Monday, February 22, 2010


Celebrity Nigthmare: Tina Talisa ...

-The preparation-
Ketiga tawanan dengan angan terikat ke belakang itu beringsut ketika pria bersenjata itu mendekati mereka, bersimpuh pada sebelah lutut dan memandang security yang berwajah garang itu.
'good.. kamu tidak takut kematian'

Dua wanita menarik di samping security yang kini terkulai dengan kepala berlubang hadiah tembakan berteriak histeris, terutama ketika percikan darah dan otak pria malang itu menghiasi wajah, pakaian dan tubuh mereka.

Pria itu....
Mendekati wanita yang seorang di antara mereka mampu mengatasi terror itu dan matanya menantang sang pria.
Dengusan nafas memburu wanita itu tertera jelas dari blouse yang bergerak cepat, namun mata sang wanita tetap menantang bahkan ketika laras peredam pistol itu bersentuhan dengan pelipisnya....

'click'...
tawa serak pria itu pecah melihat ekspresi wajah sang wanita dan lonjakan tubuhnya ketika mendengar pelatuk itu bersentuhan dengan body pistol.
'untuk seorang pemberani....'leceh sang pria, 'kencingmu tetap bau...hahahaha'. Dan mata sang wanita bagai ingin melonjak keluar rongganya mendengar pelecehan tentang selangkangannya yang kini basah dan kini dirasakannya membasahi bokong indahnya.
'Now....kamu mau hidup atau...' dan ludah wanita itu yang tak lama terbungkam lakban itu menjawab semuanya.

Dan kini pria itu berdiri di hadapan wanita kedua yang nampak menggigit bibir nya sendiri menahan gairah, dengan tatapan binal ia mendesah...
'I'll do it... let's teach that bitch some lesson...'
Kembali tawa serak berbalut dengus kenikmatan memenuhi ruangan itu ketika pria itu berdiri berkacak pinggang sambil menikmati deepthroath dari wanita yang rela menjadi budaknya itu....

the prep is ready...
Now... show time...
***********

Sirine yang meraung, baling-baling helikopter yang menderu.. ditingkahi pengeras suara polisi yang sibuk mengatur kerumunan masa membuat adrenalin meningkat di udara...

Kaaabooomm!!!!

Ledakan awal di loby gedung itu cukup membuat para penegak hukum berpikir seribu kali untuk mengulangi aksi serbu mereka, dan akhirnya mereka menyadari kalau seluruh gedung sudah dipasangi peledak berkekuatan tinggi.

It's been one whole year... renung pria itu mengingat persiapan yang dilakukan demi terlaksananya hari ini...failure is not an option...
*******

'Lepaskan para sandera... dan kami akan membiarkanmu hidup... kamu sudah terke...shit!'
Mata komandan pasukan itu membelalak melihat sesosok tubuh terjun bebas dari jendela lantai 15...
Dan mayat security garang itu menyentuh bumi....

'Komandan...anda sama sekali tidak berada dalam posisi memerintah...pertunjukkan ini milikku!' gaung suara pria itu memenuhi udara
'Pertunjukan!' raung komandan polisi itu...'Nyawa orang kamu jadikan mainan? brengsek! sekali lagi kamu lakukan itu aku tak ragu-ragu untuk menembak kamu!'

Teriakan seorang manager yang terlempar dari lantai itu membungkam seluruh orang dengan kengerian....
Hening....

'I dare you..', kata pria itu dingin....

Dan kepala polisi itu sadar kalau kini yang dihadapinya adalah orang yang sangat berbahaya...
******

'Now...' seru pria itu memecah keheningan, 'sekarang kita mulai sesi tawar menawar kita....'

'Aha...' pikir kepala polisi itu, 'ternyata pada dasarnya ia punya tuntutan....gotcha'

'Sebutkan keinginanmu, jagoan...kalau masuk akal akan kami penuhi. Namun kalau tidak... berapapun korbanmu...'

Kaaabooooommmm!

Ledakan di lantai dua cukup untuk membuat sang komandan sadar kalau karirnya sudah tamat.....
****
'Apa kita sudah bisa serius?' tanya sang pria sambil memantau pergantian komandan lapangan dengan senyum jahatnya
'Ya, kami siap mendengar tuntutanmu.... maafkan kekasaran kami sebelumnya, cuma kami minta tolong jangan sakiti sanderamu yang lain....' ujar komandan lapangan yang baru.
'Untuk setip kepatuhan akan ada harganya teman...'

'So.. . apa tuntutanmu kawanku?' rayu komandan lapangan itu, 'sebutkan hargamu....'
'Hahaha..my friend' ejek sang pria, 'permintanku sederhana sekali....'

'booom'

'Well at least you've tried' keluh pria itu sambil mengamati komandan lapangan yang nampak geram
'Oke... name it!' sergah sang komandan...
'Aku mau wawancara exclusieve, dengan orang yang saya inginkan... lalu setelahnya maybe, just maybe, aku akan jabarkan tuntutanku.'
*****

Tina Talisa berdiri di antara gedung dan barikade polisi, tangannya bergetar memegang wireless microphone. Ketegangan nyata di wajahnya, menyadari ia yang ditunjuk untuk melakukan 'wawancara exclusieve' itu.
Kilatan blits dan sorot kamera makin memperjelas ketegangan di wajahnya...

Namun keprofesionalannya tergelitik, bahkan jauh di dasarhatinya ada keinginan untuk dapat menaklukkan sang teroris melalui wawancaranya dan menjadi pahlawan.

'Maaf, pak.. sebelum kita mulai wawancara ini apakan bapak berkenan memperkenalkan diri pada para pemirsa sehingga kita bisa lebih saling mendalami satu dengan yang lain...'
'Pangil aku Simon...' suara parau pria itu bergaung kembali dari lantai 15, dan dengan semangat polisi langsung mencari database kriminal yang menggunakan nama Simon...

'Ada... nama terakhir pak Simon?' tanya Tina untuk mengulur waktu...
'Sez'...hehehe...' kekeh pria itu terdengar menjijikkan, dan semuanya tertegun... Tina yang pertama menyadari nama unik itu....

'Pak... anda tidak sedang bercanda kan?' tanya Tina dengan gugup

Tubuh satpam lainnya jatuh berdebum, Tina terhenyak diam...lalu dengan bergetar ia berkata..
'Baiklah Simon...anda sudah menjelaskan niat anda, sekarang apa tuntutan anda..'
'Actually... i'm in the mood of playing.... and I challenge you to win this game.....'
'Dan kalau saya menolak?' tantang Tina dengan lantang, melempar mike dan berbalik meninggalkan lokasi...

Namun baru saja ia melangkah, seorang ibu setengah baya, bersimpuh memeluk kaki Tina dan menangis sejadi-jadinya..
'Tolong anakku, mBak....tolong... dia ada dalam gedung itu...'
Tina berkata dingin...
'Maaf bu...memohonlah pada psikopat di atas sana...barangkali ia akan melepaskan anak ibu....'

Belum habis gema perkataan Tina....
Dan debuman tubuh seorang wanita muda mebuat Tina shock, terlebih desis kemarahan terdengar dari arah gedung...
'Be careful of what you wish for....'

Tina benar-benar shock, terutama ketika melihat ibu tadi berlari memeluk tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa.... meraung mengutuki Tina...
'Kamu bisa menolong dia.... kamu membunuh anakku!'

Pandangan Tina kabur...air mata menggenangi pelupuknya...namun sempat ia melihat pasangan muda yang berpelukan bertangisan....dan lembar foto yang perlahan terlepas dan terjatuh ke aspal membuat Tina jatuh bersimpuh...foto bayi montok.....
Tina berkata lirih...namun pria itu tetap dapat menangkapnya. Thanks to all TV channel yang meliput kejadian ini....
'You win...apa yang harus aku lakukan?'
'Well anything that I asked you to!' tegas pria itu....

Dengan lunglai Tina bangun dan menghadap gedung itu lagi...
'Name it...'
'Pertama....strip!'

Tina tertegun...pria itu baru saja memintanya telanjang bulat di depan banyak pasang mata...pria itu ingin melecehkannya....namun..
Bergetar tangan Tina membuka kancing kemejanya dan membiarkan tubuh atasnya terbuka terekspose mentari hanya berbalut bra itam berenda yang sexy...
Kemudian celana jeansnya tercampak, dan kini Tina bisa merasakan kalau banyak tegukan liur mulai terdengar...

Komandan polisi maju, menutupi tubuh Tina dengan jaketnya...
'Bajingan...aku tak bisa membiarkan kegilaan ini berlanjut...'

'Hahahaha, I can commander... dan hati-hati...tidak semua orang sesuci kamu...'

Blam...

Tina histeris ketika percikan otak sang komandan bertebaran di wajahnya.....
'Now... shall we continue.... banyak orang ingin melihat ketelanjanganmu Tina...'
Pria itu sama sekali tidak membiarkan Tina pulih dari shocknya, justru menambah beban psikologis sang presenter hingga takluk sepenuhnya...
Tina sadar kalau perkataan pria itu benar...

Banyak orang yang ingin melihat dirinya dipermalukan, ditelanjangi-kiasan maupun harafiah-. Dan Tina sadar kebenaran ucapan pria misterius itu, karena nampaknya hanya sang komandan yang berani bertindak, sementara yang lainnya berekpresi antara takut, dan bernafsu...
Dan Tina bisa merasakan nafas tertahan, ketika sinar mentari menerangi tubuh telanjangnya, tubuh yang dihiasi bercak darah dan otak sang komandan...

Namun degradasi Tina belum berakhir karena entah bagaimana tiba-tiba kaca-kaca gedung di hadapannya mendadak menyadi sebuah screen besar dan ketelanjangan tubuhnya kini menjadi sorotan utama, hingga kini hisapan liur tak tertahan yang keluar dari mulut ternganga terdengar jelas...
Tina hanya bisa berharap mimpi buruk itu segera berakhir...

Namun harapan tinggal harapan... ketika kemudian sorang kakek renta menuntun sebuah speda onthel mendekati Tina.
'Neng...ini sepeda pesanan neng Tina...'

Tina tertegun...pria misterius itu pasti mempersiapkan semuanya dengan matang...dan matanya membelalak melihat dua dildo yang menggantikan sadel di sepeda itu....
Dildo yang dimodifikasi hingga akan bergerak naik turun seiring kayuhan pedal..
Lalu lengan kakek renta itu terulur menyerahkan helm sepeda, hand glove dan sepatu sport...
Tina makin kaget melihat keseriusan pria misterius itu....

Tiba-tiba suara pria misterius itu kembali terdengar memecah keheningan..
'Tina...Tina...Tina...where's your manner? Kakek itu sudah berpeluh membawakan kamu perlengkapan olahraga... where's your goddamn grattitude?'
'Te..terima kasih pak..', lirih Tina dengan wajah memerah sambil mengambil perlengkapan bersepedanya...
'Not enough..dear...'

Tina bingung... apa lagi yang diinginkan Simon?
'Lihat peluh kakek itu... setidaknya kamu lap hingga beliau merasa nyaman...'
Dengan bergetar tangan Tina yang kini terbalut glove tadi mendekati wajah sang kakek
'A...a...a...with your breast sweetheart...your breast....'
This guy is a complete pshyco...

Tina menengadahkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya...ia mencoba menahan jatuhnya air mata, serta berusaha tidak melihat wajah nikmat sang kakek renta yang kini terbenam dalam kelembutan payudaranya dan melekatkan aroma peluh di payudaranya....

'Now...now...cukup basa basinya...you still have planty to do babe....'

'Makasih neng... toketnya empuk....hehehe' seloroh sang kakek sambil tersenyum binal menjauhi Tina
Bajingan... kakek renta keparat....semua makian teredam dilontarkan Tina karena penghinan sang kakek yang ternyata seperti apa yang diprediksi Simon.. tidak semua orang itu suci... dan airmatanya pun tak sanggup lagi dibendung...
******

'Ready for your firs task, Tina?'
Tina menghapus airmatanya dan berusaha tegar....
'Simon sez....bersepeda ke peternakan kuda di pamulang!'

Tubuh Tina seakan membeku... bersepeda sejauh itu?....
'Tenang saja sayang... kami akan memantau pergerakanmu....atau mungkin rekan-rekan wartawanmu akan senang meliput secara langsung perjuanganmu hahaha....'
'Oh cheer up Tina... seberapa sering seseorang dalam hidupnya memegang kunci keselamatan nyawa orang lain...'

Tina tersentak...pikirannya kembali pada sosok ibu yang merengkuh jenasah putrinya...foto bayi montok itu....

Tina bersusah payah untuk memasukkan dua dildo itu dke dalam vagina dan anusnya.. bahkan dirinya sampai harus melicinkan kedua dildo dengan liurnya., namun tetap vagina dan terutama anusnya merasa terkoyak karena tubuhnya sama sekali tidak siap untuk dmasuki benda asing tersebut.
Namun teringat nyawa sesamanya, Tina berusaha tegar dan dengan erangan dan desisan perih tertahan, Tina mulai mengayuh sepeda onthel itu...

Peluh membasahi tubuh Tina yang terbakar mentari, vagina dan anusnya memar karena gesekan konstan dengan dildo itu... bahkan beberapa kali Tina terjatuh karena orgasme yang tak dapat ditahannya...ya, walau bagaimana Tina berusaha melawan namun syaraf tubuhnya berkata lain, rangsangan konstan itu jelas membuat tubuhnya mengalami orgasme...Namun, hal itu juga menjadi bumerang bagi dirinya yang kini makin sering meringis menahan perih akibat dipaksa orgasme berkali-kali dan gesekan dildo yang jelas membuat vagina dan anusnya iritasi...
*******
Kaca gedung itu menampilkan perjuangan, kesakitan, dan orgasme Tina dengan gamblang....
Semua terkesima....bahkan yang teralimpun tak mampu mengalihkan pendangan dari gambaran tubuh yang berpeluh itu....
Bahkan kini tanpa disadari sebagian mulai menggesek kemaluan mereka sendiri yang masih terbungkus celana, atau rok...

*******
Mulut Tina meringis dan menganga menahan perih ketika ia beringsut melapaskan vagina dan anusnya dari dildo di sepeda itu. Kakinya bergetar, karena letih setelah mengayuh jauh dan karena orgasme berlarutnya....

Kini di hadapannya nampak seorang joki wanita tersenyum menghina.
'Selamat datang Tina Talisa... tugas keduamu sudah menanti....'

Tina menjerit ketika pantatnya disabet dengan pecut kuda oleh joki itu..
Dengan tertatih Tina melangkahkan kakinya menghindari pecutan bertubi ke pantat, paha dan betisnya, hingga meninggalkan jalur-jalur ungu di kulitnya yang mulus itu.
Joki tadi menerenggut helm dan hand glove Tina hingga kini presenter itu hanya berbalut sport shoes...

'Now bitch...start working...'
Tumpukan jerami di hadapan Tina membuatnya kelu....
Tina mengeluarkan tenaga extra untuk menarik tumpukan jerami pertama...

'On your back... bitch!' seru sang joki sambil menyabet punggung Tina...
Tina kini harus menahan beban di punggungnya dan menahan gatal yang diberikan jerami itu.
'You have to feed all herd of our stalions baby...thirty off them..'

Tina benar-benar lemah, sekujur tubuhnya mulai gatal-gatal karena kini jerami itu telah merasai kelembutan kulit sang gadis terutama ketika Tina harus merngkuh jerami dalam pelukannya untuk memberi makan kuda-kuda itu....
Karea hausnya, tanpa ragu Tina meminum air dari ember minum kuda, namun baru satu teguk yang diminumnya....

Pecutan bertubi membuat Tina berguling melindungi diri, terutama karena joki itu dengan bernafsu memecuti payudara, pantat, vagina dan bahkan wajahnya....
'One more drink... and the baby will go boom...boom'
Tina menggigil antara takut dan kesakitan...
'I'll tell you what you can drink bitch... but not untill you clean up the mess....'

Tina merangka mengikuti sang joki yang menjambak rambutnya...
Bau busuk segera menerjang... dan...
'Clean those shit out of this stable...'

Sang joki mengambil shot gun lalu melempar pendorong kayu pada Tina...
'You're lucky... you don't have to use your hand to do that shit.... now clean it!'

Kini tubuh Tina ternodai oleh kotoran kuda di peternakan itu, aroma busuk itu seakan mau merendahkan martabat sang presenter yang terkenal dengan pertanyaannya yang cerdas itu.
Tangan Tina melepuh karena tak pernah bekerja sekeras ini, namun demi mengingat nyawa yang menjadi tanggunannya.....

'Now bitch...are you thirsty?'
Anggukan lemah Tina membangkitkan binar mata sang joki yang dengan santai berkata
'Just suck on the horses baby... and drink their juice...hahahhaha...'
Dunia seakan berputar bagi Tina....

Ia harus mengoral kuda untuk minum? Mulut yang telah mengeluarkan ribuan pertanyaan, membuat banyak ahli tergagap... kini dihruskan mengoral bahkan bukan penis manusia?
Namun rasa dahaga dan keinginannya untuk hidup membuatnya rela merendahkan diri...
Tina merangkan ke bawah perut stalion dan mulai merangsang sang kuda...lalu dengn perlahan mejilati penis besar irtu, untuk kemudian menghisap-hisap kepala penis yang masiv itu
Semburan sperma itu begitu deras hingga tak bisa tertelan seluruhnya oleh Tina hingga membasahi wajah, dada dan perutnya...

'Not so fast bitch...' kata sang joki sambil meninju perut Tina hingga megap-megap.
'Twenty nine more to go...'
Dan mulut serta tangan Tina silih berganti merangsang tiap kuda hingga berejakulasi, hingga seluruh tubuhnya tertutup sperma kuda, dan dirinya mual karena meminum bergalon sperma kuda.....Di depan tubuh limbungnya ada sebuah intercom, suara Simon terdengar....
'Well done...but still a long shot ... Ready for the third one?'
*******

Sepeda itu limbung... Tina memaksakan kakinya yang lemah untuk mengayuh sepeda itu... ke tujuan berikutnya....
******
Tempat pembuangan akhir sampah di kawasan bekasi....

Perintahnya jelas,
Petunjuk untuk menghentikan kegilaan ini, ditimbun di tempat pembuangan akhir sampah tersebut...
Di mana?

'Have fun babe...hahahahaha'
Tawa menjijikan Simon mengiring keberangkatan Tina menuju lokasi yang dimaksud

Dan kembali sambil bertelanjang bulat, terbakar mentari. Dengan vagina serta anus yang diexpansi dildo. Serta iringan kamera. Tina mengayuh sepedanya...
Kini, di hadapannya terbentang lautan sampah. Aroma busuk menyerang pernafasan sang reporter perutnya mual, namun terpaksa ditahannya...
Ia harus segera mencari petunjuk itu...

Dengan menahan jijik Tina mulai membongkar tumpukan sampah yang menggunung itu, tak lama sebelum tubuh terutama tangannya dinodai sampah-sampah yang bertebaran, bahkan bekas muntahan dan bekas-bekas makanan yang mulai membusuk dan berbelatung. Maka tak lama kemudian Tina mulai sibuk mengusir lalat-lalat hijau yang mulai merubung.

Namun ternyata perjuangan sang reporter masih jauh dari selesai.
Jambakan di rambut panjangnya membuat sang reporter terbanting, ia melihat seorang pemulung perempuan berdiri mengangkanginya.
'Brengsek lu, ya... ngapain lu ngacak-ngacak lapak gua!' bentak sang pemulung...
'Ma...ma..maaf bu... saya mencari sesuatu...saya harus menyelematkan nyawa orang...to....'

Bugh...

Tendangan pemulung tadi menghentikan hibaan Tina...
'Emang gua pikirin.. gua lebih peduli nyawa gua dibandingin nyawa orang', ketus sang pemulung sambil mennedang perut Tina, hingga sang reporter menringkuk kesakitan.
Tina menahan sedih dan pedih, terutama ketika ia melihat rekan-rekan sesama wartaannya tidak membantunya sama sekali malah asyik merekam kemalangannya, bahkan ada yang nekad bermasturbasi sambil melihat penderitaannya..

Tanpa kasihan pemulung itu menginkan wajah kepala Tina hingga terbenam di tumpukan sampah dan berkata...
'Lu pasti nyari tempat buat aborsi, kan?..lonte kaya lu, udah hamil, mau aborsi di sini!' hina sang pemulung...
'Dari pada lu aborsi...mending lu gua kuatin kandungannya, ya...hahahahaha'

Ketika kaki sang pemulung terangkat dari kepalanya, Tina menoleh dan terkejut karena banyak pemulung pria yang menatapnya liar, celana mereka sudah terbuka, penis mereka mengacung...

Tina coba menjauh, namun dirinya sudah terkepung... seorang pengemis menarik kaki Tina yang berbalut sports shoe yang warnanya sudah kusam itu, membentangkan pahanya dan...

Tina menjerit sejadinya ketika penis itu menghujam vaginanya yang masih kering...namun teriakannya tak berlangsung lama, karena ada pemulung lain yang dngan seenaknya menduduki mulut Tina dan memaksa sang reporter menjilati anusnya.
Tina hampir muntah...pemulung itu belum cebok.....

Kemudian pemulung lain memaksa Tina menaiki penisnya... dan jeritan kembali terdengar dari mulut Tina kaetika anusnya disodomi dengan brutal oleh pemulung lainnya. Dan dalam hitunga detik, mulut Tina dipaksa melakukan deepthroath...
Entah berapa banyak dan berapa lama Tina melayani para pemulung itu, yang bahakan dengan kejamnya melakukan double vaginal dan double anal pada dirinya ingga lubang vagina dan anusnya membuka lebar...

Tawa kemenangan samar para pemulung mengiringi kaburnya pandangan Tina yang tertutup sperma dan sampah, serta aroma kencing yang disiramkan pemerkosanya sembarangan di wajah dan sekujur tubuhnya.
Lalu pandangannya teduh...pemulung perempuan tadi kembali menghampirinya...
'Kamu kuat juga lonte.... sebenarnya aku ingin menyimpan kamu untuk hiburan di sini cuma sayang tuan Simon berkehendak lain...'
Tina terperangah... persiapan Simon sampai sejauh ini...
Bahkan di tempat ini...

'Ini tujuanmu berikutnya' ujar pemulung tadi melemparkan sebuah kertas lusuh pada Tina...
'sebaiknya kamu bergegas... waktumu hampir habis... bayi montok.... nyawa dalam gedung....'

Dan dengan tertatih Tina bangkit dan mulai berjalan menjauhi penampungan sampah itu... dan sayup terdengar...'nanti ke sini lagi, ya lonte..hahahaha...kita bikin anak lagi hahahahahaha.'

*****
Aliran kali ciliwung menanti Tina yang sudah setengah sadar berdiri terhuyung. Petunjuk berikutnya jelas.. ia harus berenang menyusuri kali yang terkenal kotor, dan gudang sampah itu sampai ke pintu air dan mengambil petunjuk berikutnya...
Mata sang reproter nanar karena melihat kotornya sungai yang sebentar lagi akan membasuh tubuhnya...

Menguatkan diri, Tina melompat ke sungai dan mulai berenang... dirinya harus mengelakan beragam sampah yang dibuang ke sungai itu, mulai dari samaph rumah tangga, limbah industri, batangan kayu, hingga bangkai anjing, kucing dan tikus....
Belum lagi ketika ia berenang di bawah jamban, kepala dan punggungnya terkena tinja warga sungai yang mendadak berlomba-lomba buang hajat.

Mulut sungai sudah nampak, kini kembali gunungan sampah yang tersangkut di pintu air menghalangi tujuannya meraih sebuah tabung yang terdapat di atas pintu air... bersusah payah Tina melalui gundukan sampah itu...

Tugas terakhir.....

Akhirnya....

Namun....

Mata Tina terbelalak....

******
Rumah sakit jiwa terkenal di Jakarta

Seorang pria berpakaian perawat menyambut kedatangan Tina yang kuyu itu...
'Nona Tina... ternyata gangguan jiwa anda sudah parah...'
Tina hanya terdiam menyadari keadaannya yang memang tak karuan itu, dengan tubuh telanjang...berbalut kotoran beragam sampah dan kotoran manusia yang melekat di tubuhnya, rambutnya....
Bahkan Tina hanya diam ketika perawat itu mengenakan rantai di lehernya dan menarikn bagai hewan ke tengah lapangan menyiramnya dengan selang, memandikannya dengan detergen, bahkan menggunakan sabun colek...

Tina hanya pasrah dengan perlakuakn tak senonoh para perawat yang merabai tubuhnya, mengaduki vagina dan anusnya dengan kasar, lalu menyeretnya ke sebuah bangsal dan berkata...
'Be a good bitch, okay... ujian terakhirmu ada di ujung lorong ini... selamat berjuang!'

Dan dengan semena-mena, perawat tadi menendang pantat montok Tina hingga reporter itu terjengkang.
Di kejauhan Tina melihat kalau di ujung lorong itu terdapat sebuah pilar, dan di atas pilar itu terdapat sebuah remote...

Semangat tina muncul lagi... dia berlari secepatnya ke arah remote itu, namun mendadak, pintu-pintu sel yang berada di sepanjang jalur itu terbuka... Tina berusaha tak meperdulikan itu semua. Namun cekalan di kakinya membuat sang reporter terjungkal. Kaki Tina menyepak sembarangan mencoba melepaskan diri, namun tangan-tangan itu semakin banyak... kini kedua pergelangan kakinya sudah tercekal, Tina berusaha meronta...

Para penghuni ruah sakit jiwa itu, dengan keadaan mengenaskan dan telanjang bulat jelas tidak merasai cakaran, tendangan, dan rontaan Tina, terlebih ketika mereka semua disuntik perangsang dosis tinggi hingga birahi mereka menggelegak...
Tina panik, orang-orang gila itu menguncinya erat, dan mulai menggerayangi tubuhnya, mebasahi tubuhnya dengan liur mereka yang bau... menggigiti payudaranya hingga meninggalkan bercak merah dan ungu....

Tina berusaha meronta, dengan beringsut merangkak ia mencoba mendekati pilar yang nampak makin jauh... terlebih ketika tubuuhnya kembali ditarik dalam keroyokan orang gila yang mulai mengaduk-aduk vagina dan anus sang reporter...
Namun Tina tetap bertahan...nyawa bayi itu...nyawa para sandera...

Tangan Tina beara dekat sekali dengan pilar itu... sementara tuuhnya sudah habis dikerubuti orang gila, yang mulai memaksakan penis mereka masuk ke anus dan vagina sang reporter...

Aku pasti bisa.... selamatkan mereka Tina....selamatkan mereka....

Tangan Tina terulur....

Menyentuh pilar dan....

Bunti desis....

Jebakan....

ubin di bawah pilar itu terbuka dan pilar itu jatuh ke dalam lubang yang ada di bawah ubin.....

'Nooooooo.....' lengking Tina pilu, ketika remote itu ikut jatuh ke dalam lubang....

Bayangan bayi...sandera....bom...nyawa.....

Semuanya berkelebatan di hadapan mata Tina yang terdiam karena shock....
Tak perduli lagi dengan jamaahan tangan... tak perduli lagi vagina dan anusnya diisi penis orang gila...tak perduli lagi ketika mulutnya mulai sibuk mendeepthroath penis-penis menjijikan itu....

Jiwa Tina sudah kosong... ia sudah kalah... dan kini nyawa sandera itu tak tertolong lagi....
Tina tetap diam....sementara pemerkosanya makin banyak...makin liar...makin brutal...
*****
Big screen di gedung itu menampilkan adegan terakhir dengan dramatisnya sebelum...

Semua kaca menjadi putih... dan di tengah display tertera hitungan mundur...
5...4...3...2...1...

Semua panik... mencoba lari semua mencoba berlindung....

dan...

Hahahahahahaha.....

Tawa nyaring sang teroris terdengar....

Semua terdiam, heran, memandang ke arah gedung...

Sebuah kalimat tertampang.....

WHY SO SERIOUS......
*****

Epilog...
Gedung itu ternyata kosong...
Korban yang dibunuh sebenarnya ama dengan julah korban yang ada di gedung...tak ada sandera lain....
Tak ada bom yang lain....

Pasangan yang menangis berpelukan menjelaskan kalau mereka hanya sepasang kekasih... belum menikah... belum punya anak....
Lalu foto itu? foto keponakan mereka.... mereka menangis karena terharu...dan tanpa sadar foto itu terlepas....

Siapakah Simon?...
Kenapa kalimat itu yang digunakan?
Dimanakan dia?
Apakah tujuannya?...

Tak ada penjelasan...
Tak ada kejelasan...

Mungkin benar kata Alfred...
Some People Just Want to See the World Burns...

Sementara di rumah sakit jiwa....
Tina tetap terdiam... membiarkan penis demi penis mengisi vagina, anus dan mulutnya....
Tubuh telanjangnya tetap terawat, karena selain sebagai penampungan sperma para pasien rumah sakit jiwa, terkadang masih ada pelanggan lain yang ingin merasakan nikmatnya tubuh sang mantan presenter kondang, walau mereka datang dalri kalangan rendahan....

Namun tak ada yang berniat membebaskannya
Tak ada yang peduli...tak ada yang iba....
Sang reporter terlupakan.....

End
****

Thursday, February 11, 2010


Nasib Tragis Andrea Lee - Finale: New Slave Chosen

Kepala gadis itu terkulai lemah, tangannya terentang terikat di atas kepala dengan tambang rami ke arah langit-langit ruangan, pergelangan tangan gadis itu memar memerah dan tampak tergores dan rembesan darah membasahi pergelangan tangannya.
Posisinya berlutut di atas marmer, dengan lutut terbuka selebar bahu. Nampak genangan sperma tepat di bawah selangkangan sang gadis, sementara di pahanya nampak lelehan sperma yang mengering yang bersumber dari vagina dan anusnya yang memar dan menganga....

Sayup-sayup gadis itu mendengar suara sepatu yang menghampirinya dan samar dari mata yang tertutup lapisan sperma kering yang memenuhi wajahnya kini ia melihat sepasang high heel boot. Perlahan kepalanya mengangangkat ke arah tubuh yang berbalut gangster girl wardrobe, kepala gadis itu kembali terkulai, namun matanya berusaha menengadah ketika sosok itu berjongkok di hadapannya.

Ia merasa dagunya diangkat. Kini ia bisa, walau dengan samar, melihat sosok wanita di depannya.
'tolong....aku...' desis gadis itu dengan suara parau, tenggorokan dan kerongkongannya terasa panas, karena serbuan penis yang menginginkan deepthroath darinya.
Wanita di depannya memandangnya dengan mimik tertarik, dan dengan senyum iblis yang tak kentara ia berkata
'kamu kenapa sayang.... kenapa kondisimu seperti ini?', desah wanita itu dengan keprihatinan yang dibuat-buat....
Suara parau gadis itu kembli terdengar...
'mereka....memperkosaku...menyakitiku...menyiksaku...'
'siapa mereka sayangku...?'
'entah...entah...demi Tuhan... tolong aku... lepaskan aku...' suara parau itu bercampur dengan histeria....
'shhh...tenangkan dirimu.... kau tak mau mereka datang dan memperkosamu lagi kan?'
Peringatan wanita berambut pirang itu cukup dapat menenangkan gadis itu...
'ceritakan apa yang mereka lakukan padamu...'

Seperti bendungan yang jebol... tanpa menyadari kondisi tubuhnya yang masih berantakan, gadis itu menceritakan apa yang menimpanya...
'entah siapa mereka.... aku bahkan tak sempat mengenali mereka...mereka menyergapku dalam taxi yang aku tumpangi....'
gadis itu terisak, elusan di rambutnya yang kusut masai dan lengket oleh sperma menenangkannya...
'mereka... mereka membawaku ke gedung ini....aku coba melawan.... namun mereka bertiga terlalu kuat buatku.....'
'mereka begitu kejam... mereka sama sekali tak memperdulikan diriku.... aku dianggap penampungan sperma.....'
kembali isak sang gadis mengisi hening ruangan itu.
'mereka menelanjangi aku, membakar pakaianku.....dan tanpa peduli memperkosaku....mereka melecehkan aku...menyamakan aku dengan pelacur bahkan merendahkan aku lebih dari pelacur... mereka buat aku bagai binatang....'

Wanita itu bergetar... kenangan masa lalunya kembali hadir......she knows....
'sakit sekali....' keluh gadis itu menghiba....
'mereka mengoyak-ngoyak vaginaku dengan penis-penis mereka, memaksaku menelan penis mereka....bau sekali bulu selangkangan mereka, masam.....dan mereka... mereka memaksaku menelan sperma mereka...'
mimik mual gadis itu nyata, terlebih menyadari perutnya terisi semprotan sperma yang berulang menyerbu lambungnya...
'dan anusku...mereka membuatku benar-benar bagai binatang.... mereka menyodomiku, lagi dan lagi dan lagi.... sakit sekali... dan mereka memaksaku membersihkan penis mereka....'
'aku....aku....aku makan kotoranku sendiri!'

ledakan tangis itu tak tertahan...
sang wanita berusaha tegar...walau getaran di tubuhnya makin jelas...memory yang mengerikan itu bersliweran....namun seketika itu ia mampu menghentikan sentimentil momment di pikirannya dan dengan sinisme yang tak dapat dideteksi gadis yang tersedu itu, sang wanita mampu membuat gadis itu kembali bercerita...

'dan mereka...mereka sepertinya tak ingin aku merasakan secuilpun kenikmatan... mereka menampari aku, mencambuki aku... meludahi aku..., bahkan mereka mengencingi aku....'
'oh...tolong aku... lepaskan aku....' kembali sang gadis berada dalam histeria....
'sakit sekali....perkosaan ini...hinaan ini....sakit sekali....'

Wanita itu berujar...
'perkosaan bukan untuk dinikmati sayang.... tak ada kenikmatan dalam tiap hujaman penis... perkosaan diciptakan untuk menyakiti....'
'aku tau...aku sakit... tolong.. lepaskan...lepaskan' gadis itu meronta, melupakan sakit di pergelangan tangannya yang makin tersayat....
'shhhh sayang....tenang....atau mereka akan kembali....'
'tolong aku.... selamatkan aku...' lirih sang gadis.....

Tangan wanita itu menelusuri leher jenjang sang gadis, turun ke dadanya yang memerah dan berisi jejak sabetan ikat pinggang... turun keperut hingga berada tepat di atas bibir vagina sang gadis yang masih saja mengeluarkan lelehan sperma....
Wanita itu berbicara bagai kepada dirinya sendiri....
'banyak sekali...bisa hamil...'

'tidak...ooh tidak... demi tuhan tidak.... aku tak mau... tolong keluarkan sperma ini dari dalam rahimku... aku tak mau hamil oleh mereka...' gadis itu panik menyadari fakta yang jelas...walau ini perkosaan, pembuahan tetap bisa terjadi... kembali gadis itu menatap penuh permohonan pada sang wanita....
'i'll do anything... just get this cursed seed off my body....'

Wanita itu tersenyum...
'kenapa? bukankan keindahan wanita dan keutuhan wanita bila bisa memberikan keturunan?'
'damn...' sergah sang gadis yang makin menjadi dalam kegalauannya....
'lebih baik aku mandul daripada hamil benih terkutuk ini, aku....'
'beware of what you're asking for....semuanya bisa terjadi...'

gadis itu menggolak....
'i'll do anything for you if you can make that happen.....'
mata sang wanita berkilat penuh kemenangan....
'oh you will sweetheart....you will...'

Lalu sang wanita melepaskan belenggu sang gadis, dan memapah tubuh lunglai itu menuju sebuah ruangan putih bersih, dengan sebuah meja periksa dokter kandungan.
wanita itu merebahkan tubuh lemah sang gadis, memposisikan penyangga lutut hingga kaki sang gadis mengangkan dan mengekspose vagina dan anus yang memar memerah dan menganga itu dengan bebasnya.
'ini untuk keselamatanmu sendiri' kata sang wanita sambil mengeratkan strap di paha, pergelangan tangan, pinggul dan di atas buah dada sang gadis yang nampak bertanya-taya namun terlalu lemah bahkan untuk menggeliat sekalipun.

Kemudian wanita itu menarik sebuah meja dorong dengan beberapa buah suntikan besar di atasnya, kemudian wanita itu mengambil sebuah suntikan, memandang sang gadis dan berkata...
'kamu benar-benar menginginkan ini?'
anggukan lemah sang gadis menjadi jawaban....
'siapa kamu....sebenarnya' desah sang gadis...
'aku Andrea, Andrea Lee....kamu mungkin tak kenal siapa aku...'
'aku....kenal...'
'shhhhh..'potong Andrea, 'tak usah bicara, aku tau siapa kamu Julie...., tapi kamu tak kenal aku....', lalu Andrea menyelipkan bantalan karet di gigi Julie hingga gadis itu tak lagi bisa bersuara.
Andrea meremas payudara kiri Julie, dan menyuntikkan cairan obat itu tepat melalui putingnya. Julie berjengit, dan membelalak ketika Andrea mengambil suntikan kedua dan meremas payudara kanannya...
Andrea meneruskan monolognya...
'aku tidak menolongmu sayang... aku justru akan menjadikanmu budakku....dan ucapanmu yang menyerahkan hidupmu dalam tanganku sudah menjadi segel...', kembali Julie berjengit karena payudara kanannya menerima injeksi...
'aku sudah melalui semua yang kamu rasakan tadi... itu belum sebeberapa sayang... kamu akan menerima lebih banyak lagi penis dan siksaan....'

Suntikan ke tiga
'kamu akan melayani banyak gelandangan....pengemis...orang-orang terpinggirkan....dan mereka hanya akan membuatmu jadi penampungan sperma.
Julie coba menggoyang tubuhnya dengan percuma ketika buah pantat sebelah kirinya diinjeksi....

'mereka juga akan menyakitimu, karena entah kenapa mereka makin terangsang ketika kamu kesakitan...namun akhirnya aku tau... rontaan tubuh, teriakan teredam. Semuanya menyebabkan kontraksi otot tenggorokan, mulut, vagina dan anus...and damn! they love that...'
Injeksi ke empat...

Kini tangan Andrea bermain di lubang anus Julie yang membuka lebar...
'anusmu tidak hanya akan menerima penis, lubang pembuanganmu ini akan merasakan benda asing lainnya seperti kayu, besi, sayuran, bahkan fisting....'
Andrea nampak sangat menikmati expresi kalut sang gadis ketika injeksi kelima dilakukan pada dinding dalam anusnya...

Julie menggelengkan kepalanya dengan frustasi ketika jemari Andrea membelai vaginanya yang perih itu dan membuka labianya...
'bahkan hewan-hewanpun akan menikmati vaginamu, tubuhmu... kamu akan jadi betina mereka...and that include stalion horses baby....'
Andrea merasakan tubuh Julie menegang ketika daging vaginanya ditembus jarum suntik....

'dan kini, aku memberikanmu berkah sekaligus kutukan. Berkah dan kutukan yang sama yang diberikan padaku....'
'suntikan di payudara dan bokongmu akan membuat keduanya padat dan sekal, tidak akan turun walau diremas, dibetot atau digigiti. sementara di anus dan vaginamu akan membuat kedua lubang penampungan spermamu itu akan rapat seperti perawan lagi bila satu jam kamu tidak menerima penis....'
Julie merasa pusing, pikirannya kacau... bagaimana bisa ia jatuh dalam genggaman wanita psycho ini

Seakan mengerti pikiran Julie, Andrea berkata...
'I'm the one who select you to be our sex slave.... to replace me...hihihi...' kikik Andrea geli...
'Jangan tanya salah kamu apa atau kenapa kami pilih kamu... murni karena ingin... nothing special, anggap saja ini nasib burukmu....'

Andrea lalu beringsut mundur menjauhi Julie yang mulai menggeliat merasakan sensasi kram disekujur tubuhnya...
'ahhh...efek obat mulai bekerja... enjoy...oh by the way... kamu ngga usah takut hamil lagi... semua cairan injeksi tadi mengandung sterilizer terkuat yang pernah ada....'
Suara Andrea mulai sayup dan tak terdengar oleh Julie yang merasakan kesakitan disekujur ubuhnya....
'indung telurmu sudah mati... kamu akan seperti aku Julie....mandul....'
'enjoy your life as slave bitch....'

Gaung tawa Andrea menggantung ditingkahi lenguhan kesakitan Julie yang makin tersiksa hingga tak sanggup lagi bertahan untuk kemudian jatuh pingsan....
********

Ketika Julie tersadar ia mendapati dirinya masih terikat di meja periksa itu, matanya nanar memandang sekeliling dan ia melihat banyak layar monitor yang kini mengekspose tubuh telanjangnya dengan bebas...
Benar... ia melihat vagina dan anusnya kembali rapat seperti saat dia perawan dulu..tapi apa inin yang diinginkannya? Juga bentuk pinggul, pantat dan buah dadanya yang sekal itu...Andrea benar... ini berkah sekaligus kutukan....

'ready sweet heart?'
Julie tersentak, Andrea yang kini telanjang hingga tubuh sexy bagai atlit aerobik profesional itu masuk dalam ruangan bersama tiga orang pria berwajah sangar dan dengan senyum penuh kepuasan dan nafsu....
'Perkenalkan tiga orang yang kemarin ber jam-jam menikmati tubuhmu...kekasihku Arman, dan ini kedua temannya... dan kini mereka akan menjadi tuanmu....'
Keempat orang itu mendekati meja periksa, dan melihat tubuh Julie yang menggeletar antara ngeri, tak percaya dan ketakutan....

Ketika mereka memperkosanya sebelum ini Julie tak menyadari sosok pemerkosanya, namun kini dalam ruangan yang terang benderang itu ia bisa melihat penis-penis tegang dan besar yang beberapa saat lalu merobek tubuhnya teracung dengan jelas...
Sedangkan Andrea tubuh moleknya hanya berbalut straped high heel, dan menggunakan gothick make up serta sebuah bullwhip digenggamannya.
Julie berusaha berontak, namun ikatan tubuhnya sangat erat...

Ketika penis Arman berada di bibir vaginanya, Julie tau kalau horor itu akan berulang kembali.....
'by the way slave...'kata Andrea dingin, 'kamu panggil aku nyonya...'
Jeritan teredam keluar dari mulut Julie ketika Arman menyentak penisnya ke dalam vaginanya yang masih kering itu...
Sakitnya bagai petama kali ia diperawani pacarnya dulu... bahkan lebih sakit karena sekarang ia diperkosa, tanpa cumbuan, hanya hujaman penis....
Benar-benar kutukan, terlebih ketika kedua teman Arman, satpam dan tukang kebun itu meremasi payudara Julie dengan kasar

Dengan tenang Andrea mendekati kepala Julie, ia benar-benar menikmati expresi wajah Julie yang bercampur antara takut, benci, sedih dan pasrah. Andrea menikmati linangan airmata keputusasaan Julie membasahi wajah gadis yang kini terhentak-hentak oleh sodokan Arman...
Andrea lalu menurunkan tingkap meja di bawah kepala Julie, hingga kepala sang gadis terjuntai...

Andrea merenggut gum shield Julie, lalu dengan kasar memasang dental gag di mulut gadis yang dengan lemah coba meronta.
Jerit kesakitan kini terdengar jelas dari mulut Julie yang merasakan mulutnya dipaksa membuka hingga maksimal, sementara vaginanya tetap disodoki dengan brutal...
Andrea tersenyum binal dan berbisik di telinga Julie....
'sekarang kita latih lagi tenggorokanmu....', lalu Andrea melirik tukang kebunya dan mengedip binal.

Suara kumur terdengar dari mulut Julie yang kini tenggorokannya menjadi batu asah untuk penis tukang kebun yang dengan kejam menghujamkan penisnya dalam tenggorokan sang gadis..
Julie gelagapan karena sang tukang kebun dengan sengaja menahan penisnya dalam-dalam hingga buah zakarnya menutup lubang hidung Julie hingga sang gadis kehabisan nafas dan tubuhnya berkontraksi liar yang malah memberikan kenikmatan lebih pada Arman, yang merasaka perasan vagina sang gadis di penisnya.
Tukang kebun itu juga dengan buas merojoki mulut sang gadis hingga sang gadis tersedak dan muntah hingga mengotori wajah cantiknya yang nampak sangat mengibakan...

Kemudian mereka melapaskan tubuh lemah Julie dari meja periksa namun bukan berarti perkosaan itu usai. Masih dengan penis Arman di vaginanya, kini Julie dipaksa berwoman on top dan kembali mulunya di jejali penis tukan kebun, hingga kini bukan buah zakar melainkan bulu kemaluan yang lebat dan masam yang menutupi hidung sang gadis yang nampak frustasi itu...

Dan teror itu bertambah ketika Julie merasakan penis sang satpam berada di mulut anusnya...
Jeritan teredam itu kembali memberikan sensasi kenikmatan bagi penis Arman yang bagai diperas, dan penis sang tukang kebun yang memperoleh bonus vibrator alami di tenggorokan Julie yang kini terasa perih akibat gesekan penis dan teriakan yang konstan terlontar.

Sementara Andrea dia nampak sangat gelisah... nafsunya menggelegak...tangannnya tak henti meremasi payudara dan vagunanya, bahkan melakukan fisting. Namun tetap ada yang krang, dan rasa itu membuatnya frustasi...
Tampak olehnya bullwhip yang kini teronggok di lantai, pandangannya beralih kepergumulan liar dan brutal di hadapannya....
Fuck....
Andrea sangat frustasi... ia ingin sekali merasakan memperkosa Julie... namun ia tak punya penis....
Ah... pantas saja dulu Susi menyiksanya dengan brutal.... itu semua pelampiasan, karena ia tak bisa merasakan sensasi para pria itu...
Memang, ia bisa meminta Julie untuk mengoral vagana dan anusnya hinga ia orgasme. Tapi... it's not the same...
Pantas saja Susi begitu membencinya, menyiksanya dengan kejam... memasukkan beragam barang dalam vagina dan anusnya....bahkan hewanpun menikmatinya...

Dari balik tubuh Julie, Arman memandang Andrea yang nampak bernafas berat, dengan bullwhip yang kini tergenggam erat di tangannya, dada sekalnya naik turun dengan liar...
Arman tersenyum sadis melihat transformasi Andrea...dan dengan anggukan persetujuan darinya...

Julie nyaris pingsan ketika cambukan itu datang, kemudian lagi dan lagi dan lagi....
Punggunya kini tak berbentuk lagi dihiasi jelujur merah ungu, bahkan kulit mulus itu mulai mengeluarkan darah akibat goresan cambuk...
Andrea betul-betul meluapkan emosinya, rasa dendam yang tertahan selama ini dilimpahkannya di tubuh Julie yang kini hanya bisa menggeliat lemah dan hanya sedikit berjengit bila cambukan Andrea mampir ke payudaranya...

Hentakan penis yang makin liar dan cambukan yang makin tak beraturan makin membawa julie ke ambang batas ketahanan dan kesadarannya, hingga akhirnya satu sentakan massal membuat gadis itu pingsan diiringi semburan sperma dan lolongan orgasme empat orang penyiksanya.....
*******
Julie terbangun dengan rasa sakit disekujur tubuhnya... tubuhnya meringkuk membentuk bola hanya untuk sekedar meringankan sakitnya...
Kemudian telinganya mendengar suara desahan, jeritan, siksaan...
Reflex matanya memandang sekeliling dan betapa terkejutnya ia mendapati adegan perkosaan yang dialaminya diputar di depan matanya sendiri...
Julie histeris...

'nice show eh, bitch?'
Julie menatap jalang pada Andrea yang berdiri bersandar di pintu sambil bersilang tangan di dada dan bersilang kaki...
Melupakan sakit ditubuhnya, Julie menerjang Andrea yang dengan mudah mengelakkan serangan sang gadis, malah balas membalas dengan hantaman dan tendangan bertubi-tubi, yang membuat Julie terkapar tak berdaya...

Bayangan Andrea tepat berada di atas tubuhnya...
'perlu seribu tahun sebelum kamu bisa mengalahkan aku, pelacur... terlebih lagi... apa kamu pikir aku tak punya persiapan lain untuk mengalahkanmu?'
Julie melihat remote yang dipegang Andrea dan...

Julie berkelojotan ketika arus listrik menyerang tubuhnya....
'aku sudah meminta agar dalam tubuhmu dipasang konduktor listrik....'
'it will be fun, bitch... i'l enjoy breaking you down and make you my bitch...'
Julie meraung-raung mohon pegampunan...

'relaks bitch... party just nearly begin....' kata Andrea sambil undur diri dari Julie yang bernafas berat mencoba melupakan sengatan listrik tadi...
'you'll lick my pussy...you'll lick my ass hole... and boy' i'll enjoy making you my toilet...really enjoying it...hahahahahaha'

Julie hanya bisa menangis mengingat kini dirinya sudah tak punya harga sama sekali, dan tangisnya makin keras demi melihat satpam dan tukang kebun masuk dengan penis teracung siap mengoyak tubuhnya.....
*****

Andrea memacu tubuhnya di atas penis Arman. Permainan keduanya liar dan brutal, karena kini Andrea hanya bisa merasakan kenimatan melaui sadomasochist...dan untuk tuannya Arman, Andrea ingn sekali merasakan kekasaran sang tuan demi memuaskannya.....
Dan persetubuhan itu makin liar dan brutal sambil ditingkahi raungan Julie yang mereka saksikan melalui layar yang terpasang di sekeliling kamar mereka...
Raungan frustasi ketika Julie diperkosa habis-habisan oleh satpam dan tukang kebun....
Raungan frustasi karena Julie melihat ada labrador, doberman dan herder yang siap menikmati tubuhnya...

Raungan frustasi karena Julie tau...sekarang ialah sang budak.....

End

Thursday, July 16, 2009


Kegilaan Agnes: The best over 24 hours

00.00

Agnes antara sadar dan tidak kertika ia merasa ada sesosok tubuh masuk ke balik selimut yang menutupi tubuh bugilnya, lalu kehangatan tubuh yang juga telanjang terasa melingkupi gadis yang merasa nyaan oleh kehangatan yang datang tiba-tiba ini. Tangan sosok itu memeluk tubuh nya dengan erat dari belakang, hingga Agnes bisa merasakan tonjolan dua bukit payudara yang menghimpit punggungnya.

Tunggu...Payudara?

Tangan Agnes bergerak ke paha sang pemeluk dan...' Damn, ini pinggul perempuan' desah Agnes dalam hatinya, samil mencoba mengenali suara desah sosok dibelakangnya yang kini terangsang oleh jemari Agnes yang telah berpindah ke selangkangannya.

'Mmmmm... kamu nakal, Marni...' desah Agnes sambil menikmati ciuman lembut di tengkuknya dan remasan halus di payudaranya.
'Non, ko' bisa tau?' tanya sosok itu sambil merayapi perut rata Agnes, dan meremasi pinggulnya yang membuat gadis itu mendesah lirih.
'Aku kenal aromamu, Marni, lagi pula body sexy ini siapa lagi yang punya,' desah gadis itu, ketika merasakan jemari Marni bermain di labianya.

Agnes kemudian membalikkan tubuhnya untuk kemudian memeluk Marni. Marni adalah salah satu pekerja di rumah Agnes, umur gadis itu sendiri sudah dua puluh tahun, namun ia selalu santun.
Agnes menyenangi Marni karena selain kebaikan hatinya, Marni juga selalu merawat tubuhnya hingga sebenarnya tubuhnya tak kalah sexy dengan sang nona yang kini, tersenyum nakal padanya dan melumat bibirnya dengan lembut.

'Kamu jail, Mar... kenapa kamu bangunin aku begini?' desah Agnes di sela pagutan bibirnya.
'Aku kangen non, aku pengen ngerasain tubuh sexy non....' lirih Mari sambil mengusap lembut punggung Agnes yang menggeletar karena teangsang.
'Kamu juga sexy, Mar...I like your bodz....' kata Agnes sambil mremas buah pantat Marni, merapatkan pinggul dan tubuhnya, hingga kii payudara keduanya berimpitan, dan puting mereka makin mengeras akibat bergesekan.

Nafas keduanya mulai memburu, gerakan tangan keduanya juga makin liar, jelajah ke duanya makin luas, Agnes menurunkan kepalanya dan dengan gemas melumat payudara Marni yang kian mengeras dan mengacung menantang, punggung gadis itu melengkung hingga payudaranya makin maju dan makin dinikmati oleh Agnes yang dengan gemas, meremas bulatan bokong Marni.
Lidah dan ciuman Agnes menuruni belahan dada Marni, bermain di perut yang rata, lalu dengan lembut menggigiti pinggul Marni juga di lipatan pahanya sehingga membuat gadis itu melejang-lejang kenikmatan.

Jilatan Agnes turun ke paha dalam Marni, yang kini megapit kepala Agnes dengan pahanya, ia menahan rangsangan hebat yang dirasakannya, desahan gadis itu menggila. Namun dengan lembut, Agnes meregangkan paha Marni dan kembali meneruskan permainan lidahnya di paha mulus pembantunya itu, turun ke betis lalu tanpa merasa sungkan, mengisap ibu jari kaki Marni yang notabene adalah pembantunya.

Marni menggeletar hebat, Agnes bisa melihat basahnya vagina gadis itu bahkan sebelum ia melakukan apapun di vagina itu. Dengan lembut Agnes membalikkan tubuh Marni, lalu mengangkat pinggul gadis itu, hingga vagina dan anusnya nampak mencuat dengan indahnya kemudian dengan lembut namun pasti Agnes menggigiti lipatan bokong Marni yang mendesah tertahan menerima rangsangan dahsyat itu, cupangan segera menghiasi lipatan pahanya namun Marni tak perduli, jemarinya memainkan clitorisnya sendiri sementara sebelah lengan lagi meremasi payudaranya.
Marni kembali orgasme ketika akhirnya bibir dan lidah Agnes bermain di vaginanya dengan ahlinya, lidah sang bintang merayapi labia dan menusuk-nusuk vaginanya. Orgasme gadis itu makin menjadi ketika dengan rakusnya, Agnes menjilati lubang anusnya tanpa jijik, bahkan lidahnya ditekan masuk ke dalam rongga anus Marni yang makin kelojotan tanpa daya.

Agnes tersenyum melihat Marni menggeletar kenikmatan oleh permainannya, ia sendiri sama sekali belumon namun orgasme bukan hal yang terutama untuk dirinya. Kepuasan yang diperoleh lawan mainnya itu yang terutama, maka kini dengan tenang, ia menarik selimut menutupi tubuh bugil mereka berdua dan kini, Agnes yang memeluk Marni dengan mesra dari belakang.

Agnes melihat jam
01.00, kemudian ia terlelap.

03.00
Kecupan mesra di bir Agnes mengiringi Marni yang beringsut ke luar kamar sang nona, untuk bersiap melakukan pekerjaannya. Agnes menggeliat malas lalu memutuskan untuk bangun, tak ada gunanya memaksakan diri untuk tidur. Kemudian tanpa jengah gadis itu berjalan santai dalam kamarnya tanpa sehelai benangpun menutupinya sambil mendengarkan musik melalui iPodnya.

Sebuah pelukan ganas mengagetkannya, ia mencoba teriak namun sebuah tangan kekar menahan jeritannya.
'Nnnnnooooon.... maaf.... saya Ujjjaaaaang.' bisik sang penyerang dengan gagapnya.
'Ttttoooollllooong ja..jangan jerit non...tttooollloooong' desak tukang kebunnya lagi.
Agnes mengangguk meyakinkan Ujang, adrenalin gadis itu sudah naik tanpa disadari sang tukang kebun, perbuatannya membuat Agnes on.
Tuang kebun itu perlahan melepaskan bekapan tangannya dan begitu yakin bahwa nona majikannya tak akan teriak, tangannya segera meremas tubuh sang nona dengan kasar dan liar.
'Ssssssaaaayyyya ngga ku kuat pengen ngentot, non. Sa saya liat non ewean sama Mmmmarni.... Sa saya ngga tahan, saya mau nge..ngeheeee.'
Agnes tertawa kecil karena kepolosan tukang kebunnya yang baru berusia tujuh belas tahun itu. Agnes membiarkan saja ujang mencupangi leher jenjangnya, bahunya. Agnes menerima saja remasan kasar sang pemuda di payudaranya. Lalu dengan sedikit kasar Ujang merebahkan Agnes di lantai marmer kamarnya, lalu mulutnya dengan rakus menjilati vagina Agnes yang kini mendesis keenakan.
Gadis itu membantu pergerakan lidah Ujang dengan memainkan clitorisnya sendiri dan meremasi kedua payudaranya yang juga sedang dimainkan Ujang.

Kemudian dengan bernafsunya, Ujang menaikkan betis Agnes ke bahunya dan dengan sekali hentak menghujam vagina Agnes dengan penisnya.
Tubuh Agnes melengkung menerima sodokan itu, desahan kepuasan keluar dari mulut sang gadis yang kini terhentak-hentak seiring sodokan kasar sang tukang kebun.
Lalu Ujang membalikkan tubuh Agnes hingga menungging lalu dengan kasar menghujam vagina Agnes yang mendesah kenikmatan karena merasakan sodokan yang makin dalam di vaginanya. Tangan Ujang sendiri bergerilia di sekujur tubuh sang artis idola yang makin meracau tak jelas. Pemuda itu sendiri tak bisa bertahan lama lagi karena jepitan vagina sang nona seakan meremas penisnya yang pada akhirnya...

Untunglah kamar Agnes termasuk kedap suara hingga lolongan kedua insan yang mencapai orgasme itu tak sampai membangunkan penghui rumah yang lain.
Ujang terduduk kelelahan di lantai yang kini basah oleh keringat dan tetesan cairan cinta mereka berdua, wajahnya menunjukkan kepuasan yang amat sangat. Namun ternyata sang nona masih mempunyai hadiah kecil bagi Ujang yang mampu membuatnya orgasme. Tanpa ragu, Agnes menghisap penis Ujang yang masih setengah loyo, membersihkan sperma yang meleleh di sana.
Ujang mendesah kenikmatan, penisnya yang kini kembali tegang dideepthroath olah sang majikan tanpa ragu. Bahkan tak ada penolakan dari sang gadis ketika dengan kasarnya Ujang menekan kepala gadis itu hingga hidung imutnya tertanam di bulu selangkangannya dengan sukses.
Kepuasan itu begitu hebat dirasakan Ujang ketika dengan sukses Spermanya menyerbu tenggorokan sang gadis yang dengan rakus menghisap habis sperma yang kini meluncur dengan mulusnya ke dalam perut sang gadis.
Agnes tersenyum geli ketka melihat Ujang berjlan tertatih ke luar kamarnya sambil memegagi kedua lututnya yang nampak goyah.

Matanya tertumbuk pada jam di dinding kamarnya, 04.00.

Tanpa repot membersihkan sperma yang melekat ditubuhnya, Agnes membuka laci pakaiannya, mengambil sebuah hotpants putih dan langsung memakainya, hingga lelahan sperma di vaginanya dengan sukses membasahi bagian selangkangan sang gadis dan membuat belahan vagina merekah sang gadis membayang jelas.
Sebuah sportsbra senada menutupi bungkahan payudaranya yang sekal itu dan sebuah hooded sweater dengan belahan samping yang memanjang hingga ke pinggang ikut menambah kesexyan sang gadis yang kini dengan tambahan angkle socks dan sneakers segera keluar dari rumah mewah itu dan mulai berlari kecil untuk memulai jogging paginya.

Jalanan kompleksnya masih sepi, gadis itu berlari dengan santai, butiran keringat mulai membasahi tubuhnya yang berkilat sexy tertimpa temaram lampu jalan.
Agnes berhenti di sebuah pohon besar untuk menarik nafas, ketika gadis itu mendengar langkah kaki menghampirinya. Ternyata tiga orang satpam komplex yang baru saja berkeliling.
Mata mereka jalang melihat Agnes yang berpakaian sangat sexy.
'Eh pecun!' gertak salah seorang dari mereka, 'Ngapain lu jual diri di sini! Sekarang mendingan lu ikut kita ke kantor biar diangkut ke dinas sosial'
Agnes tersenyum binal dan malah berkata,
'Apa bapak-bapak ngga sayang, nyerahin saya ke dinas sosial, dan ngebiarin petugas di sana nikmatin tubuh saya?'
Lalu dengan santai Agnes membuka retsluiting sweaternya, dan membiarkan mata satpam komplex itu menatap perut sixpacknya yang dialiri keringat.
'Gu...gua masih punya iman' kata salah seorang satpam dengan tergagap, Agnes tersenyum dan mendekati orang itu, dan ketika tangannya menyentuh penis sang satpam dari balik celana dinasnya...

'Perek lu..' Jerit sang satpam tak lagi bisa menahan nafsunya. Dengan brutal ia membanting Agnes ke tanah, membuka paksa hotpantsnya, lalu dengan tergesa menurunkan celananya dan dengan ganas mengangkangan paha Agnes lalu menghujamkan penisnya dengan kasar.
'Pecun lu...lonte...gua ento lu...ngghhheeheeee!' racau satpam itu sambil membombardir vagina Agnes, dua satpam lagi tak ingin ketinggalan, dua penis yang sudah ereksi sempurna segera saja berebutan menampari pipi Agnes, yang langsung mengoral kedua penis itu bergantian.
Lalu satpam yang menggenjot Agnes membalikkan posisi mereka hingga kini Agnes berada di atas sang satpam. Sports branya disingkap ke atas, dan segera saja payudara sekalnya menjadi bulan-bulanan satpam itu.

Agnes merasa ada benda tupul yang disodok masuk ke anusnya, Ia menoleh genit dan memberi pandangan binal pada satu satpam yang dengan bernafsunya menyodomi Agnes. Dan kini ke tiga lubang gadis itu penuh dengan penis yang seakan berlomba ingin menghukum sang pelacur yang justru sangat menikmati kebrutalan mereka.
Satpam di vaginanya meledak terlebih dahulu, geletar kepuasannya sangat terasa oleh Agnes yang juga turut orgasme. Satpam itu lalu memberi ruang pada temannya yang mencabut penis dari mulut Agnes untuk kemudian mengaduk vagina sang gadis dengan kasar dan secara sembaragan mengisi rahim gadis itu dengan sperma.
Satpam terakhir mencabut penisnya, ia tersenyum dan mempertontonkan pada Agnes penisnya yang dihiasi bercak kuning kecoklatan hadiah dari anus sang gadis, lalu dengan santai menghujamkan penis itu ke vagina Agnes yang justru orgasme karena pelecehan itu.

Keempatnya duduk kelelahan menikmati hasil pergumulan mereka, lalu Agnes berujar santai, 'Kalau sekarang bapak mau nyerahin saya silahkan, saya sih ngga apa-apa. Tapi bapak bakal kehilangan kesempatan buat ngentotin saya kapanpun bapak melihat saya dan pingin ngentot...'
Ketiga satpam itu saling berpandangan, pikiran mereka kalut. Namun demi melihat Agnes yang dengan santai duduk mengangkangkan kakinya dan memperlihatkan vagina yang mulus tanpa bulu dan merekah mengundang...
'Mulai sekarang, lu lonte kita-kita... Kapan aja kita ketemu lu, dan pengen ngentot, lu harus ngelayanin kita...'seru satu satpam sambil mendesah ketika Agnes mendeepthroath lagi penisnya dengan rakus.
'Kagak peduli lu lagi mens... atau lagi ngga pingin... lu harus layanin kita..' kata temannya sambil asyim menyodomi Agnes
'Dan kita bakal hamilin lu biar beranak dari satpam...' geram satpam satunya lagi sambil dengan kasar menyodoki vagina Agnes....

Agnes melihat jam tangannya. 05.45....

Agnes terkikik geli melihat sepeda motor yang dikendarai ketiga satpam itu berjalan oleng bahkan nyaris jatuh, dan senyum nakal mengembang mengingat keinginan satpam itu untuk menghamilinya. Tak ada yang tau rahasia Agnes kalau dirinya sudah melakukan tubektomi, hingga dirinya aman menerima donor sperma tanpa khawatir hamil.

Gadis itu kembali berlari santai melanjutkan joggingnya, ketika ia melihat seorang penjual bubur ayam sedang melintas. Perut lapar sang gadis mengingatkan dia kalau ia belum sarapan, maka dengan segera ia memakan dengan lahap bubur ayam itu, namun...
'Aduh pak... saya lupa bawa uang...'
'Waaah, neng jangan gitu dong... saya belum dapet penglaris. Masa udah diutangin lagi', keluh pedagang bubur itu sambil memandang kesal pada Agnes
'Gini aja bang, rumah saya di jalan xxx, no xx. Nanti abang dateng aja ke sana dan minta pembayarannya...'
'Sembarangan aja si neng, udang ngga bisa bayar, nyuruh lagi...'ketus penjual bubur yang matanya kini bernafsu melihat kemulusan sang gadis, lalu lanjutnya,'Lagian gimana kalau neng bohong... saya ngga mau rugi dua kali dong...'
'Yaaah, bang... terus gimana dong?' desah Agnes manja...
Jakun penjual bubur itu bergerak tak terkendali ketika ia melihat Agnes sedikit membungkukkan badannya hingga bungkahan payudaranya yang tertutup sports bra terxpose.

'Atau.... saya bayar pake ini aja, ya?' kata Agnes genit sambil menurunkan celana pangsi tukang bubur yang kini tak bisa berkata-kata, terlebih ketika dengan ssantainya Agnes menjilati penis yang sudah sangat tegang itu bagai menjilati ice cream, menjilati buah zakar yang berbulu itu dengan nikmatnya, lalu mengulum penis itu sambil memberi hanj job pada tukang bubur yang blingsatan.
Dan ketika hidung sang gadis bertumbukan dengan selangkangannya, tukang bubur itu tak tahan untuk tidak menekan kepala Agnes sambil menyemburkan sperma yang begitu banyak hingga Agnes tersedak dan sperma itu keluar bagai ingus dari hidungnya.

Dengan santai Agnes menjilati sperma yang terbuang itu, lalu berbisik lirid di telinga tukang bubur yang sekarang terduduk kelelahan, 'baaaaaang, lunas, ya?'
Kepala tukang bubur itu mengangguk-angguk lemah, sambil menarik nafas. Agnes tersenyum dan berlalu dari tempat itu.

Di rumahnya, Agnes berpapasan dengan Marni yang wajahnya tersipu malu dan Ujang yang menatap kemolekan majikannya dengan bernafsu, namun tak bisa berbuat apa-apa karena seluruh penghuni rumah mulai bangun.
Agnes menyiapkan jacuzzynya, dan ketika rasa hangatnya dirasa cukup, gadis itu sgera membenamkan dirinya dalam kehangatan air. Bayangan persetubuhannya membuat Agnes on lagi, tangannya dengan lembut mengusap clitorisnya sambil sebelah lengan meremas payudaranya. Lenguhan panjang menandakan klimaks yang sangat hebat dari sang gadis....

08.00
Hari ini Agnes terbebas dari semua rutinitas latihan vocal dan tarinya hingga dengan santai ia memacu sepeda motornya mengarungi jalanan. Di sebuah pertigaan mendadak seorang polisi menghentikan sepeda motornya.
'Pagi mBak, bisa lihat surat-surat kendaraannya...'
Polisi dengan perut buncit dan kumis baplang itu nampak tidak konsentrasi memeriksa surat-surat karena kemeja tanpa lengan Agnes dan celana jeans super mininya menggoda sang polisi.
'Eeehm... mBa sudah melanggar aturan lalulintas,' kata polisi itu mencari alasan
'mBak akan saya tilang, ayo ikut saya ke pos...' katanya lagi...

Dengan ringan Agnes mengikuti langkah kaki sang polisi dan mereka masuk ke sebuah pos yang agak tersembunyi di mana ada tiga orang polisi lagi dengan tampang sangar menanti.
'Waaah... siapa nih?' tanya seorang polisi
'Biasa, pelanggar lalin.' kata polisi yang membawa Agnes
'Jangan-jangan maling motor nih...'

Polisi tadi menatap Agnes dengan sinis dan berkata, 'Kayanya kamu memang maling...'
Agnes menatap mereka dengan santai lalu berkata, 'Saya bukan maling, pak... lagian, di mana saya bisa nyembunyiin barang curian?' kata Agnes sambil berdiri dan merentangkan tangannya.
Para polisi itu mendadak mendapati selangkangan celana mereka makin sempit, lalu dengan suara dibuat berwibawa, polisi tadi berkata.
'Kami baru percaya kalau kamu sudah digeledah'
Agnes menatap binal, dan mendesah cabul, 'silahkan pak... geldah aku...'

Salah satu polisi memberi perintah, 'Sekarang kamu buka baju kamu...', dengan sensual Agnes menarik kausnya ke atas dan membiarkan mata para polisi melotot melihat payudaranya yang menantang bebas, dan upperbody dengan definisi otot yang jelas.
Dengan parau sebuah perintah kembali keluar, 'sekarang celana mu...', dengan gaya menggoda, Agnes membuka kancing celananya, menurunkan ritsluiting, lalu dengan ringan membalikkan tubuhnya membelakangi para polisi yang menadang takjub punggung sang gadis yang lalu membukkukkan badanya sambil melolosi celananya.

Agnes bisa mendengar dengusan liar para polisi yang melihat keindahan bokongnya yang tak berbalut celana dalam, vaginanya yang rapat dan lubang anusnya menyihir keempat polisi itu yang bagai zombi bangkit dan mulai menggerayangi tubuh Agnes.
Mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya, tak ada satu tempatpun yang terlewat dari 'pemeriksaan' itu dan jejak remasan kemerahan menghiasi paha, pinggul, pantat dan payudaranya.

Lalu seorang polisi duduk di meja yang ada di pos itu dan berkata, 'Kita mau tes kadar alkohol kamu, sekarang lakukan breathalizer!' sambil mengacungkan penisnya yang sudah tegang itu. Mata Agnes berbinar melihat penis dihadapannya, dan tanpa ragu melahapnya dengan rakus dan melakukan breathalizer, sementara sepasang tangan kekar membuka belahan pantatnya dan sebuah suara berat berkata, 'sekarang internal checking!'

Agnes melenguh keenakan ketika penis itu menyodok lubang anusnya, tubuhnya bergetar menahan kenikmatan itu sementara mulutnya makin liar melakukan deepthroath hingga....
Dengan sensual Agnes menjilat sisi bibirnya yang belepotan sperma, lalu suara desahan bersahutan di pos itu ketika dengan brutal polisi di anusnya bergerak untuk kemudian memuntahkan muatannya...
Dua polisi yang tersisa menghimpit Agnes dari depan dan belakang bagaikan sandwich, lalu polisi yang di depan Agnes mengangkat kedua kaki Agnes...

Erangan keras membahana dari mulut ketiga insan itu, bahkan Agnes sampai mendapatkan orgasme ketika vaginanya dihujam dua penis secara bersamaan. Kenikmatan yang dirasakan Agnes begitu besar, hingga dengan la ia membalas perlakuan kasar dua polisi itu dengan meliukkan tubuhnya dengan sensual, membiarkan tubuhnya dicupangi...

Jam 10.00

Akhirnya pemeriksaan itu selesai...
Tuduhan pencurian tak terbukti, namun Agnes diminta melakukan wajib seminggu tiga kali selama satu bulan di pos itu.
Agnes menyetujuinya dengan wajah berbinar, lalu dengan santainya melanjutkan berkendara meninggalkan para polisi yang kini merasakan linu setelah sperma mereka diperas habis oleh sang gadis...

Dan kini sepeda motor itu kembali meluncur bebas membelah Jakarta, hingga pada sau titik, Agnes merasa panggilan alam membuatnya mencari tempat pembuangan.
Sebuah WC umum seakan sudah menanti Agnes untuk tergopoh-gopoh segera masuk dan menuntaskan hajatnya. Gadis itu tidak menyadari kalau WC itu merupakan tempat mangkal preman, pengamen dan gepeng. Agnes tak menyadari ketika ketergopohannya menarik perhatian para begundal itu, yang kini menanti dengan sabar hingga terdengar suara cebokan dan suara toilet disiram.

Agnes terkejut ketika pintu WCnya dibuka paksa, celana jeansnya masih tersangkut di lututnya. Seorang preman bertampang saram dan mabuk masuk ke dalam toilet itu, lalu dengan membuka celananya dan mulai kencing.
Mata Agnes terpaku pada penis itu, ia lupa kalau kini vagina dan pantatnya terkespose bebas.
'Eh perek, ngapain lu liat kontol gua?' bentak preman tadi menyadarkan Agnes, dan tanpa basa-basi preman tadi menjambak rambut Agnes, memaksanya berlutut di lantai WC yang bau itu lalu dengan sadisnya menjepit hidung Agnes hingga gais itu membuka mulut mencari nafas.
'Nah sekarang lu bersihin kontol gua.. gua males cebok' kata preman tadi dengan santai sambil tangannya menekan kepala Agnes hingga wajah gadis itu tertanam di selangkangannya.

Agnes merasakan ada beberapa penis lagi di sekelilingnya, dan dengan bernafsu Agnes mengocoki semua penis itu sambil meresapi penis sang prman yang dengan kasar memperkosa mulutnya.
Kemudian setelah sperma sang preman masuk dalam perut Agnes, gadis itu ditunggingkan dengan wajah tepat berada di depan lubang toilet.
Desah gadis itu memenuhi toilet yang sempit itu ketika penis demi penis menghujam vagina dan anusnya. Ia bisa merasakan beragai ukuran penis, panjang, pendek, gemuk, besar, super. Selain itu beragam tekstur juga bisa dirasakan gadis itu. berurat, polos, kepala jamur, bersisik, berkutil.
Bahkan mulutnya juga penis-penis yang berdaki dan berjamur untuk dipuaskan.

Agnes mendapatkan multiple orgasme dalam session ini, dan penjaga WC yang juga menikmati Agnes di ketiga lubangnya merasa senang karena pendapatan toiletnya bertambah luar biasa hari itu. Ada sekitar lima puluh orang yang mendadak ingin 'buang air' di dalam 'lubang toilet' yang kini sedang di sandwich dalam posisi berdiri.

Pukul 14.00

Agnes berjalan sedikit sempoyongan setelah tambahan duapuluh lima penis lagi mengisi tiga lubang kenikmatanya. Selruh tubuh dan pkaiannya basah oleh keringat, sperma, dan air seni. Sedikit tertatih ia melangkah melewati geletakan penikmatnya yang terkapar kelelahan.
Senyum genit tersungging di bibirnya sebelum kembali sepeda motornya, membuka bagasi motor, an dengan santai mengganti pakaiannya dengan baju ganti di depan penikmatnya yang melotot liar tanpa sanggup berdiri lagi.

Kemudian dirinya meluncur ke sebuah mall, ia masuk ke sebuah counter pakaian dan memilih beberapa pakaian.
'mBak...'tegur Agnes pada seorang penjaga toko yang nampak memancarkan ketertarikan pada Agnes
'Saya mau nyobain baju... bisa temanin saya?'
Pelayan toko itu tersenyum binal dan membimbing Agnes ke changing booth, yang berada tepat di tengah counter, mereka berdua masuk ke dalam dan menutup tirai itu.

Dengan mesra pelayan toko itu mengangkat kaus Agnes, dan meloloskannya. Desahan Agnes ketika jemari sang pelayan toko memelorotkan celananya cukup mengundang keheranan para pelanggan yang lalu dengan sopan digiring pelayan lainnya untuk memberikan privasi pada Agnes yang kini sedang menjilati clitoris pelayan tokohingga lenguhan yang ditahan mengiringi semburan cairan cinta sang pelayan di mulut Agnes yang bagai kehausan menghisap habis cairan itu.
Lalu dengan kelembutan sama sang pelayan toko mengoral vagina Agnes, sambil jari tegahnya menghujam anus sang gadis. Hentakan kepalan tangan yang menghantam vagina Agnes seiring kocokan jari tengah di anus itu mampu membuat Agnes orgasme panjang...

Pukul 15.30

Agnes keluar dari changing booth itu dengan wajah puas dan pakaian baru, ia cuek saja melewati barisan pelanggan yang merasa jengkel dan heran dengan kelakuan gadis itu yang kini sedang tersenyum nakal pada para pelayan toko yang nampak kegiragan karena di tangan mereka terdapat kartu nama Agnes, dan dibelakangnya terdapat undangan untuk orgy lezbie party bersama Agnes.

Agnes tersadar dari lamunanya ketika dirinya berada dalam section under renovation di mall itu, Ia melihat dua orang pekerja yang sedang melongo melihat tubuh sexy agnes yang terbalut night dress dengan belahan punggung sampai ke pinggulnya dan dengan high heel sexy yang membalut kaki jenjangnya.
Senyum binal tersungging di bibir Agnes yang masuk ke dalam counter gelap itu dan menyapa pekerja itu.
'Abang kerjanya rapi, hebat banget...' desah Agnes sambil bergerak sensual di antara kedua pekerja yang mendadak menjadi sangat kikuk.
'Aku mau kasih abang hadiah' kata Agnes lagi sambil mencium lebut bibir keduanya, yag dengan semangat empat lima, melakukan french kiss dengan gadis yang menjanjikan mereka hadiah.

Liur ketiganya menyatu, Ages tak perduli dengan liur yang berleleran, tangan yang menggerayangi pinngul, pantat, payudaranya, serta bermain di vaginanya.
Agnes menggigil keenakan ketika kedua pekerja itu mengoral vagina dan anusnya bersamaan dan orgasmenya memberikan tanda pada pekerja itu untuk mengambil hadiah mereka.

Dengan senang hati Agnes menduduki penis besar pekerja itu dan dengan binal membuka belahan pantatnya yang segera diisi oleh penis. Agnes mendesah-desah hebat seiring rotasi kedua pekerja itu di seluruh lubang tubuhnya. Mereka juga membimbing Agnes menciptakan gaya baru dalm bercinta yang membuat ketiganya orgasme, orgasme dan orgasme.

Pukul 17.00
Mandor pekerja itu habis-habisan memarahi kedua pekerja yang disangkanya bermalas-malasan dalam bekerja karena menemukan mereka tertidur kelelahan di dalam counter itu, sementara Agnes dengan santainya melenggang ke luar mall. Memanggil taxi dan membiarkan motornya begitu saja di mall.

Pukul 18.30
Agnes tiba di sebuah cafe remang-remang di kawasan kumuh Jakarta.
'Ah Agnes... kamu dateng juga' ujar seorang pria buncit sambil meremas pantat Agnes, 'Aku sangka kau udah ngga mau lagi ke sini.....'
'Tenang aja babah, aku masih senang main ke sini, lumayan buat hiburan...' kata Agnes sambil menyelipkan jemari lentiknya ke balik celan sang pria yang langsung menggiring Agnes ke ruang kerjanya.

Foreplay itu berlangsung singkat karena babah pemilik cafe lebih memilih segera menghujam penis pendeknya ke vagina Agnes dan dalam hitungan menit menumpahkan spermanya ke dalam rahim Agnes yang nampak jauh, sangat jauh dari puas. Namun dengan bakat akting alaminya Agnes menampakkan wajah penh kepasan pada sang babah yang nampak seperti pria perkasa.

Lalu Agnes bersiap di panggung, melakukan check sound sebelum berdandan merapihkan maskara dan lipstiknya yang luntur ketika membersihkan penis imut sang babah.

Agnes memandang para pemain musik dan berkata..'Masih ada waktu... mau ngentot?'

Pukul 22.00
Para pemusik dengan tenaga baru setelah bertempur dengan Agnes yang namak terpuaskan oleh orgasme yang diperolehnya, mulai menghibur pengunjung cafe dengan lagu-lagu beat cepatnya dan dengan lirik yang mengundang birahi.
Para pengunjung yang terutama golongan menengah ke bawah sangat terpukau dengan likan binal Agnes di atas panggung yang tanpa malu melakukan striptease.

Tubuh bugil gadis itu mengunjungi kursi tiap tamu sambil menggoda mereka hingga para pengunjung itu tak tahan untuk mulai mengelusi penis mereka.
Ketika Agnes kembali ke atas panggung gadis itu melakukan hal yang extreme, mulai dari memainkan clitorisnya sendiri, menggesekkan vaginanya ke mike stand, hingga meliukkan tubuhnya hingga.

Para pengunjung tak bisa bertahan lebih lama lagi, mereka segera berebutan naik ke panggung, berebutan merayahi tubuh Agnes, membasahi tubuhnya dengan liur dan minuman keras, lalu tanpa tau siapa yang mengomando, pesta gangbang terjadi di atas panggung itu.
Microphone itu diganti oleh penis yang bergantian merasakan kelembutan tenggorokan sang idola, rahimnya tak lagi mamu menampung sperma yang ditumpahkan dari puluhan penis yang merangsek masuk ke dalam vaginanya, bahakan ada yang sampai masuk ke rahimnya.
Anusnya juga menjadi pelabuhan penis yang seakan berlomba membuka lubang anus yang imut itu. Namun Agnes tak khawatir karena ramuan khususnya akan mengembalikan kondisi vagina dan anusnya kembali seperti perawan.

Babah pemilik cafe sangat senang, jutaan rupiah bertebaran di panggung, menutupi tubuh Agnes yang tertutup sperma. Pesta sex itu baru saja berakhir dengan geraman pengunjung yang tak ingin pesta itu berakhir, namun bahkan untuk berdiri mereka harus dipapah....

Pukul 02.00, waktu cafe bubar...

'Nez... benar kamu ngga mau bayaranmu?' tanya babah yang keheranan karena Agnes menolak sepeserpun hasil keringatnya.
'Aku dapat kepuasan lahir batin, bah... itu yang penting. Trus asal Nez masih boleh main ke sini, Nez udah sangat senang...'
'Pintu cafe ini terbuka buat kamu sayang....'desah babah karena Agnes kembali menghisap spermanya sampai lemas...

Pukul 03.00

Marni membukakan pintu ketika Agnes pulang, gadis itu membimbing majikannya yang nampak mabuk itu ke kamar, membuka pakaian sang majikan sambil menahan nafsu untuk bercinta lagi. Ia akan membiarkan majikannya beristirahat.
Tangan Agnes menahan Marni...
'Maaaar' desah Agnes manja...'temani aku tidur, yaaaaaa'
Marni tersenym nakal, ia lalu membuka pakaiannya, masuk ke balik selimut dan...
'Kamu juga jang... ngga usah nyumput, sini gabung sama kita-kita..' panggil Agnes sambil tersenyum melihat Ujang garuk-garuk kepala karena malu, lalu dengan segera membuka pakaiannya sendiri hingga bugil...

Agnes merasa nyaman karena tubuhnya dipeluk dari depan dan belakang oleh dua orang yang kini bersamaan menberikan kehangatan bagi tubuhnya...
It was a great day adventure....

Damn real good...

Tuesday, July 14, 2009


The Beast Within: Susan Bachtiar

Perempuan cantik itu memandang rumah kumuh di hadapannya dengan perasaan haru.... ia tahu kalau di dalamnya terdapat seorang pria yang sangat membencinya, selalu menghinanya secara verbal, dan merendahkannya lebih dari hewan. Namun entah mengapa, rasa iba dan pengabdian pada pria itu membuat perempuan itu rela diperlakukan secara rendah, bahkan kini ia melakukan apa yang diperintahkan 'suaminya', begitu perempuan itu selalu menganggap status pria itu, pada saat kedatangannya yang lalu.

Andai saja komplex itu sedang ramai, maka mereka akan dapat melihat seorang perempuan cantik, membuka pakaiannya tanpa ragu hingga tinggal celana dalam, lalu mengenakan sebuah daster lusuh yang nampak dijadikan keset di depan rumah itu.
'Heh pelacur!' bentakan keras terdengar ketika kaki perempuan itu baru saja melangkah masuk, dan menutup pintu.
'Siapa yang suruh kamu datang, hah? Kamu mau menghina aku lagi?' sembur sang pria tanpa memperhatikan perasaan perempuan yang selama ini tulus merawat dirinya yang cacad tanpa lengan dan sebelah kaki korengan itu.

Perempuan itu hanya diam, wajahnya tertunduk seakan memang dirinya sangat bersalah.
'Eeeeh pake bengong, lagi! sekarang lu bersihin badan gua pelacur, udah tiga hari gua belum mandi!'
Dengan lembut perempuan itu membuka pakaian 'suaminya', lalu memulai prosesi mandi kucing. seluruh bagian tubuh lelaki itu merasakan kelembutan mulut dan lidah sang perempuan yang dengan halus, kini mengoral penis pria itu dan dengan perasan bahagia menelan semua semburan sperma sang 'suami' dan menelannya.

Sebuah tendangan di dada membuat perempuan itu terjengkang. 'Brengsek luh!, sekarang semua badan gua bau ludah lu, perek! emang gua kucing lu jilatin?' bentak pria yang baru saja menyemburkan sperma di tenggorokan sang perempuan, bahkan dengan sengaja buang angin ketika sang perempuan melakukan anal rimming dengan lidah lembutnya.'

Dengan membungkuk hormat dan perkataan maaf yang terlontar dari mulutnya, perempuan itu menuju dapur yang sederhana itu untuk kemudian menyusun kayu bakar, dan mulai menyalakan api. Wajah cantik sang perempuan kini ternoda oleh debu dan jelaga yang bertrebangan mengisi dapur dengan ventilasi seadanya itu, mulutnya tak henti meniupi bara api hingga air yang dimasaknya cukup mendidih.
Lalu dengan pengabdian penuh, perempuan itu membimbing sang pria yang terus menyumpah-nyumpah tanpa rasa terimakasih, walau kini sang perempuan dengan lembut bagai membersihkan poselen yang tak ternilai harganya, membersihkan tubuh sang pria dengan teliti, tanpa melewati satu inci pun juga.

Kemudian keduanya menuju bili yang menjadi peraduan mreke, sunggh kontras nampaknya ketika seorang perempuan cantik harus berada satu bilik dengan pria cacad yang kini terlentang telanjang di atas lantai yang beralaskan tikar lusuh.
'Kenapa kamu bengong? Nyesel udah dateng ke sini? Nyesel lo mau mengabdi sama orang cacad kaya gua?' Sembur laki-laki itu tanpa perasaan.
'Gua tau lo cuma pura-pura sayang gua, lu cuma mau ngehina kondisi gua, kehidupan gua!'
Perempuan itu tertunduk, terisak dan menggeleng lirih.
'Pake nangis lagi... pelacur itu ngga boleh nangis tau!'
'Sekarang lu naik sini, gua mau make lu....!'
Dengan patuh perempuan itu menaiki tubuh suaminya, ia meraih dasternya, namun...
'Lu mau ngapain? telanjang. Najis gua ngeliat body pereklu itu, gua mau ngentot bukan ngeliat body cungkring.'
Kembali isak lirih terdengar, namun perempuan itu patuh, ia menggeser posisi celana dalamnya, namun kembali hinaan keluar dari mulut sang pria.
'memeklu itu kotor lonte, dan memek lu itu ngga pantes ngedapetin kontol gua. Sekarang lu masukin ke bool lu, cepet!'
Mata sang perempuan memandang langitlangit bilik yang belubang karena lapuk dan penuh sarang laba-laba, matanya mengabur karena pelupuk matanya penuh dengan air mata yang coba ditahannya, selain karena hinaan itu, juga karena pedih yang dirasakan anusnya yang kini menelan penis pria itu.

Mulut pria itu sendiri seakan tak pernah berhenti menghina perempuan yang sekarang sedang berusaha memuaskan sang pria dengan adukan pinggulnya hingga penis sang pria merasakan jepitan anusnya secara maximal walau beberapa posisi itu menyakiti sang perempuan dengan sangat.
'Bool lonte, udah dobol... udah berapa sering laki-laki laen make bool lu perek!' caci sang pria, dan airmata sang perempuan berlinang karena hanya dengan 'suaminya' ini ia rela di sodomi, namun tak ada bantahan yang keluar dari mulutnya, hanya gerakan pinggul yang makin menyakiti anusnya yang dilakukan perempuan itu.
'Aaaaah udah udah udah!' sembur laki-laki biadab itu, 'bool lu ngga enak, mending lu pake mulut lo buat ngebersihin kontol gua. Bau tai lu, kampret!' semburnya lagi.

Dengan patuh sang perempuan mengangkat tubuhnya, bersimpuh dihadapan penis yang memang berbercak kuning kecolatan, lalu menjilati penis tu hingga bersih sebelum mendeepthroathnya hingga sang pria kembali berjakulasi dalam tenggorokan sang gadis.
'Mana terimakasih lu, pelacur! Pejuh gua mahal tau!'
'Te.... terimakasih, kang....'

Kemudian sang gadis menatap punggung sang suami, dan mulai memijatnya. Dengkur sang pria membuat sang perempuan begitu bahagia, karena mampu membuat 'suaminya' terlelap. Kemudian perlahan perempuan cantik itu bangkit, kembali kedapur dan mulai memasak alakadarnya ketika suara ribut terdengar dari ruang depan gubug mereka.
Reflex perempuan itu mematikan tungku dan berlari ke ruang dapan dan mendapati 'suaminya' sedang dipukuli oleh dua pria bertubuh besar, sementara sorang pria botak, berperut buncit, memakai kemeja kembang-kembang dengan rantai emas mencolok di dadanya meludahi tubuh pria yang babak belur itu.

Perempuan itu bergerak melindungi tubuh sang suami, membiarkan dirinya sendiri menerima beberapa tinjuan dan tendangan, sampai pria buncit itu bergerak dan menjambak rambut sang perempuan. Matanya melotot melihat kecantikan perempuan itu walau noda jelaga memenuhi wajahnya.
'Siapa kamu, cantik? Kenapa kamu ngelindungin bajingan ini?'
'Sa... saya istrinya.. pak....'
'Istri?' seru pria buncit tadi tak percaya, dan segera pria tak tau terimakasih itu berseru
'Dia bukan istri saya, najis saya punya istri dia... dia lonte...dia...'
Sebuah tendangan keras ke rusuk pria itu membungkam mulutnya.
'Bajingan tengik, ngga tau diuntung!' sembur pria buncit itu., 'Lu harusnya bersukur ada yang masih mau ngebela, monyet!'
'Ampun pak...' hiba sang perempuan, 'jangan siksa suami saya lagi.....'
'Ya ampun, kenapa sih kamu ngebela bajingan ini terus? Eh neng, mendingan lu jadi gundik gua. Pasti lu bahagia....'
'Saya.... saya tidak bisa pak.... saya sayang suami sa....'
'Anjrit luh lonte...!' sembur pria cacad itu tanpa rasa terima kasih, 'Ngga sudi gua lu panggil laki... naj...' kembali sebuah tinju di mulutnya membungkam pria tak tahu diri itu.
'Lu denger, kan? Laki lu aja kaga ngakuin elu, kenapa lu terus bela dia?' kata pria buncit itu dengan gusar.
'Dia sedang kalut, tuan...' perempuan itu malah erendahkan diri dengan memanggil pria buncit itu tuan.
'Eh denger ya, neng. Laki lu itu punya utang satu juta sama gua dan dia kaga pernah bisa bayar. Nah gua rugi dong, jadi ya gua hajar ajah laki lu' kata si buncit dengan santai
Perempuan itu bersimpuh di kaki pria buncit dan berkata, 'Tuan... tolong kami tuan... kami orang susah... '
'Semua orang juga susah neng,' sergah si buncit, 'Gua juga bakal susah kalo semua orang model suami lu ini.'
'Kasih saya kesempatan untuk bayar tuan....'
'Emang lu bayar pake apa neng? gubug ini aja harganya kurang dari sejuta.'
Perempuan itu nampak kalut, ia tak tega melihat suaminya dihajar begitu rupa... hingga ia nekad mengambil keputusan... ia hanya berharap suaminya akan memaafkan dirinya...
'Tuan.... sudikah tuan menerima tubuh saya sebagai pembayaran?'
Sejenak hening....
'Tuuuuhhhh kaaaaan, memang lonteeee!'sembur pria cacad itu
'Pelacur, lonte, pecun! Sekarang lu ngehina gua dengan ngejual memek lo. Dasar Lon....', tendangan di perut pria itu membuat nafasnya megap-megap.
Pria buncit itu tersenyum,
'Wah neng... abang sih seneng aja ngentot cewe cakep model neng... tapi satu juta? dengan duit kurang dari itu saya bisa puas ngentot cewe cakep, bukan bini orang lagi....'
'Tuan.... tolonglah....' hiba perempuan itu di kaki sang rentenir, hingga...
'Gini ajah, gua masih kasian sama lu yang udah mau berkorban buat kroco ini.... lu layanin gua dan kedua anak buah gua sampe puas, baru gua lunasin hutang lu.'
Permempuan itu tercekat, ia melihat anak buah sang rentenir yang bertubuh besar dan sangar tersenyum liar...
'Gimana?' tanya sang rentenir, 'Lumayan kan, lagian lu hebat bisa dapet kurang lebih tiga ratus ribu perorang. Jarang ada lonte yang dihargain segitu....'
Akhirnya perempuan itu mengangguk...
Ketiga penagih itu tersenyum senang, sementara si pria cacad itu...
'Lonte.... pelacur...'
'Aaaah, brisik, heh iket dia di kursi dan sumpel mulutnya pake ni gombal, kita bikin dia ngeliat kita entot bininya.'
'Nah, sekarang neng, mendingan lu mulai buka tuh daster, ngerusak suasana ajah.' perintah rentenir itu,

Dengan sedikit kikuk karena harus bertelanjang di hadapan 'suaminya' sang perempuan cantik meloloskan daster kumal itu melalui bahunya, dan...
Mata ketiga penagih itu bagai hendak keluar dari rongganya, mereka tak menyangka kalau dibalik daster itu, sebuah tubuh putih mulus, dengan payudara montok mengundang, serta kaki jenjang tersembunyi menunggu untuk dinikmati.
Dan ketika celana dalam itu tercampak, liur ketiganya mengalir deras. Vagina mulus tanpa sehelai rambut dan nampak sangat terawat tersaji dihadapan mata mereka pasrah untuk dinikmati.

'Dasar cacad ngga tau diri!' maki rentenir itu, 'bini cakep gini ngga diaku, sekarang lu liat gimana dia muasin kita-kita!'
Rentenir itu meminta sang perempuan untuk membuka celananya, dan mulai mengoral penisnya. Pria itu nampak menikmati sekali lembutnya bibir sang perempuan yang menggesek lembut penisnya, dan memebri sensasi seru dengan melakukan deepthroath yang jarang dinikmati pria itu. Remasan lembut di zakarnya, jilatan nakal membuat pria itu makin blingsatan.
Karena sudah tak kuat menahan nafsunya, rentenir itu mendorong sang perempuan hingga terlentang di tikar lusuh di ruangan itu , dan langsung menghujamkan penisnya ke vagina perempuan itu yang masih kering.

Ringisan kesakitan sang perempuan tidak dihiraukan sang rentenir yang kini menghentak-hentak pinggulnya dengan kasar, selain itu tangan gempal rentenir itu meremasi payudara dan bokong perempuan itu dengan kasar hingga meninggalkan jejak kemerahan. Perempuan itu sendiri merasa sesak, karena berat tbuh pria itu serta aroma tubuhnya yang asam.
Sekitar tiga puluh menit perempuan itu berjuang menahan gepuran penis sang rentenir sebelum....
Geletar sang rentenir mengiringi semburan sperma yang meluncur masuk tak tertahankan ke dalam rahim sang perempuan yang terisak karena kini tubuhnya sudah 'ternoda'.
Matanya tertumbuk pada sang suami yang memandang jalang dengan gumaman makian yang teredam, maafkan aku kang.... maaf. Desahnya dalam hati...

Kedua anak buah sang rentenir sudah tak tahan lagi. Tubuh besar hitam legam penuh tattoo segera merangsek maju. Seorang dari mereka tidur terlentang dan memaksa sang perempuan melakukan WOT, perempuan itu berjuang mati-matian memasukkan penis sang preman yang memang besar itu hingga sang preman sedikit tak sabar, mencengram pinggul sang perempuan dan menghentak pinggul seksi itu sekuatnya. Jerit tertahan keluar dari mulut sang gadis ketika penis itu tertanam sepenuhnya, bahkan terasa menjebol masuk ke rahimnya.

Belum lagi perempuan itu beradaptasi, tubuhnya ditelungkupkan hingga berhimpit dengan sang preman dan.
'Aduuhhh, aduhhhh, ampuuun, ampuunnn...' perempuan itu menjerit-jerit kesakitan ketika penis yang sama besarnya merangsek masuk ke dalam anusnya, walau belum lama ia melakukan sodomi namun kini situasinya berbeda, tak ada kepasrahan, hingga proses penetrasi itu sangat menyakitkan.
Dan ketika kedua preman itu bergerak, sang perempuan hanya bisa merintih-rintih kesakitan. Sementara bekas gigitan, remasan dan tamparan mulai menghiasi sekujur tubuh sang perempuan.

Perempuan itu benarbenr tersiksa, stamina preman itu benar-benar luar biasa, mereka sudah beberapa kali ganti posisi, dan ketiga lubang ditubuhnya terpakai melayani penis mereka, namun tanda orgasme belum juga nampak. Perempuan itu terus berusaha dan bertahan hingga akhirnya setelah lewat satu jam...
'Addduuuuuuuhhhh, ampuuuuuunn!', bahana jerit kembali keluar dari mulut sang gadis, ketika dengan kejamnya kedua penis itu dihujamkan ke dalam vagina sang perempuan yang kini menggigil menahan sakit. Dan perlu perjuangan sekitar lima belas menit lagi sebelum rahim sang perempuan disiram oleh dua penis secara bersamaan.

Namun mata sayu sang perempuan kembali tertumbuk pada penis sang rentenir yang kembali bangun. Mulut sang gadis kembali mendeepthroath penis yang tak lama bersarang di anusnya. Tubuh gadis itu kembali tersentak-sentak, sementara payudaranya yang menggantung bebas diremas dedengan kasar bahkan ditarik dengan sangat kuat seakan rentenir itu ingin merenggut payudara sekal itu dari tempatnya.
Bahkan kini ide gila muncul diotak sang rentenir yang memberi tanda pada kedua anak buahnya, yang lalu maju merubung sang perempuan.
Tubuh lemah itu diangkat dan kembali tubuh bagian bawah sang gadis mengalami double penetration di vagina serta anus. Dan ketika gadis itu membuka mulutnya hendak berteriak, penis besar yang lain merangsek dan memborbardir tenggorokan sang perempuan yang kini kelabakan karena bulu selangkangan sang preman melekat erat di hidungnya.

Selama satu jam berikutnya kembali gadis itu mengalami siksaan sexual yang sangat menyakitkan, karena ketiganya melakukan rotasi dan ketiganya selalu memposisikan penis-penis mereka hingga sang perempuan menggeletar kesakitan. Dan puncak kegilaan mereka, ketiganya mendesakkan penis mereka dalam vagina sang gadis dan menyemprotkan sperma mereka ke dalam rahim sang perempuan.

Kemudian ketiganya duduk santai sambil merokok, mereka melihat sang wanita yang menggelpar menahan sakit di sekujur tubuhnya, terutama vagina dan anusnya. Rentenir itu kemudian bangkit dan berkata.
'Mendingan lu tinggalin laki lu yang brengsek itu, dia ngga pantes buatlu.' katanya sambil mereka membenahi pakaian, lalu tambahnya.
'Janji gua, gua pegang. Utang bajingan itu lunas, walaupun sebenernya lebih baik kalau dia mampus.'
Dan keheningan hinggap di gubug itu ketika ketiga penagih itu pergi.

Sambil merayap, sang perempuan mendekati 'suaminya' yang nampak seperti didekati penyakit. Bahkan ketika akhirnya ikatan tubuh dan bungkaman mulutnya terlepas.
'Pelacur sundal, lonte, pecun, perek!' hujan cacian ditambah tendangan liar mendera tubuh lemah sang wanita yang hanya bisa meringkuk mempertahankan diri sebisanya.
'Lu bukan gundik gua lagi, ngga sudi gua make pecun bekas orang! Liat tuh memek ama bool,lu. Udah dol, dower!' maki si cacad sambil menghujam vagina si gadis dengan kakinya yang penuh debu dan koreng.
'Lagian memek lu udah diisi pejuh tu orang, gua ngga mau nanggung anak haram yang ada di perut sudel lu itu!'
'Mulai detik ini, gua ngga mau liat muka sundel lu itu di rumah ini lagi. Kalo lu masih nekat dateng, bakal gua jual lu ke temen-temen gelandangan dan pengemis gua!'
'Pergi lu, lonte!' bentak si cacad, sambil menendang wajah sang perempuan, yag akhirnya dengan berat merayap ke luar gubug itu.

Hati sang perempuan sangat terpukul... memang semua kesalahannya, tak seharusnya ia menjual diri demi menutup hutang, 'suaminya' tentu bisa menyelesaikannya. Namun kini nasi sudah jadi bubur, tubuhnya sudah cemar dan rahimnya sudah cemar...'suaminya' pantas membuangnya.
Dengan rasa sesal yang mendalam perempuan itu bersujud di depan gubug itu, sinar temaram bulan menyinari punggung dan pantat sexy sang perempuan yang kini menangis di depan gubug itu.

Lalu dengan gontai ia memakai pakaiannya yang teronggok di depan gubug, dan melangkah lunglai meninggalkan gubug itu.
'Ah setidaknya suamiku bebas dari hutangnya...' keluh gadis itu dalam hatinya, kemudian ia menyetop sebuah taxi dan...

*********
Dua minggu kemudian, Bandara Soekarno Hatta

Seorang pria tampan nampak menjemput sang perempuan yang baru datang dari Singapura...
Sang perempuan nampak hambar dalam menyambut kecupan mesra sang pria, yang lalu mengawalnya ke sedan mewah mereka.
'San... kemana saja kamu selama ini..., ada lebih seminggu kamu menghilang.... Aku rindu kamu... Aku khawatir....Aku....'
Perempuan itu berkata datar dan dingin, 'Ko... ingat sumpah koko...'

Dan hanya alunan musik lembut yang mengisi kesunyian mobil yang terus melaju, sang pria nampak berusaha menelan kegalauannya sendiri... ia teringat sumpahnya yang tak akan mempertanyakan apapun yang diperbuat istrinya yang kini nampak tercenung sedih demi melihat komplex perumahan kumuh di daerah Jakarta Utara yang jelas terlihat dari overpass yang mereka lalui.
'Ah setidaknya, istriku kembali dalam pelukanku...'
Mobilpun terus melaju.

*********
Siang itu di komplek pelacuran murahan di kolong jembatan.....
Pria cacad itu merem melek menerima oral sex dari pelacur murahan yang sudah tua, gemuk dan berdandan sangat menor. Matanya terpaku pada acara Jelang Siang di salah satu TV Swasta, ia melihat pebawa acara wanita yang nampak anggun itu. Seketika wajahnya nampak jijik dan meludah...
'Dasar pelacur!' dan kata-kata itu ternyata membawa bencana, karena pelacur yang merasa terhina itu memanggil preman setempat dan lalu menghjar pria cacad itu habis-habisan

******
Di rumah rentenir...

Mata ketiganya memeblalak tak percaya, ternyata dua minggu yang lalu mereka telah menggumuli salah satu artis papan atas ibu kota dengan sangat brutal dan liar.
Dan ketiganya serempak tertawa...

Mereka mentertawakan keberuntungan mereka yang bisa menikmati tubuh artist itu untuk harga yang kini dirasa sangat murah, terlebih ketika mengingat kekasaran mereka pada perempan itu.

Mereka juga mentertawakan kebodohan mereka yang tidak segera mengenali sang perempuan, hingga mereka sama sekali tidak memiliki bukti persetubuhan itu, hingga kini tak ada satupun cara mereka untuk memeras sang perempuan untuk melayani mereka kembali.

Ketiganya berpandangan dan...

Tawa pecah di rumah itu....

********
'And Cut!' teriak sang suradara sambil mendekati pembawa acaranya.

'nice job as always mBak, anda benar-benar pembawa acara yang hebat!'

Perempuan itu hanya tersenyum lalu melangkah ke dalam ruang ganti privatnya, pintu itu menutup dan sebuah tanda menunjukkan pemilik ruang itu.

Susan Bachtiar.

End