...'

'Yaaaaaaa,' desah Susi, 'dan aku mau kamu kalah...., aku mau kang Arman hanya untukku....'
Dan kembali rokok menthol yang dihisap Susi menyentuh tubuh Andrea yang hanya bisa berjengit kecil.
Malam makin larut ketika akhirnya para penjajah Andrea undur diri meninggalkan gadis itu menderita oleh lelehan lilin dan dinginnya AC yag sengaja dinyalakan dengan kekuatan penuh.
Andrea antara sadar dan tidak ketika pada dini hari ada suara lelaki yang berkata kepadanya,
'Kalau kamu bisa sampai final, aku akan memberimu kesempatan untuk membalas dendam pada nyonyamu, dan bila kamu menang, kamu akan jadi nyonya baru....'

Keesokannya Andrea mendapati kalau profesor maniak yang telah membuatnya jai menderita dengan ramuannya berdiri di dekatnya, terkekeh melihat luberan lilin disekujur tubuh gadis itu, lalu dengan kasar menyentak lilin di vagina dan anusnya hingga bulu kemaluannya tercabut bersih dan meninggalkan bekas kemerahan.
Kemudian tanpa belas kasihan kembali vagina sang gadis dihujam suntikan kuda, kemudian di anusnya, profesor itu hanya tertawa dan berkata.
'Kamu akan berterimakasih padaku dan Arman nantinya...'
Dan kembali Andrea pingsan.....

Ketika terbangun ia mendapati kalau dirinya berada di sebuah ruangan dalam keadaan telanjang, hanya gelang besi, strap leher, dan boot bulu rubah yang menjadi aksesorisnya. Namun samar ia bisa melihat ada tanda memar hitam di sendi-sendi siku dan lututnya.
Kemudian Arman masuk ke ruangan itu, mambawa dua buah remote. Andrea mengenali salah satunya, dan reflex gadis itu menyentuh strap di lehernya.
Arman tersenyum sinis, lalu berkata, 'Ah, bagus kalau kamu masih ingat, nah yang satu lagi gunanya untuk...'
Andrea merasa seperti seluruh tubuhnya terbuat dari agar-agar dan jatuh menggelosor tanpa daya.
'Di semua sendimu terpasang chip yang mengontrol sensor motorikmu, hingga denga sekali tekan, kamu akan kehilangan tenaga. Nah, mau aku gabungkan dengan yang satu lagi?' kata Arman sambil menggoyang remote itu.

Andrea hanya bisa membelalak ngeri bersuarapun ia tak bisa, ia hanya bisa merasakan angin dingin masuk ke mulutnya yang sudah pasti menganga, dan merasakan lelehan liur turun ke pipinya.
Ia benar-benar tak bisa mengontrol tubuhnya.

Arman lalu menekan tombol itu ke posisi off, dan Andrea bisa merasakan kekuatannya kembali. Denagn limbung ia bersujud di kaki Arman dan menciumi kaki sang tuan.
'Hamba akan patuh, tuan... hamba ini milikmu....'
Arman tersenyum penuh kemenangan, lalu berkata, 'Sekarang bersiaplah, pertandinganmu sebentar lagi.' Lalu arman mengikatkan rantai di strap leher Andrea dan menariknya seperti menarik sapi.

Andrea terkejut megetahui kalau cukup banyak penonton yang hadir di perlombaan itu, gadis itu memandang sekeliling, takjub banyaknya slave owner yang berkumpul selain para BDSM mania.
Arman membawanya ke sebuah lapangan, Andrea membeliak melihat ada lima baris kuda di sana, masing-masing baris terdiri dari lima ekor kuda.
Kemudian matanya melihat ada empat orang budak sama seperti dirinya, dua orang ampak pasrah sementara yang dua lagi, tampak menyunggingkan senyum binal seakan menanti hari ini tiba.

Sekarang kelimanya berada di depan barisan masing-masing, segera Andrea mengerti pertandingan pertama yang akan mereka lalui.
Seorang wasit memawa pistol, mengarahkannya ke udara dan...
Kelima kontestan segera menghampiri kuda pertama, Andrea melihat peserta yang binal segera merangsang kuda mereka, sementara yang lainnya merasa jengah, risih, dan takut. Pikiran Andrea sendiri berkecamuk, ia ingin gagal sehingga ia bisa mati, namun bunuh diri bukan kematian yang baik, lagipua ia teringat tentang prosesi penyiksaan yang akan diterimanya sebelum ia mati.

Dan kuda pertama menerima kehormatan itu, Andrea menjilati lipatan paha sang kuda, menyentil lembut zakar besar itu sambil mengelusi penis yang kini mulai menegang, lalu mulut gadis itu berusaha sebisaya mengulum kepala penis kuda yang mulai menyentak tak karuan, membuat gadis itu kewalahan dan tersedak. Kini kuda ke dua... astaga satu orang gadis sudah pindah ke kuda ketiga. Andrea makin liar dan binal, dan...
Kuda keriga merasakan tit fuck, kuda keempat merasakan sempitnya vagina Andrea yang menjerit kesakitan, dan kuda ke lima menyodomi Andrea hingga muntah karena merasa perutnya sangat penuh.

Ia berada di tempat ke tiga, hanya selisih beberapa detik dengan posisi kedua. Badanya letih, tubuhnya terlentang mengambil nafas, namun tak lama karena mereka segera digiring ke arah kuda-kuda itu kembali. Andrea merasa semangatnya terbang kerena membayangkan harus memuaskan hewan-hewan itu lagi.
Namun dugaannya salah, perasaan sedih, miris, lega, takut jadi satu. Ternyata mereka dikumpulkan untuk memberi hukuman pada peserta yang selesai paling akhir pada perlombaan itu.
Peserta malang itu terkunci dalam posisi berdiri membungkuk, dengan pantat terangkat menungging. Andrea bisa melihat vagina terlka gadis itu akibat gempuran kuda.

Kemudian seorang pria kecil berjubah membawa kotak dan meminta mereka mengambil nomor undi.
Dan Andrea menjadi yang pertama memberikan hukuman. Dengan bergetar Andrea menuntun kuda dibarisannya, dan memang dirinya terpaksa kembali merngsang kuda itu, sebelum mengarahkan penis kuda itu ke vagina yang bengak, memerah dan membuka lebar itu.
Andrea memalingkan wajah dan berusaha menulikan telinganya ketika mendengar jeritan pili sang gadis, namun cengraman tangan seorang penjaga yang selama pertandingan mengawasi mereka membuatnya terpaksa menatap vagina sang gadis yang dibombardir kuda.
Andre tak berhenti meneteskan air mata ketika ia menuntun kuda ke dua, dan ketika ia tampak ragu melakukan hukuman, sabetan rotan bertubi-tubi bersarang ditubuhnya, hingga diiring permintaan maaf yang berulang, Andrea mengarahkan penis kuda itu dan...

Andrea bergidig ketika melihat peserta yang sepertinya menikmati pertandingan ini maju, tanpa belas kasihan ia menuntun kudanya dan menyodomi gadis itu, dan lagi, dan lagi...
Bahkan satu peserta dengan gilanya memaksa gadis itu mengoral kuda-kudanya. Andrea bisa melihat darah mengalir deras dari tubuh wanita yang entah masih hidup atau sudah mati itu.
Kemudian keempat peserta yang tersisa digiring ke tempat pertandingan berikutnya, meninggalkan gadis itu dengan kumpulan kuda yang kembali bergairah dan.....

Dingin ruang bawah tanah yang lembab dan dingin menemani istirahat mereka yang jauh dari menyenangkan, dengan tikus yang berkeliaran dan ransum berupa makanan anjing.

Keempat peserta tersisa berhadapan dengan batang pinus besar yang sudah rebah untuk masing-masing mereka. Andrea melihat kampak besar dan keranjang di sana. Dan ketika suara letusan terdengar, para peserta langsung berhamburan ke arah kampak masing-masing dan mulai menghajar batang pinus itu menjadi potongan kecil dan menyusunnya ke dalam keranjang, lalu mereka berlari ke arah penyimpanan kayu, dan kembali ke pinus mereka.
Sedikit banyak Andrea bersyukur karena siksaan yang selama ini dialaminya membuatnya terbiasa dengan pekerjaan berat seperti ini.
Tiba-tiba...
Derak pohon diiringi jeritan mengagetkan mereka. Salah seorang peserta binal yang ada ternaya salah memotong sisi pinus hingga pohon itu berguling dan menimpanya. Namun lecutan cambuk menyadarkan mereka, hingga tanpa banyak bicara mereka kembali berhadapan denganpinus mereka.
Andrea lega, ia selesai diurutan pertama. Cuma kini ia harus bersiap mengetahui hukuan yang harus ia terapkan pada pihak yang kalah.

Ternyata gadis lembut yang tersisa tak mampu melakuan tugasnya. Para pengawal menyeret tubuh mungil yang meronta lemah itu, dan mengikatnya di sebuah pasak.
Lalu para pengawal memaksa Andrea dan seorang kontestan yang tersisa untuk menyusun potongan pinus yang telah mereka potong sebelumnya mengelilingi gadis malang yang memohon belas kasihan pada kedua kompetitornya, bahkan kontestan binal yang tersisa meneteskan air matanya, namun cambukan, deraan serta sengatan cattle prod membuat keduanya tak mampu berbuat banyak, kecuali tanpa berani melakukan kontak mata menyusun potongan pinus itu di sekeliling sang gadis yang kini hanya tertunduk lesu.

Seorang pengawal menyiram bensin ke sekujur tubuh sang gadis, serta ke tumpukan pinus itu. Lalu seorang pria berjubah datang membawa dua obor. Tangan kedua gadis itu bergetar hebat....
Jeritan kesakitan gadis itu menyelingi derak api unggun raksasa itu. Obor terjatuh, tubuh Andrea dan gadis yang lain bergetar hebat melihat jasad terbakar di hadapan mereka. Terror yang sangat mengguncang...

Bayang gadis itu menghantui Andrea, hingga ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Keesokannya Andrea dan kontestan terakhir sama-sama dalam kondisi lemah, semangat yang tinggal separuh.
Mereka berniat menyerah, namun bayangan siksaan yang telah tersaji di hadapan mereka membuat mereka harus bertahan. Setidaknya walau mereka hidup dalam perbudakan, mereka berjuang demi kehidupan mereka.

Sepasang pedati besar menanti mereka berdua. para pengawal, memasang kekang di mulut mereka, memasang sepatu yang dirancang khusus hingga mereka terpaksa berjinjit., tangan mereka diikat dengan tali rami ke belakang punggung mereka dengan posisi telapak tangan mengarah ke kepala. Tali rami linnya diikan di sekeliling payudara mereka hingga menghambat aliran darah dan menyebabkan payudara keduanya menjadi keunguan, tali yang lain dilit melalui vagina dan anus, dan ditarik dengan sangat ketat hingga melukai vagina keduanya

Kemudian pedati itu dimuati beberapa ekor sapi besar. Dan ketika letusan terdengar, mereka mulai bergerak dengan menyakitkan, tertatih, perlahan.
Namun keinginan hdup Andrea nampak lebih besar, karena ia punya satu janji yang harus ia yagih, maka walaupun vaginanya makin teriris dengan hebat, ia mulai menarik dengan lebih kuat, lebih kuat lebih kuat.....
Tanjakan terjal di hadapannya membuat betisnya kram, ia melihat kompetitornya mulai menyusul, namun ia tak mau menyerah. Andrea memaksakan dirinya hingga dipuncak tanjakan, dan.. ia sengaja membiarkan tubuhnya terdorong pedati ketika berada di daerah turunan. hanya sesekali ia menahan agar pedatinya tak terguling.
Andrea hampir pingsan ketika akhirnya ia mencapai garis finish, tubuhnya babak belur.

Ia berhasil.

Samar ia melihat kompetitornya meronta hebat ketika para penjaga membawanya ke sebuah lapangan, melepaskannya di sana, dan melemparkan sebuah selendang.
Tu buh lemahnya diseret ke tepi arena itu, dan melihat semua sapi yang mereka bawa tadi dilepaskan dalam arena. Andrea bisa melihat bokong sapi-sapi itu berdarah...

Astaga....

Sapi-sapi itu mengamuk karena luka, dan terganggu oleh kibasan selendang, Kompetitornya berusha bertahan mati-matian, mengelak ke sana ke mari, namun akhirnya, tubuh gadis itu tercabik dan tertusuk tanduk-tanduk runcing itu, terseret-seret, terlempar bagai onggokan kain rombeng....
Andrea pingsan.

Wajah Arman begitu dekat dengan wajahnya, dan rasa di vaginanya...
Ia tahu Aman sedang menikmati tubuhnya, ada rasa bahagia melihat tuannya datang dan menyetubuhinya, rasa diperlukan, diinginkan, dirindukan.
Maka tanpa sungkan ia membalas tuannya, Ia memberikan sex terhebat yang pernah dilakuan Andrea pada Arman, sebagaimana seorang budak yang patuh menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi kemuliaan sang tuan.

Dan Andrea tertidur dengan nyaman....

Sorak sorai penonton di arena gladiator begitu gegap gempita. Andrea berada di tengah arena, dikedua lengannya terdapat pedang dan kampak. Pertarungan terakhir. Namun Namun Andrea bingung. Melawan siapa? Seluruh lawannya sudah mati....

Raung singa memenuhi gelanggang. Pertarngan di mulai.
Kedua senjata Andrea terlempar oleh terjangan singa. Cakar besarnya menghujam bahu sang gadis, yang berusaha bertahan sambil menahan rahang sang singa untuk tidak mengoyak tubuhnya.
Kaki sang gadis mengincar dan. Singa itu melompat merasakan sengatan di buah zakarnya. Andrea berlari berguling memungut senjata, sambil menghindari terjangan singa itu.

Ketika singa itu kembali menerjang, Andrea sudah siap. Ia membungkuk dan...
Auman kekalahan menandai tusukan pedang yang menghujam jantung sang singa...

Andrea mengangkat pedangnya, namun tak ada sorak gemuruh...

Reflex, Andrea mengelak dan sabetan kampak itu lewat tipis di samping tubuhnya, rambutnya sedikit terpotong.
Andrea berusaha menghindar sebisanya hingga ia terdesak di dinding arena, hantaman kampak lawannya, membuat tangannya sedikit pegal menahan gempuran itu.

'Pelacur..., kamu harus mati... mati.... mati....!'
Suara itu....,
Goresan di pipi menyadarkan Andrea
'Aku tak rela kalau dia kau rebut... kau harus mati....!'
Serangan itu membabi buta, hajaran, tinjuan, tendangan silih berganti menghampiri tubuh Andrea yang sudah begitu lemah dan banyak kehilangan darah akibat cakaran singa.

Namun ia terus bertahan, terlebih kini ia memiliki kesempatan untuk membalas sakit yang diberikan penyerangnya...
Maka Andrea berusaha sekuatnya untuk menghindar dan berusaha bangkit, hingga ketika Andre melihat kesempatan itu datang....

Pedang Andrea terpental oleh terjangan kampak itu...
Ia kini tanpa perlindungan....
Penyerangnya mengeluarkan pekik kemenangan dan menyerbu Andrea dengan deras...

Penyerangnya terkejut ketika ternyata Andrea memang sengaja melepaskan pedangnya...
Ia terkejut ketika Andrea bergerak memutar menghindar kampaknya, ia tak percaya ketika tangannya terkunci hingga Andrea bisa melolosi kampaknya, lalu ....

Gemuruh kemenangan akhirnya pecah ketika Andrea mengangkat tinggi kepala Susi yang terpisah dari badannya yang menggelepar seperti ayam baru disembelih...

Ia sudah menang.....
**********

Arman sedang duduk menontong ulang pertarungan itu melalui home theatre di villa megahnya, bunyi hisapan rakus dan gumaman di selangkangannya membuatnya bahagia.
Gadis itu sendiri merasa bahagia.

Andrea merasa bahagia, bisa kembali melayani tuan-tuannya yang kini nampak makin bernafsu padanya. Terlebih ketika kulit mulus tanpa cacadnya sudah kembali dengan bantuan profesor maniak, juga kemontokan tubuh jessica biel nya, yang makin terjaga. Bahkan di buat permanen oleh professor itu.

Dan kebahagiaan gadis tu bertambah ketika Arman berkata padanya....
'Mereka adalah calon budak kita yang baru... sudah saatnya kamu jadi nyonya....'
Mata Andrea berbinar antara gembira dan sadis... Pandangan yang membuat Arman bernafsu dan langsung meneytubuhi Andrea dengan brutal.

Andrea mengikuti hentakan Arman dengan birahi tinggi sambil membayangkan hukuan bagi budaknya...
'Hmmm... siapakah yang cocok jadi budakku?' gumam Andrea dalam hati sambil menikmati entakan penis Arman di vaginanya yang kemudian diikuti satpam di anusnya dan tukang kebun di tenggorokannya..
'Luna Maya? Aura Kasih? Kinaryosih? atau.......'

Raungan orgasme keempatnya membuat persoalan itu terlupakan.... setidaknya untuk sesaat.

End

Thursday, April 02, 2009


Nadine's Survival Pt 2- Military Camp Hell

Nadine terus berjalan menjauhi daerah suku primitif itu, sambil berusaha mencari jalan lain untuk medapat pertolongan. Hutan yang sejuk dan dingin tak membuat dirinya senang malah sebaliknya merinding membayangkan jauhnya pertolongan.

Namun setidaknya, sekarang ia tak lagi takut akan rimbunnya rimba. Pengalaman bersama suku primitif itu cukup membuatnya jadi kuat dalam menghadapi hutan di depannya. Nadine jadi tahu dimana ia harus tidur untuk menghindari binatang buas, dimana ia berteduh dari hujan. Bahkan berburu untuk mendapatkan makanapun bisa dilakukannya. hanya sayang, karena lama terpengaruh gaya makan ala suku primitif itu, dan sulitnya mendapatkan kayu kering dan batu api, Nadine mulai terbiasa memakan daging mentah.

Gerakannya sendiri bagai kucing liar, yang lincah meloncat kesana-kemari dan tanpa kesulitan bergerak direrimbunan hutan.

Maka tibalah Nadine di tepi sebuah tebing, ia terkejut melihat ada sebuah camp militer di hutan itu. Namun ia tak mau gegabah langsung meminta pertolongan, ia trauma dengan kesialannya dulu di perkampungan suku primitif itu, maka dengan sensitivitasnya yang makin terbentuk, ia mengitari camp dari kejauhan, sambil meninjau suasana.

Namun sepandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.

Todongan senjata di kepala Nadine membuatnya terkejut, ia terlalu asyik memperhatikan camp hingga ia tidak menyadari kalau ada pasukan patroli yang melihatnya.
reflex nadine menangkis pistol itu dan menghajar pemilik senjata, namun lima pucuk pistol yang segera terarah ke wajahnya, membuatnya tak berkutik.

Komandan pasukan itu melihat anakbuahnya yang meringkuk di tanah memegang hidungnya yang patah di hajar Nadine. 'You shit' gumamnya dingin dan... blam... Percikan darah dan otak segar memercik ke wajah Nadine, yang sekarang sudah kebal dengan darah dan kanibalisme.
Sebuah pukulan di uluhati Nadine membuatnya sesak nafas hingga dengan mudah dirinya diringkus dan giring ke arah camp.

Komandan camp seorang negro bertubuh tinggi besar sedang melihat kondisi tempat berlindungnya ketika ia melihat lima anak buahnya menyeret seorang gadis cantik berpakaian two piece kulit macan tutul dan sepatu boot bulu beruang.
'Who 'da hell waz that' soldier!' gelegarnya dengan nada khas afrikan american rapper.
'whe found the bitch snooping on our camp commander!' seru pemimpin regu, 'she might be spy'

Nadine tertegun, ini camp tentara Amerika. Sekarang ia benar-benar bisa selamat.
'I'm Nadine commander' seru gadis itu terburu-buru, 'I'm casted from some chopper months ago. Gladly i found you'

Para tentara tertegun.

Tamparan keras mendarat di wajah Nadine, 'Shut up! Bitch!' gerung sang komandan, 'now i'm preety sure, you're spy from that canibalistic tribe.'
'No...'jerit Nadine mencoba membela dirinya, 'I'm a victim, I'm Indonesian, Im...'
Komandan camp menyelanya dengan garang, 'So you're Indonesian, heh!' sambil menampar Nadine dengan lebih keras, hingga bibir gadis itu pecah dan menyebabkan kepalanya pusing.
'Now tie that bitch down spread eagled on that sand bunker, let her feel how we hate Indonesian Terroist!'
'No' jerit Nadine 'I'm not terorist...'

Hibaannya tak berpengaruh, prajurit yang menangkapnya segera menelanjangi Nadine, membawanya ke bunker pasir, dan mengikatnya membentuk huruf x. 'Enjoy bitch!' desis satu prajurit sambil menendang rusuk Nadine dengan army bootsnya.

Terik mentari segera saja membuat tubuh Nadine terpanggang, matanya silau, mulutnya kering, bakhan punggungnya serasa matang oleh panasnya pasir.
Sebuah bayang melindunginya dari silau mentari, sang komandang mengangkangi tubuhnya sambil bertanya menghina, 'Thristy, bitch?'
Mulut Nadine yang kering cukup menjadi jawaban, Nadine mendengar suara reslating yang diturunkan. Dan kemudian mulut keringnya dipenuhi cairan kuning, gadis itu megap-megap berusaha meludahkan cairan itu, dan hentakan army boots di perutnya membuatnya sesak nafas. 'Damn you, whore!' maki komandan sadis itu, 'I giving you a relieve and you drop it!'
Lalu Komandan itu meraup pasir basah dekat kepala Nadine dan menjejalkan ke dalam mulut sang gadis yang meronta-ronta, 'You will drink my piss and my men, because that is the only water you'll ever drink, and our sperm too bitch!' Katanya sambil menurunkan celananya dan mulai memperkosa Nadine yang kesakitan dengan brutal.
Gadis itu tak meyangka kalau dirinya akan kembali mengalami penyiksaan dan pelecehan, juga pemerkosaan beramai-ramai, karena sekarang antrian tentara yang ingin menikmati tubuhnya sudah terbentuk dengan rapi.

Gadis itu menggigil kedinginan, udara dingin malam menusuk tulangnya, tubuhnya lengket oleh sperma kering yang sudah tersebar merata disekujur tubuhnya, mulut, vagina dan anusnya memar menerima sodokan banyak penis, belum lagi air seni yang mengisi kerongkongan dan membasahi sekujur tubuhnya.
Kemudian dua tentara melepaskan Nadine dari bunker pasir itu, dan menyeret tubuh lemahnya ke dalam markas.

Nadine nyalang melihat dirinya diseter ke ruangan penyiksaan, sang komandan sudah menanti.
'You'll gonna sing bitch! you're gonna tell me whre's your fucking terrorist friends hide'
'I'm not a terrorrist, sir' hiba nadine, 'I'beg you to believe me...'
'I believe that you deserve punishment, bitch. To see how the world suffer for the terror you inflicted'
Sang komandan memerintahkan agar Nadine diikat di sebuah tiang, lalu kedua kakinya diangkat ke arah kepala hingga tubuhnya terlipat.

Lalu sang komandan mengambil jepit buaya, Nadine mencoba menggeliat sebisanya menghindari jepit buaya yang akan menyakiti payudaranya yang sudah tersiksa sebelumnya. Jemari sang komandan menjepit keras puting gadis itu yang menjadi sangat sensitif. Perlahan memilinnya, dan....

Lengking kesakitan Nadine menggema ketika jepit buaya itu tertanam di putingnya hingga tetesan darah dapat terlihat keluar. Kembali jeritan terdengar ketika sebelah putingnya kembali dihujam jepit buaya.
Keringat dingin mengaliri tubuh gadis itu, matanya berkunang-kunang, namun rabaan di vaginanya kembali menyadarkannya dan membuat gadis itu kembali panik, 'No... not there... nyyyyeeeeeaaaaarrrrrggghh' jerit kesakitan yang lebih keras terdengar, ketika jepit terakhir menghujam klitorisnya yang perih.

Nadine bagai kehabisan nafas hingga tak memperhatikan kawat tembaga yang terulur mengait jepit itu.
Komandan itu berkata, 'Now let hear you sing'
Sengatan listrik itu membuat Nadine terlonjak-lonjak bagai kuda, arus listriknya sangat kuat
'Where is your comrade!' bentak komandan itu, Nadine bahkan tak bisa mengangkat wajahnya

Sengatan berikutnya kembali menyerang, tubuh Nadine kembali terlojak keras, kerongkongannya mengeluarkan suara kumur-kumur tak jelas, mulutnya mengeluarkan ludah dengan tak terkendali.
Sengatan berikutnya menyebabkan Nadine terkencing-kencing, dan ketika sengatan itu makin tak tertahankan, Nadine mengejan hingga mengeluarkan kotoran dari anusnya.

'What the hell y'er thinking y'er doin', bitch!' bentak Komandan itu lalu memotong tali pengikat Nadine, membiarkan gadis itu jatuh berdebam lalu dengan sekali sentak mencabut jepit buaya di puting payudara dan klitorisnya. Nadine langsung menggelepar menahan sakit.
'You shit in my place bitch, now you'll clean it' bentak sang komandan sambil menjambak rambut Nadine, menghujamkan wajah gadis itu ke kotorannya sendiri dan menjadikan wajahnya bagai kain pel.
Komandan itu puas melihat Nadine yang tergeletak tak berdaya, lalu ia memerintahkan anak buanya memasukkan Nadine dalam sel isolasi.

Nadine gelagapan ketika air menyumbat jalan nafasnya, namun refleksnya membuat gadis itu bisa mengangkat kepalanya dipermukaan air. Sel isolasi itu ternyata berbentuk sumur, dengan ketinggian air setinggi hidung Nadine, hingga gadis itu terpaksa berjinjit agar bisa bernafas, tangan gadis itu diborgol, dan kakinya diberi bola besi.

Dinginnya air membuat tubuhnya menggigil, terlebih dengan posisi jinjitnya yang menyebabkan, betis, paha dan perutnya kram.
Namun penderitaannya belum lagi berakhir, gadis itu merasakan adanya mahluk berlendir yang mulai merayapi dan menempel di tubuhnya. Tangisan frustasi gadis itu mengiringi lintah-lintah kerbau yag berbondong merubungnya. Sakit, perih letih dan lelah menyerang Nadine, terlebih karena darahnya disedot banyak lintah termasuk yang menghisap darah di payudara, vagina dan buah pantatnya, bahkan wajah cantiknya kini dihuni lima lintah yang menjadi sangat besar setelah menyedot darah gadis itu.

Sebuah tongkat pengait mengangkat tubuh Nadine yang dipenuhi bercak-bercak bekas gigitan lintah. Tentara yang mengangkatnya tertawa melihat seekor lintah yang masih bergayut di klitoris Nadine, dan ia berkata, 'heheh, you have a dick too, you bitch!' katanya sambil menyentak lintah itu, dan meninggalkan clitoris Nadine berdarah.

Tangan gadis itu diikat ke atap barak penyiksaan itu, Sang komandan mamasang sarung tinju dan melihat tubuh lemah gadis itu. 'Okay men, let me do my exercise' katanya dan...
gadis itu menggeliat-geliat lemah, tubuhnya dijadikan sansak hidup oleh sang komandan, jab, hook, staright, payudaranya dijadikan speed ball practise.
Tubuh Nadine babak belur, pelipisnya sobek, hidungnya patah, tubuhnya memar-memar. Namun sang komandan masih jauh dari puas.

Ia mengambil cerutu menghisapnya dalam dan berkata, 'you are one good punching bag, asshole.'
'lemme ask you again, where is your terrorist friend, bitch!'
Suara Nadine bergetar lirih, nyaris tak terdengar 'I'm innocent, sir... even i'm not pure Indonesian, I'm half german', Nadine berharap kalau darah Jermannya akan menghentikan penyiksaan ini, namun.
'Even better bitch, I hate Nazi!' geram sang komandan, dan ledakan jerit Nadine kembali terdengar ketika api cerutu itu membakar clitorisnya yang masih berdarah akibat gigi lintah.
dengan santai sang komandan menghisap cerutunya memperbaiki nyala api dan....

Tubuh Nadine meringkuk menggigil menahan sakit dalam selnya yang berukuran sempit hingga ia harus tidur dengan menekuk kaki, seluruh tubuhnya terbakar, tak ada satu bagianpun yang lolos dari sundutan cerutu, dan beberapa bungkus marlboro.

Entah siksaan apa saja yang sudah ia terima, Nadine sudah berhenti menghitung, namun siksaan dan pelecehan mental, fisik dan sexual terus menderanya, dan teknik interogasi yang sama sekali tidak manusiawi dialaminya.
Nadine pernah didudukkan di kursi kayu dengan starp agar ia tak bisa lari, lalu wajahnya diberi wadah hingga ke lehernya, lalu mereka menuangkan cairan campuran air seni, dan kotoran hingga penuh dan membuat Nadine kehabisan nafas dan menelan 'bubur' itu.
Atau Nadine pernah dipaksa berlari mengelilingi camp sepanjang hari, atau menari bugil untuk hiburan prajurit yang kemudian bergiliran memperkosanya, bahkan pernah dirinya diikat dalam piosisi menungging, dan tubuh tak berdayanya dijadikan pemuas nafsu anjing-anjing penjaga yang jumlahnya banyak.
Ketika giliran herder yang maju, sang komandan bberkata mengejek, 'your country fella want to fuck you! enjoy some german dick!'

Dan bentuk pelecehan juga bervariasi seperti ketika tubuhnya diikat di atas meja, dan mereka menetesi tubuhnya dengan lilin, hingga tubuhnya menggeliat-geliat. Mereka sengaja memberi tetesan lebih banyak di vagina nadine yang kini bulunya melebat karena tak tersentuh pisau cukur, dan ketika lilinnya mengering mereka menyentak lilin itu hingga seluruh bulu vagina Nadine tercabut, lalu lilin yang masih menyala itu disumbat ke dalam vagina dan anus Nadine.

Horor kembali menghantui Nadine, ia mendengar kalau ia akan segera dieksekusi, karena jawaban yang tak pernah terucap dari dirinya. Sementara mulutnya bekerja keras mengoral penis kuda seorang prajurit, otaknya berpikir keras untuk mencari cara melarian diri.

Ledakan keras di gudang senjata cukup membuat semua prajurit kalang kabut, bahkan Komandan yang tertidur pulas dengan penis yang masih menancap di mulut Nadine, segera bangun, menendang wajah gadis itu dan segera melihat keadaan.
Dengan perlahan, Nadine menyelinap, gadis itu mengambil singlet prajurit yang lebih kecil dari dirinya hingga ukurannya jadi pas, mengambil celana yang pas ditungkai indahnya, dan menonjolkan bokong indahnya,tak ketinggalan army boots.

Nadine juga mengambil dua pucuk pistol FN, sebuah senapan serbu, pisau komando dan beberapa granat.
Ia mulai bergerak, ia menyelinap bagai pasukan siluman, membunuh beberapa prajurit, dan... dendamnya terbalas, ketika ia berhasil memenggal kepala sang komandan yang lengah.

Tembakan silih berganti mengiringi menghilangnya Nadine, yang kini bagaikan rambo ke tengah hutan, rimba. Namun Nadine menyempatkan diri melihat kekacauan yang disebabkannya, ia kaget karena ada seorang gadis di bawa ke dalam camp

Seorang komandan baru mengisi posisi yang kosong, dan dengan garang menghajar seorang wanita cantik bugil, yang baru saja tertangkap oleh pasukannya, dan tuduhan padanya adalah penyebab ledakan gudang senjata, dan membantu pelarian Nadine.

Gadis itu meronta, mengiba, mengatakan buka dia pelakunya. Namun komandan baru tak peduli, ia menarik tali yang mengikat kedua kaki gadis itu, mengaitkannya pada bagian belakang mobil jeep, membalikkan tubuh gadis itu dan mulai menyeretnya dengan mobil.
Gadis itu berteriak kesakitan. 'I'm not criminal... I'm Leah Di.......' suara gadis itu teredam ketika mobil jeep melaju melalui tumpukan kayu yang terbakar.

Nadine meringis pedih... namun sekarang ia harus terus bergerak. Pelariannnya dimulai lagi, gadis itu masih berharap untuk bisa kembali ke tengah peradaban, namun petualangannya belum lagi berakhir.


End for now

Tuesday, March 17, 2009


Nasib Tragis Andrea Lee VII-The Trainging

Pagi itu dimulai dengan posisi Andrea yang berlutut di atas ranjangnya, tubuhnya berhimpit dengan tubuh satpam dan tukang kebunnya. Mulutnya sibuk ber frenchkiss ria dengan satpam yang melumat bibir sensual Andrea dengan rakus, sampai-sampai liur mereka berlelehan. Sementara tukang kebun, asyik mencupangi leher Andrea sampai merah-merah dan meremasi payudaranya dengan kasar.
Andrea sendiri tak bisa berbuat banyak, kecuali pasrah dengan perlakuan kasar keduanya, vagina dan anusnya mengeluarkan bunyi berdecak kecipak seiring expansi penis keduanya yang bergerak seirama, terkadang lembut namun lebih sering kasar dan brutal.
Andrea merasakan selangkangannya penuh, ia bisa merasakan penis keduanya yang hanya terhalang dinding antara vagina dan anusnnya hingga menimbulkan sensasi yang sebenarnya tak diinginkan Andrea.

Disela pergumulan liar itu Andrea dapat melihat Arman dan Susi asyik bersetubuh dengan tak kalah ganasnya. Dan nampak sekali Susi menikmati sodomi yang dilakukan Arman, serta tanpa ragu menikmati ass to mouth. Disaat yang sama Andrea merasakan genjotan kedua tuannya yang makin liar menandakan ejakulasi yang mendekat.Dan lenguhan berkepanjangan terdengar silih berganti di dalam kamar itu, ketika Arman dan Susi juga mengalami orgasme.

Kemudian dengan nafas yang masih berat Susi segera menghampiri Andrea yang tergolek lemas setelah dihajar penis satpam dan tukang kebun dengan brutal, nampak lelehan sperma mengalir dari vagina dan anus Andrea, bahkan tampak noda kekuningan dari cairan sperma yang meleleh dari anus Andrea.
Susi meminta kedua penikmat Andrea untuk menelentangkan budak mereka dan kemudian mengunci rahangnya hingga membuka. Dengan santai Susi mengangkangi mulut Andrea dan mengejan.

Andrea gelagapan menerima lelehan sperma yang bercampur cairan kekuningan dari anus sang nyonya. Namun dengan rahang yang dikunci tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menelan semua cairan busuk itu. Keempat penjajahnya tertawa melihat expresi Andrea yang kembali harus merasakan kotoran masuk ke dalam mulutnya.

Kemudian Arman merapihkan kamera video yang menyimpan rekaman mereka untuk kemudian di upload ke hardcore site, dan kemudian sebuah surat masuk ke alamat Arman. Arman menyeringai melihat isi surat itu.
'Heh pelacur.' cetus Arman santai, 'akan ada pertandingan antar budak, dan kamu akan mengikutinya'katanya ringan seakan Andrea sudah pasti setuju.
Lalu lanjutnya lagi dengan santai, 'Pemenangnya tidak akan dapat apa-apa kecuali kesempatan hidup untuk jadi budak lebih lama lagi...'
Arman sengaja berhenti sejenak agar Andrea meresapi perkataanya, Arman dapat melihat Andrea lemas, mendengar bahawa sebenarnya tak ada untungnya kalau dia memenangi 'pertandingan ajaib'itu. Namun kelanjutan kalimat Arman membuatnya ngeri.
'Untuk yang kalah, hanya ada kematian setelah mengalami perkosaan dan siksaan yang sangat lama dan menyakitkan.'

Tawa iblis keempat penjajahnya membuat Andrea sangat pucat, ternyata pilihan untuk dirinya hanya menang untuk bertahan hidup.
Arman kembali berujar,'sebaiknya kamu bersiap, karena mulai besok kamu akan menjalani pelatihan yang sangat berat sampai tiba waktu pertandingan.'

Andrea berharap keempatnya akan memberi sedikit waktu untuk beristirahat bagi tubuhnya yang letih, namun sayang sekali karena yang dikasud dengan istirahat adalah sepasang dilo super dengan vibrasi super yang dipasang sepanjang malam.

Keesokan harinya dengan tubuh yang sangat lemas karena orgasme berulang yang dirasakan Andrea juga dengan kondisi vagina dan anus yang memar memerah akibat gesekan konstan dildo itu. Dengan sedikit mengangkang menahan perih, Andrea dipaksa makuk dalam bagasi mobil, Arman kemudian menyentak lepas dua dildo tersebut, membiarkan vagina dan anus Andrea kembali normal, lalu membanting tutup bagasi dengan keras. Andrea kini berdesakan dengan banyak barang dan perkakas mobil dalam bagasi itu, ia merasakan kalau mobil mulai melaju.

Mata Andrea berkejap menahan silau ketika Arman membuka tutup bagasi itu. Arman menyuruh Andrea memakai sports bra dan hotpants sexy, serta sepasang sepatu olahraga, lalu menyeret Andrea ke balik dinding seng.

Andrea tercengang, ternyata Arman membawanya ke sebuah lokasi pembangunan gedung. Namun keterkejutannya segera berganti kengerian ketika melihat ada sekitar enam puluh kuli bergerombol ke arah mereka. Mador para tukang itu menghampiri Arman dan berkata, 'Jadi ini kuli barunya? Boleh juga.'
Arman berkata 'Kalian harus buat dia bekerja sangat keras, jangan beri ampun.'
'Tenang aja mas Arman, kebetulan kami perlu sedikit istirahat, jadi dia yang akan melakukan semua pekerjaan kasar, belum lagi kami perlu pembantu untuk ngurusin kami semua, baik di dapur dan di kasur, hahaha'
Andrea menggigil demi menyadari dirinya dikuasai enam puluh kuli yang akan memakainya dengan semena-mena.

Percuma ia menyembah Arman minta dilepaskan. Arman malah menendang wajahnya dan membiarkannya terisak di tengah kerumunan para kuli yang langsung beringas dan meneteskan liur demi melihat tubuh sexy Andrea yang hanya berbalut sports bra dan hotpants.
Mandor itu menghampiri Andrea dan berkata, 'Sekarang kamu milik kami, dan hidup kamu ada di tangan kami. kalau kamu nurut mungkin kamu akan keluar hidup-hidup, namun kalau tidak... kamu akan kami benamkan di salah satu tiang pondasi dan menguburmu dalam semen.'

Andrea terisak pasrah, ia sadar tak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri atau melawan, akhirnya Andrea hanya dapat memasrahkan dirinya. Mandor itu kemudian berkata,' sebagai perkenalan, mendingan kamu buka bh sama kolor kamu, kita-kita mau ngeliat kamu telanjang.'
Andrea menggigil, dengan perlahan ia membuka sports bra dan merasakan dengus nafas liar para kuli melihat payudaranya yang menggantung bebas, dan ketika hotpantsnya tercampak, para kuli itu tak tahan lagi untuk menyerbu, namun mandor membentak mereka, 'Gua dulu setan!'

Lalu Andrea dipaksa menungging, wajah gadis itu memerah karena malu vagina dan anusnya terekpos bebas ke arah para kuli. Andrea meringis ketika tiga jari mandor yang kotor penuh debu, semen serta cat mengaduk vaginanya, dan kemudian Andrea menjerit tertahan ketika penis sang mandor menggedor vaginanya yang kering.
Payudaranya yang bergayut dijadikan permainan tangan sang mandor, Andrea merintih dan meringis karena perlakuan kasar pada tubuhnya.
Dan ketika akhirnya sang mandor orgasme, Andrea sadar perkosaan itu baru dimulai.

Gerombolan kuli itu segera bergerak brutal, menjamah, menjarah dan menyakiti Andrea. Hidung gadis itu berulang kali tertanam di bulu kemaluan pemerkosanya, tangannya pegal mengocok banyak penis, payudaranya memerah keunguan diremas dengan kasar, dan bulatan pantatnya meninggalkan jejak remasan.
Vagina, mulut dan anusnya bekerja sangat keras menampung penis demi penis, dengan berbagai gaya barbar dipraktekkan pada Andrea.

Hari telah larut malam ketika perkosaan pertama itu selesai, tubuh Andrea bagai diselimuti sperma, tak ada satu bagian tubuhnya yang terlewatkan. Para kuli tertawa melihat Andrea yang terlentang pasrah kelelahan di atas tanah, lalu seseorang memberi ide gila yang segera disambut riang yang lainnya.
Andrea gelagapan ketika secara bergantian atau bersamaan para kuli mengencingi sekujur tubuhnya, mulutnya berkali-kali terpaksa menelan air seni para kuli bejad itu yang seakan puas telah merendahkan gadis itu hingga ke titik terendah.

Andrea terisak sedih, namun para kuli itu sama sekali tak memiliki rasa iba.Penghinaan mereka belum lagi usai, mandor itu memberikan 'pakaian' untuk Andrea berupa kaus singlet yang sangat dekil dan celana dalam merk hings yang longgar dan nampak belum dicuci untuk waktu yang sangat lama.
Dengan pakaian itu, Andrea dipaksa memasak untuk seluruh kuli. Bahkan di saat memasakpun Andrea kembali mengalami pelecehan, celana dalam yang sama sekali tak ada gunanya itu membuat bagian bawah tubuh Andrea terekspose bebas, dan memudahkan para kuli untuk memperkosa Andrea dan menyebabkan proses memasak menjadi lebih lama. Dan alasan itu membuat para kuli mempunyai kesempatan untuk menyiksa Andrea.

Setelah prosesi memasak, Andrea dipaksa menghibur mereka dengan menari erotis lalu memaksa Andrea untuk onani dengan bantuan sebuah terong besar. Andrea hampir pingsan kelelahan karena dipaksa onani selama dua jam tanpa henti, para kuli tertawa senang melihat Andrea bekubang di carian orgasmenya sendiri.

Hari belum lagi terang ketika mandor itu menjambak rambut Andrea. Ia memaksa gadis yang kelelahan itu untuk memasak sarapan para kuli, sementara dirinya sendiri hanya sarapan sperma dalam porsi besar.
Lalu Andrea diperintahkan memakai sports bra dan hotpantsnya kembali, dan sang mandor membawa Andrea ke area proyek.

Mandor itu memberi sebuah palu godam pada Andrea dan menunjuk pada sebuah bangunan dengan beberapa dinding yang telah berlubang.
'Aku mau bangunan itu roboh.'
Andrea terpana, namun sabetan cemeti di punggungnya menyentak Andrea, dengan tertatih Andrea menyeret godam yang berat itu dan mulai menggedor dinding beton bangunan itu.

Lima belas menit kemudian, tangan Andrea bergetar hebat, tapak tangannya melepuh. Namun mandor itu malah menghajarnya.
'Enak aja, kamu berhenti pelacur! bangunan ini belum roboh, kamu harus terus merubuhkannya.!'bentak mandor itu, 'Kamu terlalu manja, hanya merasakan kenikmatan dunia. Sekarang rasakan beratnya kerja para kuli.'

Andrea berguling-guling menghindari sabetan cemeti, lalu dengan lunglai kembali bangkit dan mulai menggempur dinding kokoh bangunan itu.
Keringat mengalir deras dari seluruh pori-pori tubuh Andrea, telapak tangannya terluka dan terasa sangat perih karena terkena peluh.

Tengah hari mereka beristirahat, namun buat Andrea istirahat hanya sebuah angan-angan. Sang mandor memaksanya melayani para kuli, menjamu mereka semua, menyuapi dan memijat para kuli, dan mengoral para kuli.
Kemudian pekerjaan dimulai lagi dan kembali Andrea dihadapkan gedung kokoh dihadapannya yang menanti dirobohkan.

Ketika hari mulai senja, kembali Andrea menjalani perannya sebagai 'istri' bagi para kuli. Ia diharuskan mencuci pakaian seluruh kuli, maka tampaklah pemandangan sensual, Andrea duduk di atas bangku kayu, mengangkang dengan vagina disumpal terong, mengucek baju, sementara kepalanya menoleh ke samping dan melakukan deepthroath untuk barisan para kuli. Andrea sendiri melakukannya dengan menahan perih dikedua telapak tangannya yang terkena detergen.
Setelah mencuci, Andrea harus memandikan para kuli. Mejilati anus mereka setelah buang air besar dan menjadikan mulutnya sebagai penampungan kencing.

Dan hari-hari berlalu dengan beragam jenis kerja rodi yang dialamatkan pada Andrea, Selain menggempur bangunan, Andrea dipaksa mengerek tumpukan bata untuk menyuplai kuli di lantai tiga. Atau dirinya dipaksa memanggul tiga sampai empat tumpuk sak semen, dan memanggulnya naik tangga sampai ke lantai lima bangunan itu.
Andrea juga dijadikan penarik beban ketika mereka memindahkan gerobak demi gerobak pasir untuk suplai adukan semen.

Sementara kerja kerasnya sendiri tak membuat siksaan berlalu. Pernah Andrea diikat pada sebuah tonggak, dan mereka bergiliran memecutnya hanya karena Andrea terlambat mengantarkan semen.
Atau pernah Andrea diikat pada katrol batubata dan dibiarkan tergantung semalaman, hanya karena Andrea berteduh menghindari panas.
Dan ketika pemilik bangunan melakukan inspeksi, Andrea disembunyikan dalam septictank.

Tuan dan nyonyanya, terkadang datang mengunjungi Andrea untuk melihat perkembangan kondisi fisik sang budak, Arman tersenyum melihat kondisi budaknya, dan Susi nampak semakin sinis.
Terkadang mereka memberi Andrea 'cuti', mereka membawa Andrea ke villa mereka untuk dipergunakan sendiri, dan kembali Susi 'menghadiahi' stalion untuk Andrea.

Setelah enam bulan menjalani 'kontrak kerja', Arman datang untuk mengambil pelacurnya.
Mata Arman nyaris meloncat keluar rongganya melihat transformasi tubuh Andrea.
Otot bertonjolan dari tubuh Andrea, sixpacknya makin terdefinisi jelas, betisnya indah.
Kulitnya sendiri menjadi sedikit gelap karena terbakar mentari, namun justru makin menjadikan Andrea exsotis.

'Pelacurku akan menang,' gumam Arman, 'Dia akan menang.'
Andrea pasrah ketika tubuhnya kembali dilingkupi kegelapan bagasi, dan kekalutannya bertambah ketika sebelum menutup bagasi Arman mengatakan kalau dirinya akan menjalani serangkaian 'latihan' lagi selama enam bulan kedepan sebelum pertarungan hidup dan matinya di mulai.

Andrea menggigil....
Perjalannannya masih sangat panjang

End

Saturday, February 14, 2009


Nasib Tragis Andrea Lee VI: Nasib Tragis Andrea Lee: Fatal Attempt 2 - The Trap

Andrea betul-betul menderita, hari-harinya penuh dengan penghinaan dan pelecehan secara sexual. Tubuhnya dijadikan pemuasan birahi tiga tuan dan seorang nyonya nya, yang tidak segan-segan memperlakukannya lebih rendah dari hewan.
Walau tubuhnya sekarang sangat sexy akibat 'olah raga' rutin yang dijalaninya, tapi jiwanya kosong, bahkan kemolekan tubuhnya menjadi kutukan buat Andrea karena makin mengobarkan nafsu tuan dan nyonya nya, atau orang-orang lain yang mendapat rejeki mencicipi tubuhnya. terlebih berkat ramuan profesor maniak yang membuat tubuh, payudara dan pantanya montok dan sekal permanen, serta ramuan yang membuat vagina dan anusnya kembali perawan bila satu jam tidak dimasuki penis.
Namun yang paling membuatnya hancur ialah, tak adanya lagi harapannya untuk menjadi wanita normal, karena salah satu ramuan profesor itu mematikan produksi indung telurnya, dan mematikan rahimnya hingga Andrea tak akan pernah lagi bisa memiliki anak.

Siksaan, hinaan dan pelecehan dijalani Andrea dengan tertekan, dan terkadang menimbulkan lagi keinginannya untuk mencoba kabur.
Andrea mencoba menyusun strategi hingga bisa menemukan kelengahan penjajahnya, dan pada suatu hari Andrea merasa kalau saatnya sudah tiba.
Andrea memasukkan bubuk obat tidur yang ia curi dari lemari Arman, supirnya, mencampurkannya dalam pitcher orange syrup dan menyajikannya pada mereka yang sedang asyik berjemur di pinggir kolam renang, di sebuah villa besar yang disewa penjajah-penjajah itu.

Andrea bersorak kegirangan ketika melihat penjajahnya tertidur, lalu dengan hati-hati ia menggunting strap di lehernya yang berisikan empat jarum dengan tiga jarum sisa berisi racun yang membuatnya gatal kecuali ia menerima semburan sperma manusia dalam rahimnya.
Andrea menyambar kemeja Arman dan segera berlari ke luar villa itu.

Andrea gembira melihat gerbang besi vila megah itu, larinya makin kuat, tangannya meraih, dan...

Sengatan listrik menghempaskan tubuh Andrea. Tubuhnya terbanting. Badannya menggigil menahan kejutan listrik yang menyengatnya.
Dan empat bayangan yang menaungi tubuhnya membuat Andrea makin menggigil.
Para penjajahnya menyungginkan senyuman iblis, dan tawa horor membumbung tinggi seiring Andrea yang hilang kesadaran.

Ketika gadis itu siuman, ia melihat kalau ia berada di sebuah ruang bawah tanah. Matanya membelalak melihat banyaknya alat-alat penyiksaan di sana. Ia mencoba berontak namun ia terkejut karena tubuhnya terikat kuat di ranjang besi membentuk huruf x. Dan ketika ia coba berteriak, ia menyadari mulutnya ditutup silver duct tape.

Andrea melihat Arman datang menghampirinya dengan raut bagai serigala yang mendapatkan mangsa. Andra mencoba menghiba, namun mulutnya tak bisa mengeluarkan satu patah katapun.
'Kami tahu kalau kamu mencoba melarikan diri' desis Arman, sambil menuju deretan alat penyiksaan
Mata Andrea membelalak ngeri, kepalanya menggeleng kuat.
'Kami sengaja meletakkan bungkusan obat tidur itu untuk menjebakmu' kekeh Arman yang membuat Andrea makin ketakutan.
'Dan untuk itu, kau harus dihukum...'

Andrea terbelalak, mulutnya mengeluarkan jeritan teredam.
Cambukan itu datang tiba-tiba, dan ketika Andrea sedang mengatur nafas, nampak Arman menggengam cambuk dengan banyak ujung.
Arman takjub melihat payudara Andrea yang naik turun seiring nafasnya yang berat, lalu...

ctar, ctar, ctar, ctar.
Tanpa belas kasihan Arman mencambuk sekujur tubuh Andrea. Gadis itu hanya bisa menggeliat-geliat kesakitan. sekujur tubuhnya dipenuhi jalur-jalur ungu hasil cambukan.
Cambukan Arman kini lebih spesifik, puting susu Andrea dan vaginanya menerima porsi yang lebih. Andrea melonjak-lonjak sejadinya merasakan sengatan cambuk pada daerah sensitifnya, hingga...
Arman tertawa terbahak-bahak melihat Andrea terkencing-kencing menahan dera cambukannya. Ia tampak puas melihat bilur-bilur yang menghiasi tubuh Andrea,. Arman duduk mememulihkan tenaganya sambil melihat tubuh Andrea yang menggeliat-geliat kesakitan.

Andrea benar-benar kesakitan, pikirannya berisi penyesalan karena berusaha melarikan diri dari para penjajahnya yang kini memiliki alasan untuk lebih menyiksanya.
Dan kini ia hanya pasrah menanti penyiksaan berikutnya.
Arman mendekati Andrea dengan membawa jumper mobil, ia mengeratkan jepit jumper itu di puting susu Andrea yang mengernyit kesakitan, kemudian Arman menghujamkan sebuah silinder logam dengan kawat tembaga di anus Andrea.
Andrea mengerti apa yang akan terjadi pada dirinya, kembali gelengan lemah dan tatapan penuh iba ditunjukkan Andrea, mohon pengampunan.

Arman menyeringan sadis, tangannya memegang handle dinamo dan memutarnya.
Andrea merasakan aliran listrik menyengatnya, tubuhnya kembali menggeliat, Arman memutar handle itu lebih cepat dan geliat tubuh Andrea makin liar.
Lalu Arman memutar handle itu lebih cepat dan kuat membuat tubuh Andrea melenting-lenting kesakitan.
'Well well... Staminamu boleh juga' ejek Arman, ' kamu belum capek, kan?'

Andrea tak konsentrasi mendengan hinaan Arman, kepalany seakan dihantam godam, dadanya seakan mau meledak. Arman meneteskan liur melihat dada Andrea yang naik turun dengan cepat, belum lagi peluh di tubuh Andrea yang membuat tubuhnya makin sensual. Namun ia masih ingin bermain sedikit lebih lama lagi.
Arman mengambil seember air, dan menyiramkannya ke tubuh Andrea. lalu kembali memutar handle...

Tubuh Andrea terbanting-banting menahan sakit. Air menjadi pengantar listik yang sangat baik, sekujur tubuhnya seakan terbakar, otaknya serasa gosong. Matanya mendelik hingga tinggal yang putihnya sebelum Arman akhirnya menyudahi permainannya.
Arman membiarkan Andrea memperoleh lagi kesadarannya sebelum ia memulai lagi aksinya. Dengan kasar ia menyentak jumper mobil dan batang besi itu dari tubuh Andrea.
Ia lalu membuka ikat kaki gadis itu, untuk kemudian mengikat betis Andrea ke arah pahanya. Kemudan Arman membuka pakaiaanya sendiri hingga telanjang dan tanpa banyak bicara langsung menghujamkan penisnya ke vagina Andrea yang kembali perawan.
Andrea hanya bisa meronta kecil, karena vaginanya kembali di aduk paksa, terlebih pelumas yang ada di vaginanya cuma berasal dari kencingnya sendiri.

Arman menyentak Andrea dengan keras, seakan ingin menghukum gadis itu karena berusaha lari dari mereka, walau sebenarnya itu merupakan jebakan mereka sendiri. Dan andrea hanya melenguh kecil ketika merasakan semburan sperma Arman membasahi rahim mandulnya...
Arman memandang tubuh Andrea dengan perasaan puas,
'Sekarang giliran tukang kebun kita yang akan menghukummu', kata Arman sambil jari-jarinya di masukkan dalam vagina Andrea dan mulai mengaduknya dengan liar.
'Dan ini hukuman terakhirku untukmu saat ini' geram Arman sambil mengubah tangannya jadi kepalan dan menghujamkannya dengan keras ke dalam vagina Andrea. Andrea tersentak lalu pingsan....

Andrea terbangun karena mencium aroma busuk dekat dengan hidungnya, kepalanya terasa pusing. Ketika ia sadar penuh ia terkejut, karena tergantung terbalik di atas sebuah lubang yang penuh dengan....
Andrea menjerit kepalanya hanya berada sekitar setengah meter dari lubang penampungan tinja. Tubuhnya terikat rantai tergantung terbalik, dan kedua tangannya terikat membentuk siku di punggungnya.

'Menjerit terus pelacur' ejek tukang kebunnya, 'aku yang akan menghukummu sekarang'
'Ampun, tuan..., ampun... saya salah... budakmu salah... ampun' Andrea menghiba sejadi-jadinya, bahkan ia rela menyebut dirinya sendiri seabagai budak demi kehidupannya
Tukang kebun menekan tombol remote di tangannya, derak rantai terdengar. Andrea histeris karena tubuhnya menurun, aroma tinja mulai menyengat, tukang kebun itu tertawa melihat usaha Andrea menghindari tinja itu, geliat tubuhnya menjadi atraksi tersendiri bagi dirinya, namun tetap hal itu percuma.
Andrea meraskan kulit kepalanya menyetuh tinja itu, ia memejamkan matanya menahan nafas dan menutup mulutnya.

Tukang kebun itu membiarkan kepala Andrea terbenam dalam tinja sampai sebatas tenggorokannya, menunggu beberapa saat, lalu menaikkan rantai itu.
Andrea terbatuk batuk mencari udara, hidungnya tertutup tinja.
'Ampun...' jeritnya, 'ampun...' dan karena frustasinya, Andrea menjerit 'lepaskan aku bajingan!'
'Aku bajingan?' jawab tukang kebun itu santai
'Bu.... bukan tuan....' gagap Andrea menyadari ia baru saja memberi kalasan buat tukang kebun itu untuk menyiksanya lagi, dan benar saja
'Ampun tuan!' seru gadis itu panik, rantainya berderak lagi, ' hamba yang bajinga, hamba yang baj...mmmhffgghhh'
Kalimat Andrea terputus karena kepalanya lagi-lagi tertbenam dalam tinja, bahkan kini tukang kebun itu membenamkan Andrea sampai batas ulu hatinya, membiarkan payudara indah gadis itu terbenam juga dalam tinja.
Si tukang kebun membiarkan Andrea lebih lama dalam kubangan tinja itu, memastikan gadis itu sesak nafas dan...
glup...glup...glup.

Tawa tukang kebun tadi membahana seiring naiknya tubuh Andrea, yang kini megap-megap dan meludahkan kotoran yang tertelan tadi sebisanya.
'Nah pelacur' kikik tukang kebun riang, 'apa kamu mau aku benamkan sampai vaginamu?'
'Ja...jangan tuan... ampun... hamba lakukan apapun tuan' hiba Andrea yang menggigil ketakutan mendengan ancaman tukang kebun.
'Kamu mau kasih aku apa, biar vaginamu aman?'
Andrea diam, dan itu langkah yang salah....
Derak rantai terdengar lagi, dan Andrea menyerah
'Entot aku tuan... entot aku... entoooot' teriak gadis itu, ketika cairan tinja itu sudah sampai di batas hidungnya.

Andrea bernafas lega ketika akhirnya ia diangkat lagi, namun ia terlalu cepat senang, karena kemudian tukang kebun mengambil selang pemadam dan dengan kekuatan penuh menyemprot Andrea yang langsung gelagapan menahan dingin dan nyeri yang disebabkan semprotan air bertekanan tinggi itu.
Lalu tanpa belas kasihan, tukang kebun itu langsung memperkosa mulut Andrea, memaksanya mendeepthroath penisnya, sambil vagina dan anusnya dihujam pentung polisi.
Andrea kesulitan bernafas karena perlakukan brutal itu, namun tukang kebun tak perduli. Dengan santai ia memperkosa mulut Andrea sampai akhirnya Andrea harus menerima semburan sperma di mulutnya dan langsung masuk ke perutnya, dan kembali gadis itu pingsan....

Andrea terbangun karena merasakan sentakan penis di anusnya. Ternyata satpam sedang menyodominya dengan brutal, di atas seekor kuda yang diarahkan ke sebuah gua di dekat villa itu. Sentakan demi sentakan mengiringi sodomi yang menyakitkan yang dialami Andrea karena selain karena gearakan kuda itu, si satpam menambahkan aksesoris kondom duri, yang menyelubungi batang penisnya.
Dan ketika merka tiba di mulut gua si satpam memuntahkan spermanya dalam anus Andrea.
Andrea bersukur karena tentunya kini satpam itu sudah puas dan mereka akan kembali ke villa. Namun salah, Satpam itu menyeret Andrea ke dalam gua dan Andrea terkejut ketika melihat ada sebuah penjara, dan Andrea lebih terkejut melihat ada banyak tahanan dalam kondisi lusuh dalam penjara itu.
'Mereka sudah lima bulan belum menjamah tubuh perempuan' bisik Satpam itu dengan santai, 'dan kamu akan melayani mereka semua'
Andrea coba memohon sambil menghiba, 'jangan tuan... jangan...entot saya sampai puas tuan, sodomi saya... asal jangan masukkan saya ke sel itu....'
Namun Satpam itu tak mendengarkan permohonan Andrea, tubuh lemah gadis itu diseret dengan mudah, dan dilemparkan mauk ke dalam sel.

Segera saja tubuh telanjang Andrea menjadi sasaran tangan kasar para tahanan yang kasar dan dengan aroma tubuh yang membuat Andrea mual. Jelas kalau para tahanan itu belum mandi bahkan sampai berminggu-minggu. Jilatan, remasan, ciuman, gigitan, tamparan dan jambakan bertubi-tubi menyerbu tubuh Andrea, sehingga bekas cupangan tapak tangan dan liur benghiasi sekujur tubuhnya.
Mulutnya segera bekerja keras mendeepthroath penis-penis bau itu, betapa mualnya Andrea karena hidungnya tertanam di bulu selangkangan yang apek dan banyak daki, dan mual itu ditambah karena perutnya sekarang terisi sperma demi sperma yang disemburkan penis-penis itu. Lalu perkosaan itu di mulai. tanpa banyak bicara ketiga lubang di tubuh Andrea selalu terisi penis secara silih berganti, mulut, vagina, anus. Beragam cara dan gaya barbar dialami Andrea yang telah lunglai bagai kain usang yang dilempar kesan-kemari dengan liar dan brutal. Bahkan vagina dan anusnya menerima fisting secara brutal berulang-ulang dan mulut serta lidahnya harus bekerja keras menjilati anus para tahanan itu. Perkosaan itu berkelanjutan, terus dan terus, dan Andrea di keluarkan dari sel itu hanya karena para tahanan sudah tak mampu lagi berejakulasi, Andrea sendiri sudah pingsan entah sejak kapan...

Andrea tersadar ketika tubuhnya serasa terdesak dan terdorong-dorong, dan ia menjerit ngei ketika mendengar suara lenguhan babi, ternyata tubuhnya berada dalam kandang babi yang bau, kotor dan berlumpur.
'Sudah bangun, lonte?'
Suara nyonya Susi mengagetkannya, Andrea beringsut menjauh menghindari gerombolan babi, namun cambukan Susi membuatnya beringsut ke arah yang salah, bahkan makin mebuatnya terhimpit gerombolan babi.

Susi kemudian memaksa Andrea bekerja keras dalam peternakan itu, ia harus memindahkan tumpukan besar jerami, membersihkan kotoran di kandang sapi, memberi makan babi dan pekerjaan berat lainnya.
Andrea hampir pingsan kelelahan, ketika Susi berkata, 'lapar pelacur?'. Andrea mengangguk lemah.
Lalu Susi mengikat Andrea dengan dengan kuat di salah satu tiang di kandang itu dalam posisi berjongkok, dan mengikat rambut panjang Andrea ke arah tiang hingga mendongak, lalu susi memasukkan selang kotor ke dalam mulut Andrea sampai jauh masuk ke kerongkongannya, dan meletakkan corong besar di ujungnya.
Kemudian Susi membawa sebuah ember besar, dan berkata, ' ini makannanmu, campuran sperma da sisa makanan seluruh hewan di kandang ini'. Dan dengan santai mulai menuangkan isi ember itu sedikit demi sedikit dengan perlahan.

Perut Andrea sedikit membuncit menerima cairan 'bubur' itu, bahkan akhrirnya karena sudah tak sanggup menampung dan menahan mualnya, Andrea tersedak dan memuntahkan cairan tersebut hingga menutupi wajah, dan tubuhnya, belum lagi anusnya yang mengeluarkan kotoran tak tertahan karena dirinya mengejan menahan mual.
Susi tertawa terbahak-bahak melihat kodisi Andrea yang hancur-hancuran itu, lalu Sausi menyeretnya ke luar kandang, mengikat lehernya dengan tambang rami dan menahannya di sebuah pasak, kemudian susi mengambl selang dan menyemprot sekujur tubuh Andrea, Andrea dimandikan seperti seekor anjing, disabuni dengan sabun colek dan dikeramas dengan deterjen.

Namun semuanya belum berakhir, Susi mengikat tubuh lunglai Andrea di sebuah palang alat yang telah diposisikan sedemikian hingga tubuh Andrea seperti membungkuk dengan posisi berdiri agak menungging dan kaki menjinjit.
Andrea pasrah dengan apa yang akan terjadi, namun ketika mendengar suara ringkik kuda di belakang tubuhnya, Andrea berteriak histeris,
'Ampun nyonya, jangan kuda, jangan kuda! Anjing saja nyonya, anjing saja...' Racau Andrea menghiba,
Susi tertawa seram sambil berkata, 'Semua binatang di peternakan ini akan merasakan tubuhmu lonte, nah sekarang mereka dulu'
dan Jerit Andrea membahana ketika penis besar kuda stalion itu merobek vaginanya dengan kasar bahkan sampai memborbardir rahimnya yang mandul itu.
Andrea dapat melihat darah mengalir dari vaginanya yang terluka parah, namun ikatan tubuhnya membuat dirinya tak bisa berbuat banyak kecuali terhentak-hentak mengikuti hujaman penis stalion itu.

Susi berbisik di telinga Andrea yang pucat pasi menahan siksaan itu, 'Sesudah ini masih ada lima kuda stalion lagi sayang... enjoy', Andrea yang sudah lelah akhirnya pingsan terutama ketika ia merasakan penis stalion kedua mulai memperkosanya dengan brutal.

Ketika terbangun ternyata dirinya berada dalam ruang home theatre villa itu yang sangat nyaman, reflex tangan dan kepalanya menoleh dan meraba vaginanya. Andrea mendesah lega, vaginanya kembali utuh, walau iapun tahu kalau itu artinya ia akan selalu kesakitan ketika merasakan penetrasi karena akan seperti kehilangan keperawanan pertama kali, bahkan lebih sakit.
Tawa para penjajahnya menyadarkan nasibnya yang berakhir sebagai budak sex...
'Memek lo, utuh lagi, kan? hahaha' ejek Arman,
'Huh, kamu untung karena kang Arman seneng memek peret sehingga kami minta dosis yang paling maksimal dari profesor', omel Susi yang nampaknya ingin sekali vagina, dan anus Andrea tak bisa normal kembali.
Dan Arman melanjutkan kejutan demi kejutan buat Andrea, ia berkata
'Kamu tentu bingung darimana kami punya uang untuk semua kemewahan ini, ini jawabannya.' katanya sambil menekan sebuah tombol

Andrea melihat layar besar home theater itu menampilkan situs hardcore online dengan system pay per view dan ia terkejut karena ternyata semua rekaman pelecehannya dari saat pertama ia menjadi budak mereka di upload ke situs itu. Andrea benar-benar hancur, ia tak menyangka kalau pelecehannya dijadikan pemasukan utama penjajahnya bahkan kenyataan kalau dirinya masuk dalam top five download tidak membuatnya bangga, malah makin terpuruk, karena makin bayak orang yang telah menyaksikan penghinaan pada dirinya. Terlebih ketika ia melihat bayak orderan mengenai cara penyiksaan dan pelecehan sexual yang disarankan para netter.

Andrea makin tak bisa berkutik, ia tak berani lagi untuk merencanakan melarikan diri atau minta tolong, karena ia tak tahu siapa saja yang mendownloadnya, bahkan bisa-bisa ia dinikmati lebih banyak orang lagi yang menganggapnya sebagai onggokan daging dengan tiga lubang, yang hidup sebagai penampungan sperma bagi siapa saja yang menginginkannya. Belum lagi ancaman Arman dan teman-temannya yang akan membunuh semua keluarganya dan mengganti Andrea dengan saudara perempuannya sebagai budak mereka.

Andrea benar-benar pasrah, ia terduduk bersimpuh meratapi nasibnya. Kini yang diharapkannya para penjajahnya bosan dengan dirinya dan meninggalkannya.
Namun untuk sekarang tak ada yang bisa dilakukannya, selain dengan patuh mulai mendeepthroath penis tuan Arman, tukang kebu dan satpam, serta jilat vagina nyonya Susi, dengan aksesoris strap baru dilehernya, dan melayani mereka sebaik-baiknya sementara para penjajahnya asyik menonton rekaman pelecehannya.
Kisah perbudakannya masih akan berlangsung sangat lama...
Lama sekali...

End

Thursday, January 15, 2009


Me VS Sandra Dewi
Sandra Dewi tertunduk lesu di hadapan ku, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca, namun ia harus menahan tangisnya atau kesedihanya akan terlihat oleh pengujung cafe tempat rendezvous kami berdua.
Selembar foto copy kertas bermaterai dan selembar kertas berisi neraca di hadapan gadis manis itu yang menyebabkan matanya basah. Perjanjian hutang piutang ayahnya denganku serta perhitungan hutang dan bunga yang telah disepakati.

Sandra tak menyangka kalau ayahnya bisa berurusan denganku, well, perjanjian itu memang jebakanku. Aku bisa melihat kalau gadis d ihadapanku ini berbakat jadi bintang besar ketika pertama aku melihat penampilan perdananya di layar kaca, dan aku ingin merasakan tubuhnya, bahkan lebih dari itu, aku ingin ia menjadi mesin penghasil uang pribadiku baik melalui 'jalur normal' maupun side job yang aku siapkan untuk gadis ini.

Aku sengaja menjebak sang ayah dalam bentuk investasi berjangka, serta memberikan membership untuk private gambling club yang aku kelola. Dan jebakan paling kuno yang aku terapkan pada ayahnya yaitu dengan membuatnya 'menang' terlebih dahulu sebelum aku melumatnya hidup-hidup, haha.
Dan sekarang, Sandra Dewi tak bisa berbuat banyak, karena tanda tangan sang ayah tertera dikedua lembar surat it, serta satu copy surat lain yang aku gunakan untuk menenggelamkan harapan gadis itu untuk berkelit. Satu lembar surat pernyataan sang ayah yang membuat Sandra harus bersedia melunasi semua hutang sang ayah dengan cara apapun juga di bawah komandoku.

'A...aku tak mau membayar hutang ayahku... perjanjian itu tidak sah karena aku tak ikut menandatanganinya' elak Sandra padaku, well well, boleh juga.
'Oke, kalau kamu tak mau,' jawabku santai, 'aku akan menemui ayahmu, dan meminta adikmu untuk menggantikan kamu membayar hutang, kalau adikmu pasti mau menyelamatkan ayahnya.'

Mata Sandra mebelalak, ancamanku mengena.
'Jangan sekali-kali kaku ganggu adikku, bajingan,' desisnya geram
'Hei hei... it's your choise, you decide!'
Sandra Dewi, memandangku dengan pandangan geram, dan jijik. Namun kartu as ku sudah ku mainkan, dan gadis itu tau, pilihannya ada pada dirinya. Maka dengan suara bergetar menahan geram Sandra berkata
'Baik, akan aku penuhi permintaanmu.'
Gotcha, namun aku tak mau menunjukkan wajah terlalu girang,
'Maaf Sandra, tetapi seperi kamu bilang, kalau kamu tidak tanda tangan semuanya tidak sah' ujarku santai sambil menyerahkan selembar surat bermaterai yang mengunci Sandra dalam cengkramanku sampai seluruh hutang ayahnya lunas - yang dalam jebakanku berarti untuk selamanya - hahaha.

Now, she's completely at my mercy. Tanda tangan di atas materai sudah membuatnya menyerahkan dirinya sepenuhnya dalam genggamanku. Aku memandang ekspersi wajahnya yang berbaur antara benci, takut, sedih dan kecewa. Wajah cantiknya memerah menunjukkan ekpresi yang berkecamuk tadi, dan ketika ia menundukkan wajahnya tanda kekalahan dan penyerahan, aku melihat tetesan air mata membasahi meja.

Aku memberinya tissue dan membiarkannya terdiam sesaat sebelum aku mengajaknya pergi. Sebenarnya aku bisa saja langsung memulai aksi gilaku, namun aku ingin melakukannya perlahan, aku ingin memakan jiwanya sedikit demi sedikit, hingga tak ada lagi kehormatan yang tersisa pada dirinya.
Kemudian kami keluar dari cafe itu seperti tak terjadi apa-apa, aku membiarkan Sandra jalan terlebih dahulu dengan sebelumnya kau berikan sebuah catatan yang harus dia patuhi. Aku tahu dia tak akan macam-macam, karena semua jalan untuknya sudah aku tutup, aku memperhatikan Sandra berjalan lunglai, memaksakan tersenyum dan memberi tandatangan pada para penggemarnya, lalu aku melihat ia masuk ke salah satu gerai underwear yang terkenal, memilih pakaian dalam sexy seperti yang aku tulis padanya dalam daftar itu, well well, seleranya boleh juga, karena aku hanya meminta dia membeli pakaian dalam sexy, namun ia memilih yang super hot.

Kemudian aku juga memintanya membeli beberapa pakaian yang akan aku pergunakan untuk persiapannya, menjadi sesuatu yang sudah aku rancang dengan baik. Hei, aku ngga mau rugi!

Now, pick her up at the lobby, aku membawa kendaraanku ke daerah Ancol, untuk mengambil yacthku, aku bisa melihat wajah Sandra yang terheran-heran melihat semua yang aku miliki, ia berkata,
'Dengan segala yang kamu miliki, tak bisakan kau memutihkan hutang keluargaku? Kami akan sangat berterima kasih padamu, berhutang budi padamu... kami'
'Kalian memang berhutang, dan kamu akan membayar!' kataku ketus, 'Dan bila aku memenuhi permintaanmu, aku tak punya apa-apa sama sekali, now shut up, and board that yatch'
Aku mengemudikan yatch itu dengan mantap, sambil melihat Sandra Dewi termangu mengucurkan air mata di dek kapal itu.

Kami berada di tengah lautan, dan aku mematikan mesin yatch ku, aku ingin memulai menghancurkan haga dirinya hingga pada akhirnya ia akan tuduk padaku seutuhnya. Sanrda Dewi memalingkan wajahnya ketika aku datang menghampirinya, ia seakan sudah tahu kalau kehancuran dirinya sudah dimulai.
'Buka bajumu...' perintahku. Hmmmmm, how sweet to see tears run down from her chick, aku tahu kalau Sandra ingin melompat ke laut, aku hanya berkata ringan,
'Silahkan lompat, kamu liat kalau kita dikelilingi hiu? Lagi pula aku masih bisa menggunakan adikmu untuk pembayar hutang.'

Sandra Dewi limbung, ia tak berdaya, akhirnya ia menurut juga. Perlahan ia membuka bajunya, damn kulitnya benar-benar mulus, lalu celana jeansnya, dam ternyata underwear hitam benar-benar serasi dengan tubuh mulus itu, but not yet....
Dan ketika penutup terakhir itu terbuka, aku hampir tak kuat menahan diri, tubuh yang sangat indah, bungkahan payudara yang montok dan sekal, pinggul yang bulat dan sexy, kaki yang jenjang, perut yang rata, dan wow, vagina terawat tanpa sehelai bulu menutupinya.
Kemudian aku melemparkan sebotol sunblock pada Sandra, dan memintanya mengenakan sunblock itu. Badannya jadi mengkilat menggairahkan, lalu aku dengan santai memintanya untuk masturbasi di hadapanku di atas geladak yatch.

Sandra terlihat sangat terhina, aku tau seumur hidupnya ia belum pernah memamerkan tubuh bugilnya di hadapan lelaki, namun sekarang aku memaksanya untuk bermasturbasi,namun Sandra tahu kalau ia tak punya pilihan, perlahan ia mulai meremas payudaranya, membelai lembut tubuhnya, menelusuri tiap jengkal tubuhnya, dan mengusap vagina serta clitorisnya. Aha, she's a virgin allright, dia tidak memasukkan jarinya ke dalam vagina. Perfect.
And i hope some hidden cam yang aku pasang akan memberikan hasil yang baik untuk perjalanan karir baru gadis ini.

Sandra tergolek lemas setelah orgasme panjang yang tapat ditahannya melanda, lalu aku membiarkan terlentang membentuk posisi x seperti itu, di geladak , lalu mulai menjalankan kembali yatch ku, yang kali ini dengan perlahan, aku ingin membiarkan kulit gadis manis ini sedikit berkenalan dengan terik matahari dan angin laut yang sudah lama ia tinggalan di kampung halamannya belitung, aku biarkan ia kemudian meringkuk membentuk bola dan kembali terisak seperti ingin mengutuki nasib buruknya.

Sesampainya kami di private island milikku, aku membawanya ke villaku. Aku tersenyum penuh kepuasan melihat tubuh Sandra yang menggigil hanyatertutup bikini two piece super hot, super mini yang aku minta ia beli. Memasuki villa, aku meraih tangannya, aku tarik dia dalam pelukanku, aku rasakan tubuhnya bergetar akan penolakan yang harus di tahannya. Aku peluk dia dari belakang dan aku bekata lembut di telinganya.
'Kamu akan membayarku dengan tubuhmu seutuhnya. Bukan saja melalui karirmu sebagai entertainer tetapi juga untuk karirmu yang lain.'

Sandra Dewi menegadah menatap langit-langit villaku, aku bisa merasakan getaran karna isak tangis, namun aku tak perduli, aku mejilat lembut cuping telinganya, mencium lehernya, merangsangnya. Aku memeluknya erat sambil aku jilati leher jenjangnya, membuatnya menggeliat mencoba menghindar. Kemudian aku berbisik lagi.
'Aku akan jadi trainer kamu mengenai cara memuaskan pelangganmu, apa yang mereka ingin, apa yang mereka akan lakukan untuk meraih kepuasan. Aku kan mengajarimu untuk memuaskan semua pelanggan, tanpa penolakan sama sekali.'
Aku membiarkan Sandra menggelosor terduduk di lantai, membiarkan semua kata-kataku terserap, ia milikku, assetku.

Setelah aku lihat Sandra sudah bisa menguasai dir, aku memintanya untuk merapikan dirinya, lalu aku mengajaknya berjalan di pantai berpasir putih di pulauku. Aku membawa kameraku dan mulai mengabadikan tubuh cantik Sandra dalam jepretan kamera.
'Tiap pelacur memiliki portfolio,' ujarku sembarangan, 'dan ini akan jadi portfoliomu.'
Well walau aku tidak menjadkan fotografi sebagai main income ku, sure hell aku punya feel tentang momment yang tepat, sudut yang baik dan good natural lightning. Dan itu semua tanpa meminta gadis itu berpose.
Beragam momment dan pose Sandra telah terkam terutama ketika tubuh nya terekspose sempurna. Looks wonderfull.

Sekembalinya di villa, hari telah jauh senja, aku membiarkan dirinya membilas tubuhnya, lalu hanya berbalut handuk tanggung, aku meyuruhnya mendatangiku di depan perapian. Siluet tubuhnya oleh cahaya api membuatku kembali mengabadikan gadis itu dalam kamera, sebelum aku benar-benar tidak tahan.
'Sandra, sebagai pelacur, kamu harus sepenuhnya pasrah dengan keinginan customermu. Kalu mereka tidak puas, kamu tidak akan bisa bayar hutang, dan semakin lama bunganya akan semakin tinggi, hingga gabungan kamu dan adikmu belum tentu dapat melunasinya dalam waktu dekat.'
Sandra kembali berurai air mata mendengar penjelasanku, biar saja ia menangis. Lebih baik ia menangis sekarang daripada di depan client.

Aku kemudian meminta Sandra untuk membuka celanaku dengan mulutnya, matanya membelalak karena melihat penis pria yang ereksi sempura untuk pertama kali tepat di depan wajahnya yang kini memerah karena jengah.
'Ayo pegang,' perintahku, dan aku menggigil kenikmatan karena merasakan tangan lembut Sandra memegang penisku, damn, dia benar-benar harus dilatih
Aku mengajarinya cara mengocok dengan benar.
Aku bisa melihat ekspresi jijiknya ketika lidahnya menjilati penisku, kantung zakarku, bahkan Sandra sampai muntah kecil ketika aku memintanya menjilati sunholeku.
Aku santi saja, aku memintanya untuk mengepel muntahannya, sebelum kembali memintanya menjilati anusku sambil berkata,
'Beberapa tamu kamu akan berbuat lebih dari ini Sandra, mereka akan menduduki wajamu, memaksa mulutmu membuka lebar di anus mereka, dan well... kamu akan tau sendiri nanti kelanjutannya.'

Entah karena takut akan penjelasanku atau takut aku memberinya pada tamu seperti itu, Sandra makin lancar menjilati sunholeku, selangkanganku, kantung zakarku dan penisku, lalu aku memintanya mengulum penisku dikombinasikan dengan kocokan.
Lalu aku memintanya melepaskan kocokannya dan aku menekan kepala Sandra dalam-dalam hingga dahinya menyentuh abdomen bawahku.
Aku biarkan ia megap-megap kekurangan oksigen, meronta minta dilepaskan. Aku memberinya afas sejenak tanpa melepaskan kepala penisku dari dalam mulutnya.
'Kalu pelayanan ini semua tamu akan memintanya Sandra, mereka ingin penis mereka masuk dalam mulutmu sampai jauh ke tenggorokanmu.' seruku sambil menekan kembali penisku dalam-dalam.
'Mereka ingin mentetubuhi mulutmu dengan liar' ujarku terputus-putus sambil mememompa mulut Sandra dengan kasar
'Mereka ingin kamu....', darn, aku tak tajhan dan argh, aku tak kuat lagi, mulut Sandra sangat sensasional, sungguh nikmat. Aku bisa melihat gadis itu tersedak menahan kemudian terpaksa menelan spermaku, sementara ada sperma yang keluar dari hidungnya seperti ingus ketika ia tersedak tadi, dan sebagian meleleh di dagunya.
'Itu...' jawabku terengah, 'yang mereka mau....' sambil terduduk di bantalan empuk di depan perapian, memadang Sandra yang megap-megap mencari udara, dan ketika ia mau mencari tissue, aku berujar, 'lap dengan tanganmu dan jilati, tamu tidak mau spermanya terbuang percuma.' dan dengan tersedu Sandra mengikuti permintaanku.

Hmm nampaknya ia shock, cukup dulu untuk kali ini....
******

Matahari pagi menghantam wajah kami dengan lembut.
Kami?
Ofcourse dong, aku memeluknya erat di ranjangku tadi malam...
Tenang, aku belum perawani dia, aku cuma mau membiasakan dirinya tidur dalam pelukan laki-laki, karena toh nanti akan banyak laki-laki yang mungkin akan tertidur di atas perut Sandra sambil mendengkur.

Kemudian aku mengajaknya ke kamar madi, di bawah guyuran shower, aku memintanya mengoral diriku, menyabuni aku, kembali menjilati sunholeku, yummi.
Kemudian aku memintanya melakukan thai massage dengan dadanya dalam bathtub.
Sekembalinya di kamar aku memintanya meminum pill anti hamil, dan Sandra bergetar ketika menerima pill dan gelas air itu, bahkan sampai kesulitan untuk menelan pil tersebut.

'Sandra, kalau kamu pernah melihat film biru, atau mendengar cerita teman-teman pelacurmu, tentang bagaimana pria merangsang mereka dengan memberikan ora sex, forget it.'
'Tamu adalah raja, dan mereka ingin dilayani bukan melayani', kataku sambil berbaring di ranjang dan mengajari Sandra untuk menggerayangi, menjilat, mencium, membangkitkan gairah laki-laki.
Lalu aku memintanya terlentang di ranjang, aku menyampiran kakinya di bahuku, dan tanpa basa basi langsung menghujamkan penisku ke dalam vagina Sandra.
Jeritannya panjang, airmata mengalir, tanganya mencengkeram erat sprei yang kini bernoda darah.
'Memang sakit,' ujarku santai, 'get used to it, kamu memang tidak ditakdirkan untuk merasa nikmat, tapi kamu akan berpura-ura menikmatinya' dan aku menggenjot Sandra dengan kasar dan liar.
'Mereka sudah membelimu, mereka akan melakukan apapun yang mereka suka dengan tubuhmu, mereka tidak mau rugi'
Sandra terbanting-banting di bawah himpitanku.
'Mereka tak perduli kalau vaginamu lecet, tulangmu sakit, perutmu kram, payudaramu memar, mereka hanya ingin meniduri kamu, melampiaskan nafsu mereka yang diubun-ubun.'
'Yang meraka ingin hanya.....'
Sandra menjerit histeris dan ngeri ketika merasakan semburan spermaku mengisi rahim belianya, ia lupa kalau dia sudah meminum pil anti hamil

Aku membiarkan Sandra meringkuk di kasurku, aku berbisik di telinganya.
'Kamu pasti ingin bunuh diri, silahkan. Adikmu yang akan menggantikanmu.'
'Kamu ingin membunuhku silahkan, anakbuahku akan menghancurkan keluargamu, dan adikmu akan dijadikan pelacur.'
'Kamu ingin kita berdua mati, silahkan. Keluargamu tetap hancur, now you have the choice.'
Dan aku meninggalkannya di kamar.

Aku sedang makan steak ku ketika Sandra keluar dengan tertatih-tatih berbalut bed cover, aku tersenyum senang, karena aku tahu satu bagian dirinya sudah terpatahkan, atau ia akan mengemukakan opsi ke empat.
Aku memberinya tempat duduk, menghidangkan salmon steak dan kembali menikmati steakku sendiri.
Suaranya bergetar lirih ketika berkata, 'aku akan melunasi hutang ayahku dan kemudan akau aku hancurkan kamu'
As i said, option number four.

Dan setelah itu disetiap kesempatan aku mengajarinya tentang total submissivness, all style, doggy, wot, mot, dolphin dan lain lain.
Aku menyetubuhinya di semua tempat di pulau itu, pantai, hutan, sungai, dan di dalam villa, dapur, halaman, gudang, you name it.

Sampai satu hari Sandra datang bulan. Aku bisa melihat senyum bahagia bercampir sinis diwajahnya.
'Kamu tak bisa menyetubuhiku selama aku haid kan?' ejeknya
'Salah' kataku santai,
'Kamu masih punya mulut, kan? banyak tamu yang cuma ingin kamu oral, lagi pula masih ada satu lubang lagi...'
'Tidak...'jerit Sandra, 'jangan di situ... aku tak mau...tolonglah, carikan aku tamu yang normal, bukankah cukup mulut dan vaginaku untuk memuaskan mereka?'
'Sayangnya, Sandra, dengan banyaknya informasi, film serta pergeseran perliaku sex. Your ass is another vagina.'

Setelah beberapa lama ia nampak tegar dan mulai mengikuti permainanku, kembali aku melihat tubuhnya terduduk dan terisak. Here we go again.
Aku membawanya ke dalam villa, aku biarkan ia menguatkan dirinya. Lalu aku meintanya nungging setinggi ingginya, dan membuka belahan pantatnya sendiri selebar mungkin.
Dapam posisi sulit itu, aku memaksanya mengoral penisku terelebih dahulu, sebelum dengan susah payah aku menembus anusnya.
'Sakit, kan', geramku, 'jadi kamu sadar kalau semua cerita tentang nikmatnya sodomi itu bullshit. Kamu akan kesakitan dan kesakitan. Kalau kamu lihat d film BF mereka menikmatinya, thats acting, mereka menggunakan pelumas yang banyak, dan lagi pula lubang anus pelacur-pelacur tu sudah sangat lebar karena sering di pakai, tetapi tamu kamu hanya akan mengandalkan liur, mereka cuma ingin jepitan anusmu. Mereka ingin....'
Aaah nikmatnya ketika aku menyiram usus besar Sandra yang menggeliat kesakitan dengan spermaku.
Sekarang vagina dan anusnya sama-sama berdarah. Hand she had her lesson, ass fuck 101.

Sekarang seluruh lubangnya sudah tak perawan, namun aku terus mendoktrinnya dengan penyerahan didri total, aku memutar film BF 24 jam sehari sambil aku tetap menyetubuhinya, memasang dildo pada saat aku mengumpulkan kembali tenagaku, membuat tubuhnya menjadi sex addict bahkan bersedia melakukan ass to mouth session. Dan aku juga menambah portfolio dirinya, yang ketika aku tunjukkan padanya membuatnya orgasme, karena nude artnya yang tinggi hingga berkesan sangat sensual dan jauh dari porno, namun dapat membangkitkan gairah.
Dan sekarang tanpa sadar Sandra benar-benar mencintai sex, ini memang rencanaku karena aku ingin ia liar di ranjang agar tamunya sangat banyak.

Setelah satu bulan kami di pulau aku bearanjak kephase kedua, pengenalan akan jenis penis yang lain selain penisku dan dildo.
Aku membawanya ke daerah pelacuran di pinggir kota, Sandra tak banyak lagi berkomentar, ia tau kalau ia akan berhadapan dengan pria-pria hidung belang.
Namun sebelum itu aku mau ia membiasakan diri terlebih dahulu, aku memulai dengan menyuruhnya menjadi penari striptease, hingga rasa malu dilihat banyak orang dalam kondisi bugil bisa diatasinya. Hei, tarian bugil ini dilakukan di panggung lapangan terbuka bukan dalam ruangan, hingga seluruh komplek pelacuran itu menonton dam melihat kemulusan tubuh telanjangnya.
Ia harus membiasakan diri dilecehkan, ditawar bagai ayam, digerayangi, menenggak minuman keras dari pengunjung. Ia harus memutuskan rasa malu yang dimilikinya.

Lalu aku memajangnya di pinggir jalan, dan menyuruhnya untuk melacurkan diri, aku menginginkan ia tau caranya merayu laki-laki, memohon untuk disetubuhi, bahkan mengobral harga tubuhnya utuk medapat setoran, rekor terendahnya adalah lima ribu rupiah untuk short time, Good.
By the way, apa aku sudah bilang kalau aku memilih pria yang lalu lalang di hadapan Sandra tanpa ia sadar? Dan kalau akulah yang menyuruh pria-pria itu untuk tahan harga, and oh iya, komplek ini milikku. Hahaha.

Selama satu bulan berikutnya Sandra menjalani kerja praktek, dan karakter pelacur murahan mulai tertanam di dirinya, ia tak lagi malu memajang diri hanya dengan hotpants dan BH, ia mulai tahu cara merayu dan medapat tip lebih, walau itu semua masuk dalam sakuku, dan upah buatnya hanya sperma.
Sandra juga mulai terbiasa dengan live sex show, gangbang, bdsm, dan berbagai jenis aktifitas sex lainnya, pernah dalam satu malam ia melayani dua puluh grombolan preman, pengemis dan pemulung sekaligus yang menginginkan tubuhnya, dan mereka dapat harga diskon.
Sandra terpaksa istirahat seama tiga hari setelah acara itu, namun kini dia benar-benar menjadi budak sex, ia tak pura-pura, ia memang perlu sex.

Rasanya cukup, aku kemudian membawanya ke Singapura untuk melakukan vaginatoplastis, dan selama sebulan berikutnya berlatih untuk memontokkan tubuhnya.
She's ready.

Sandra kini hidup di dua dunia, terang dan gelap. Karirnya terus meroket karena selain memang bakatnya memang besar, produser dan orang-orang penting lainnya puas atas pelayananya di ranjang.
Dan aku senang karena pundi-pundiku makin penuh, kantongku makin tebal. Selain karena uang hasil Sandra melacur, rekaman video dan foto tersembunyi para penikmat tubuh Sandra membuat upeti itu berjalan lancar.
Sandra sendiri sadar kalau dirinya tak mungkin lepas dari diriku, selain karena perhitungan bunga-berbunga, juga karena hutang baru atas perawatan dan fasilitas yang aku berikan padanya. Namun dalam pikirannya ia hanya berharap aku menjauhi keluarganya, lagi pula, she's now really enjoying sex that much. And i can have her for free.

So I'm happy, Sandra is happy, everyone ins happy. So I gues it's a happy ending isn't it?
Well, sekarang waktunya Sandra melayani lagi tamunya, aku antar dia ke Singapura, untuk menemani seorang penyanyi dangdut legendaris kita, sang moralis yang ingin menyalurkan hasrat biologisnya yang t e r l a l u. hahaha

Di pesawat sekilas aku melihat foto pendatang baru di dunia entertainment di cover tabloid yang dibaca Sandra Dewi, time to get that new target. Otakku mulai merencanakan cara menaklukkan gadis itu, dan senyum iblisku terkembang.
Aku memandang Sandra yang jatuh tertidur pulas, membiarkan kepalanya bersandar di bahuku, dan aku menikmati keindahan wajah cantiknya sambil aku nikmati penerbangan ini.
Oh, by the way apa aku sudah bilang kalau sebenarnya ayah Sandra dewi tak berhutang satu sen pun pada diriku? Kenalpun aku tidak. Hahahaha. Sandra, Sandra. You little poor thing.

Dan senyumku makin lebar.

End